
Jayden dan Bintang baru saja menyelesaikan syutingnya ketika seorang wanita bertamu ke rumah mereka. Wanita muda seumuran Delia tersenyum manis kepada tuan rumah.
“Em ... Saya Mellysa, temannya Delia. Bisa kami bertemu?”
Jayden mempersilakan tamunya untuk masuk, kemudian meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman.
“Silakan duduk.”
Mellysa duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu. Sedikit mengamati isi ruang tamu tersebut. Foto besar Jayden dan Bintang menghiasi dinding di sana. Rasa iba tiba-tiba menguar di hatinya atas Delia. Tuan rumah yang tidak dianggap.
“Saya Jayden, saya suaminya Delia.” Jayden memperkenalkan diri.
“Aku tahu, penyanyi cafe itu kan? Delia sudah cerita semuanya. Dan jangan terlalu formal gitu sama aku,” ucap Mellysa, “oh iya, Delianya mana?”
“Delia di rumah orang tuanya,” jawab Jayden.
“Kok bisa? Bukannya dia bilang kalau kalian kawin lari?”
Jadi sedetail itu Delia menceritakan hubungan kami pada temannya ini? Apakah itu artinya Mellysa bisa dipercaya? batin Jayden.
“Hello ... Kok malam melamun?” Mellysa mengibaskan tangannya di depan wajah Jayden yang hanya diam membisu.
“Ceritanya panjang,” jawab Jayden, “intinya karena sebuah insiden, Delia mengalami amnesia, dan sangat kebetulan orang tuanya yang membawanya pulang.” Jayden menundukkan pandangannya ke bawah.
Obrolan terhenti ketika asisten rumah tangga Jayden datang membawa satu nampan dengan dua cangkir teh di atasnya. Ia segera berlalu pergi usai melaksanakan tugasnya.
“Jadi gimana sekarang keadaan Delia?” tanya Mellysa.
Jayden menggeleng. “Aku tidak tahu, aku belum bisa bertemu dengannya.” Jayden kemudian menatap wajah Mellysa. Sebuah ide muncul dalam kepalanya. “Mel, kamu mau bantu aku?”
“Bantu apa?” tanya Mellysa.
“Tolong datang ke rumah orang tua Delia, cari tahu keadaan Delia. Setelah di sana, hubungi nomor aku. Aku ingin bicara padanya. Mungkin dengan mendengar suaraku, ingatannya akan segera pulih. Please.”
Mellysa bergeming. Ia memang harus menemui Delia karena urusan bisnis. Tapi untuk membantu Jayden, ia tidak bisa mengiyakannya begitu saja. Belum pasti cerita yang Jayden sampaikan benar. Bisa jadi Delia pulang karena tidak tahan dengan hubungan rumah tangganya.
“Tidak bisa ya?” tanya Jayden lirih, “maaf, aku tidak bermaksud merepotkan kamu. Sebelumnya kita memang tidak begitu akrab. Tapi Delia sering cerita tentang kamu. Kamu sahabat Delia ketika kuliah kan? Aku yakin Delia sangat dekat dan percaya sama kamu. Itu sebabnya dia menceritakan rumah tangga kami pada kamu.”
Mellysa tersenyum, “aku tidak bisa berjanji Jay, tapi akan aku usahakan. Kalau begitu aku permisi.”
Mellysa meninggalkan rumah Jayden tanpa mencicipi hidangan yang diberikan tuan rumah. Tujuannya saat ini adalah pergi ke rumah orang tua Delia untuk bertemu dengan sahabat yang akan menjadi rekan bisnisnya tersebut.
Mellysa mengendarai mobilnya menuju ke arah yang sudah ia ketahui dengan pasti. Ia dan Delia memang berteman sejak pertama kali masuk perguruan tinggi. Saat mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru. Hingga mereka semakin dekat dan menjadi sahabat yang ke mana-mana selalu bersama.
__ADS_1
Mobil yang Mellysa kendarai sudah berada di depan rumah bernuansa putih tersebut. Penjaga menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Mellysa ke rumah tuannya.
“Saya teman kuliah Delia, ada urusan bisnis,” jawab Mellysa dengan lugas.
Penjaga tersebut terlihat menghubungi seseorang via telepon, sebelum kemudian membukakan gerbang untuk Mellysa.
Mellysa sadar ada yang tidak beres. Seingatnya dulu, untuk bertamu ke rumah ini tidak terlalu ketat.
Rumah yang kunjungi itu tidak jauh berbeda dengan yang terakhir kali ia ingat. Tidak banyak perubahan, kecuali pohon mangga di samping rumah yang terlihat sudah tumbuh lebih tinggi.
Pelayan di rumah Delia mempersilakan Mellysa masuk. Biasanya ia akan lanjut masuk ke kamar Delia, namun kali ini tidak. Mellysa harus memastikan dulu situasinya seperti apa.
Arga datang ke ruang tamu, di mana Mellysa sudah duduk di sana. Teman putrinya itu berdiri dan menyalami Arga.
“Halo Om, saya Mellysa, teman kuliah Delia. Dulu saya sering ke sini, tapi kita jarang bertemu.” Mellysa sadar diri, orang di depannya ini tidak mungkin mengingatnya. “Delianya ada Om?”
“Sedang dipanggilkan,” jawab Arga seraya duduk dengan menyilangkan kaki di depan Delia. “Jadi apa kegiatan kamu setelah lulus kuliah?”
“Saya membuka bisnis Om, manufaktur, garmen. Saya dan Delia berencana untuk bekerja sama. Delia akan membuka bisnis pakaian dengan brandnya sendiri, nanti perusahaan saya yang akan membuat barangnya.”
“Oh ya? Bagus dong. Apa nama brandnya?”
“Delia bilang, JD,” jawab Mellysa.
“Saya kurang tahu Om, mungkin untuk itu bisa dijelaskan langsung sama Delia. Saya hanya membantu sedikit saja tentang pengurusan perizinan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk pembukaan bisnisnya.” Mellysa memilih untuk pura-pura tidak tahu saja.
Bersamaan dengan itu, Delia turun dari lantai dua menuju ke ruang tamu. Senyum terukir dari bibirnya ketika melihat kedatangan Mellysa.
Mellysa berdiri dan memeluk Delia. “Hai Del, ini kenapa?” tanya Mellysa seraya menunjuk ke arah kening Delia.
“Bukan masalah, ayo duduk.” Delia menarik Mellysa untuk duduk kembali. Mengabaikan Arga yang masih berada di sana.
“Sorry aku harus datang, soalnya aku nelpon kamu gak nyambung-nyambung. Padahal banyak banget yang mau aku bicarain soal bisnis kamu.” Mellysa mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. “Nih, surat izin usaha kamu udah selesai.”
Delia menerima map yang Mellysa sodorkan, sesekali melirik ke arah Arga yang masih bergeming di tempat. Tidakkah orang tua itu ingin pergi dari sana?
Delia membaca dengan teliti. Atau setidaknya pura-pura membacanya. Ada hal lain yang ingin Delia bicarakan. Pun dengan Mellysa, banyak tanya bercokol di dalam kepalanya. Terutama tentang kabar bahwa Delia hilang ingatan, namun nyatanya tidak.
“Thanks ya Mel, kamu memang ter-the best!” ucap Delia seraya mengacungkan dua jempolnya ke arah Mellysa.
“Oh iya, tempo hari kamu bilang akan ada barang masuk ke ruko, tapi tadi info yang aku terima katanya waktu itu pengirimannya balik lagi, kamu ke mana?”
“Oh itu ... Ada sedikit insiden,” ucap Delia lirih. Sekali lagi, Delia melirik Arga yang masih duduk bergeming di antara mereka.
__ADS_1
“Kenapa kamu gak hubungin mereka? Mereka bisa blacklist kamu loh karena dianggap membuat pesanan palsu. Sayang juga, DPnya udah masuk kan?”
“Tapi ... hape aku dan segala isi tas aku hilang, Mel.” Delia melirik ke arah Arga, berharap Mellysa mengerti maksudnya.
“Ya Tuhan Del, kamu kayak orang susah aja, beli lagi kenapa? Untuk nomornya kan kamu bisa urus lagi ke gerai providernya.” Mellysa kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan menyerahkannya kepada Delia, “kalau engga, nih, pake hape aku dulu.”
Ragu, Delia mengambil ponsel Mellysa. Ia melirik Arga yang masih terlihat tidak peduli. Pandangannya fokus pada ponsel di tangannya.
Mellysa mengangguk, dan Delia tahu maksudnya.
Delia memencet nomor yang ia sudah hafal betul. Sekali deringan sambungan telepon sudah terhubung.
“Halo, dengan Flexibel? Saya Delia, saya yang tempo hari pesan rak dan display untuk toko saya,” ucap Delia.
“Delia, sayang, ini beneran kamu?” ucap orang di seberang sana.
“Iya Pak, saya mohon maaf, saya mengalami sedikit insiden saat itu sehingga saya tidak bisa menerima barang waktu itu.”
“Aku seneng banget denger suara kamu sayang. Gimana keadaan kamu?”
“Baik Pak, oh iya pak, barangnya bisa dikirim ulang?”
“Kenapa kamu bicara seperti itu Del? Apa di sana sedang ada Papa kamu?”
“Iya, pak,” jawab Delia.
“Baiklah aku mengerti, aku seneng kamu inget sama kamu. Papa kamu bilang, kamu amnesia.”
“Tidak, Pak,” jawab Delia.
“Aku kangen Del, kapan kamu pulang? Atau setidaknya bisa kita bertemu?”
“Hemmm ... Mungkin besok pagi saja, Pak, saya akan tiba di ruko jam delapan. Saya akan memeriksa kelengkapan barangnya. Atau kalau saya tidak bisa, saya akan meminta bantuan teman saya.”
“Baiklah aku mengerti.”
“Teman saya namanya Mellysa, Pak.”
“I love you sayang.”
“Sama-sama, Pak.”
Sambungan telepon pun terputus.
__ADS_1