
Jayden mendapati Bintang sudah bangun saat mengunjunginya di ruang rawat. Sesuai informasi dari suster yang ia temui, Bintang ternyata sudah dipindahkan.
“Kamu datang Jay? Terima kasih,” ucap Bintang tulus.
Jayden tersenyum seraya mendudukkan diri di atas kursi yang ada di samping tempat tidur. “Bagaimana keadaan kamu, Bi?”
“Sudah lebih baik,” jawab Bintang, “Jay, aku bersungguh-sungguh berterima kasih karena kamu membawaku ke rumah sakit. Dan terima kasih juga sudah mengunjungiku.”
“Lupakan itu. Katakan, apa yang dikatakan dokter?” tanya Jayden.
Wajah Bintang berubah sendu.
“Ada apa Bi? Apa ada sesuatu yang serius?” desak Jayden.
“Aku hamil Jay,” jawab Bintang lirih.
“Apa?!” Jayden tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Kok bisa?”
“Aku juga tidak tahu Jay, padahal aku rutin minum pil pencegah kehamilan. Entah mengapa aku tetap saja hamil. Karier aku hancur Jay! Karier aku hancur!” Bintang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Mungkin ya, bagi sebagian orang, kehadiran buah hati adalah suatu kebahagiaan. Tapi tidak untuk Bintang. Jujur, saat ini, memiliki anak adalah sesuatu yang tidak ada dalam pikirannya.
“Siapa ayahnya Bi?” tanya Jayden lirih.
“Dokter bilang usia kandunganku sekitar lima minggu, kemungkinan besar bayi ini milik Dave,” jawab Bintang tak kalah lirih.
“Kita harus memberi tahunya!”
Bintang menggeleng, “entahlah Jay, aku tidak tahu harus apa.”
***
Hari sudah gelap ketika Jayden dan Bintang menuju ke kantor Chan Management. Mereka sudah putuskan akan membicarakan kehamilan Bintang pada Dave. Dia harus tahu kalau ada janinnya di dalam perut Bintang.
“Pak Dave sudah pulang,” ucap security kantor yang berjaga ketika Jayden menanyakan keberadaan Dave.
Jayden dan Bintang saling pandang. Mereka menimbang, haruskah mengunjungi Dave di rumahnya? Dan akhirnya mereka memutuskan untuk melakukannya.
Mobil yang Jayden kendarai masuk ke halaman sebuah rumah berlantai dua yang didominasi warna abu tua itu. Sebuah kolam mini dengan air mancur menjadi hal indah pertama yang menyambut kedatangan mereka. Secara keseluruhan, rumah Dave sangat estetik. Entah Dave atau Miranda yang mempunyai selera tinggi seperti itu.
Jayden memencet bel segera setelah sampai di muka pintu. Tidak lama, seorang wanita bertubuh sintal membukakan pintu. Dialah asisten rumah tangga di rumah Dave
__ADS_1
“Pak Dave ada Bu?” tanya Jayden dengan sopan.
“Bapak belum pulang, Mas. Mas Jayden ya? Sama mbak Bintang juga? Duh senengnya Simbok ketemu kalian. Boleh minta foto gak? Biar nanti Simbok posting di instagram. Pasti nanti followersnya Simbok naik pesat.”
Jayden tersenyum melihat tingkah laku wanita di depannya itu. Dan apa katanya tadi? Instagram? Ternyata Jayden kalah jauh dengan wanita yang usianya mungkin jauh diatasnya.
“Boleh yah Mas, Mbak.” Ucapan wanita yang menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Simbok itu sedikit banyak menjadi hiburan tersendiri bagi Jayden dan Bintang. Mereka tidak ada pilihan lain selain mengiyakannya.
Simbok lari masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya yang ia simpan di kamar. Ia bahkan lupa mempersilakan kedua tamu majikannya itu untuk masuk.
“Ada apa Mbok? Kok lari-lari?” Miranda yang baru saja turun dari lantai atas merasa aneh karena asisten rumah tangganya lari-lari di rumahnya.
“Ada mas Jayden sama Mbak Bintang, saya mau minta foto, Bu. Hapenya di kamar,” jawab Simbok.
Miranda melirik ke arah ruang tamu mencari keberadaan orang yang disebutkan, tapi tidak ada.
Seolah mengerti, Simbok menepuk keningnya sendiri, menyadari kesalahannya. “Mas Jayden sama mbak Bintang masih di luar, Bu.”
“Ya sudah sana ke belakang, sekalian buatkan minum, biar saya yang nyuruh mereka masuk.”
“Baik, Bu.”
Miranda menyambut kedatangan Jayden dan Bintang dengan ramah. Ia mempersilakan tamunya itu untuk masuk dan duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.
“Kami sebenarnya kesini mau mencari si Bos. Maksud saya pak Dave,” ucap Jayden.
“Apa ada sesuatu yang mendesak?” tanya Miranda.
“Ah, tidak juga. Hanya soal kerjaan,” bohong Jayden.
Simbok datang dengan senyuman merekah. Ia menyajikan minuman untuk majikannya dan kedua tamunya itu. Ia masih berdiri di sana usai melakukan tugasnya. Menyadarkan Jayden kalau ia punya janji berfoto dengannya.
Usai melakukan sesi foto, Simbok pergi ke belakang. Ingin segera memposting hasil jepretannya ke akun sosial medianya.
“Saya sudah menduga, suatu hari kamu akan mencari Dave, Bi,” ucap Miranda, “dengar, apa pun yang akan kalian sampaikan pada Dave, saya harap, kalian sudah memikirkan akibatnya baik-baik,” lanjutnya.
“Apa maksud ibu?” tanya Jayden.
“Kalian hanya mengenal Dave sedikit saja, bahkan tidak sampai setengahnya. Ada hal-hal yang bisa Dave lakukan. Hal yang bahkan tidak akan pernah terlintas di dalam pikiran kalian.”
Jayden dan Bintang memfokuskan pandangan ke arah Miranda.
__ADS_1
“Bukan pertama kali ada seorang gadis datang menemui Dave, meminta pertanggung jawaban. Bahkan gadis terakhir yang datang membawa serta ayahnya. Dan apa yang mereka dapatkan? Tidak lebih dari sebuah kekecewaan.”
“Jadi Ibu tahu kalau pak Dave suka bermain wanita di luar sana dan membiarkannya?” tanya Jayden bingung.
“Apa yang harus aku lakukan Jay? Anak-anakku membutuhkan masa depan.”
“Dan Ibu membiarkan suami Ibu merusak masa depan gadis-gadis itu?”
“Gadis-gadis itu yang menyerahkan dirinya,” jawab Miranda, “mungkin kamu bisa menjelaskannya pada Jay, Bi?” ucapan terakhir Miranda ditujukan untuk Bintang.
Bintang menunduk. Tidak menyanggah ataupun mengiyakan tanya Miranda.
“Asal Ibu tahu, di dalam perut Bintang, ada janin suami Ibu saat ini! Apakah Ibu akan tetap menutup mata untuk itu?” Jayden semakin jengah dengan ketidakpedulian Miranda.
“Saya hanya memastikan anak-anak saya tumbuh dengan baik, dan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.” Jawaban ambigu Miranda membuat Jayden semakin geram.
“Tidak adakah sedikit saja rasa empati di hati Ibu sebagai sesama wanita?”
“Lalu apa yang kamu harapkan? Bahwa Dave akan bertanggung jawab dan menikahi Bintang, begitu? Itu tidak akan terjadi Jay. Dan kenapa kamu memikirkan tentang Bintang. Dia wanita bersuami, tidak akan ada yang mempertanyakan anaknya!”
Jayden menatap Miranda. Tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita tersebut.
Miranda membuka ponselnya, memutar video yang ia perlihatkan kepada Bintang. “Lihat ini!”
Bintang tidak bisa menutupi keterkejutannya melihat video itu. Video tidak senonoh dirinya saat bercinta dengan Dave tempo hari.
“Kenapa Ibu bisa menyimpan video ini?” tanya Bintang.
“Dari ponsel Dave,” jawab Miranda, “kamu tahu artinya, Bi? Jika kamu sedikit saja mengusik kehidupan Dave, maka video ini bukan hanya akan berada di ponsel itu. Tapi juga akan berada di setiap ponsel orang-orang di negeri ini!”
“Itu artinya suami Ibu juga akan terlibat,” ucap Bintang.
“Kamu pikir Dave sebodoh itu? Lihat baik-baik. Adakah wajah Dave terlihat di sana? Dia tentu sudah memikirkannya baik-baik.”
“Ibu sedang mengancam saya?” tanya Bintang.
Miranda menggeleng, “ini bukan tentang saya Bi, tapi tentang Dave.”
“Lalu kenapa Ibu ikut menyimpan video itu?” tanya Bintang kembali.
“Saya harus mempunyai sesuatu untuk senjata seandainya sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.”
__ADS_1
Suasana hening. Semuanya berkecamuk dalam pikiran mereka masing-masing.