Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Jatuh Cinta


__ADS_3

Jayden sudah bersiap untuk pergi ke kantor polisi. Hari ini juga ia akan melaporkan perihal hilangnya Delia.


Setelah mematut dirinya di cermin, Jayden keluar kamar. Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar Bintang. Pintunya masih tertutup. Ia merasa ada sebuah bisikan yang mengharuskannya mengetuk pintu itu.


Tok ... Tok ... Tok ... Tidak ada jawaban.


Jayden khawatir, ia mencoba memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci. Hal pertama yang menjadi pusat perhatian Jayden adalah Bintang yang tengah duduk di atas kursi. Memeluk kedua lututnya yang ditekuk dengan pandangan kosong ke luar jendela.


Jayden mendekat, ingin mengetahui lebih pasti keadaan Bintang.


“Bi, kamu baik-baik saja?” tanya Jayden tepat di belakang Bintang.


Tidak ada jawaban.


Jayden mendekat, kini ia sudah berdiri di samping Bintang. Tapi rupanya Bintang tidak menyadari kedatangan Jayden hingga suaminya itu menepuk pundaknya.


“Bi ....”


Bintang tersentak. Ia menoleh ke arah Jayden.


“Kamu baik-baik saja Bi?” tanya Jayden.


Bintang mengangguk.


“Kamu yakin? Wajah kamu pucat. Kamu tidak tidur semalaman?”


“Aku tidak bisa tidur Jay. Kamu mau ke mana? Kok sudah rapi.”


“Mau ke kantor polisi. Delia tidak pulang semalaman. Ponselnya juga masih tidak aktif. Aku khawatir dia kenapa-napa. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.”


“Delia ...,” ulang Bintang lirih, “dia wanita yang beruntung, mendapatkan limpahan kasih sayang dari suaminya. Katakan Jay, apakah aku bisa mendapatkan suami yang mencintaiku seperti kamu mencintai Delia?”


Jayden tidak menjawab. Ucapan Bintang lebih seperti sindiran dari pada pertanyaan.


“Jay ... Apa aku wanita yang buruk?”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Apa kurangnya aku dibandingkan dengan Delia?”


“Setiap wanita mempunyai sisi baik dan sisi buruknya sendiri, Bi.”

__ADS_1


“Jadi menurutmu, aku mempunyai sisi baik?”


“Hentikan omong kosongmu, Bi, beristirahatlah. Aku mau pergi ke kantor polisi dulu.”


Jayden sudah akan pergi ketika Bintang kembali berucap, “kamu membuat segala pengorbananku menjadi sia-sia Jay. Setelah apa yang terjadi semalam, tidakkah kamu sedikit merasa iba kepadaku? Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk sampai sini. Tidakkah kamu merasa iba jika karierku hancur gara-gara ini?”


“Apa maksudmu?”


“Kamu akan ke kantor polisi kan? Pergilah. Setelah itu, para wartawan yang selalu haus akan berita itu akan segera datang kemari. Mempertanyakan tujuan kamu datang ke sana. Dan mereka akan bahagia karena akan mendapatkan berita hangat untuk mereka siarkan.”


Ucapan Bintang seketika membuat ia galau. Kalau saja ini hanya tentang kariernya, tentu ia tidak masalah. Masalahnya adalah, ini menyangkut juga dengan Karier Bintang. Bintang sudah sangat berkorban untuk itu.


“Tapi tentu kamu tidak memikirkannya bukan? Yang kamu pikirkan hanya istri kamu, Delia dan selalu Delia. Kamu bahkan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Bisa saja kan dia pulang ke rumah orang tuanya karena tidak tahan dengan segala yang terjadi padanya akhir-akhir ini?”


Deg. Rona wajah Jayden berubah seketika. Kenapa ia tidak berpikir ke arah sana? Apa itu mungkin?


“Aku tidak melarang kamu mencari Delia, tapi tolong, aku sangat memohon, lakukan itu tanpa melibatkan polisi.”


“Baiklah. Aku pergi dulu.”


“Kamu mau ke mana?”


“Kita ada syuting pagi ini Jay. Hari ini aku ulang tahun, kamu akan menyiapkan surprise untuk ulang tahun aku.”


Jayden menatap tajam ke arah Bintang, “setelah kejadian semalam, kamu masih ingin bekerja sama dengan mereka, Bi? Ada apa denganmu?!”


“Lalu aku harus bagaimana? Kita sudah menandatangani kontrak.”


“Persetan dengan kontrak itu.” Jayden terlihat sangat marah. “Bi, kamu percaya potensi dan kemampuan kamu kan?”


“Maksud kamu apa Jay?”


“Kita putuskan kontrak dengan Chan Management dan mulai karier dengan berdiri di atas kaki sendiri. Kamu bisa mencari manajer untuk kamu sendiri.”


“Lalu Bagas?”


“Lupakan Bagas! Kenapa kamu memikirkan laki-laki itu?”


“Dia berjanji akan membuatkan aku film.”


Jayden memijat pelipisnya yang mendadak terasa nyeri.

__ADS_1


“Dan lagi, kita harus membayar ganti rugi kalau tidak menyelesaikan kontrak itu Jay,” ucap Delia lirih.


“Kita laporkan mereka ke kantor polisi!”  Jayden mengutarakan ide yang terbersit dalam kepalanya.


“Atas tuduhan apa? Jay, mereka tidak pernah memaksaku untuk melakukan apa pun, aku yang mau. Aku dengan sadar dan sukarela melakukan apa pun yang mereka minta. Mereka bisa saja membalikkan keadaan dengan melaporkan kita sebagai pencemaran nama baik.”


Jayden terdiam. Semua yang diucapkan Bintang benar. Mereka sudah terjebak di dalamnya. Tidak bisa mundur, tapi untuk maju, harus lebih banyak hal lagi untuk dikorbankan.


“Dengar, aku akan membantu kamu mencari Delia. Tapi, kita selesaikan dulu syuting hari ini.”


Sekali lagi, Jayden menatap wajah Bintang. Ada gurat kesedihan di sana. Lingkar hitam yang ada di bawah matanya mengatakan akan malam panjang yang dilewati pemilik wajah itu.


Syuting akhirnya tetap dilaksanakan, walaupun dengan suasana hati yang buruk. Jayden sesekali memandangi wajah Bagas yang tampak biasa saja, seolah tidak pernah terjadi hal buruk sebelumnya. Entah kapan semua ini akan berakhir. Jayden hanya bisa menjalaninya.


Usai syuting, sesuai janjinya, Bintang menemani Jayden untuk mencari Delia. Tempat pertama yang menjadi tujuannya adalah rumah orang tua Delia. Bertahun-tahun bersama Delia, ia sering mengantar jemput wanita yang dulu berstatus pacarnya itu ke rumahnya. Walaupun tidak pernah masuk, Jayden ingat betul di mana rumahnya.


“Jay, kamu tidak pernah berpikir, kalau mungkin saja dalam pernikahan pura-pura ini aku jatuh cinta sama kamu?” tanya Bintang ketika mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan kediaman mereka.


Jayden menoleh sejenak sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan di depannya. “Memangnya kamu mulai jatuh cinta sama aku?”


“Iya,” jawab Bintang tanpa ragu.


“Kamu jangan bercanda, Bi.”


“Kamu sebenarnya tahu kalau aku sedang mengatakan hal yang sebenarnya, tapi hati kamu menyangkal karena merasa tidak enak padaku kan?” tebak Bintang.


“Bi ... Aku ....”


“Kamu tidak perlu merasa seperti itu Jay, aku cuma mengatakannya saja. Aku tahu hati kamu untuk siapa. Bolehkan aku mencintai kamu?”


“Bi, aku tidak akan pernah bisa membalas cinta kamu. Aku—“


“Jangan menebak masa depan Jay, tidak ada yang tahu ke depan akan seperti apa. Mungkin saja Tuhan kasihan padaku dan memberikan aku sedikit cinta dari orang yang aku cintai.”


Jayden menoleh sekali lagi. Dibalik kesan glamor dan seksi yang kerap Bintang tampilkan di layar kaca, ia ternyata memiliki sisi lain dalam dirinya. Seperti gadis muda pada umumnya, ia jatuh cinta dan berharap cinta itu berbalas.


“Kenapa liatin aku?” tanya Bintang, “sudah memutuskan untuk mulai mencintai aku?” lanjutnya.


Kedapatan memperhatikan Bintang dengan tidak sengaja membuat Jayden menjadi gugup. Ia lebih banyak diam setelahnya. Mendengar Bintang menceritakan masa-masa sekolahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2