Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Janji Temu


__ADS_3

Jayden sudah bersiap dari pagi hari. Hari ini ia begitu bersemangat karena akan bertemu dengan kekasih hatinya, Delia. Ia harap pertemuan hari ini lancar, atau bahkan ia bisa membawa Delia pulang.


Sama halnya dengan Jayden, Delia pun melakukan hal yang sama. Ia tengah bersiap untuk pergi ke rukonya. Perban yang sebelumnya menempel di dahinya sudah ia lepaskan. Ia tidak mau membuat Jayden khawatir dengan ketika melihatnya.


“Cantik sekali anak Papa.” Arga muncul di balik pintu.


Delia tidak menanggapinya, namun begitu, mereka masih saling menatap via kaca besar di meja rias Delia. Sempat Delia pikir, perhatian dan kehadiran Arga sungguh sangat terlambat saat ini. Ke mana saja pria itu saat Delia membutuhkannya?


Arga berjalan ke arah Delia. Menyimpan beberapa lembar kertas di atas meja rias tersebut.


“Apa ini?” tanya Delia.


“Persyaratan yang harus kamu penuhi untuk ngambil S2 di Oxford. Papa juga sudah sertakan fakultas-fakultas yang sesuai dengan jurusan S1 kamu,” jawab Arga, “Papa sudah mengeceknya, pendaftarannya masih dibuka. Masih sangat sempat kalau kamu bergegas.”


“Aku belum menyetujuinya, Pa.”


“Karena Papa tidak meminta, tapi ini perintah.”


“Kenapa Papa selalu seenaknya? Papa selalu mengatur apa yang harus lakukan. Papa selalu menentukan apa pun untukku. Tidakkah sekali saja Papa bertanya pendapatku? Aku tidak ingin pergi ke London, Pa!”


“Baiklah. Kalau begitu, tidak juga hari ini. Hari ini kamu tidak akan pergi ke mana-mana. Mengerti?”


“Pa, aku sudah janji.”


“Cukup dengan main-main ini, Del. Kamu ingin sebuah perusahaan? Papa akan sediakan!”


“Aku ingin berusaha sendiri. Aku ingin berdiri di kaki aku sendiri. Aku ingin menguji kemampuan aku, Pa.”


Arga menatap bola mata Delia. Ada keseriusan di sana. Wataknya sama dengan dirinya, keras kepala.


“Baiklah,” putus Arga, “Papa akan membiarkan kamu mengambil keputusanmu saat ini. Tapi ingat! Sekali saja kamu mengkhianati kepercayaan Papa, Papa akan mengirim kamu ke London. Entah kamu suka atau tidak.” Arga berlalu usai mengatakannya.


Delia tahu betul maksud dari 'mengkhianati kepercayaan' yang ayahnya maksud. Itu pasti berhubungan dengan Jayden. Sesaat Delia takut. Jika selama ini saja ayahnya itu selalu tahu apa yang terjadi dengannya, tidak menutup kemungkinan kalau apa yang akan ia lakukan saat ini pun, pria itu akan tahu.


Haruskah aku pergi? batin Delia.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Nona, maaf mengganggu. Tuan menyuruh saya menyerahkan ini kepada Nona.” Seorang pelayan datang ke kamar Delia, membawa tas yang tempo hari ia bawa ke ruko saat kejadian naas itu.

__ADS_1


Delia mengambil tasnya dari tangan pelayan, memeriksa isinya. Semuanya lengkap. Ponselnya bahkan ada di sana, hanya saja dayanya mati. Delia segera mengisi dayanya agar bisa ia pakai.


Apa ini? Papa mengembalikan semuanya? Apakah ada semacam GPS atau alat penyadap di sini? Batin Delia. Entah mengapa, bukannya senang, Delia malah takut karenanya.


“Apa Nona memerlukan sesuatu yang lainnya?” tanya pelayan yang ternyata masih ada di sana.


“Tidak, terima kasih,” jawab Delia.


Pelayan tersebut pergi dari sana. Membiarkan anak dari majikannya tersebut sendiri.


Ponsel baru terisi 2 persen saat Delia menyalakannya. Kartu simnya bahkan masih ada di sana. Arga benar-benar mengembalikan semuanya. Dan hal itu membuat Delia bingung.


Beberapa notifikasi pesan dan beberapa panggilan masuk dari nomor Jayden menjadi pemberitahuan terbanyak. Selain itu ada beberapa panggilan dari Mellysa dan nomor tidak dikenal. Melihat dari waktunya, Delia yakin kalau itu nomor orang yang mengantar barang tempo hari.


Delia hanya memandangi ponselnya selama 30 menit selanjutnya. Ia tidak melakukan apa pun. Hatinya ingin menghubungi Jayden, tapi ia sungguh takut kalau ternyata memang benar ada sejenis penyadap di ponselnya. Kalau tidak, mengapa ayahnya begitu saja memberikan barang-barangnya?


Tok ... Tok ... Tok ...


“Kamu belum pergi Del?” Arga kembali ke kamar Delia. Kali ini ia sudah berpakaian lengkap untuk pergi ke kantor.


“Lagi ngecas hape dulu, Pa,” jawab Delia.


Mobil sendiri? Papa bahkan mengizinkan aku naik mobil sendiri? Ada apa ini? batin Delia.


“Hei malah melamun.”


“Naik mobil sendiri aja, Pa,” jawab Delia.


“Ya udah, Papa berangkat dulu.” Arga segera berbalik tanpa menunggu jawaban dari Delia.


“Pa!” panggil Delia yang membuat Arga seketika menoleh, “terima kasih,” ucap Delia seraya menunjuk ponselnya.


Arga hanya tersenyum sebelum benar-benar pergi.


Itu tadi benar-benar Papa? Papa tersenyum kenapa aku malah takut melihat Papa seperti itu? batin Delia.


Tinggal 10 menit lagi menuju ke jam 8. Delia turun ke lantai bawah dengan membawa tasnya. Ia menuju ke mobilnya yang sudah tidak pernah ia kendarai lebih dari satu tahun lamanya. Mobilnya masih bisa menyala. Dan yang paling penting, tidak ada masalah darinya. Arga merawatnya dengan baik.


Delia tersenyum. Ia menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju ke ruko yang akan menjadi pusat bisnisnya.

__ADS_1


Saat sampai di depan ruko, ia sudah ditunggu beberapa orang yang akan mengirim barang pesanannya.


Kok bisa pas? Mellysa kah yang menghubungi mereka? pikir Delia.


Tanpa berpikiran negatif, Delia segera membuka rukonya dan mengecek barang yang datang.


“Em, sisa pelunasannya bisa ditransfer saja Pak?” tanya Delia saat menerima nota.


“Barangnya sudah lunas, Bu,” jawab pria dengan kumis setengah tersebut.


“Siapa yang melunasinya?” tanya Delia.


“Saya kurang tahu, Bu, saya hanya bertugas mengirim barang saja. Untuk masalah itu, ibu bisa tanyakan langsung pada bagian keuangan,” ucap pria itu kembali.


“Baiklah, terima kasih,” ucap Delia.


Delia menengok ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan Jayden, tapi tidak ada di mana pun.


Ini sungguh aneh. Pertama, Papa mengizinkanku keluar, lalu mengembalikan barang-barangku. Lalu sekarang, barang pesanan datang dan sudah lunas. Dan di mana Jayden? batin Delia.


Sekali lagi, Delia memandangi ponselnya, haruskah aku menghubunginya?


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Delia memutuskan untuk menghubungi Jayden. Rasa takutnya mengalahkan rasa khawatirnya. Ia begitu khawatir kalau Jayden terkena masalah saat akan menemuinya.


Kepanikan Delia bertambah saat orang yang ia hubungi tidak juga mengangkat panggilannya. Namun pada percobaan ke delapan, telepon akhirnya diangkat.


“Halo Jay, kamu di mana?” tanya Delia segera setelah panggilan terhubung.


“Halo Del, ini Bintang,” jawab seseorang di seberang sana.


“Em, Bintang, di mana Jay?”


“Dia ... Dia sedang tidur, Del. Haruskah aku membangunkannya?”


“Tidak. Kalau Jay sudah bangun, tolong sampaikan kalau aku menelepon.”


“Baiklah.”


“Terima kasih,” ucap Delia seraya menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


“Kenapa Jay? Kamu bahkan melupakan kalau kita janji bertemu hari ini?” Delia bermonolog. Ia memutuskan untuk pergi dari sana. Membawa sejuta kekecewaan di hatinya.


__ADS_2