Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Kecewa


__ADS_3

Semakin lama menunggu, fans Jayden bukannya semakin habis, malah semakin banyak. Dari satu orang ke orang lainnya datang silih berganti.


Delia merasa tidak mungkin menemui Jayden saat ini, ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Jayden. Tapi sebelumnya, ia harus mengambil tasnya yang ia simpan di atas kursi yang berada di depan Jayden.


Ikut dengan barisan para fans, Delia berusaha mengambil tasnya tanpa ada yang menyadari, kecuali Jayden tentu saja. Tepat ketika Delia berjalan di samping Jayden usai mengambil tasnya, Jayden memegang pergelangan tangan Delia. Langkah Delia terhenti. Ia melirik sekilas ke arah Jayden yang masih fokus tersenyum ke arah para fans. Delia berusaha melepaskan pegangan tangan Jayden, namun tidak berhasil. Pegangan tangan Jayden sangat erat.


Para fans tidak menyadarinya. Mereka fokus pada wajah tampan Jayden yang biasanya hanya bisa mereka nikmati di layar kaca, tidak ada yang memerhatikan tangannya ke arah mana.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba seorang wanita datang dari arah belakang Jayden. Menabrak tubuh Delia hingga cekalan tangan Jayden terlepas. Delia sedikit terhuyung, tapi ia kemudian segera menyeimbangkan diri.


Jayden yang menyadari hal itu sudah akan membantu Delia, tapi gerakan tangan wanita yang baru saja datang menghentikannya.


“Sayang, lama menunggu?” wanita cantik dengan setelan dress di atas lutut berwarna pink tersebut duduk di depan Jayden di kursi yang Delia tinggalkan.


“Bintang?” Jayden bingung mengapa Bintang ada di sini.


“Maaf ya teman-teman, tolong beri kami privasi untuk makan dulu, nanti foto-fotonya kita lanjut. Please ... Aku laper banget.” Bintang berbicara kepada para fans.


Seolah mengerti, kerumunan tersebut akhirnya membubarkan diri.


“Bi, kenapa kamu ada di sini?” tanya Jayden sedikit berbisik.


Bintang mencondongkan tubuhnya ke arah depan, lalu berucap tak kalah pelan, “nolong kamu.”


“Aku gak perlu pertolongan, aku sedang—“ Jayden menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Delia. Tidak ada!


“Ayolah Jay, aku tahu kamu lagi kesulitan keluar dari kerumunan fans-fans kamu kan?”


Jayden tidak memedulikan ucapan Bintang, ia mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja, lalu mencoba menghubungi Delia. Namun, sebelum ia berhasil menghubunginya, sebuah pesan sudah masuk terlebih dahulu dari istrinya tersebut.


[Aku ke tunggu di timezone, Jay]


[Makanlah sesuatu dulu, kamu bilang lapar kan?] balas Jay.


[Oke] balas Delia singkat.

__ADS_1


[Maaf keadaannya harus seperti ini sayang, aku akan segera kesana. Love U] dibaca, namun tidak dibalas.


“Jay, simpan ponsel kamu. Kamu tidak menghargai makanan,” ucap Bintang.


Jayden menyimpan ponselnya. Siap berakting menjadi pacar yang baik. Menyuapi Bintang dengan salmon kazan sushi dan takoyaki cheese yang tadi Jayden pesan untuk Delia. Tapi malah Bintang yang menikmatinya.


Delia membalikkan badan, tidak ingin melihat lebih lama lagi kemesraan yang Jayden tunjukkan bersama dengan Bintang.


Tuhan, kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini? Batin Delia.


Rasanya ia lebih bahagia saat hidup dengan kesederhanaan tapi ia bisa bersama dengan Jayden kapan dan di mana saja. Ia bisa menggandeng tangan Jayden sesuka hatinya. Orang-orang tidak akan ada yang memperhatikannya.


Tapi Delia menguatkan hati. Ini tidak akan lama. Tanpa ia sadari, kontrak sialan itu akan segera berakhir. Delia akan bebas bertemu dan bersama Jayden selamanya.


Delia kembali melangkah. Tujuannya saat ini menuju ke area timezone, sesuai dengan tujuan awalnya. Menunggu Jayden di sana.


Ia melakukan top up atas kartu membernya sebelum masuk lebih dalam. Mencoba beberapa permainan sembari menunggu kedatangan Jayden.


Lebih dari 15 menit menunggu, akhirnya Jayden tiba. Delia segera berdiri untuk mendekati Jayden, namun Jayden tidak melakukan hal yang sama. Ia diam di sana. Padahal Delia yakin, Jayden melihatnya.


Delia mundur dua langkah, lalu berbalik. Jayden mendekat bersama dengan Bintang dan dua temannya. Memperlambat langkah ketika tepat berada di belakang Delia.


“Maaf sayang,” ucap Jayden lirih, namun Delia masih bisa mendengarnya ditengah-tengah ramainya suasana games centre tersebut.


Bukan jarak yang memisahkan. Jayden dan Delia kini berada di tempat yang sama, tapi tidak bersama. Apa yang lebih menyakitkan dari pada berada dalam satu tempat yang sama dengan kekasih hatimu, tapi tidak bisa memeluknya? Begitulah kira-kira yang dirasakan Delia. Tapi lagi dan lagi, Delia harus bersabar dengan keadaan ini, demi karier Jayden.


Sisa saldo di kartu membernya masih banyak, tapi Delia seakan tidak bersemangat untuk menghabiskannya. Entah mengapa berada di kamar kontrakannya yang kecil saat ini lebih ia rindukan.


Sebelum pulang, Delia mengirimkan sebuah pesan kepada Jayden,


[Aku pulang Jay.]


Delia sempat melihat Jayden melihat ponselnya sebelum pergi. Ia masih berharap Jayden menyusulnya dengan dramatis seperti di drama televisi. Tapi tidak, itu tidak terjadi.


Kecewa? Mungkin iya. Di sudut hati kecilnya pasti ada rasa itu. Entah bagaimana caranya, ia ingin Jayden keluar dari sana, menyusulnya, dan memeluknya dari belakang. Mengucapkan kata cinta yang membuat pipinya merona. Tapi tidak, hingga ia setengah melangkah ke dalam taksi yang akan naiki pun, Jayden tidak muncul.

__ADS_1


Delia mendesah kasar. Memberitahukan destinasi tujuannya kepada sopir taksi, dan menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi.


Satu buah pesan masuk ke dalam ponsel Delia,


[Aku sungguh minta maaf sayang.] Dibaca, namun tidak ia balas.


[Jangan lupa makan sesuatu, aku tahu kamu belum makan kan?] Pesan kedua dari nomor yang sama. Masih ia baca, namun tidak ia balas.


Delia memutuskan untuk menyimpan ponselnya ke dalam tas. Ia ingin menikmati perjalanannya ke kontrakannya. Melihat pemandangan ibu kota yang selalu padat setiap harinya.


Dulu, ketika ia duduk di belakang punggung Jayden di atas sepeda motornya sepulang kuliah, ia selalu berharap, suatu saat Jayden akan sukses, dan bisa menjemputnya dengan mobil. Ia tidak perlu lagi merasa kepanasan dan kehujanan. Tapi kini, ia malah merindukan saat-saat itu. Jayden yang dulu, yang selalu ada untuknya.


Rasa cemburu itu tiba-tiba menguar, seiring dengan lagu yang disetel sopir taksi tanpa permisi. Lagu itu, lagu yang Jayden bawakan bersama dengan Bintang di malam valentine.


“Pak, bisa tolong matikan musiknya?” pinta Delia. Hatinya semakin kacau saja.


Sopir taksi mematikan musiknya seraya meminta maaf. Ia tidak bermaksud membuat penumpangnya tidak nyaman.


“Bukan salah bapak, pikiran saya sedang kacau,” ucap Delia sebagai tanggapan permintaan maaf dari sopir taksi.


“Kalau saya lagi galau biasanya saya makan yang pedes-pedes mbak,” ucap sopir taksi tanpa ditanya.


“Bapak bisa galau juga?” tanya Delia.


“Iya lah mbak. Apalagi kalau saya pulang tidak membawa uang. Istri saya marah-marah. Saya pusing mbak.”


Delia tersenyum membayangkannya, “terus, biasanya bapak makan apa?”


“Makan mie rebus pakai cabe yang banyak, mbak.”


“Waduh, gak protes tuh perut pak.”


“Udah biasa mbak.”


Delia menyunggingkan senyumannya sekali lagi. Berfikir sejenak, mungkin cara yang dipakai sopir taksi tersebut bisa ia coba.

__ADS_1


 


__ADS_2