
Dua minggu yang sibuk untuk Jayden, Bintang, dan Delia. Jika Jayden dan Bintang sibuk mempersiapkan konser mereka, Delia sibuk dengan rencana pembukaan perusahaannya sendiri.
Delia memulainya dengan menyusun konsep yang akan ia usung untuk perusahaannya, kemudian mencari tempat yang akan menjadi pusat bisnisnya. Ia menyewa ruko lantai 3 tak jauh dari rumah mereka sebagai lokasi perusahaannya.
Rencananya, lantai paling atas ia akan gunakan untuk kantornya, dan segala macam bentuk administrasi, serta studio foto untuk modelnya nanti. Tentu saja itu adalah Jayden. Lantai dua ia akan gunakan untuk gudang penyimpanan, sedangkan lantai dasar ia akan gunakan untuk showroomnya.
Mellysa memperkenalkan seorang designer interior untuk membantunya mempercantik ruang usahanya. Designer itu juga memperkenalkan Delia kepada designer grafis yang akan membantunya membuat gambar untuk promosi dan iklan. Designer itu juga yang nantinya akan membantu Delia mendesign produknya.
Pada awalnya Mellysa menanyakan, bagaimana bisa Delia mengajak Jayden untuk menjadi brand ambassadornya. Saat itu Delia menjawab bahwa ia mempunyai koneksi untuk itu. Rupanya Mellysa tidak tahu kalau Jayden adalah Jayadi, penyanyi cafe tempat mereka biasa berkumpul saat kuliah.
Karena waktu itu Delia tidak ingin orang tuanya tahu, ia memang menyembunyikan perihal hubungannya dengan Jayden. Bahkan dari teman-temannya.
“Lagi ngapain Del?” Jayden masuk ke kamar Delia ketika istrinya itu sedang sibuk dengan laptopnya.
“Nyiapin dokumen buat ngurus surat izin usaha, akta, dan lain-lain,” jawab Delia tanpa menoleh ke arah Jayden.
Jayden duduk di belakang Delia, lalu memeluknya dan menciumi pundaknya.
“Jay, diem bentar, aku lagi sibuk nih. Belum lagi laporan ke Ditjen HKI.” Delia sedikit menggerutu mendapat gangguan dari Jayden.
“Baiklah, maaf mengganggu.” Jayden menurunkan kedua tangannya, lalu berjalan keluar. Ia menoleh sekali lagi ke arah istrinya tersebut. Tidak ada tanda-tanda Delia akan menyusulnya. Wanita itu masih terlihat fokus ke layar laptopnya.
Jayden mengembuskan nafas kasar. Hampir dua minggu, istrinya selalu sibuk. Delia selalu pergi siang harinya, dan malam harinya ia terlihat lelah dan tertidur begitu saja. Malamnya terasa dingin walaupun ada istrinya di sampingnya.
Jayden turun ke lantai bawah, menyalakan televisi di ruang keluarga. Ia memencet-mencet remote tv, mencari sesuatu yang menarik menurutnya, tapi tidak ia temukan. Hanya ada sinetron dengan beribu-ribu episode, berita kecelakaan dan bencana alam, variety show yang tidak berfaedah, dan acara-acara yang tidak menarik baginya.
“Belum tidur Jay?” Bintang turun dari arah tangga.
“Belum ngantuk,” jawab Jayden.
__ADS_1
Bintang pergi ke dapur, membawa satu botol minuman dari kulkas, dan membawanya beserta satu buah gelas, lalu duduk di samping Jayden yang masih belum menemukan tontonan yang pas.
“Aku punya dvd film-film bagus kalau kamu mau.”
Jayden menoleh sejenak, “film apa?”
“Ayo ikut.” Bintang berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah Jayden. Karena tidak kunjung mendapat sambutan, Bintang menarik tangan Jayden untuk bangun.
Dengan sedikit terhuyung, Jayden mengikuti langkah kaki Bintang. Ia menyempatkan diri untuk mematikan layar televisi dengan remote yang masih ia pegang, kemudian menyimpannya di atas sofa.
Bintang menuntun Jayden untuk masuk ke kamarnya.
“Kok ke kamar?”
“Kita nonton di kamar aku aja, biar kamu pilih sendiri filmnya.”
“Pintunya jangan ditutup, Bi,” ucap Jayden ketika Bintang terlihat akan menutup pintu.
“Baiklah.” Bintang mengambil koleksi dvdnya yang ia simpan di sebuah wadah serupa album foto dan memberikannya kepada Jayden.
Jayden mulai memilih film yang Bintang koleksi. Sebagian besar film-film hollywood, seperti superhero dari DC atau Marvel.
“Yang ini aja.” Jayden memberikan sebuah kepingan CD kepada Bintang.
Usai menyalakan film yang Jayden pilih, Bintang mengajak Jayden untuk duduk di kasurnya. Awalnya Jayden ragu, tapi pada akhirnya ia mengikutinya juga.
“Ayolah Jay, jangan kaku gitu. Kamu takut aku apa-apain?” ajak Bintang, “eh, diapa-apain juga gak papa kali ya, kita kan sudah sah,” lanjutnya.
Film di putar, Jayden dan Bintang duduk bersebelahan.
__ADS_1
Baru setengah jalan, Jayden sudah merasakan kantuk yang sangat berat. Tanpa sadar, ia tertidur menyender pada headboard tempat tidur Bintang.
Awalnya Bintang tidak sadar. Matanya masih fokus pada tontonan di depannya sampai kepala Jayden jatuh ke pundaknya.
Bintang menoleh menyusuri wajah tenang Jayden dengan jari-jarinya. Bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir itu ... Sial! Bintang ingin sekali mengecupnya!
Merasa ini adalah kejadian langka, Bintang mengambil ponselnya dan mengabadikan momen tersebut. Ia memotret wajah pulas Jayden yang bersender di pundaknya, lalu mempostingnya di instastory miliknya. Ia tidak bisa men-tag nama Jayden, karena suaminya itu tidak memiliki akun sosial media apa pun.
Di kamar lain, ponsel Delia berdenting satu kali. Ia segera mengambilnya karena ia pikir itu adalah pesan dari Mellysa. Ya, saat ini mereka memang tengah bertukar pesan.
Namun bukan pesan dari Mellysa, melainkan sebuah pemberitahuan akun sosial medianya. Instagram. Awalnya Delia akan mengabaikannya, karena ia sangat sibuk, tapi entah mengapa melihat siapa yang memposting, jari-jari Delia tergerak untuk membukanya.
Bola mata Delia membola seiring dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang. Beberapa detik yang lalu, Bintang memposting foto suaminya yang tidur menyender pada pundak Bintang.
Delia memang sengaja memfollow akun sosial media milik Bintang untuk mengetahui perkembangan tentang hubungan wanita itu dan juga suaminya. Entah Bintang sadar atau tidak. Ia mempunyai ratusan ribu followers di akun sosial medianya.
Delia menoleh ke arah tempat tidur, tidak ada Jayden di sana. Ia lalu menyimpan laptop yang semula ia pangku ke atas sofa. Sedikit tergesa, Delia keluar dari kamar untuk menuju ke kamar Bintang. Tapi, ia melihat Bintang menutup pintu kamarnya, dan Jayden ... Ya, dia masih ada di sana. Apakah itu artinya Jayden akan tidur di kamar Bintang malam ini?
Bintang tersenyum puas melihat Delia. Ia sengaja menunggu Delia keluar dari kamarnya, baru menutup pintu. Ia ingin memastikan Delia melihat Jayden di kamarnya. Dan sekarang, Bintang sudah satu langkah lebih dekat dengan Jayden.
Bintang naik ke tempat tidurnya, menyembunyikan tubuhnya dan tubuh Jayden di bawah selimut yang sama. Dengan gerakan sangat pelan, Bintang melingkarkan tangannya di atas perut Jayden. Entah bagaimana ia mendeskripsikan kebahagiaannya saat ini. Memeluk Jayden dalam tidurnya, sungguh peningkatan yang luar biasa.
Sementara itu, Delia masih berdiri di tempat yang sama. Ia berharap Jayden akan keluar dari sana menyadari bahwa ia berada di kamar yang salah. Hampir 30 menit ia menunggu, Jayden tidak juga keluar. Kecewa? Tentu saja. Ia harus membiarkan suaminya tidur dengan wanita lain, walaupun itu istrinya sendiri, istri keduanya.
Dengan penuh kekecewaan, Delia kembali ke kamarnya. Bukan untuk bekerja. Ia sama sekali sudah tidak fokus untuk itu. Sekali lagi, Delia melihat foto suaminya yang tengah tertidur di pundak wanita lain. Hatinya begitu terluka.
Memang tidak ada perjanjian sebelumnya kalau Jayden tidak akan menyentuh Bintang. Harusnya ia sadar akan kemungkinan itu. Jayden dan Bintang adalah suami istri yang sah, tentu saja mereka berhak melakukan itu.
Tetap saja ia merasa sakit hati. Salahnya memang, dua minggu terakhir ia terlalu sibuk di luar sana. Menyiapkan segala sesuatu untuk membuka usahanya. Mungkin secara tidak langsung Jayden merasa diabaikan, dan membutuhkan kehangatan yang tidak bisa ia berikan.
__ADS_1