
Satu tahun, 3 bulan, 5 hari telah berlalu. Tidak sehari pun Jayden lewati tanpa menyapa kekasih hatinya. Walau raga tak bisa bersama, ia masih bisa menyapanya melalui bingkai foto yang ada di kamarnya.
“Selamat pagi sayang.” Jayden kemudian mengecup foto Delia di sana.
Suara ponsel berdering.
“Halo.”
“Baiklah.”
Jayden mematikan sambungan telepon secara sepihak. Mirna, sekretarisnya selalu menghubunginya setiap pagi. Memberi tahunya schedule harian. Kadang Jayden kesal. Tapi untuk itulah Mirna di bayar, untuk membuatnya kesal! Bukan, maksudnya untuk menyusun schedule Jayden.
Jayden memandangi ponselnya sekali lagi. Melihat kontak yang diberi nama 'My Love'. Tidak ada pesan dikirimnya setelah pesan lebih dari satu tahun yang lalu. Ia kembali membacanya entah yang ke-berapa ratus kali.
[Jay, aku akan stay di London. Di sini ada dokter bagus yang akan membantuku memulihkan cedera kepala aku akibat kecelakaan itu. Aku juga akan menyelesaikan S2 aku bersama Farel, di kampusnya. Tunggu aku kembali sayang. Aku mencintaimu.]
Jayden menghela nafas panjang. Ia kemudian menyimpan kembali ponsel itu dan segera melakukan ritual paginya.
Jayden keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi. Ia segera turun melalui tangga dan menuju ke meja makan.
“Mbak Rani sakit? Kok pake jaket?” tanya Jayden seraya duduk di kursi yang biasa ia duduki.
“Enggak Pak, cuma dingin,” jawab wanita tersebut.
Jayden menghentikan gerakan tangannya yang baru saja mengambil makanan ketika mendengar suara yang baru saja keluar dari mulut wanita berhoodie itu. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Sebuah senyum terlihat di sana.
Jayden berdiri. Bahkan kursi yang tadi ia duduki terjungkal ke bawah. Ia mendekat ke arah wanita tersebut. Tangannya terulur untuk membuka hoodie yang ia kenakan. Dan ya! Melihatnya, air matanya luruh begitu saja.
“Delia ....” Dengan susah payah, nama itu ia ucapkan. “Ini benar kamu sayang? Aku sedang tidak berhalusinasi kan?”
Wanita itu mengangguk.
Jayden membawa Delia ke dalam pelukannya. Ia mendekapnya dengan begitu erat. Pun Delia melakukan hal yang sama. Mereka saling meluapkan kerinduan masing-masing.
“Aku kangen banget sayang.”
“Aku juga Jay,” ucap Delia dengan nada bergetar.
Jayden merenggangkan pelukannya. “Kamu menangis? Kenapa kamu menangis hm?” tanyanya seraya mengusap kedua pipi Delia yang basah.
“Kamu juga menangis.” Delia ikut mengusap pipi Jayden yang juga basah.
Keduanya tertawa dalam haru.
“Kamu sudah kembali sayang? Kapan kamu kembali?” tanya Jayden.
“Baru saja,” jawab Delia.
“Kami dari bandara langsung ke sini.” Suara lain terdengar telinga Jayden. Jayden dan Delia yang masih saling memeluk itu menoleh. “Farel?”
“Ya! Kak Jay baru melihat aku ada di sini?” tanya Farel ketus.
Jayden melepas peluknya pada Delia dan berjalan mendekat ke arah Farel. Entah mengapa ia tidak menyadari Farel di sana. Padahal ia berdiri tak jauh darinya. Begitu sampai di hadapan Farel, Jayden memeluknya.
“Hei, jangan peluk-peluk! Kita tidak pernah sedekat itu ingat!” walaupun mulutnya menolak, tapi raganya jelas menerima.
“Kamu memanggilku kakak kan? Apa seorang kakak tidak boleh memeluk adiknya.” Jayden sedikit menjauhkan tubuh Farel, tapi kemudian segera memeluknya lagi.
__ADS_1
“Sudah ih! Geli tau! Tuh kakakku cemburu!” ucap Farel.
Jayden menoleh ke arah Delia yang berdiri di belakangnya. Ia kemudian menarik Delia ke dalam pelukannya bersama dengan Farel.
“Kita mau berpelukan sampai kapan? Aku lapar,” celetuk Farel.
Delia tertawa mendengar ucapan adiknya itu. Benar, mereka belum sarapan. Terakhir mereka makan tadi malam, saat transit di Singapura.
“Baiklah. Kita sarapan bersama,” ucap Jayden.
Mereka bertiga berjalan menuju ke meja makan.
Delia membuka jaket yang ia kenakan. Lalu menyampirkannya pada sandaran kursi sebelum duduk. Jayden mengamati setiap pergerakan Delia.
“Rambut kamu sudah tumbuh lagi Del, cantik!” puji Jayden.
Delia tersenyum.
“Ceritakan bagaimana kuliahmu di sana.”
Delia menceritakan kegiatannya di London. Saat awal mula ia datang yang selalu merindukan Jayden. Hingga tekadnya untuk segera lulus agar cepat pulang.
Cukup sulit pada awalnya mengikuti pelajaran di sana. Bukan tanpa sebab. Delia yang sudah lulus S1 dua tahun yang lalu, harus re-record beberapa mata kuliahnya. Berbeda dengan Farel yang baru saja lulus. Selain itu ia juga kuliah di tempat yang sama. Tidak ada kesulitan berarti bagi Farel.
“Pendidikan kamu semakin tinggi. Aku jadi minder Del,” ucap Jayden lirih.
“Jay ....” Delia menggenggam tangan Jayden. “Aku berpendidikan tinggi karena nantinya aku yang akan menjadi pendidik untuk anak-anak kita. Belajar di universitas itu bukan semata-mata untuk mendapatkan gelar, tapi juga merubah mindset aku supaya aku nantinya bisa menularkannya pada anak-anak kita.”
Farel yang sedang melahap makanannya menjadi tersedak mendengar ucapan Delia. Sepasang suami istri yang sedang berbincang itu menoleh ke arah Farel.
“Kenapa Yel?” tanya Delia.
Jayden tertawa, sedangkan Delia menggelengkan kepala. Mereka akhirnya menghabiskan makanan mereka masing-masing.
Usai sarapan, Farel memilih untuk pulang ke rumahnya. Dia bilang mengantuk. Sedangkan Delia memilih ikut ke kantor milik Jayden.
Jayden memesankan taksi online untuk Farel. Sementara ia dan Delia naik mobil milik Jayden.
“Mobil baru?” tanya Delia ketika duduk di dalamnya.
“Iya,” jawab Jayden seraya menjalankan kendaraannya.
“Mobil lama ke mana?”
“Mobil itu milik Dave, sekalipun dulu dia memberikannya, tapi aku anggap itu pinjaman. Setelah Dave dipenjara, aku mengembalikannya kepada istrinya.”
“Di mana mereka sekarang?”
Jayden menggeleng. “Terakhir aku bertemu dengannya, dia bilang akan pergi jauh.”
Delia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Em ... Jay, bagaimana dengan Bintang?”
“Kenapa dengannya?” Jay balik bertanya.
“Kamu ... Bagaimana hubungan kamu dengannya?”
“Kami sudah bercerai Del, sekarang Bintang menjadi single parent. Kariernya melesat semenjak bercerai.”
__ADS_1
Delia tersenyum.
“Del, semua sudah berakhir. Percayalah.” Jayden menggenggam tangan Delia.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan ibukota yang selalu padat setiap harinya.
Jayden menghentikan kendaraannya di depan sebuah gedung lantai tiga yang sangat familiar bagi Delia. Delia membaca tulisan yang ada di depannya.
“JD Star,” ucap Delia lirih. “Jay bukankah ini—“
“Kamu benar!” potong Jayden, “bangunan ini dulunya adalah tempat pertama kali aku mengawali karier aku, gedung Chan Management.”
“Kenapa bisa menjadi JD Star?” tanya Delia.
“Aku ceritakan sambil jalan.” Mereka berdua berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut. Suasananya hampir sama seperti yang Delia ingat. Dan wajah itu .... “Aku mengambil semua staff Chan Management. Aku tidak pandai merekrut karyawan Del, jadi aku pikir untuk memperkerjakan yang sudah ada saja. Mereka sudah handal dalam urusannya.”
“Bagaimana dengan artis-artisnya?”
“Ada sebagian artis pindahan Chan Management, ada yang baru.”
“Apa Bintang tidak bergabung di sini?”
“Tidak Del. Bintang bilang, terlalu banyak kenangan buruk yang ia alami di sini. Dia sekarang sudah mempunyai manajer sendiri.”
“Hemmm ....”
Seorang gadis masuk ke gedung JD Star dengan masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Ia berlari memanggil-manggil nama Jayden, membuat Jayden dan Delia yang baru saja akan naik lift menoleh ke arahnya.
“Kak, aku lulus!” Gadis itu menunjukkan surat keterangan lulusnya kepada Jayden.
Jayden membacanya sekilas, lalu tersenyum. “Pintar.” Ia kemudian memperkenalkan gadis tersebut kepada Delia. “Del kenalin, ini Resa, salah satu artis pindahan dari Chan.”
Delia mengulurkan tangannya yang disambut antusias oleh Resa.
“Saya—“
“Kakak yang namanya kak Delia kan?”
“Kamu mengenal saya?” tanya Delia ketika jabatan tangan itu terputus.
“Aku lihat foto kakak di ruangan kak Jay.”
Delia menoleh ke arah Jayden. Sedangkan yang di tatap membuang muka.
Anak ini merusak kejutanku. Batin Jayden.
“Kakak tau gak, kak Jay ini sering berbicara dengan bingkai foto, pas aku lihat fotonya ternyata—“ belum sempat Resa meneruskan kalimatnya, Jayden segera memotong ucapannya.
“Sudah diam. Katakan, ada apa kamu ke sini sepagi ini?”
“Pagi? Sekarang sudah jam sepuluh kak.” Resa kemudian menepuk keningnya sendiri. “Aku sampai lupa, kakak ada waktu sebentar? Ibuku mau bertemu kakak. Dia bilang mau berterima kasih sama kakak karena kakak sudah mengantarkanku sejauh ini.”
Jayden melihat jam di pergelangan tangannya sejenak, kemudian ia mengangguk.
Gadis itu kembali berlari keluar, lalu segera kembali dengan menggandeng tangan ibunya. Mereka berjalan mendekat.
Tepat saat jarak keduanya hanya tersisa dua meter, ekspresi wajahnya berubah seketika. “Kau ....”
__ADS_1
Wanita paruh baya tersebut mengangkat kepalanya perlahan. Ia memberanikan diri untuk memandang wajah itu.