
Suasana di dalam mobil sangat sunyi. Dua orang manusia yang ada di dalamnya hanya diam membisu. Tidak ada suara lain selain suara halus mesin mobil yang mereka tumpangi.
Sesekali Jayden melirik ke arah Bintang. Melihat wajah sendu di sana. Ia paham betul posisi Bintang saat ini. Baru saja Miranda menunjukkan bukti itu. Sebuah video yang bisa menjadi sebuah senjata untuk menyerang Dave, tapi juga menyerang balik kepada mereka dalam waktu yang sama.
Jayden sempat mengusulkan untuk melaporkan Dave dengan membawa bukti itu, tapi tentu itu tidak mudah bagi Bintang. Di dalam video itu, hanya dirinya yang terekspos, tidak dengan lawan mainnya. Menunjukkan video itu hanya akan mempermalukan dirinya. Belum lagi kepastian video itu tidam akan menyebar di internet.
“Hentikan memperhatikanku, Jay. Kecuali kalau kamu sudah memutuskan akan mulai mencintai aku,” ucap Bintang.
Jayden sedikit mengangkat bibirnya.
“Katakan, bagaimana pencarian Delia? Sudah menemukan sesuatu?”
Kini berganti wajah Jayden yang sendu. Menemukan fakta bahwa istrinya hilang ingatan menjadi pukulan tersendiri. Ditambah karena ia tidak bisa berada di sisinya untuk membantu memulihkan ingatannya membuat Jayden frustasi.
“Jay?”
“Delia amnesia, Bi.”
“Kamu sudah bertemu dengannya?”
Jayden menggeleng.
“Lalu?”
“Aku bertemu dengan ayahnya. Dia yang mengatakan semuanya.”
“Kamu sudah mengkonfirmasi berita itu?”
Jayden kembali menggeleng.
“Kenapa? Sependek pengetahuanku, kamu dan ayahnya Delia tidak terlalu akrab. Kenapa dia mau memberimu informasi tentang putrinya begitu saja?”
“Maksud kamu ayahnya Delia berbohong untuk menjauhkanku dari Delia begitu?”
“Aku tidak berkata seperti itu Jay, aku hanya ... Seharusnya kamu mengkonfirmasi segala informasi yang kamu terima. Kamu pastikan dulu kebenarannya seperti apa.”
__ADS_1
“Aku tidak memiliki kesempatan itu, Bi. Ruang rawat Delia di jaga dua orang suruhan ayahnya Delia. Lagi pula, aku sempat mendengar ucapan dokter, kalau Delia akan dirawat di rumahnya.”
“Lalu kamu menyerah?” tanya Bintang, “Jay, terkadang kesempatan itu dicari, tidak datang dengan sendirinya.”
“Aku tidak menyerah, Bi, tidak akan pernah. Hanya saja, hari ini ... Kamu tahu sendiri kan aku harus mengantar kamu menemui Dave. Walaupun hasilnya ....” Jay menghentikan ucapannya ketika melihat sesal di wajah Bintang.
“Maaf,” ucap Bintang lirih, “aku tidak bermaksud merepotkanmu,” lanjutnya.
“Bukan maksud aku seperti itu, Bi ... Aku hanya memilih menyelesaikan masalah sesuai skala prioritas keurgent-annya. Menurut aku, masalah kamu lebih urgent. Kalau soal Delia, aku akui aku khawatir. Tapi disisi lain aku juga tenang karena ia saat ini sudah aman di tempat yang aman juga. Tinggal aku cari cara bagaimana untuk bertemu dengannya.”
Bintang tersenyum, “aku seneng kamu menjadikan aku prioritas Jay.”
“Bukan begitu, bukan tentang kamu. Siapa pun orangnya, jika dalam posisi kamu, selama aku bisa bantu ya pasti aku bantu. Ini demi kemanusiaan.”
“Kamu yakin Jay? Kalau orang lain yang mengalaminya akan kamu bantu juga? Aku rasa kamu mulai perhatian sama aku Jay.”
“Itu ....”
“Sudah tidak usah di bahas. Laki-laki memang lebih lama dalam mencerna sesuatu. Bahkan yang ada di dalam hatinya sendiri.”
Jayden bungkam. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau semua yang ia lakukan untuk Bintang adalah karena rasa kemanusiaan.
Seorang wanita lain masuk ke dalam kamarnya, mendesah berat melihat makanan yang ia bawa tadi siang masih utuh di atas meja.
“Non, ini makan malamnya,” ucap wanita berpakaian pelayan tersebut seraya menyimpan aneka hidangan dan buah-buahan di atas meja, menggantikan makanan yang sebelumnya tersaji di sana.
Wanita itu tidak menjawab. Ia masih asyik dengan lamunannya sendiri.
“Ada yang Nona butuhkan lagi?” tanya sang pelayan.
Si wanita menoleh, “ponsel. Saya butuh ponsel, Bi.”
“Maaf Non, itu tidak bisa. Saya takut Tuan marah.”
“Dia menolak makan lagi?” Seorang pria paruh baya yang masih gagah dengan setelan kantornya menerobos masuk ke sana.
__ADS_1
“Maaf Tuan,” ucap sang pelayan.
“Kalau kamu tidak bisa membuat dia memakan makanannya, kamu saya pecat! Kamu tidak berguna buat saya!”
“Jangan Tuan ....” Pelayan tersebut memohon.
Wanita muda yang sedari tadi hanya bergeming itu akhirnya menatap tajam ke arah pria tak berperasaan itu. “Papa tidak berubah. Selalu menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri.”
“Apa salah Papa? Papa menggajinya untuk memberi kamu makan. Kalau dia tidak sanggup melakukannya, untuk apa Papa repot-repot membayarnya.”
“Berikan makanan itu, Bi. Dan Bibi tolong tinggalkan kami.” Delia akhirnya pasrah. Ia tidak mau seseorang sampai menanggung akibat dari keegoisannya.
“Mana ponsel aku,” ucap Delia setelah kepergian pelayan itu.
“Papa tidak tahu,” jawab Arga.
“Jangan bohong Pa. Aku tahu Papa menyembunyikan ponsel aku agar aku tidak menghubungi Jay kan? Papa bahkan memutus telepon kabel di kamar aku, dan Papa yang mengambil laptop aku juga kan? Pa, aku ini istrinya Jay, kami sudah menikah. Papa tidak berhak memisahkan kami.”
“Kamu masih membela laki-laki tukang selingkuh itu?”
“Jay tidak seperti itu Pa, semua ada alasannya.”
“Apa pun alasannya, Papa tidak bisa terima jika harus sampai membuat kamu dianiaya seperti ini. Dengar Delia, mungkin awalnya sulit. Tapi percaya sama Papa, kelak, kamu akan berterima kasih karena Papa sudah membebaskan kamu dari laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan tidak memedulikan kamu. Lihat, dia tidak mencarimu atau mengkhawatirkanmu. Dia tetap saja bersama dengan istri lainnya yang suka bersolek itu. Dan satu lagi. Papa sudah menyiapkan kepergian kamu ke London. Kamu akan melanjutkan pendidikan di sana.”
“Apa?! Aku tidak mau!”
Arga pergi begitu saja menyisakan rasa sesak di hati Delia.
Delia membanting piring yang berisi makanan hingga berserakan di atas lantai. Ia menangis tersedu meratapi nasibnya.
Ia menyesali apa yang terjadi kemarin. Seharusnya ia menghindar saat orang-orang tak beradab itu melempari dirinya, bukan malah menanggapinya. Ia menyesali kenapa harus sampai pingsan hanya karena luka kecil di dahinya.
Jadi selama ini Papa selalu mengawasiku? Batin Delia mengingat bahwa yang membawanya ke rumah sakit kemarin adalah orang-orang suruhan Arga. Itu pun Delia tahu secara tak sengaja. Ia yang saat itu belum benar-benar hilang kesadaran, masih bisa mendengar obrolan orang-orang yang membawanya dari tempat naas itu.
“Jay ... Kamu di mana? Apakah kamu mengkhawatirkanku? Kenapa kamu tidak mencariku Jay?” ucap Delia di sela isakannya.
__ADS_1
Dan di tempat lain, Jayden yang baru saja terlelap langsung terbangun ketika merasa ada sebuah suara yang memanggil-manggil namanya.
“Delia ...,” ucapnya lirih. Ia kemudian mengambil foto istrinya tersebut yang ada di atas nakas. “Sayang, kamu baik-baik aja kan di sana? Aku yakin kamu baik-baik aja. Papa kamu pasti mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan kamu. Semoga saja ingatanmu cepat pulih sayang.” Jayden kemudian mengecup foto Delia dengan penuh rasa kerinduan.