Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Konferensi Pers


__ADS_3

Menuju siang hari, kediaman Jayden didatangi beberapa awak media. Nama dan foto Delia muncul di layar kaca. Beberapa media bahkan mulai mengulik siapakah sosok Delia ini?


Delia yang masih sibuk di depan laptopnya, mempersiapkan pembukaan bisnisnya mendadak mendapat telepon dari sahabatnya, Mellysa.


“Halo Mel,” sapa Delia.


“Del, serius kamu kerja jadi asistennya Jayden?” tanya Mellysa.


“Apa yang kamu bicarakan?” Delia balik bertanya, tidak mengerti mengapa sahabatnya tiba-tiba menanyakan hal itu.


“Liat tv sekarang!” titah Mellysa.


“Aku sibuk banget Mel, nanti aja nonton tv nya,” tolak Delia.


“Sekarang Del, kamu masuk tv!”


Delia termenung, kemudian melakukan titah sahabatnya itu. Menyalakan smart tv 32 inch yang ada di dalam kamarnya. Ia memindahkan channel sesuai dengan yang diinstruksikan oleh Mellysa.


Ternyata Mellysa benar, ia masuk tv. Bukan karena prestasi, bukan pula karena sebuah pencapaian. Tapi karena ia dituduh menjadi pelakor dalam rumah tangga suaminya sendiri.


“Del ... Del ....” Suara Mellysa mengejutkan ketertegunannya.


“I-iya?”


“Berita itu bohong kan Del?”


“Nanti kita bicara lagi.” Delia menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Mellysa.


Jayden masuk ke kamar Delia dengan sedikit tergesa. Ia baru saja akan berucap, tapi mendadak bungkam saat melihat wajah istrinya itu di layar televisi.


“Del ....” Jayden mendekat, dan secara otomatis Delia membenamkan diri pada pelukan hangat suaminya tersebut.


“Kenapa semua jadi begini Jay?” tanya Delia lirih. “Siapa orang yang tega memberikan foto aku kepada akun gosip itu?”


Kemungkinannya sangat banyak. Karena semakin banyak juga orang yang mengetahui hubungan mereka. Apakah itu Bagas? Mungkin dia sakit hati karena gagal mendapatkan Delia malam itu.


Dalam tayangan layar kaca itu menampilkan screenshot komentar-komentar pedas netizen tentang Delia.  Kata-kata kasar yang bahkan tidak patut untuk diucapkan kepada manusia.


“Aku akan membersihkan nama kamu,” ucap Jayden, “aku janji,” lanjutnya.


“Bagaimana caranya?” tanya Delia.


“Aku akan mengatakan kalau kamu adalah istri aku.”


“Tidak ada bukti untuk itu Jay,” ucap Delia lirih.


“Aku tidak perlu membuktikan apa-apa.”


“Lalu bagaimana dengan karier kamu?”


“Aku tidak peduli.”


“Tapi aku peduli!” Bintang masuk begitu saja ke dalam kamar Delia yang pintunya memang terbuka itu. “Pikirkan baik-baik langkah yang akan kamu ambil ini Jay. Keputusan kamu akan berhubungan dengan karier aku juga! Kita sudah terjebak dalam lingkaran yang sama.”


“Lalu apa mau kamu?” tanya Jayden.

__ADS_1


“Kita bilang itu hoax, sesuai arahan dari si bos.”


“Sampai kapan kebohongan ini berakhir Bi? Aku sudah muak melakukan kebohongan demi menutupi kebohongan lainnya.”


“Setidaknya kita lakukan apa yang terbaik saat ini.”


“Suatu saat semua orang juga pasti tahu kebenarannya. Saat itu tiba, kita akan di cap sebagai pembohong besar!”


Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Jay. Lihat saja, aku akan membuat semua kebohongan ini menjadi kenyataan! Batin Bintang.


Konferensi pers di gelar. Jayden mengundang beberapa wartawan dari beberapa media untuk datang ke rumahnya.


Jayden dan Bintang duduk berdampingan di atas sofa yang ada di ruang tamu rumah mereka. Mikrofon dari berbagai media sudah berbaris rapi di atas meja. Para pewarta sudah siap dengan berbagai pertanyaan di depan sepasang suami istri tersebut.


“Halo teman-teman, terima kasih karena sudah datang ke rumah kami yang sederhana ini.” Bintang membuka sesi konferensi pers tersebut.


“Di sini kami mau menanggapi berita yang beredar di media tentang Jay, suamiku. Dan aku nyatakan dengan tegas, kalau itu semua tidak benar!”


“Suamiku ini adalah laki-laki paling setia yang pernah aku temui.” Bintang menoleh ke arah Jayden. “I love you sayang.”


“Dia begitu mencintaiku. Iya kan sayang?”


Jayden mengangguk.


“See? Kalian bisa melihat sendiri banyak cinta di matanya untukku. Aku selalu percaya padanya. So please, jangan menyebarkan berita yang tidak-tidak tentangnya.”


“Lalu bagaimana dengan foto-foto itu Bi?” tanya salah satu wartawan.


Bintang tertawa, “Kalian melihat foto seperti itu dan langsung mengatakan kalau Jay selingkuh? Banyak gadis di sekeliling Jay, fans fanatiknya. Apakah kalau mereka meminta berfoto dengan Jay, lantas itu dianggap perselingkuhan juga?”


“Jadi seperti apa hubungan kamu dan wanita bernama Delia itu Jay? Benar dia asisten kamu? Bagaimana awal mula Delia bekerja denganmu? Bisa di ceritakan?” Kali ini Jayden yang menjadi sasaran pewarta.


Bintang kembali tertawa, “see, hal-hal yang tidak penting menurutnya, tidak akan tersimpan dalam memori Jay.”


“Apa kalian ada rencana mempunyai momongan dalam waktu dekat ini?”


“Untuk itu aku serahkan jawabannya kepada Jay,” jawab Delia.


“Em ... Kami mau fokus mengejar karier dulu. Tentang itu, belum kami pikirkan.”


Sesi tanya jawab masih berlangsung. Delia mengurung diri di dalam kamar. Membenamkan kepalanya pada bantal yang mulai basah karena air matanya sendiri.


Layar ponselnya masih menampakkan cacian dan makian dari netizen di dalam komentar sebuah foto dirinya yang diunggah sebuah akun gosip di instagram. Julukan pelakor mereka sematkan kepada dirinya.


[Semoga kena karma!]


[Gue sumpahin mandul!]


[Orang tua Lo pasti nyesel udah lahirin cewek kayak Lo!]


Dan kata-kata sejenis yang berisi umpatan-umpatan menyakitkan hati.


Delia terus menangis sampai tanpa sadar ia tertidur. Dan ia baru terbangun saat menyadari ada sebuah tangan melingkar di perutnya.


“Jay ....”

__ADS_1


“Seharusnya kamu tidak membaca itu Del. Itu hanya akan menyakiti kamu.”


Delia melirik ponselnya yang sudah ada di tangan Jayden.


“Orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pahlawan. Membela orang mereka anggap tersakiti. Membully orang yang mereka anggap jahat. Saat tahu kenyataannya, aku yakin, mereka tidak ada pernah meminta maaf pada orang yang pernah mereka bully. Mereka justru akan mencari korban-korban lain yang menurut mereka cocok untuk dijadikan bahan bullyan mereka selanjutnya.”


“Konferensi persnya sudah selesai?” tanya Delia mengalihkan pembicaraan.


Jayden mengangguk, “tiga jam yang lalu.”


“Aku tertidur selama itu?” tanya Delia bingung, “Jam berapa ini Jay?”


“Jam sepuluh malam.”


“Serius?” Delia berdiri, mengintip sedikit di balik tirai untuk membenarkan ucapan Jayden. Dan benar saja, matahari sudah tidak berada di tempatnya lagi.


Delia kembali ke tempat tidur. Berbaring di samping suaminya tersebut. Ia tiba-tiba teringat ucapan Meli, ibunya Bintang, dua hari yang lalu.


“Jay?”


“Hemmm.”


“Pernikahan itu sesuatu yang sakral kan?”


“Iya.”


“Ada hak dan kewajiban di dalamnya kan?”


“Iya.”


“Akan berdosa jika seorang suami atau istri tidak melakukan kewajibannya kan?”


“Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?”


“Kamu dan Bintang ... Kalian adalah suami istri yang sah di mata hukum dan agama. Jadi ....”


“Kamu ingin aku memperlakukan Bintang seperti aku memperlakukan kamu, begitu?”


“Kamu harus berlaku adil terhadap istri-istri kamu Jay.”


“Ibunya Bintang kah yang mengatakannya?”


Delia terdiam.


“Dengar.” Jayden membalik tubuh Delia agar menghadap ke arahnya. “Kamu ingin berbagi suami kamu ini dengan wanita lain Del? Tanyakan pada hatimu. Apakah kamu ingin aku melakukan apa yang biasa kita lakukan bersama Bintang?”


Delia mengalihkan pandangannya ke bawah. “Jika itu bisa membebaskan kamu dari dosa,” jawabnya lirih.


“Dengar Del!” Jayden menarik dagu Delia hingga mata mereka kembali bertemu. “Masalah dosa, itu adalah urusanku. Kamu tidak akan ikut bertanggung jawab karenanya. Mengerti?”


“Jay, aku mencintai kamu, aku tidak mau kamu hidup berkubang dalam dosa.”


Jayden tampaknya kecewa dengan jawaban Delia. Ia membalik badannya memunggungi istrinya tersebut.


Seumur pernikahannya, baru kali ini Jayden secara sadar tidur memunggungi Delia. Sepertinya ia merajuk. Delia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Jayden, ia memeluk Jayden dari belakang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2