
Tanggal pernikahan Jayden dan Delia sudah dipastikan. Tidak banyak yang mereka lakukan. Semua sudah diatur oleh Farida. Wanita paruh baya itu sangat antusias mempersiapkan segala sesuatunya.
Berhubung tanggal pernikahan mereka masih musim panas, Delia memilih tema outdoor. Sebuah taman di daerah Jakarta timur menjadi pilihannya. Jayden sendiri menyerahkan segala sesuatunya kepada Delia.
Farida menggaet wedding organizer milik temannya untuk membantu pernikahan Jayden dan Delia.
“Persiapan udah sembilan puluh persen. Undangan udah jadi, gaun udah siap, dan yang lainnya juga udah. Menurut kamu, apa yang kurang Jay?” tanya Delia. Ia begitu risau. Padahal Farida sudah mengatakan kalau mempelai tinggal datang saja.
“Sayang, Mama kan bilang, jangan mengkhawatirkan apa pun. Mama akan mengatur segalanya.” Jayden memegang kedua bahu Delia. “Yang harus kamu lakukan saat ini adalah perawatan. Agar kamu terlihat cantik di pesta pernikahan kita nanti.”
Delia mencubit perut Jayden.
“Oh iya Jay, nanti di kursi orang tua—“ Delia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Kamu tahu aku tidak mempunyai siapa-siapa Del.” Jayden menurunkan kedua tangannya. Berbalik menghadap kaca besar yang ada di ruangannya.
“Em ... Bu Sri pasti akan sangat senang kalau kamu mengikutsertakannya di pesta pernikahan kita Jay.”
Jayden menoleh sejenak. Tidak ada jawaban darinya.
***
“Bu, tujuan kami mengajak bertemu, ini terkait rencana pernikahan kami.” Delia membuka suara. Mereka sudah duduk bersama di sebuah cafe tak jauh dari kantor JD Star.
“Ada apa Nak?” tanya bu Sri.
“Biar Jayden yang menjelaskan,” ucap Delia seraya melirik Jayden.
“Bu, apa Ibu mau datang ke pernikahan kami? Sebagai perwakilan keluarga saya?” tanya Jayden.
Sri bergeming sesaat. Lalu air matanya menetes.
“Kalau Ibu tidak bisa, tidak masalah. Aku—“ Ucapan Jayden terpotong melihat wanita di depannya itu menggeleng dan berusaha berbicara dalam tangisnya.
“Bukan seperti itu Nak,” ucap Sri, “Ibu ... Ibu sungguh terharu kamu meminta Ibu datang sebagai perwakilan keluarga kamu. Tentu saja Ibu mau,” lanjutnya.
Jayden tersenyum. “Terima kasih, Bu.”
“Tidak Nak, ibu yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah menganggap Ibu sebagai keluarga kamu saja ibu sudah sangat bersyukur. Apa yang Ibu lakukan—“
“Tidak Bu,” potong Jayden, “jangan bahas masa lalu lagi. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Tidak ada yang perlu disesali lagi.”
Sri mengangguk.
__ADS_1
“Sri ....” Lirih, suara itu terdengar. Jayden, Delia, dan Sri menoleh ke arah sumber suara.
“M-mas Lukman?” ucap Sri terbata.
Pria paruh baya itu bersimpuh di bawah kaki mantan istrinya itu. “Sri ... Maafin aku. Aku sungguh minta maaf.”
“Mas, tolong jangan begini, bangunlah,” ucap Sri yang tampak risi dengan keberadaan mantan suaminya tersebut.
“Tidak! Aku tidak akan bangun kalau kamu belum memaafkanku,” tolak Lukman.
“Mas, ini tempat umum. Kamu tidak malu? Bangunlah. Setelah itu, kamu bisa mengatakan apa pun, aku pasti akan mendengarkannya.”
Lukman menurut, ia melihat kursi kosong di samping Sri. Tidak langsung duduk begitu saja, ia meminta persetujuan Sri untuk itu.
Sri yang merasa tidak mempunyai hak, melihat ke arah Jayden dan Delia untuk meminta persetujuan. Jayden membuang muka, sementara Delia mengangguk.
“Kamu yang waktu itu nyanyi di pestanya Resa kan? Pemilik JD Star?” tanya Lukman ketika sudah duduk. Sementara yang ditanya masih enggan untuk bersitatap dengannya.
“Dia Jayadi Mas,” ucap Sri.
“Jayadi?” ulang Lukman. Ia tampak berpikir, merasa nama itu tidak asing baginya. “Jayadi ....”
“Anak yang telah kamu lempar ke jalan dari rumah orang tua angkatnya bertahun-tahun yang lalu.” Kali ini Jayden membuka suara.
“Kenapa?” tanya Jayden dengan tatapan penuh ancaman.
“Kenapa kalian bisa bersama?” tanya Lukman melihat ke arah Jayden dan Sri bergantian.
“Bukan urusanmu!” ucap Jayden ketus. “Segera selesaikan urusanmu, aku masih ada urusan dengan ibu Sri!”
“Ibu?” Lukman semakin terkejut mendengar Jayden memanggil Sri seperti itu.
“Di mana istri kamu Mas?” tanya Sri.
“Dia meninggalkan aku Sri. Dia juga membawa anakku. Dia pergi ketika tahu perusahaanku bangkrut.”
“Hahahaha ... Karma sungguh datang tepat waktu.” Jayden ikut mengomentari. “Dan apa tadi kamu bilang? Perusahaanmu? Itu perusahaan ayahku! Ayahku yang membangunnya! Ayahku yang membesarkannya! Dan kamu datang mengambil alih semunya! Ck, dasar licik!”
Lukman menunduk. Ia tidak bisa membela dirinya sendiri. “Maafkan aku Nak, maafkan aku.”
“Apa maafmu itu bisa menyembuhkan rasa sakitku bertahun-tahun lamanya?” tanya Jayden.
Lukman kembali menunduk. “Aku akan mengembalikan semua yang menjadi hakmu. Kalau itu akan membuatmu lebih baik.”
__ADS_1
Sri dan Delia kini menatap Jayden. Menunggu jawaban darinya.
***
Jayden mengembalikan map di tangannya usai menandatanganinya. Lukman terlihat bernafas lega. Ia mengambil berkas tersebut dan beranjak bangun.
“Mau ke mana?” tanya Jayden.
“Urusanku sudah selesai. Aku mau pergi,” jawab Lukman.
“Lalu bagaimana dengan perusahaan ini?” tanya Jayden.
“Apa maksudnya?” Lukman balik bertanya.
“Siapa yang akan mengurusnya?” Jayden memperjelas pertanyaannya. “Aku sudah mempunyai perusahaan sendiri, aku tidak mungkin mengelola perusahaan ini juga. Sedangkan Resa, ia terlalu muda untuk terjun ke perusahaan. Dia masih harus kuliah,” paparnya.
“Jadi, kalian ingin aku tetap mengelola perusahaan ini?” tanya Lukman.
Resa dan Jayden saling pandang sebelum mengangguk.
Lukman bersimpuh dengan lututnya. Dua anak yang dia terlantarkan justru telah mengangkatnya dari jurang.
“Terima kasih Jay, terima kasih Resa.”
“Iya Yah,” jawab Resa.
Lukman termenung. “Kamu memanggil aku apa?”
“Ayah.”
Lukman mendekat ke arah Resa, dan memeluk gadis itu begitu erat. “Maafkan Ayah Nak, maafkan Ayah.”
“Ayah dari tadi bilang terima kasih sama maaf terus,” ucap Resa lirih. Ia mengusap air mata yang menetes di pipi Lukman.
Jayden memutuskan untuk memberi suntikan dana pada perusahaan milik ayah angkatnya itu. Bukan semata-mata untuk membantu Lukman, tapi untuk mempertahankan hasil jerih payah ayah angkatnya yang telah tiada.
Saat ini, Jayden memiliki saham terbesar di perusahaan itu. Selain karena ia mempunyai hak waris atasnya, juga karena Jayden sudah menyuntikkan dana yang tidak sedikit. Tidak hanya Jayden, Resa juga mempunyai saham yang tidak sedikit. Ia memutuskan untuk membantu ayahnya setelah berperang dengan dirinya sendiri.
Resa berpikir, ayahnya itu tidaklah salah. Ia sudah berniat bertanggung jawab terhadapnya, ibunya, dan adik-adiknya. Tapi karena kelicikan istri baru ayahnya itu, semua pemberian ayahnya itu tidak pernah sampai padanya. Resa melupakan bahwa ayahnya tidak pernah mengunjunginya sekalipun. Itu semua ia lakukan agar ia memiliki ketenangan di hatinya. Kalaupun nantinya ibunya memutuskan kembali kepada ayahnya, ia tidak akan menolak.
“Dan ya, satu hal lagi sebelum aku pergi,” ucap Jayden, “Minggu depan aku dan Delia mau menikah. Datanglah,” lanjutnya.
Lukman kembali tersenyum.
__ADS_1
Kak, kamu tidak salah mengangkat anak. Dia anak yang baik. Batin Lukman.