
Jayden dan Bintang sudah pergi sedari pagi ke kantor Dave. Tadi pagi, Dave menelepon mereka berdua karena ada sesuatu hal penting yang harus ia bicarakan.
Sementara itu, karena hari ini hari minggu, Delia mengajak kedua asisten rumah tangganya untuk menonton acara 'Ketulusan Cinta Jayden dan Bintang' di ruang keluarga.
Sejak kecil, Delia sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama dengan asisten rumah tangganya. Ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan, dan ibunya yang selalu sibuk dengan geng sosialitanya menjadikan Delia tumbuh kesepian di rumah mewahnya.
Ada 8 orang asisten rumah tangga di sana. Bersama mereka lah Delia menghabiskan waktu kesehariannya. Apakah Arga dan Farida tahu? Tentu tidak! Orang tua Delia selalu memberi jarak antara majikan dan ART. Mereka menempatkan seseorang pada level yang berbeda-beda.
“Duduk sini aja, Mbak!” titah Delia pada Rani dan Ela yang memilih untuk duduk di atas karpet dari pada harus duduk di atas sofa bersama dengan majikannya.
Rani dan Ela saling pandang. Sepanjang pengalamannya menjadi asisten rumah tangga, tidak pernah ada majikan yang mengajaknya duduk bersama. Tapi majikannya kali ini sungguh berbeda.
Kedua asisten rumah tangga itu tidak menggubris titah Delia. Bukan tidak mau menuruti, tapi lebih menghormatinya saja.
“Ah baiklah, kalau kalian maunya di sana.” Delia ikut turun ke bawah agar bisa duduk sejajar dengan kedua asisten rumah tangganya. Dan hal itu sukses membuat Rani dan Ela semakin merasa tidak enak.
Delia mengabaikan kecanggungan yang terjadi. Pandangannya fokus pada layar televisi yang sebentar lagi akan menayangkan acara suaminya.
Jika tidak ada Delia di sisi mereka, tentu baik Rani maupun Ela akan tersenyum-senyum melihat apa yang mereka lihat di layar televisi. Tapi tidak! Mereka tahu betul harus menjaga perasaan majikannya tersebut.
Acara yang sedang di tonton ketiga wanita berbeda generasi itu akan disiarkan selama satu jam ke depan dengan tiga kali jeda iklan. Tapi, saat iklan yang pertama, Delia sudah beranjak bangun. Ia sudah tidak ingin melihatnya lagi.
Rani dan Ela yang seolah mengerti perasaan majikannya, segera mematikan televisi begitu Delia pergi dari sana. Tetapi hal itu rupanya malah membuat Delia menghentikan langkahnya.
“Kok dimatiin?” tanya Delia.
“Emmm ... Saya masih ada pekerjaan, Bu,” jawab Rani.
“Saya juga, Bu,” timpal Ela.
“Benarkah? Bukan gak enak sama saya?” tanya Delia seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Bu-bukan, Bu,” jawab Rani gugup.
“Oh ... Jadi kalian gak merasa gak enak sama saya?”
“Bu-bukan begitu juga, Bu.” Masih Rani yang menjawab.
Tanpa di duga, Delia malah tertawa karenanya. Wajah panik kedua asisten rumah tangga mereka menjadi hiburan tersendiri baginya.
__ADS_1
“Maaf, Bu.” Entah untuk alasan apa Rani meminta maaf. Pokoknya ia pikir minta maaf saja.
“Saya hanya bercanda,” ucap Delia, “kalau mau lanjut nonton, lanjut aja, saya mau pergi. Tapi ingat, selesaikan pekerjaan kalian, oke?” lanjutnya.
“Baik, Bu,” jawab Rani.
Delia kembali melanjutkan rencananya kembali ke kamar. Menyisakan senyuman di bibirnya. Tetapi tidak lama, semakin naik, senyuman itu semakin pudar. Pikirannya masih pada adegan yang baru saja ia lihat.
Keromantisan yang Jayden dan Bintang tampilkan di layar kaca. Bagaimana cara Jayden menggendong Bintang saat pertama kali mereka datang ke rumah ini, lalu saat mereka di kamar ....
Delia tahu betul tidak ada apa pun yang terjadi setelahnya, tapi penonton pasti mengira berbeda. Jika saja Jayden dan Bintang tidak menikah, tentu Delia akan berpikir kalau itu hanya akting.
Tapi, sampai kapan ia yakin kalau tidak akan ada cinta di antara mereka. Mereka yang selalu bersama. Terlebih lagi, Bintang adalah istri Jayden yang sah secara hukum dan agama.
Delia mengembuskan nafas berat. Hari ini ia ingin refreshing. Ke mall mungkin?
Sementara itu di lain tempat, Jayden dan Bintang sudah sampai di kantor Dave. Mereka datang bersama dengan mobil Jayden.
Begitu sampai, Dave segera mengatakan maksud dan tujuannya memanggil dua bintang mereka ke sana.
“Kalian lihatlah.” Dave memberikan sebuah map ke arah Jayden dan Bintang.
Merasa Bintang terlalu dekat, Jayden sedikit menggeser map mendekat ke arah Bintang, agar wanita yang duduk di sampingnya tersebut sedikit menjauh.
Map tersebut berisi sebuah rangkaian acara tour yang akan mereka laksanakan sebentar lagi. Dalam rinciannya, mereka akan mengadakan konser di enam kota di pulau jawa dan Bali selama dua minggu. Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, dan Denpasar.
“Tour berakhir di Denpasar tepat hari ke empat belas. Tapi, kalau kalian akan stay lebih lama di sana untuk berbulan madu, tentu Bagas akan senang sekali,” ucap Dave.
Dari ucapannya, Jayden berhasil tahu kalau Bagas sudah membicarakan mengenai rencananya untuk menjadikan tournya sebagai acara reality show. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
“Gimana Jay?” tanya Bintang antusias.
“Kita sama-sama tahu alasan apa di balik pernikahan kita, tidak perlu ada yang namanya bulan madu,” jawab Jayden dingin.
“Ini untuk syuting Jay, bukan masalah pribadi,” timpal Dave.
Jayden menatap Dave dan Bintang bergantian. Entah mengapa ia merasa dalam berbagai hal, Bintang dan Dave sangat kompak. Namun begitu, Jay tidak begitu saja mengiyakan tawaran tersebut.
“Kita bisa ajak Delia kalau itu bisa membuat kamu merasa lebih baik,” tawar Bintang.
__ADS_1
Jayden menoleh ke arah istri keduanya tersebut. Ia merasa, Bintang tahu kegelisahan hatinya.
“Delia?” ulang Dave.
“Iya Delia, asisten pribadinya Jay. Dia kan tinggal di rumah Jay sekarang.”
Dave menatap tajam ke arah Jayden.
“Bi, kamu siap-siap latihan, aku mau bicara sama Jay.” Dave mengusir Bintang secara halus.
Bintang pergi dari sana, segera menuju ke studio yang ada di lantai paling atas.
“Apa ini Jay? Kamu membawa dua istri kamu tinggal bersama?” tanya Dave usai kepergian Bintang.
Jayden diam.
“Kamu membahayakan karier kamu sendiri, Jay!”
“Gak perlu berlebihan begitu, Bos, aku sudah mengatur semuanya. Aku udah memastikan orang-orang di sekeliling kami tidak akan membuka mulut.”
“Siapa saja yang tahu?” tanya Dave.
“Hanya asisten rumah tangga dan security rumah.”
“Astaga, Jay! Kamu percaya sama seorang pembantu? Mulut mereka itu seperti ember tumpah. Orang-orang seperti mereka bisa bergosip di mana saja. Di tukang sayur, di warung, pokoknya di mana pun yang mereka singgahi!”
“Tidak semua orang seperti itu, Bos.”
“Kamu itu masih muda, Jay, belum bisa mengenali karakteristik setiap orang.”
Jayden diam.
“Oke, kalau kamu bersikukuh, aku angkat tangan. Kalau terjadi apa-apa ke depannya, aku tidak mau ikut bertanggung jawab.”
Usai mendengar apa yang harus ia dengar, Jayden keluar dari ruangan Dave dan segera menuju ke lantai paling atas menyusul Bintang untuk latihan. Baginya, ketakutan Dave sangat tidak beralasan. Dia terlalu menganggap semua orang sama saja. Padahal ia yakin, Rani dan Ela orang baik, begitu pun dengan kedua securitynya.
Latihan berakhir pada sore harinya. Jayden segera pulang, sementara Bintang masih di kantor Dave.
“Duluan aja Jay, aku masih ada urusan. Nanti biar aku pulang naik taksi,” ucap Bintang.
__ADS_1