
Jayden mendorong kursi roda yang diduduki Delia masuk ke kediaman Arga Wijaya. Delia tidak hentinya mengulas senyum. Tangan kirinya terulur memegangi tangan Jayden, memastikan lelakinya itu tidak pergi ke mana-mana.
Farida melihat keduanya dari arah belakang. Di sampingnya, suaminya mempunyai fokus penglihatan yang sama.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Farida pada suaminya.
“Urusan laki-laki,” jawab Arga singkat.
“Pa, setelah melihat keajaiban hari ini, Mama harap, pikiran Papa lebih terbuka untuk menerima Jay sebagai menantu kita. Demi Delia, Pa.”
Arga berhenti melangkah, menatap istrinya sejenak sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
“Kamar aku ada di lantai dua Jay,” ucap Delia.
Jayden berhenti mendorong saat mereka sampai tepat di bawah tangga. Ia tersenyum ke arah Delia, lalu tanpa aba-aba, segera menggendong Delia ala bridal style. Menaiki satu persatu anak tangga.
“Jay, aku berat, turunkan aku Jay.”
Jayden mendaratkan satu kecupan di bibir Delia, hingga wanitanya itu bungkam. Wajahnya merona. Jujur, ia rindu kehangatan ini.
Sampai di kamar Delia, Jayden menurunkannya di atas tempat tidur dengan hati-hati. Ia kemudian mendaratkan satu kecupan lagi di kening Delia, begitu lama. Hingga Delia menitikkan air mata.
“Hei, kenapa kamu menangis?” tanya Jayden gusar.
“Jangan pernah tinggalin aku Jay,” jawab Delia serak.
“Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Entahlah, aku merasa kamu sedang mengucapkan salam perpisahan.”
“Del, kamu tahu kan kalau kamu adalah rumahku, tempat aku pulang. Ke mana pun aku pergi, aku akan selalu pulang.”
Delia mengeratkan pegangannya pada Jayden.
“Del, aku ada job nanti malam, sore ini aku harus latihan.”
“Kamu bohong, kamu pasti mau ninggalin aku kan? Papa yang nyuruh kamu? Pokoknya kamu tidak boleh pergi! Kalau kamu pergi, aku mau ikut!”
“Sayang—“
Belum sempat Jayden menyelesaikan kalimatnya, Arga muncul dari ambang pintu. “Suami kamu harus mencari uang Del, kalian mau terus berpelukan sementara perut kalian keroncongan minta makan?”
Jayden dan Delia memandang ke arah Arga seketika. Hanya sejenak, mereka kembali saling menatap.
__ADS_1
“Papa kamu benar Del, aku harus menafkahi kamu kan?”
“Kalau begitu aku tunggu di rumah kita saja.”
“Del, kamu jangan keras kepala. Nanti juga dia akan kembali ke sini lagi.” Kembali Arga berucap.
“Benar?” tanya Delia yang mendapat anggukan dari Jayden.
Perlahan, Delia melepaskan pegangannya pada Jayden. Dan sekali lagi, pria itu mendaratkan satu buah kecupan lagi di kening istrinya tersebut. “Istirahatlah,” ucapnya.
“Kita bicara di ruang kerja saya,” ucap Arga begitu mereka keluar dari kamar Delia.
Jayden mengikuti langkah kaki Arga masuk ke ruang kerjanya. Ternyata mereka tidak hanya berdua, ada seorang pria dengan setelan jas sudah duduk di atas sofa yang ada dalam ruangan tersebut.
“Namanya Yudi, pengacara keluarga saya.” Arga memperkenalkan pria yang berusia sekitar 35 tahunan itu kepada Jayden.
Jayden dan Yudi saling berjabat tangan, kemudian mereka duduk di atas sofa usai dipersilakan oleh sang pemilik rumah.
“Ini yang Bapak ceritakan tadi via telepon?” tanya Yudi.
Arga mengangguk.
“Jay, Yudi akan membantu kamu keluar dari segala permasalahan kamu. Dia pengacara hebat. Tidak pernah sekalipun dia kalah dalam kasusnya.”
“Saya tidak mau mendengar penolakan Jay,” potong Arga, “kamu lihat sendiri kan, Delia sangat membutuhkan kamu. Yudi akan membantu kamu bebas dari kontrak kerja yang kamu bilang itu. Kamu tidak perlu lagi pura-pura menikah dengan wanita itu.”
Tadi pagi, Jayden memang sudah menceritakan semua permasalahannya pada Arga. Tentang syarat kontrak itu, hingga saat ia dengan terpaksa harus menikahi Bintang. Juga tentang kehamilan Bintang yang terlanjur didengar Farida, menjadi tanya Arga padanya.
Jayden belum tahu, kalau perbincangannya dengan Bintang tadi pagi bukan hanya didengar oleh Farida saja, tapi oleh seluruh warga Indonesia yang mengikuti Bintang.
Bagaimana tidak. Setelah video siaran langsung yang penuh kecaman itu di hentikan, cuplikan video itu dengan cepat menyebar. Bahkan sebelum Bintang menghapusnya, video itu sudah terlanjur menyebar.
Video itu juga yang membawa para pewarta menyambangi kediaman Jayden. Tentu saja pemilik rumah tidak di sana. Security yang berjaga sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang majikan mereka. Tentu saja kata 'saya tidak tahu' yang menjadi jawabannya. Dan agaknya, para pewarta tidak puas dengan jawaban security tersebut.
Dengan langkah cepat, Bintang berjalan ke gedung Chan Management. Ia harus secepatnya berbicara dengan Dave.
Di depan ruangan Dave, sekretaris dari pemilik gedung tersebut menghentikannya. Ia mengatakan kalau Bosnya itu sedang menerima tamu. Tapi Bintang tidak peduli, ia merangsek masuk ke ruangan Dave. Merasa masalahnya jauh lebih penting, dan butuh segera penyelesaian.
“Bos ....” Bintang mematung sejenak ketika melihat pemandangan yang ada di dalam sana.
Seorang gadis dengan seragam SMA sedang tertelungkup di atas meja kerja Dave. Pakaian depannya sudah terbuka, dan rok pendek yang ia kenakan sudah tersingkap, sementara kakinya masih menginjak di lantai. Dave sendiri sedang berdiri di belakang gadis tersebut dengan celana yang sedikit melorot.
Kedua manusia berbeda jenis kelamin tersebut menoleh ke arah Bintang, namun Dave kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terganggu dengan kedatangan Bintang.
__ADS_1
“Sekretarisku tidak memberitahu kalau aku sedang ada tamu?” tanya Dave.
“Ma-maaf Bos, tapi ini urgent,” ucap Bintang sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari Dave.
“Katakan!” ucap Dave dengan nafas sedikit memburu.
“Ti-tidak. Aku akan menunggu di luar saja.” Bintang kembali keluar. “Dasar laki-laki mesum! Anak SMA pun ia garap! Dan apa tadi? Dia dengan santainya mengajak bicara sementara dia sedang melakukan ... Ah, benar-benar sial aku harus melihat semua itu!” gerutu Bintang.
30 menit menunggu, Bintang melihat gadis SMA keluar dari ruangan Dave. Ia sudah tampak rapi kembali walaupun terlihat berjalan dengan sedikit tertatih. Bintang segera masuk kembali ke ruangan Dave.
“Siapa dia Bos?” tanya Bintang seraya mendudukkan diri di atas sofa.
“Artis baru,” jawab Dave.
“Anak SMA?”
“Iya.” Dave mendudukkan diri di atas sofa, di samping Bintang. “Ada apa?”
“Ada masalah Bos.”
“Masalah live streaming itu?”
“Bos tahu?”
“Aku selalu mengikuti perkembangan semua artis-artisku.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Bagaimana lagi, semua karena kecerobohanmu. Kamu terima saja akibatnya,” ucap Dave enteng seraya menyeruput kopi yang tersaji di atas meja.
Bintang menatap tidak percaya ke arah Dave. Pria yang selalu mempunyai solusi atas setiap permasalahannya itu dengan mudahnya melontarkan kalimat seperti itu.
Kenapa aku mulai merasa semua orang meninggalkanku. Sebelumnya aku adalah anak emas di Chan Management. Semua yang aku inginkan pasti akan Dave kabulkan. Tapi sekarang apa? Batin Bintang.
“Apakah ini gara-gara anak SMA itu?” tanya Bintang, “anak SMA itu yang akan menggantikanku kan?” lanjutnya.
“Kamu sangat cepat tanggap, Bi,” jawab Dave.
Bintang menggeleng, “aku tidak percaya aku dibuang begitu saja setelah semua yang aku berikan, Bos!”
“Inilah dunia kita, Bi. Siapa yang tidak bisa bertahan, maka dia akan tersingkir.”
Bintang menatap tajam ke arah Dave. Ia merasa, begitu kejam dunia memperlakukannya. Ia akan kehilangan segalanya dalam sekejap. Ya! Tidak lama lagi.
__ADS_1