Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Burung Angsa


__ADS_3

Serangkaian acara tour konser Jayden dan Bintang sudah sepenuhnya selesai. Jayden memutuskan untuk stay di Bali selama 3 hari 2 malam. Dan hal itu tentu saja membuat Bagas senang. Ia akan mendapatkan bahan untuk acaranya.


Karena semua kru sudah tahu perihal hubungan Jayden dan Delia, Jayden sudah tidak canggung lagi bermesraan dengan istrinya tersebut di depan semua orang. Seperti saat ini, saat makan bersama di sebuah Villa yang mereka sewa, Jayden tidak sungkan untuk menyuapi Delia.


“Ternyata kamu cuma istri di depan kamera, Bi,” bisik Bagas kepada Bintang. Pandangannya fokus pada dua sejoli yang tidak mengindahkan ada orang lain di sana.


Bintang menoleh sekejap, kemudian kembali memakan makanannya. Ia menyuapkan satu sendok serombotan ke dalam mulutnya.


Serombotan adalah makanan khas Bali yang terbuat dari sayuran seperti kacang panjang, bayam, kangkung, terong bulat, tauge, pare, dan buncis. Setelahnya, sayuran tersebut akan diberi bumbu Kalas yang dibuat dari berbagai rempah mulai dari bawang merah, bawang putih, kencur, lengkuas, kunyit, ketumbar, dan santan.


Tidak hanya bumbu Kalas, di dalam Serombotan juga ditambahkan bumbu kacang yang akan membuat rasa dari makanan ini semakin unik dan lezat.


“Kamu gak makan nasi Bi? Orang Indonesia kan belum makan kalau belum makan nasi,” ujar Bagas.


“Lagi diet karbo Mas,” jawab Bintang, “aku makan nasinya sekali dalam sehari. Kalau pagi makan nasi siang sama malemnya enggak. Kalo pagi gak makan nasi, siangnya baru makan nasi. Tapi kalau makan malam, sebisa mungkin aku menghindari nasi,” lanjutnya.


“Untuk apa?” tanya Bagas.


“Untuk menjaga tubuh aku tetap ideal lah,” jawab Bintang ketus.


“Kamu gak pernah cemburu sama Delia, Bi?” tanya Bagas lagi.


Bintang menoleh sejenak ke arah Jayden dan Delia yang masih menganggap dunia adalah hanya milik mereka berdua.


“Kalau aku jadi kamu sih aku cemburu ya Bi. Aku gak tahu tujuan utama kalian menikah apa, tapi kan kamu tetap istri sahnya Jay.”


“Mas tidak tahu apa-apa.”


“Tapi aneh sih, laki-laki bucin kayak Jay bisa berhubungan dengan wanita berbeda,” ucap Bagas, “eh, gak aneh juga sih, laki-laki itu udah biasa berhubungan tanpa cinta,” ralatnya.


Bintang diam.


“Katakan Bi, bagaimana pembagian kalian tidur? Atau jangan-jangan kalian main bertiga ya?”


“Astaga Mas, ngomongin kayak gitu kok tanpa sensor?!” Bintang sedikit melotot.

__ADS_1


“Hahahaha ....” Bagas malah tertawa.


“Hubungan aku sama Jay tidak sejauh itu.”


“Maksud kamu, kamu dan Jay belum pernah—“


“Benar,” potong Bintang.


“Ya Tuhan, bodoh sekali di Jay menyia-nyiakan kesempatan seperti itu. Tapi ... Aku rasa, aku juga bukan yang pertama kan?”


Bintang melirik sebal ke arah Bagas yang sudah terlewat kepo. Tapi ia tidak bisa menjauhi Bagas, ini demi filmnya. Film yang bahkan belum sampai pada tahap perencanaan.


“Katakan Bi, siapa yang pertama? Siapa orang beruntung itu? Apakah pacar kamu?”


“Gak usah kepo deh Mas.”


“Kok kepo? Ayolah Bi, katakan siapa pria itu. Apa teman kuliah kamu?”


“Hei, dulu aku anak baik-baik Mas.”


“Jadi, siapa? Jangan-jangan Dave?!”


“Jadi benar Dave orangnya. Damn! Aku keduluan Dave! Kamu tahu Bi, sudah menjadi rahasia umum kalau Dave suka bermain wanita. Ia merekrut artis-artis wanitanya dengan cara seperti itu. Termasuk yang saat ini menjadi istrinya.”


“Benarkah?”


“Menurut kamu gimana?”


“Menurut aku, jika kita ingin mendapatkan sesuatu, kita harus siap kehilangan sesuatu yang lainnya.” Bintang tampak menerawang.


Bagas memandangi wajah Bintang yang terlihat sendu. Dalam hati kecilnya, ada sedikit rasa iba pada wanita itu. Banyak artis di luar sana yang populer karena prestasinya. Tapi Bintang malah memilih jalan yang salah.


Saat ini, Bintang bisa dibilang adalah anak emasnya Dave. Bagas yakin, ada sesuatu yang diterima Dave untuk itu. Tapi sampai kapan? Setiap hari bintang-bintang baru bermunculan. Akan ada saatnya Dave berpaling dari Bintang. Kalau bukan karena prestasi, akan sulit bertahan di dunia yang ia geluti ini.


“Aku masuk dulu Mas.” Bintang segera berdiri tanpa menunggu jawaban dari Bagas.

__ADS_1


“Oke, jangan lupa besok pagi syuting di pantai.”


Bintang tersenyum sebelum pergi dari sana.


Waktu semakin larut, semua orang sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Kecuali Bagas. Ia masih menikmati rokoknya di kursi yang terdapat di depan villa. Menikmati udara malam yang semakin dingin. Bintang-bintang bertaburan di langit sana, membuatnya semakin terlihat indah.


Total 3 hari 2 malam sudah mereka lewati di pulau dewata.  Semuanya bersiap untuk segera pulang ke ibu kota. Bagas, Bintang, Jayden dan Delia memilih jalur pesawat bersama dengan Dave sebagai alat transportasi mereka. Sementara para kru naik sleeper bus yang sama saat mereka pergi.


Mereka sudah lelah, tidak akan ada syuting lagi selama perjalanan pulang. Untuk itulah mereka memilih jalur udara. Mereka bisa berhemat waktu hingga berkali-kali lipat. Butuh waktu setidaknya 19 sampai 20 jam untuk sampai Jakarta via darat, sedangkan via udara, mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam saja.


Delia duduk bersender pada pundak Jayden. Mendengarkan musik dari earphone yang sama. Tangannya mengusap-usap kalung pemberian Jayden saat di Bali.


“Apa ini Jay?” tanya Delia saat itu. Mereka tengah duduk di atas pasir menyambut kedatangan mentari pagi yang selalu setia menyinari bumi.


“Bukalah!” titah Jayden.


Delia membuka kado berukuran 10 cm x 10 cm itu. Ia tidak bisa memendam binar kebahagiaan saat melihatnya.


“Suka?” tanya Jayden.


Delia mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.


“Biar aku pakaikan.” Jayden mengambil kalung berbahan mas putih dan berliontin burung angsa tersebut dan memakaikannya pada leher Delia. “Maaf harus membuat kamu menunggu lebih dari satu tahun untuk membelikannya.”


Delia menatap Jayden tidak mengerti.


“Aku tadinya mau memberikan ini saat ulang tahun kamu sebelumnya, tapi apalah daya, uangku belum cukup saat itu. Beberapa hari sebelum pergi, aku kembali ke toko itu, aku berencana akan memberikan kalung itu saat di Yogyakarta. Namun kalungnya tentu sudah tidak ada. Untuk itu aku memesannya. Karena estimasi waktu pembuatannya akan melebihi hari ulang tahun kamu, aku meminta mengirimkannya ke Bali.”


Delia tersenyum, kini ia tahu kenapa Jayden bersikeras mengajaknya untuk mengikuti tournya hingga selesai.


“Kamu tahu Jay, kenapa aku suka burung angsa?” tanya Delia.


“Karena cantik?” tebak Jayden.


“Burung angsa memang cantik, tapi bukan itu alasannya,” ucap Delia, “Angsa itu hewan yang menjadi simbol kesetiaan Jay. Angsa didaulat sebagai hewan paling setia karena hanya memiliki satu pasangan dalam seumur hidupnya. Dulu aku berharap, kita bisa menjadi sepasang angsa. Aku hanya menjadi satu-satunya pasangan kamu. Tapi kenyataan berkata lain.”

__ADS_1


“Kamu tetap satu-satunya di hati aku Del.”


Sampai kapan? Batin Delia kembali teringat ucapan Bagas sebelumnya.


__ADS_2