Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Artis Baru


__ADS_3

Hari sudah malam, tapi Jayden masih belum kembali. Hal itu membuat Bintang khawatir. Ia merasakan betul perubahan mood Jayden setelah Delia pergi tadi pagi. Pria yang berstatus sebagai suaminya itu lebih banyak diam. Hanya akan terlihat bahagia dan ceria saat di depan kamera.


Hujan mulai turun. Ia memutuskan untuk mencari Jayden.


Tadi pagi, usai syuting jalan pagi. Jayden terlihat resah. Ia pergi masih mengenakan pakaian olah raganya, dan sampai saat ini masih belum kembali.


Dengan membawa payung, Bintang menyusuri jalan yang mungkin Jayden lalui. Benar saja, tak jauh melangkah, Bintang melihat orang yang sedang ia cari. Jayden tampak berjalan sambil menunduk.


“Jay, apa yang kamu lakukan di tengah hujan begini?” tanya Bintang seraya menempatkan payung tepat di atas kepala Jayden.


“Kalungnya hilang, Bi, Delia pasti akan sangat kecewa,” ucap Jayden.


“Kalung?” tanya Bintang.


“Kalung berliontin burung angsa milik Delia. Tadi pagi Delia menyerahkan kalung itu kepadaku. Aku ingat sekali menyimpannya di sini.” Jayden menunjukkan saku celananya. “Tapi sekarang tidak ada.” Jayden terus menyusuri jalan, mengabaikan Bintang yang mengajaknya berbicara.


“Kamu seharian pergi mencari kalung itu Jay?” Bintang tampak geram.


Jayden tidak menjawab, ia masih saja berjalan dengan bantuan senter ponsel di tangannya.


“Jay, hari sudah gelap, hujan juga. Lebih baik kita pulang. Besok kamu cari lagi.”


Jayden menggeleng, “Delia pasti akan sangat kecewa kalau tahu kalung itu hilang, Bi.”


“Jay, cinta boleh, tapi bodoh jangan! Sekarang kita pulang, besok kamu bisa mencarinya lagi kalau mau.” Bintang menarik tangan Jayden agar mengikutinya. “Lagian Delia sekarang sudah kembali ke rumah orang tuanya yang kaya raya. Dia bisa membeli apa pun yang dia inginkan. Menurut kamu, kenapa dia mengembalikan kalung pemberian kamu?!”


Jayden menghentikan langkahnya, “kamu benar, Bi.” Ia akhirnya melangkah pasti menuju ke rumahnya sendiri.


***


Sejak saat itu, Jayden menyibukkan diri dengan bekerja. Ia mengambil banyak job offline hingga tidak memberinya kesempatan untuk memikirkan Delia. Ia sudah mempunyai beberapa lagu solo, sehingga tidak melulu harus tampil bersama Bintang.


Sementara Bintang mulai merasa terganggu dengan kehamilannya. Ia jarang mengambil job menyanyi. Saat ini badannya mudah lelah dan lapar. Waktunya banyak dihabiskan berada di rumah saja.


“Bi, tolong bikinin susu hamil!” titah Bintang tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca di depannya.


“Pantas saja akhir-akhir ini Jay banyak ngambil job nyanyi. Bumil ini sedang banyak maunya toh.” Suara berat seorang pria masuk indra pendengaran Bintang.


Bumil \= Ibu Hamil.

__ADS_1


“Bos? Kamu di sini?” tanya Bintang.


Tanpa permisi, Dave duduk di samping Bintang. Ia bahkan mencicipi keripik kentang yang sedang Bintang nikmati.


“Kenapa? Sepertinya kamu tidak menyukai kedatanganku?” tanya Dave.


“Bukan begitu bos, tumben aja. Kenapa?”


Dave sedikit memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Bintang, “kangen.”


Bintang menjauh. Ia melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang di sana.


“Kamu tahu, Bi. Setelah tahu kamu hamil, pikiranku langsung berimajinasi akan hal-hal panas yang bisa dilakukan wanita hamil.”


“A-aku tidak bisa, Bos. Dokter meminta aku untuk tidak berhubungan seperti itu dulu saat hamil muda seperti sekarang ini.”


Dave menegakkan kembali posisi duduknya. “Sepertinya kamu lebih senang menjadi ibu rumah tangga dari pada berkarier menjadi artis.”


Bintang diam saja. Nada bicara Dave memang lembut, tapi penuh dengan ancaman.


Dave mengeluarkan ponselnya. Ia memutar video dari sana dan menunjukkannya ke arah Bintang. “Lihat Bi, kamu begitu berbakat. Tidakkah kamu ingin seluruh masyarakat Indonesia melihat bakatmu ini?”


Bintang melirik layar ponsel Dave dengan ujung matanya. Ia begitu jijik dengan dirinya sendiri. Ia yang berbaring di atas sebuah kasur di kamar hotel dengan Dave di atasnya. Ia ingat betul kejadian itu.


“Kok cuma di lirik? Lihat dengan baik Bi, ini saat kamu pertama kali datang padaku. Kamu masih malu-malu saat itu.”


Dave kemudian memutar video lainnya, salah satunya video yang Miranda tunjukkan padanya. “Kamu tahu lagu favoritku?” Dave memutar video lainnya. Sebuah video saat Dave menjamahnya di studio waktu itu.


Dalam video tersebut, Bintang memegang mikrofon di tangannya. Ia menyanyi dengan dibumbui suara ******* berkepanjangan. Bagaimana tidak, perlakuan Dave saat itu membuatnya tidak fokus pada lirik lagu tersebut. Mulut atas dan mulut bawahnya sama-sama sedang berurusan dengan mikrofon.


“Dengar, Bi, suara kamu merdu sekali.”


“Cukup Bos, aku tidak mau mendengarnya lagi.” Bintang menjauhkan ponsel Dave dari wajahnya.


“Hahahaha ... Kamu tidak ingin melihatnya? Tapi sepertinya akun gosip itu akan suka mendapatkan ini.”


Bintang membuang muka. Ia tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Sejak mengetahui kelicikan Dave dari Miranda, Bintang menyiapkan diri untuk hal ini. Dan hari ini benar terjadi. Tapi tentu saja, Bintang sudah mempersiapkan jawaban untuknya.


“Terakhir kali aku melakukan USG, dokter bilang usia kandunganku lima minggu. Aku berpikir, siapa ayah biologis anak ini. Jelas bukan Jay yang sama sekali tidak pernah menyentuhku. Bukan juga mas Bagas yang melakukan itu saat tour. Kemungkinannya cuma satu.” Bintang menatap tajam ke arah Dave.

__ADS_1


“Kamu pikir itu anakku?” Dave terbahak-bahak.


“Aku berharap bukan. Tapi sepertinya aku harus kecewa karena ya, ini anakmu Bos.”


Dave terdiam, melihat keseriusan di wajah Bintang. Ia menarik pergelangan tangan Bintang dan berbicara penuh penekanan di hadapannya, “aku bilang minum pilmu! Tidakkah kamu mendengarkanku?!”


“Aku sudah meminumnya, aku juga tidak tahu kenapa masih bisa hamil.”


Dave mengentakkan kasar tangan Bintang. “Apa yang kamu inginkan? Uang? Pertanggung jawaban?”


“Aku hanya ingin terbebas menjadi budak seksmu!”


“Aku kabulkan! Ingat! Sekali saja kamu mengacaukan hidupku dengan anak ini, video-video tadi akan berakhir di televisi!” ancam Dave.


“Aku mengerti.”


Dave menjalankan mobilnya dengan gusar. Keinginannya tidak tersalurkan. Kepalanya menjadi sakit.


Di lampu merah. Seorang pengamen menyanyi di depan pintu mobilnya. Dave awalnya mengabaikannya. Tapi begitu melihat wajah pengamen tersebut. Ia mendadak tersenyum.


Dave memarkirkan mobilnya di depan sebuah mini market. Ia kemudian berbalik mencari pengamen yang tadi ia lihat. Ia menghampirinya dan mengajaknya berbicara.


“Nama kamu siapa?” tanya Dave.


“Resa, Om,” jawab gadis itu malu-malu.


“Usia kamu berapa?”


“Tujuh belas tahun, Om.”


“Masih sekolah?”


Gadis itu menggeleng, “aku putus sekolah karena ibu sakit. Adik-adik aku butuh biaya juga untuk sekolah.”


“Di mana ayah kamu?”


“Sudah meninggal, Om.”


Dave tersenyum. Ia mengamati gadis di hadapannya. Wajahnya memang kusam, tapi Dave yakin, dengan sedikit perawatan, kecantikan itu akan terlihat.

__ADS_1


“Suara kamu bagus, kamu mau bernyanyi di tempat saya? Nama saya Dave, saya mempunyai perusahaan management Artis. saya bisa menjadikan kamu artis terkenal dan banyak uang. Kamu akan bernyanyi di panggung besar, bukan di jalanan lagi. Kamu bisa sekolah lagi, dan juga membiayai adik-adik kamu sekolah. Mau?”


Mata gadis itu berbinar-binar. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.


__ADS_2