Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Back Stage


__ADS_3

“Hai Del.” Bagas menghampiri Delia yang tengah duduk di sebuah kursi yang ada di back stage. Saat ini mereka tengah berada dalam konser Jayden dan Bintang.


Pada awalnya Delia bersikukuh untuk pulang, ia bahkan sudah meminta untuk pulang sendiri jika Jayden tidak mau ikut. Tapi Jayden berhasil memberi pengertian kepada Delia. Ia mengatakan kalau Dave sudah meluruskan permasalahan mereka. Akhirnya Delia memilih percaya kepada Jayden.


Walaupun Jayden sudah menjelaskannya, tapi tetap saja Delia selalu menolak bersitatap dengan Bagas. Sebisa mungkin, ia akan menghindarinya jika bertemu. Begitu pun saat ini. Ketika melihat Bagas mendekat, Delia refleks berdiri.


“Tunggu, Del. Jangan pergi dulu. Aku bersumpah tidak akan macam-macam, aku hanya ingin berbicara,” ucap Bagas.


Delia kembali duduk walaupun dengan wajah masam. Ini tempat umum, ia rasa Bagas tidak akan berani berbuat hal yang tidak-tidak.


“Aku mau meminta maaf atas kejadian waktu di Yogyakarta,” ucap Bagas setelah mendaratkan pantatnya di atas sebuah kursi yang berjarak satu meter dari Delia.


“Aku sudah mendengarnya,” jawab Delia ketus.


“Ya aku tahu, tapi aku belum merasa tenang kalau belum meminta maaf secara langsung. Sebenarnya aku sudah ingin meminta maaf saat itu, tapi kamu masih tidur katanya. Dan setelah itu, ada banyak gangguan sehingga aku tidak bisa berbicara langsung kepada kamu.”


Delia masih diam, enggan mengomentari pernyataan Bagas.


“Aku akui, aku bukan orang suci Del. Aku suka mengencani wanita, kamu tahu kan maksudnya? Jujur sejak pertama kali melihat kamu, aku tertarik. Malam itu aku melihat Jay keluar dari kamar kamu, aku pikir kamu wanita yang bisa di sewa—“


Delia menatap tajam ke arah Bagas, membuat Bagas terdiam seketika.


“Maaf ... Maaf. Tapi jujur sejak saat itu kamu selalu hadir dalam kepalaku Del. Aku—“


Delia berdiri, enggan melanjutkan percakapan itu.


“Tunggu!” cegah Bagas yang membuat Delia kembali duduk, “tunggu Del. Sekali lagi aku meminta maaf, sungguh. Kalau aku tahu kalau kamu istrinya Jay, aku tidak akan berbuat seperti itu. Aku bukan tipe laki-laki yang suka merebut wanita orang lain. Ya kecuali wanitanya mau. Hehehe.”


“Udah?” tanya Delia.


Tepuk tangan menggema saat Jayden dan Bintang menyelesaikan satu buah lagu. Bagas dan Delia serentak melihat ke arah layar yang menampilkan Jayden dan Bintang yang tengah memberikan sedikit intermezo sebelum mereka menyanyikan lagu berikutnya.


“Mereka sangat pandai berakting,” ujar Bagas, “hubungan mereka terlihat nyata. Tidak ada yang akan menyangka kalau apa yang mereka tampilkan palsu,” lanjutnya.


Delia mengalihkan pandangan saat melihat Jayden dan Bintang bertukar gombalan.


“Menurut kamu, sampai kapan Jay akan tahan Del?” tanya Bagas.


Delia menoleh, “maksud Mas apa?”


“Sebagai laki-laki aku jelas mengakui kecantikan dan pesona Bintang. Alasan apa pun yang mendasari Jayden untuk menikahinya, bukan alasan mutlak yang akan berjalan sepanjang pernikahan mereka bukan?”


Delia masih bergeming, menunggu Bagas melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“Mungkin saat ini mereka hanya berakting, tapi nanti? Tidak ada yang bisa memastikan kalau Jayden tidak akan jatuh cinta sama Bintang.” Bagas melihat rona wajah Delia yang berubah. “Maaf Del, aku tidak bermaksud—“


“Gak papa Mas,” potong Delia, “maaf aku harus ke toilet.”


Delia pergi meninggalkan Bagas membawa sejuta gundah di hatinya. Ucapan Bagas sedikit banyak mengganggu pikirannya. Ia membasuh wajahnya berkali-kali agar pemikiran itu hilang, tapi tidak bisa.


Dalam hati kecilnya Delia mengakui, apa yang Bagas ucapkan benar adanya. Dan jika saat itu tiba, apa yang harus ia lakukan? Tidak ada ikatan lain di antara ia dan suaminya selain cinta. Jika cinta itu sudah terbagi atau bahkan tiada lagi, lantas dengan cara apa hubungan mereka akan bertahan?


Delia mendesah frustasi. Ada sesuatu dalam dadanya yang memanas karena sesuatu hal yang belum atau bahkan tidak pasti akan terjadi.


Sekali lagi, ia membasuh wajahnya. Bahkan sampai ujung-ujung rambutnya meneteskan air sisa-sisa basuhan tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Del, kamu di dalam?” rupanya itu suara Jayden.


Delia mengeringkan wajahnya dengan tissue, lalu keluar untuk menemui suaminya tersebut. Begitu keluar, Delia sontak memeluk erat tubuh Jayden.


“Kamu kenapa Del? Dan kenapa kamu basah kuyup seperti ini?” Jayden mengusap rambut Delia yang sedikit basah.


“Maaf.” Delia mengusap-usap baju yang Jayden kenakan. “Baju kamu basah ya, padahal kamu mau tampil lagi kan?” tanyanya.


Jayden menangkup kedua pipi Delia, “bukan itu masalahnya, kamu kenapa?”


Jayden tersenyum, “sabar ya, setelah penampilan band lokal ini, kita sudah penutupan.”


Delia tersenyum meraya mengangguk-anggukan kepalanya.


Usai konser, mereka segera kembali ke hotel. Sesuai janji Dave, ia menyewakan satu buah kamar di hotel yang berbeda untuk Jayden dan Delia. Sementara Bintang dan yang lainnya menginap di hotel yang disediakan panitia.


“Kamu mau langsung ke hotel?” tanya Jayden pada Delia.


“Aku pengen jalan-jalan dulu,” jawab Delia.


“Baiklah.”


Usai pamit pada semuanya, Jayden dan Delia pergi terlebih dahulu meninggalkan Bintang yang memasang wajah cemberut.


“Kamu kenapa Bi?” tanya Dave.


“Kenapa aku tidak disewakan hotel yang sama dengan Jay? Katanya tour ini mau dijadikan acara reality show.”


“Karena aku memerlukan kamu malam ini.”

__ADS_1


“Apa?” Bintang sudah memasang wajah siaga.


Dave menatap tubuh Bintang dari atas ke bawah.


“Aku tidak berhutang apa-apa padamu Bos.”


Dave tertawa, “hahaha ... Ternyata kamu cerdik, Bi. Bukan untukku.” Dave mengangkat dagunya seraya menoleh ke arah Bagas yang terlihat tengah memberikan instruksi pada para kru.


“Mas Bagas? Tapi kenapa?” tanya Bintang.


“Kamu tidak mau kan karier kamu hanya berhenti di sini? Sebagai penyanyi? Bagas sangat bisa merekomendasikan kamu buat bermain di film layar lebar. Katanya, wajah kamu sangat menjual.”


“Benarkah?” tanya Bintang antusias.


“Jadi bagaimana?” Dave balik bertanya.


“Baiklah,” jawab Bintang yang mendapatkan senyum kemenangan Dari Dave.


Dave berjalan ke arah Bagas dan terlihat membisikkan sesuatu di telinganya. Sejurus kemudian, Bagas berjalan mendekati Bintang.


“Aku akan datang ke kamar kamu nanti malam, bersiaplah,” bisik Bagas.


Jayden dan Bintang, sepasang selebriti yang namanya tengah menjadi topik hangat itu tengah menikmati malam di kota Surabaya. Keduanya sama-sama tengah beraktivitas di atas tempat tidur, namun dengan pasangan yang berbeda.


Jika di sini Jayden sedang menikmati malamnya dengan istrinya, di sana Bintang sedang memanaskan ranjangnya bersama pria yang tidak memiliki hubungan khusus dengannya. Hanya sebatas pemenuhan kebutuhan, dan saling memanfaatkan.


“Ternyata waktu itu aku masuk ke kamar yang salah, Bi,” ucap Bagas seraya merapikan pakaiannya.


“Jadi film apa yang akan aku bintangi?” tanya Bintang.


“Film?” tanya Bagas tidak mengerti.


“Si Bos bilang Mas mau menjadikan aku bintang layar lebar?”


“Ah ya, tunggu kabar dari aku.” Bagas mengecup bibir Bintang yang masih duduk bergelung selimut sebelum keluar dari kamar tersebut.


Saat keluar dari kamar Bintang, Bagas segera menelepon Dave.


“Bagaimana hadiahku? Suka?” tanya Dave begitu sambungan terhubung.


“Mas menjanjikan dia main film? Sungguh licik,” ucap Bagas.


“Hahahaha ... Sama-sama,” ucap Dave senang. Padahal Bagas tidak mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Bagas memutus sambungan telepon, dan berjalan cepat menuju ke kamarnya sendiri.


__ADS_2