Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Meminta Maaf


__ADS_3

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Delia, “ada yang lucu?” lanjutnya. Delia meraba wajahnya sendiri, bahkan menyalakan kamera ponselnya untuk melihat tampilannya. Mereka baru saja sarapan bersama di kantor Jay. Delia yang membawakannya.


“Tidak ada yang salah Del, kamu cantik, seperti biasanya.” Jayden menurunkan ponsel yang Delia pegang.


“Lalu kenapa kamu senyum-senyum?”


“Aku hanya teringat ucapan papa kamu kemarin.”


Bayangannya kembali pada hari lamaran kemarin.


“Ada sesuatu yang saya minta darimu, dan kamu harus memenuhinya,” ucap Arga.


“Apa?” tanya Jayden.


“Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri memanggil saya Papa. Dan panggil mamanya Delia dengan panggilan Mama. Bisa?”


Jayden mengangguk. Walaupun masih canggung, Jayden senang karena akhirnya keluarga Delia bisa menerimanya.


Delia ikut tersenyum mengingatnya.


“Jay, kamu belum mengatakan, kenapa nama perusahaan kamu JD Star?” tanya Delia mengalihkan topik pembicaraan.


“JD itu inisial nama kita, Jayden Delia. Sedangkan Star itu ... Bintang.”


“Bintang? Bintang Bintang?”


Jayden menggeleng. “Bukan Del, bintang, bintang panggung.”


“Oh ... Aku pikir Bintang yang itu.”


“Kenapa? Kamu cemburu?”


Delia menggeleng. “Aku yakin sama cinta kamu Jay. Kamu menjaga diri dari Bintang saat kalian menikah, mana mungkin kamu macam-macam ketika sudah tidak ada hubungan apa-apa? Kamu aja bisa menjaga hati kamu saat kita jauh kok. Aku sudah percaya sepenuhnya sama kamu.”


Jayden tersenyum. “Makasih Del.”


“Oh iya Jay, nanti siang aku mau ketemu Mellysa. Mau membicarakan bisnis kita. Bolehkan aku tetap berbisnis setelah menikah?”


“Boleh dong, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau. Selama itu tidak membahayakan kamu!”


“Makasih.” Delia memeluk tubuh pria yang tengah duduk di sampingnya itu.


“Jangan di sini Del, nanti aku khilaf,” bisik Jayden.


Delia melepaskan pelukannya, seraya mencubit perut Jayden.

__ADS_1


“Hei, kamu mancing-mancing ya!” Jayden mendekat ke arah Delia dan mengunci kedua tangannya ke atas. Wajahnya semakin mendekat, hingga Delia sontak terpejam. “Tuh kan, kamunya jadi pengen!” Jayden kembali menjauh, menyisakan Delia dengan wajah memerah.


“Jay ih, kamu! Awas ya, nanti malam pertama akan aku balas!”


“Malam pertama? Bukankah itu sudah terjadi?” ejek Jayden.


“Ya, maksudnya malam pertama setelah pernikahan resmi kita.”


“Kamu yakin?” Jayden kembali mendekat.


“Yakin!” jawab Delia.


“Beneran?” Jayden semakin mendekat.


Delia mendorong kepala Jayden, lalu segera berdiri. “Lihat saja nanti!” Ia kemudian setengah berlari meninggalkan ruangan Jayden.


“Hei, mau ke mana?” tanya Jayden setengah berteriak.


“Mau ketemu Mellysa, dari pada di sini terus, satu ruangan sama laki-laki mesum bikin aku gagal fokus terus, mending ke kantor Mellysa aja, liat-liat pabriknya,” jawab Delia seraya menutup pintu.


Jayden menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Baru saja duduk, pintu kembali terbuka.


“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Jayden.


“Kak Jay ....” Bukan Delia yang bicara, tapi orang lain.


Ragu, Resa melangkah masuk lebih dalam ke ruangan Jayden, hingga jarak mereka tersisa dua meter. Resa berdiri di hadapan Jayden. “Aku mengerti jika kakak tidak mau bertemu denganku lagi setelah mengetahui siapa ibuku. Atas namanya, aku meminta maaf kak. Sungguh kalau saat itu aku sudah mengerti, aku akan mencegahnya kak. Tapi saat itu aku belum mengerti apa-apa kak.


“Bahkan kakak lebih muda dariku saat ini ketika diusir dari rumah. Ibu sudah menceritakan semuanya kak. Ibu menyesalinya kak. Sungguh aku bisa melihatnya sendiri. Ibu sudah mendapatkan karmanya kak.


“Saat kelahiran adik ke duaku, Ayah membawa wanita lain ke rumah. Ibu bilang, ayah menginginkan anak laki-laki sebagai penerusnya, tapi lagi-lagi Ibu melahirkan anak perempuan. Ayah ingin Ibu hamil lagi, tapi Ibu meminta jeda waktu karena saat itu ibu melahirkan secara sesar. Akhirnya ayah membawa wanita itu ke rumah.


“Lalu wanita itu hamil, dan Ayah senang karena saat USG ternyata anak mereka laki-laki. Wanita itu meminta Ayah menceraikan Ibu, dan Ayah menyetujuinya.


“Ibu membawa kami pergi. Aku tidak mengerti saat itu. Aku terus bertanya kenapa ayah tidak ikut, tapi berkali-kali ibu bilang kalau ayah akan menyusul. Hingga suatu hari, aku bertanya entah untuk yang ke berapa kalinya, dan ibu mengatakan kalau ayah sudah meninggal.


“Sejak saat itu, aku menganggap diriku sebagai anak yatim. Ibu berusaha keras agar kami bisa makan dan bisa bersekolah. Mungkin bagimu, ibuku adalah seorang penjahat, tapi bagiku, dia adalah seorang pahlawan kak.” Resa terisak usai mengutarakan segala unek-uneknya.


“Sudah bicaranya?” tanya Jayden.


Resa mengangguk.


“Duduklah, kamu tidak lelah bicara sambil berdiri begitu?”


“A-aku ....”

__ADS_1


“Duduk!”


“Ba-baik kak.” Resa duduk di atas kursi yang ada di depan Jayden.


“Dengar Sa, pertama, aku tidak suka mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan. Yang kedua ....” Jayden menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kamu tidak perlu meminta maaf atas kesalahan orang lain.”


“Dia ibuku kak, bukan orang lain,” sela Resa.


“Benar. Dengar, aku bukan orang jahat berhati batu yang tidak bisa memaafkan orang lain. Tapi aku juga bukan manusia baik yang bisa dengan mudahnya memaafkan orang lain. Aku butuh waktu Sa, aku harap kamu mengerti.”


Resa mengangguk. Ia memahami keputusan Jayden sepenuhnya.


Jayden tersenyum.


“Em, kak, nanti malam, ibuku membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan kelulusanku. Aku tidak memaksa kakak untuk datang, tapi kalau kakak datang, aku dan ibu pasti akan sangat senang.”


“Kamu tahu aku tidak bisa menjanjikannya Sa.”


“Aku mengerti.”


***


“Aku pikir, kamu tidak akan datang,” ucap Delia seraya masuk ke dalam mobil Jayden. Jayden baru saja menjemput Delia di rumahnya setelah sebelumnya mengatakan bahwa ia akan mengajaknya ke pesta kelulusan Resa.


Sebelumnya Jayden berpikir tidak akan datang, tapi setelah ia memikirkannya matang-matang, akhirnya ia memutuskan untuk datang. Bukan sebuah kerugian untuk memberikan sedikit kebahagiaan bagi Resa. Ini adalah bentuk apresiasinya atas segala pencapaian gadis itu.


Jayden menoleh ke arah Delia yang sudah duduk di sampingnya. Ia menilai penampilan Delia dari atas ke bawah. “Ini pesta kelulusan anak SMA Del, siapa yang akan kamu buat terkagum dengan penampilanmu itu?”


“Apa? Ada yang salah?” tanya Delia ikut menilai penampilannya sendiri. Dress di bawah lutut dengan lengan sampai siku berbahan brokat menjadi pilihannya. Ia juga menata rambutnya dan menyampirkannya ke sebelah kiri. Tidak ada yang salah menurutnya. Ia kemudian menoleh ke arah Jayden. “Kamu sendiri bagaimana? Kamu mau menarik perhatian anak SMA di sana?”


“Aku gak aneh-aneh Del.” Jayden pun ikut menilai penampilannya.


“Apa ini, kaos ketat, sweter tipis, celana jeans, sepatu kets, kaca mata hitam.” Delia menunjuk barang-barang yang ia sebutkan satu-persatu. “Kamu jadi kayak artis korea tau gak?”


“Masa sih?” Jayden membalik kaca spion dalam ke arahnya.


“Nah kan? Jadi pergi gak nih? Masa dari tadi malah ributin penampilan satu sama lain?”


Jayden menghela nafas kasar. “Baiklah, tapi inget kalau ada yang jelalatan liatin kamu, aku akan colok matanya!” ancam Jayden.


Delia tertawa.


Tiga puluh menit berkendara, mereka sampai di rumah Resa. Dari luar, terlihat sudah banyak orang berkumpul. Mereka tampak mengelilingi satu titik.


Jayden dan Delia turun dari mobil, dan menghampiri kerumunan tersebut. Ternyata mereka bukan sedang menikmati pesta tapi sedang menonton adegan yang sedang dipertontonkan beberapa orang yang terlihat berseteru di sana.

__ADS_1


“Ada apa ini?” tanya Jayden setengah berteriak seraya membelah kerumunan.


__ADS_2