Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Mini Market


__ADS_3

Sebenarnya, bagaimana semua kekacauan ini bermula?


Flasback on.


Saat itu bulan Februari. Jayden baru saja keluar dari gedung Chan Management ketika hari sudah benar-benar gelap. Ia baru menyelesaikan rekaman single pertamanya yang berjudul 'Bersamamu', karya salah satu musisi kondang tanah air.


Lagu tersebut dibawakan bersama dengan pasangan duetnya, Bintang. Dave yang memilihnya sendiri.


“Jay, mau ke mana?” tanya Bintang.


“Pulang,” jawab Jayden.


“Kok pulang sih, ayo kita minum. Anggap saja perayaan untuk single pertama kita sebagai rekan duet.”


Minum dalam pikiran Jayden adalah minum minuman keras. Ia sebenarnya enggan. Ia tidak mau berhubungan dengan hal-hal yang seperti itu.


Jayden sudah akan menolak, tapi kedatangan Dave di antara mereka membuat Jayden mengurungkan niatannya itu.


“Mau minum Bi?” tanya Dave.


Bintang terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali, “iya Bos, ikut?” ajak Bintang.


“Boleh deh, ajak yang lain juga. Ada siapa aja di atas?”


“Cuma ada Sherly sama Farhan,” jawab Bintang.


“Oke, biar aku yang telepon mereka.”


Dave terlihat menelepon seseorang dengan menggunakan ponsel pintarnya, tidak memberikan Jayden kesempatan untuk membuka mulutnya. Dia bahkan tidak bertanya Jayden mau ikut bersama mereka atau tidak.


“Naik mobilku aja, biar sekalian,” ucap Dave begitu selesai dengan ponselnya.

__ADS_1


Jayden sudah akan membuka mulutnya, tapi gerakan tangan Bintang lebih cepat. Ia menggandeng tangan Jayden dan sedikit menyeretnya menuju ke tempat parkir.


“Sherly sama Farhan gimana?” tanya Bintang begitu mereka berada di dalam mobil Dave.


“Nyusul katanya.”


Mobil pun melaju. Dave banyak bertanya tentang lagu yang akan dibawakan Jayden dan Bintang di konser pertama mereka satu minggu lagi. Bertepatan dengan malam valentine.


“Kalian harus sering bersama, agar tercipta chemistry dengan sendirinya,” saran Dave, “mulai besok, latihannya lebih intens ya,” lanjutnya.


Jayden lebih banyak diam, tidak seperti Bintang yang selalu memberikan tanggapan dari setiap ucapan Dave.


Sekitar 45 menit berkendara, mereka sampai di sebuah mini market. Jayden tahu betul mini market ini. Dia beberapa kali lewat, tapi tidak pernah masuk, karena tempat parkir di mini market ini selalu penuh dengan mobil.


Pun demikian dengan saat ini. Mobil-mobil memenuhi area parkir. Entah mengapa orang-orang memilih untuk berbelanja di mini market ini sementara banyak mini market lain dengan tempat parkir kosong bertebaran di seantero ibu kota.


Dave turun dari mobil, disusul oleh Bintang yang duduk di kursi depan. Jayden pun melakukan hal yang sama. Walaupun ia sedikit bingung, untuk apa mereka pergi ke mini market.


“Pernah ke sini Jay?” tanya Bintang.


Tanpa di sangka, Dave dan Bintang tertawa mendengar jawaban Jayden. Jayden sendiri tidak tahu, bagian mana dari kalimatnya yang menurut mereka lucu.


“Dia anak baik, Bos,” seloroh Bintang.


Dave berjalan menuju ke pintu mini market, disusul oleh Bintang yang tidak mau melepaskan kaitan tangannya pada tangan Jayden.


Kasir mini market tersenyum ke arah Dave. Sepertinya mereka sudah saling mengenal. Mungkin karena Dave berlangganan belanja di sini.


Suasana di dalam mini market sangat sepi. Tidak ada seorang pengunjung pun terlihat di sana. Jayden sempat bingung dan berpikir kalau tempat parkir di depan mungkin saja adalah tempat parkir umum.


Mereka melewati rak demi rak yang menjajakan aneka barang kebutuhan pokok serta camilan. Dave melewatinya begitu saja. Sampai mereka tiba di depan sebuah lemari es rusak. Jayden tahu itu rusak karena di depannya ada secarik kertas bertuliskan 'Rusak'.

__ADS_1


Tangan Dave tergerak untuk membukanya. Dan betapa terkejutnya Jayden melihat isi kulkas tersebut. Bukan minuman dingin, tapi ternyata sebuah pintu.


Begitu pintu terbuka, suara hingar bingar musik terdengar. Ditambah dengan gemerlap lampu kerlap-kerlip yang memanjakan para penikmat musik yang ada di sana.


Jayden terpukau untuk beberapa detik. Jadi di sini para pemilik mobil-mobil itu. Seumur hidupnya ia baru tahu, kalau ada sebuah club di dalam sebuah mini market. Ternyata banyak hal yang tidak ia ketahui mengenai kota tempat tinggalnya selama 27 tahun hidupnya.


Begitu masuk, mereka di sambut oleh dua orang pria berbadan besar. Seolah sudah biasa, Dave dan Bintang mengeluarkan ponselnya. Kedua pria berbadan besar tersebut menempelkan stiker untuk menutupi kamera ponsel Dave dan Bintang. Dan Jayden pun melakukan hal yang sama.


“No drugs,” ucap salah satu pria berbadan besar tersebut begitu mereka bertiga masuk lebih dalam lagi.


Para pengunjung terdengar bersorak ketika DJ wanita dengan pakaian setengah telanjang itu menunjukkan keahliannya di hadapan mereka.


Jujur, ini kali pertama Jayden masuk ke tempat seperti ini. Ia bahkan tidak tahu, apa yang harus ia lakukan di sana. Namun ia teringat akan pesan salah satu temannya. ‘Jika kita datang untuk pertama kalinya ke sebuah tempat dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, meniru saja. Lihat apa yang orang lain lakukan, dan lakukan hal yang sama'.


Baru saja Jayden akan mempraktekkan ajaran temannya tersebut, ia sudah kehilangan Dave. Setelah menyisir, ia melihat Dave tengah bersapa dengan beberapa pengunjung di sana. Entah mengapa, Jayden yang sebelumnya merasa risi dengan keberadaan Bintang, kali ini malah sebaliknya. Ia bersyukur Bintang ada di sisinya. Kalau tidak, mungkin ia sudah tersesat.


Beberapa saat berdiri, Dave terlihat melambaikan tangan. Ia memanggil Jayden dan Bintang untuk bergabung. Seorang pria sebaya dengan Dave diapit oleh dua orang wanita berpakaian kurang bahan, dengan lipstik merah menyala.


“Kenalin, artis baru gue, Jayden dan Bintang.” Dave memperkenalkan Jayden dan Bintang kepada temannya tersebut.


“Gue udah tahu, Dave. Mata Lo emang selalu bisa melihat calon artis potensial,” jawab pria tersebut.


Dave tertawa mendengarnya.


Pria tersebut kemudian terlihat membisikkan sesuatu di telinga wanita sebelah kirinya. Sejurus kemudian, wanita tersebut pindah duduk di pangkuan Dave.


Jantung Jayden seketika berhenti berdetak. Bibirnya kelu melihat pemandangan di depannya. Apa-apaan ini?! Dia bahkan tidak menyangka Dave pria seperti itu. Setahunya, Dave itu pria beristri. Ia beberapa kali melihat istri dan anaknya berkunjung ke Chan Management. Dan mereka terlihat saling mencintai.


Miranda, istri Dave adalah wanita cantik, modis, dan elegan. Tubuhnya tetap terawat meskipun sudah melahirkan dua orang anak. Anak pertamanya SMP, dan anak keduanya SD. Keduanya perempuan, cantik seperti ibunya.


Kedua pria di depan Jayden tertawa. Tidak ada yang lucu baginya, mungkin wanita-wanita itu menggelitikinya.

__ADS_1


“Aku tinggal dulu, kalian pesen apa aja terserah, nanti aku yang bayar,” ucap Dave. Sejurus kemudian, ia menghilang bersama dengan wanitanya di balik sebuah pintu.


Tidak hanya Dave, teman prianya yang tadi duduk di depan Jayden juga ikut menghilang di balik pintu yang sama. Meninggalkan Jayden berdua saja dengan Bintang.


__ADS_2