
Pagi ini cuaca mendung. Udara dingin menyelimuti ibukota. Sudah tidak asing lagi kalau setiap akhir tahun masuk musim penghujan. Jayden menarik selimut hingga menutupi lehernya. Ia juga menarik tubuh istrinya agar lebih mendekat.
Akan tetapi kehangatan itu tidak berlangsung lama. Gedoran di depan pintu kamar Delia memaksa para penghuni yang ada di dalamnya terbangun seketika.
Delia mengenakan pakaiannya sebelum memutuskan untuk membuka pintu.
“Bintang?” ucap Delia begitu memastikan siapa pelaku penggedoran itu.
“Mana Jay?” Bintang menyerobot masuk ke dalam kamar Delia dan menarik selimut yang Jayden kenakan. Ia sempat mematung beberapa saat mendapati ternyata Jayden tidak berpakaian. “I-itu ... Berpakaianlah, aku tunggu di bawah.” Bintang kemudian pergi usai mengatakannya.
“Ya Tuhan, aku baru saja menodai mata seorang gadis!” seru Jayden seraya menarik kembali selimutnya.
Mata Delia menyipit, “kamu sengaja memperlihatkan sesuatu yang seharusnya hanya aku yang boleh lihat pada wanita lain Jay?”
“Bukan salahku Del, Bintang yang datang tiba-tiba.” Jayden membela diri. “Apa katanya tadi?”
“Berpakaianlah, aku tunggu di bawah!” Delia menirukan gaya bicara Bintang.
Usai membersihkan diri, Delia dan Bintang turun bersama. Mereka bahkan menyempatkan diri untuk saling bercanda di tangga.
Begitu sampai di lantai bawah, Jayden menyadari ada sesuatu hal yang berbeda. Beberapa orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Bintang, seorang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak yang sangat familiar dalam ingatan Jayden.
“Jay ada apa ini? Mengapa mereka ke sini?” bisik Delia.
“Kamu kenal?” tanya Jayden.
“Itu orang tua Bintang, masa kamu lupa?”
Ah ya, Jayden ingat sekarang. Bapak itu yang menyerahkan putri semata wayangnya kepada Jayden saat pernikahan mereka waktu itu.
Jayden berjalan ke arah mereka, sementara Delia mengekor dari arah belakang.
Tepat saat Jayden berjarak satu meter dari sofa, Subandi, ayah Bintang berdiri dari duduknya dan segera melayangkan satu bogem mentah pada wajah tampan menantunya tersebut. Pria tua itu akan melayangkan satu pukulan lagi sebelum istrinya, Meli menahannya.
“Sudah pak.” Bu Meli mencoba menenangkan suaminya.
Jayden menoleh ke arah Bintang seolah bertanya 'ada apa?’. Tapi Bintang mengangkat bahunya tidak mengerti.
“Ada apa ini Pak? Kenapa Bapak memukul Jay tanpa sebab?” Delia yang kini sudah berdiri di samping Jayden angkat bicara.
__ADS_1
“Saya menyerahkan Putri saya kepada kamu untuk kamu jaga dan kamu muliakan sebagai istri!” Bola mata Subandi menyala-nyala karena kemarahan ke arah Jayden. “Dan kamu malah menyakitinya dengan membawa seorang pelacur ke dalam rumah?” Subandi mengarahkan jari telunjuknya ke depan Delia.
“Pe-lacur?” ulang Delia lirih. Ia tidak bisa memungkiri, hatinya sakit.
Tanpa memedulikan sopan santun yang harus di jaga, Jayden menurunkan tangan Subandi yang mengarah pada Delia. Ia kemudian menoleh ke arah Bintang agar ikut menenangkan ayahnya.
“Yah, tenang dulu,” ucap Bintang.
“Kamu suruh ayah tenang?” kini ucapan Subandi ditujukan kepada Bintang. “Ayah kerja banting tulang agar kamu bisa hidup bahagia, Nak. Dosa apa yang telah ayah perbuat sehingga kamu mendapatkan suami tukang selingkuh seperti dia? Dan kenapa kamu membiarkan suami kamu membawa pelacurnya ke rumah kalian?”
“Cukup!” Jayden sedikit berteriak di hadapan keluarga yang bermulut kotor itu. “Bi, kamu selesaikan masalah keluarga kamu!” titah Jayden. Ia kemudian menarik tangan Delia agar menjauh dari sana.
“Jadi laki-laki seperti itu yang menjadi pilihan hatimu, Nak?” Pertanyaan Subandi berhasil menghentikan langkah kaki Jayden. “Laki-laki tidak bertanggung jawab yang melanggar janjinya sendiri kepada Tuhan! Kamukah laki-laki yang dua bulan lalu meminta putriku untuk kamu nikahi? Kamukah laki-laki yang saat itu berjanji di hadapan Tuhan untuk menyayangi dan memuliakan putriku itu?”
“Bi, jelaskan semuanya kepada ayahmu!” Jayden masih memunggungi lelaki tua itu.
“Sepengecut itukah kamu sampai tidak berani menatap pria tua ini Jay?” tanya Subandi mencemooh.
Delia menjadi geram karena Bintang tidak berusaha meluruskan semua ini. Ia tetap membiarkan ayahnya memaki-maki suaminya.
Delia berbalik, berjalan cepat ke arah Subandi, “Pak, tenang dulu, sebenarnya saya dan Jay—“
PLAK! Satu buah tamparan mendarat di pipi Delia. Dan hal itu membuat Delia tersungkur ke atas lantai.
Untuk pertama kalinya Delia menampakkan air matanya di depan Bintang. Ia merasa rendah diri diperlakukan seperti itu.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?!” Suara Jayden meninggi hingga memenuhi rumah tersebut. Mungkin satpam yang berjaga di luar juga bisa mendengarnya.
Subandi tersentak karenanya, pun dengan Meli. Mereka mematung melihat Jayden yang begitu lembut memperlakukan Delia.
“Sayang, maafkan aku sayang. Kamu pasti sakit sekali ya?” Jayden mengusap lembut pipi Delia yang memerah karena bekas tamparan Subandi.
Delia terisak. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasakan sebuah tamparan.
“AGUUUS!” Jayden memanggil security rumah mereka.
Sejurus kemudian, seorang pria dengan setelan pakaian bertuliskan SATPAM mendekat. Ia cukup terkejut mendapati majikannya dalam keadaan tidak biasa. Majikan laki-laki yang tengah berwajah murka, dan majikan perempuan yang sedang menangis.
“Kenapa kamu membiarkan sembarangan orang masuk ke rumahku? Kamu mau aku pecat?” tanya Jayden dengan nada tinggi.
__ADS_1
Subandi kembali tersentak, ia menyadari kalau 'sembarangan orang' yang dimaksud Jayden adalah dirinya.
“Usir mereka!” titah Jayden menunjuk pada orang tua Bintang.
“Tap-tapi mereka bilang, mereka orang tua non Bintang, Pak.” Agus berbicara dengan tergagap. Belum pernah ia melihat Jayden semarah itu.
“Kamu kenapa sih Jay, kenapa ngusir orang tua aku?” tanya Bintang membela.
“Kamu bisa ikut pergi bersama mereka kalau kamu mau,” ucap Jayden tanpa menoleh ke arah Bintang.
“Ayo kita pergi Nak.” Subandi sudah akan menarik tangan Bintang, tapi Bintang menolaknya.
“Tunggu Yah,” ucap Bintang.
“Jadi kamu memilih hidup bersama laki-laki seperti itu dari pada pulang ke rumah orang tua kamu sendiri Bintang?”
“Yah, Ayah salah paham sama Jay.” Ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Bintang mulai membela Jayden. “Jay, itu aslinya baik Yah.”
“Laki-laki baik tidak akan mengusir mertuanya demi membela seorang pelacur!” hardik Subandi.
“Sudah cukup mengatakannya! Delia bukan pelacur! Dia adalah istriku!” ucap Jayden, “ aku tidak paham, bagaimana cara berpikir Anda. Anda mempunyai seorang putri. Bagaimana mungkin dengan teganya menyebut putri orang lain sebagai pelacur?!” lanjutnya.
“I-istri?” ulang Subandi.
“Delia itu istri Jay, Yah.”
“Ap-apa?!” Subandi terduduk di atas sofa. “Ap-apa kurangnya putriku sehingga kamu menikah lagi Jay?”
“Aku menikahi Delia jauh sebelum mengenal Bintang,” jawab Jayden.
“Ja-jadi, kamu istri kedua Jay, Nak?” tanya Subandi pada Bintang.
Bintang tidak menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi Subandi tahu, itu adalah jawaban 'iya'. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya Nak?” tanyanya pada Putri semata wayangnya itu.
“Hubungan kami tidak sejauh itu sampai harus melibatkan keluarga.” Jayden yang menjawab. “Pernikahan kami hanya sebatas kontrak kerja.”
“Ya Tuhan.” Kali ini Meli ikut buka suara. “Kenapa kalian berani mempermainkan agama Nak? Kalian mempermainkan agama hanya demi keuntungan dunia? Dengar Nak, apa yang kalian kejar itu tidak berarti apa-apa di mata Tuhan. Harta, jabatan, semuanya tidak akan dibawa mati!”
“Dan untuk kamu Jay.” Pandangan Meli kini beralih pada menantunya tersebut. “Alasan apa pun yang mendasari pernikahan kalian, sekarang, Bintang adalah istri kamu juga. Sudah menjadi tugas dan kewajiban kamu untuk memberinya nafkah lahir dan bathin. Kamu harus bersikap adil terhadap istri-istri kamu Jay!”
__ADS_1
Semua orang terdiam mendengar petuah dari Meli.