Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Malam Pertama


__ADS_3

Pesta pernikahan yang langsung menjadi trending topik di media sosial itu telah sepenuhnya usai. Dave mengajak Miranda untuk pulang.


“Ma, ayo kita pulang,” ajak Dave.


Sekali lagi, Miranda menyempatkan diri menoleh ke arah Jayden. Ia merasa iba kepadanya karena pria sebaik Jayden mendapatkan wanita seperti Bintang, mulus di luar, busuk di dalam. Miranda sendiri tidak mengetahui alasan di balik pernikahan Jayden dan Bintang.


Miranda menggandeng tangan Dave dengan posesif. Tidak ada penolakan dari Dave. Bahkan ia sedikit melirik ke arah Bintang yang tampak biasa saja.


Bintang tidak cemburu? Itu artinya hubungannya dengan Dave hanya sebatas hubungan fisik, tidak ada ikatan cinta di dalamnya. Batin Miranda.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


“Aku naik duluan ya Jay,” pamit Bintang, “jangan lama-lama,” lanjutnya setengah berbisik.


Usai kepergian Bintang, salah satu rekan artis Jayden yang bernama Farhan memberikan sebuah bungkusan kecil kepadanya.


“Apa ini?” tanya Jayden.


“Biar kamu kuat olah raga sampai pagi,” bisik Farhan.


Jayden tidak sepolos itu sampai harus menanyakan detailnya. Ia tersenyum saja. Mengambil bungkusan tersebut dan menyimpannya di saku celananya. Ia tidak ada niatan untuk menggunakannya. Apa yang ia lakukan tidak lebih dari sekedar menghargai temannya saja.


Setelah berbasa-basi sebentar, Jayden pun pamit dari sana. Berjam-jam berdiri membuat kakinya sedikit pegal. Ia ingin merendamnya di air hangat.


Usai kepergian Jayden, teman-temannya ikut membubarkan diri. Para petugas catering juga sudah membereskan sisa-sisa makanan. Besok pagi ballroom ini sudah harus bersih kembali. Para kru yang bertugas harus bekerja ekstra untuk membersihkannya.


Dengan menggunakan Lift, Jayden naik ke lantai 10. Ia kemudian berjalan menuju ke kamar di mana istrinya sudah menunggu. Ia berdiri cukup lama di depan pintu sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk mengetuknya.


Seorang wanita cantik dengan lingerie berwarna merah menyambutnya. Jayden tersenyum. Tanpa aba-aba, ia merengkuh tubuh istrinya tersebut dan mencium bibirnya.


“Kamu seksi sekali sayang,” bisik Jayden.


“Mandi dulu, aku tunggu di sana.”


“Oke.” Jayden menyempatkan diri untuk mendaratkan satu kecupan lagi sebelum menghilang di balik pintu.


Tidak berselang lama, Jayden keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe. Ia mendekat ke arah tempat tidur di mana istrinya sudah menunggu. Ini bukan yang pertama baginya, tapi entah mengapa terasa begitu istimewa.


Di tempat lain, seorang wanita tampak frustasi karena orang yang ia tunggu-tunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya.

__ADS_1


Lelah menunggu, ia akhirnya memutuskan untuk menghubunginya. Dalam dua kali deringan, ponsel diangkat.


“Halo,” ucap seorang wanita di seberang sana.


“Halo, siapa ini? Di mana Jay?” tanyanya.


“Jay sedang tidur.”


“Apa?!”


“Sayang, ayo tidur. Besok pagi aku akan memakanmu lagi.” Sebuah suara hinggap di indra pendengarannya. Ia tahu, itu adalah suara Jay.


“Bentar sayang, aku lagi ngangkat telepon.”


“Siapa sih nelpon malam-malam gini, ganggu aja.”


Tidak tahan mendengar perbincangan mereka, Bintang mematikan ponselnya, dan membantingnya ke arah dinding. Ia menarik-narik lingerie yang ia kenakan, dan mengacak-acak bunga yang disusun berbentuk love di atas tempat tidur hingga tidak berbentuk lagi.


Ia begitu marah saat ini. Suaminya meninggalkannya di malam pernikahan bersama wanita lain.


“JAAAAAAY!!!” teriaknya. Untung saja kamar yang ia tempati kedap suara, kalau tidak, seseorang akan merasa terganggu karenanya.


Pagi harinya, Jayden bangun terlebih dahulu. Ia menciumi seluruh wajah Delia tanpa ada yang terlewat barang seincipun.


“Jay, hentikan,” ucap Delia yang merasa terganggu dengan ulah Jayden.


“Kenapa?” tanya Jayden tepat di depan wajah Delia, “kamu tidak mau melanjutkan yang semalam?” tanyanya lagi.


“Hei, hentikan, kita bukan sedang bulan madu, Jay. Kita sudah menikah selama satu tahun.”


“Benarkah? Kenapa rasanya baru kemarin?” Jayden duduk bersandar pada headboard tempat tidur, lalu mengambil ponselnya.


“Semalam Bintang telepon nanyain kamu,” ucap Delia masih setengah terpejam.


“Oh ya? Kenapa?”


“Ya Tuhan, apakah kamu amnesia Jay? Kemarin kamu baru saja menikah dengannya!” Delia sudah sepenuhnya bangun. Ia bahkan sudah duduk sejajar dengan Jayden.


“Terus?”

__ADS_1


“Terus kamu malah menghabiskan malam pernikahan kalian dengan wanita lain.”


Jayden menempelkan jari telunjuknya pada bibir Delia, “kamu bukan wanita lain, kamu istriku.”


Delia tersenyum.


“Aku akan menghubunginya, mungkin ada sesuatu hal penting sampai dia menghubungiku selarut itu.” Jayden berdiri, menghadap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan pagi kota Jakarta.


“Take your time, aku mau mandi dulu.” Delia berdiri, dan segera berjalan ke arah kamar mandi.


Tiga kali Jayden mencoba menghubungi Bintang, namun tidak terhubung. Nomornya aktif, tapi tidak diangkat.


Merasa khawatir, Jayden segera merapikan diri dan keluar dari kamar hotel dan menuju ke kamar Bintang.


“Del, aku keluar dulu,” pamit Jayden yang tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Delia.


Jayden berdiri di depan sebuah kamar yang ternyata bersebelahan dengan kamar Delia. Ia mengetuk pintu tiga kali sampai Bintang membukakan pintu.


“Hai, Bi.” Jayden cukup terpaku melihat penampilan Bintang. Wajahnya kusut dengan baju kurang bahan yang acak-acakan.


Hai katanya? Tidak kah seharusnya Jay meminta maaf karena meninggalkanku di malam pernikahan kami? batin Bintang.


“Em, aku cuma mau cek kondisi kamu, semalam kamu telepon aku Bi? Ada apa ya? Apa ada sesuatu hal yang penting?” tanya Jayden dengan polosnya.


Ada apa katanya? Haruskah aku menjelaskan kalau aku menunggunya semalam untuk datang ke kamar pernikahan kita? batin Bintang.


“Bi?” Jayden mulai bingung karena Bintang diam saja.


“Gak papa Jay, kita sarapan bersama bagaimana? Aku mau mandi dulu.”


“Itu ... Sebenarnya aku dan Delia akan sarapan bersama di kamar kami. Tak apa kan kalau kamu sarapan sendiri.”


Sumpah demi apa pun, Bintang sangat geram pada pria tidak berperasaan di depannya ini.


“Ya sudah.” Bintang menutup pintu begitu saja. Mengabaikan Jayden yang masih berdiri di sana.


“Ternyata wanita cantik juga kamarnya berantakan.” Jayden bermonolog sebelum berlalu.


Sesuai yang direncanakan, Jayden sarapan bersama Delia di kamar mereka. Nanti sore mereka harus pulang, jadi hari ini, mereka akan menghabiskan waktu di kamar saja. Menikmati waktu berdua yang sangat jarang mereka dapat karena kesibukan Jayden.

__ADS_1


Sementara itu, Bintang yang enggan harus sarapan sendirian di restoran hotel memilih untuk mengikuti langkah Jayden, pesan sarapan ke kamar. Duduk di depan jendela besar seraya meratapi nasibnya sendiri. Entah apa yang lebih menyakitkan, menikah tanpa cinta, atau ditinggalkan suami di malam pernikahan.


__ADS_2