Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Bertemu di Cafe


__ADS_3

Keadaan berlangsung normal, setidaknya itu yang ada di pikiran Delia dan Jayden. Jayden dan Bintang melanjutkan syuting acara mereka di rumah, sementara Delia melanjutkan kesibukannya untuk membuka usahanya.


“Aku tidak mau melanjutkan pembicaraan lain sebelum kamu menjelaskan tentang gosip itu, Del.” Mellysa menutup map yang Delia sodorkan kepadanya. Dengan santainya ia menyedot strawberry milkshake yang beberapa saat lalu pelayan cafe antarkan ke meja mereka.


“Aku setuju bertemu kamu untuk membahas bisnis,” ucap Delia.


“No ... No ... No ... Aku tidak akan membantu kamu sampai kamu menceritakan tentang gosip itu.” Mellysa masih bersikukuh.


“Itu hanya gosip, Mel, ayolah. Kamu sudah berjanji akan membantuku membangun bisnisku sendiri kan?”


“Gosip itu fakta yang tertunda Del.”


Delia menghela nafas kasar sebelum memulai ceritanya. “Kamu harus berjanji, hal ini hanya kita berdua yang tahu. Jangan sampai menyebar kepada siapa pun.”


“Kamu tidak mempercayaiku?”


“Aku minta kamu berjanji, itu saja!”


“Oke ... Oke ... Iya.”


“Iya apa?”


“Iya aku berjanji kalau obrolan kita hari ini tidak akan menyebar.”


“Kamu ingat saat kita pulang kuliah dulu, kita sering nongkrong di cafe?” tanya Delia. “Ingat penyanyi cafe di sana?”


“Em ... Lupa-lupa ingat sih, kenapa memangnya?”


“Namanya Jayadi. Aku pacaran sama dia.”


“What the ... Kenapa kamu gak bilang waktu itu?”


“Aku takut orang tua aku tahu kalau aku pacaran sama ... Ya, kamu pasti ngerti lah apa maksudnya.”


“Terus?”


“Sepulang wisuda, aku mengatakan sama papa kalau aku mau menikah dengannya.”


“Papa kamu pasti bilang enggak dong?”


“Kamu benar. Tapi aku memilih untuk tetap bersama Jayadi. Aku meninggalkan kedua orang tuaku, dan keluargaku untuk bisa bersama Jayadi.


“Ya Tuhan Del, kamu membuat keputusan seperti itu? Apa sebegitu istimewanya penyanyi cafe itu di banding orang tua kamu sendiri?”

__ADS_1


“Aku tahu aku salah. Tapi mau bagaimana lagi. Jayadi memberikan kasih sayang yang tidak bisa orang tuaku berikan. Dari kecil hingga aku lulus kuliah, bisa dihitung berapa kali kami bertemu. Orang tuaku hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Aku bahkan ragu kalu mereka menganggap aku ada.”


“Sampai pada aku bertemu Jayadi. Dia memberikan aku limpahan kasih sayang. Perhatiannya, cintanya, dan—“


“Cukup!” potong Mellysa. “Aku tidak mau mendengar kisah cinta kamu dan Jayadi. Aku mau tahu tentang gosip itu.”


“Akhirnya kami menikah. Saat itu kami tinggal di sebuah kontrakan kecil yang panas. Tapi Jayadi tidak pernah menyusahkanku. Sebaliknya, dia selalu memberikan apa pun yang aku mau. Bahkan sebelum aku mengatakannya.” Delia mengusap kalung berliontin burung angsa pemberian Jayden.


“Saat itu aku ulang tahun, Jayadi menyanyikan sebuah lagu untukku. Tanpa kami sangka, lagunya viral di youtube.”


Mellysa menutup mulutnya yang terbuka otomatis karena keterkejutannya. “Apa Jayadi itu Jayden?”


Delia mengangguk.


“Jadi kamu istrinya Jayden?” Nada suara Mellysa meninggi, membuat Delia menjadi panik.


“Jangan kencang-kencang! Kamu mau membuat kehebohan di sini?!” Delia sedikit melotot ke arah Mellysa.


“Lalu Bintang?”


“Intinya, karena sebuah alasan yang gak bisa aku bilang, mereka harus menikah.”


“Ya Tuhan, malang sekali nasib kamu Del.”


“Jadi bisa kita membicarakan bisnis sekarang?” tanya Delia mengingatkan untuk apa mereka bertemu saat ini.


Pembicaraan mereka selesai ketika matahari mencapai puncaknya, Mellysa pamit terlebih dahulu karena ada pekerjaan yang menunggunya.


Delia sudah akan menyusul Mellysa saat seorang pelayan cafe menghentikannya.


“Maaf Mbak, ada pelanggan kami yang menunggu Mbak di meja sebelah sana.”


Delia mengikuti arah yang pelayan tersebut tunjukkan. Seorang pria paruh baya duduk di sana tengah menatap tajam ke arahnya.


Dengan canggung, Delia berdiri dan berjalan ke arah pria tersebut, lalu duduk di hadapannya.


“Aku terkejut melihat kamu masih hidup,” ucap pria tersebut.


“Jadi Papa, maksudnya Anda mengharapkan saya sudah mati begitu?” tanya Delia sinis.


Arga mengeratkan kepalan tangannya hingga buku jarinya memutih.


“Maaf kalau saya mengecewakan Anda. Saya masih hidup sehat dan bahagia sekarang.”

__ADS_1


“Sombong sekali kamu. Kamu pikir aku tidak tahu kalau saat ini kamu menjadi selingkuhan pria metroseksual itu?”


“Jay bukan pria metroseksual, dan saya bukan simpanannya. Saya istrinya!”


“Kamu bangga mempunyai suami yang gemar bersolek seperti itu? Menjual tampang untuk meraup rupiah?”


“Setidaknya Jay laki-laki yang hangat, laki-laki yang memberikan waktunya untuk keluarga. Bukan laki-laki yang hanya sibuk mendulang rupiah dan meninggalkan anak-anaknya sendirian di rumah mewahnya.”


“Cih, laki-laki itu bertanggung jawab untuk memberikan fasilitas kepada keluarganya. Kamu pikir bagaimana kamu bisa mendapatkan uang jajan, mobil, ponsel, dan biaya sekolah kamu hingga perguruan tinggi kalau bukan dari keringatku Delia?! Kamu pikir, uang begitu saja turun dari langit?! Tidak! Harus ada usaha yang dilakukan. Kamu juga menikmatinya kan?”


“Apa Papa tahu makanan kesukaan Delia? Apa Papa tahu kartun favorit Delia? Apa Papa tahu jam berapa Delia bangun dan jam berapa Delia tertidur? Apa Papa tahu—“


“Untuk apa harus mengingat semua itu! Semua itu sudah diatur oleh asisten rumah tangga kita.”


“Thats it! Itulah masalahnya. Papa selalu sibuk mencari uang di luar sana hingga membiarkan anak-anak Papa diasuh dan dibesarkan oleh asisten rumah tangga. Papa dan Mama tidak pernah meluangkan waktu sedikit pun untuk kami. Bagi kami, asisten rumah tanggalah keluarga kami.”


“Jangan lupa, siapa yang membayar mereka. Jangan berpikir kasih sayang mereka asli. Mereka begitu karena aku membayar mereka!”


Delia menggelengkan kepala mendengar ucapan pria berkepala batu di depannya itu.


“Kalau tidak ada lagi yang mau Anda bicarakan, saya permisi,” ucap Delia seraya berdiri.


“Jadi itu kehidupan yang kamu pilih? Laki-laki yang bahkan tidak setia pada pasangannya? Menikah lagi dengan perempuan yang sama-sama gemar bersolek dan suka mempertontonkan tubuhnya di depan umum? Cih, mereka benar-benar satu frekuensi!”


“Sepertinya Anda sudah banyak mengetahui tentang kehidupan saya? Informan Anda sungguh hebat,” ucap Delia tanpa menoleh ke arah Arga sedikit pun, “tapi ya, sayang sekali saya harus mengecewakan Anda lagi. Anda benar, saya akan memilih laki-laki itu.” Ia kemudian pergi dari sana.


Delia masuk ke sebuah taksi yang terparkir tak jauh dari cafe. Ia mendudukkan diri dengan kasar, lalu mengusap matanya yang berembun. Ia senang bertemu dengan papanya, tapi bukan pertemuan seperti itu yang ia harapkan. Sebuah pelukan hangat, saling bertanya kabar atau ... Ah, semua itu tidak mungkin terjadi.


Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, Arga baru saja mendudukkan diri di kursi belakang mobilnya. Di depannya sudah ada sopir pribadinya, dan juga seorang pria yang merupakan asistennya.


Arga menyenderkan kepalanya ke belakang seraya memejamkan matanya.


“Maaf Tuan, kalau saya boleh saran, sebaiknya Tuan berbicara lebih lembut kepadanya. Nona seorang perempuan, hatinya lebih lembut.” Pria di depan Arga mulai berbicara.


“Kamu mengajari saya cara berbicara dengan anak saya sendiri begitu? Dia itu sungguh berkepala batu!”


Sama seperti Anda. Batin asisten Arga.


“Kenapa dia tidak mengerti kalau aku menyuruhnya untuk pulang.” Arga masih menggerutu. “Dia malah menyombongkan laki-laki itu!”


“Maaf Tuan, tapi dari cara Anda berbicara, Anda sama sekali tidak menyiratkan kalau Anda menyuruh nona Delia pulang Tuan.” Asisten Arga mengomentari ucapan atasannya tersebut.


“Diam kamu! Urus saja pekerjaan kamu sendiri. Dan ingat, suruh orang-orang kamu untuk tetap mengawasi Delia.”

__ADS_1


“Baik Tuan.”


Mobil melaju menuju ke salah satu gedung pencakar langit yang merupakan pusat Bisnis dari Arga Wijaya.


__ADS_2