Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Akar Masalah


__ADS_3

“Aaaarrrgghhh ...!” Bintang berteriak.


Ceklek. Pintu terbuka. Sepasang netra menatap keadaan di depan matanya dengan ekspresi yang sulit digambarkan.


“Jay?” ucap seseorang di ambang pintu.


“Delia?” Jayden berkata lirih.


Jayden melepaskan pelukannya pada Bintang. Ia segera menghampiri Delia yang masih di ambang pintu. Tidak hanya sendiri. Seorang pemuda berdiri di belakangnya. Ya! Dialah Farel.


“Kamu salah paham Del. Ini semua tidak seperti yang kamu lihat.” Jayden segera menjelaskan sebelum Delia bertanya.


Belum sempat Jayden melanjutkan kalimatnya, Delia berseru, “Bintang!”


Jayden mengikuti arah pandangan Delia. Betapa terkejutnya ia mendapati Bintang sudah tergeletak di atas lantai.


“Panggil dokter Jay!” titah Delia. “Yel, bantu kakak ngangkat Bintang ke ranjang!” titahnya pada Farel.


“Biar aku saja Del, kamu masih belum pulih, jangan mengangkat yang berat-berat,” tawar Jayden.


Tangan Jayden sudah bergerak untuk membopong tubuh Bintang, tapi Farel segera menepisnya. “Gak denger kakak bilang apa? Panggil dokter! Gak usah mengambil kesempatan dalam kesempitan!” Farel mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada mengancam.


“Kalian kenapa sih? Jay, cepat panggil dokter!” Delia panik.


“I-iya, Del.” Jayden segera keluar dari ruangan itu. Sementara Farel membopong tubuh Bintang ke atas ranjang.


“Kakak salah pilih suami, dia cowok playboy!” ucap Farel pada Delia. “Entah apa yang akan dilakukannya kalau kita gak dateng.”


“Kamu masih kecil, gak tahu apa-apa,” jawab Delia.


“Ck. Dasar bucin!” sungut Farel.


Delia mengerling.


Dokter masuk menyudahi debat tak berguna itu. Ia memeriksa keadaan Bintang, juga memasang selang infus di tempat yang baru.


“Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan perihal keadaan pasien. Anda suaminya?” Dokter bertanya kepada Jayden.


“Saya ....” Jayden menoleh ke arah Delia sejenak. Istrinya itu membuang muka. “Saya teman kerjanya dokter, orang tuanya sedang pulang mengambil beberapa perlengkapan.”


“Baiklah. Kalau mereka sudah kembali, tolong temui saya di ruangan saya,” ucap dokter sebelum pergi.

__ADS_1


“Baik. Terima kasih dokter,” jawab Jayden.


“Del ....” Jayden mendekat ke arah Delia begitu dokter meninggalkan ruangan. Tapi, baru saja Jayden mendekat, Farel sudah berdiri di antara mereka berdua.


Jayden berpindah untuk berdiri ke sisi kanan Delia, namun lagi-lagi, Farel berpindah tempat. Ia sama sekali tidak membiarkan Jayden berbicara dengan Delia.


“Hei kamu bocah, tolong minggir dulu! Aku mau berbicara dengan istriku!” Sentak Jayden.


“Siapa yang Lo sebut bocah? Dasar pria mesum!” Farel tampak tak terima.


“Siapa yang kamu sebut pria mesum? Dasar bocah ingusan!” Jayden membalas ucapan Farel.


“Kak, lihat, pria mesum itu menyebutku bocah ingusan. Mana ada aku ingusan. Aku cool gini.” Farel mengadu pada Delia.


“Ck. Pengadu!” gumam Jayden.


Delia tiba-tiba memijat pelipisnya. Ia memegang sisi ranjang Bintang untuk menopang tubuhnya.


“Del kamu kenapa?”


“Kakak kenapa?”


Farel dan Jayden berucap bersamaan.


“Aku panggilkan dokter.” Jayden sudah akan berdiri, tapi Delia menghentikannya.


“Tidak Jay. Aku pusing bukan karena sakit, tapi karena kalian yang selalu bertengkar.” Ia kemudian tertawa melihat suami dan adiknya yang mengkhawatirkannya. “Dengar, kalian adalah dua laki-laki yang paling aku sayangi. Jadi tolong, jangan bertengkar.”


Jayden menoleh ke arah Farel yang juga tengah menatapnya. Tapi kemudian, pemuda itu segera membuang muka.


“Ayel ....” Delia membalik wajah adiknya itu agar menoleh ke arahnya. “Kalian mau kan hidup akur berdampingan demi kakak?”


Bola mata Farel mendelik ke arah Jayden.


Belum sempat Farel dan Jayden menjawab, Delia mempertemukan kedua tangan mereka untuk bersalaman. Farel menatap penuh ancaman ke arah Jayden. Sedangkan Jayden tersenyum mengejek.


“Dan mulai sekarang, panggil suami kakak, kak Jayden atau kak Jay. Oke?”


Farel mengangguk.


“Adik pintar.” Jayden mengacak rambut Farel. Dan hal itu membuat Farel semakin kesal saja.

__ADS_1


Delia tertawa melihat Farel yang langsung membereskan rambutnya.


“Del, kenapa kamu ada di sini?” tanya Jayden.


“Aku kan sudah bilang mau kontrol ke rumah sakit, sekalian jenguk Bintang.”


“Oya?”Jayden mengeluarkan ponselnya. Dan membuka layar kuncinya. Tidak ada apa-apa di sana. “Tidak ada pesan Del.”


“Masa sih?” Delia ikut melihat layar ponsel Jayden. Benar, tidak ada pesan darinya. Ia kemudian membuka ponselnya sendiri, lalu tertawa. “Maaf Jay, ternyata pesannya belum aku kirim, baru diketik saja. Hehehe.”


“Dasar.” Jayden mengacak kepala yang terbungkus scraft itu hingga sedikit menceng. Delia segera membetulkannya. “Del ada yang ingin aku katakan.” Jayden berucap sambil melirik Farel. Seolah ingin mengatakan kalau ia hanya ingin berbicara berdua saja.


“Yel, kakak sama kakak ipar kamu mau makan dulu di kantin rumah sakit. Kamu tunggu sampai orang tuanya kembali ya,” ucap Delia.


“Tapi kak—“


“Terima kasih Ayel sayang.” Delia mencubit kedua pipi Farel dengan gemas. Ia bahkan tidak memberikan kesempatan Farel untuk menolak.


Farel hanya bisa pasrah atas kelakuan sepasang suami istri tidak berperasaan itu. Pandangannya kemudian beralih pada pasien yang masih berbaring di ranjang tersebut.


“Jadi kamu yang namanya Bintang?” gumam Farel.


***


“Jadi apa yang akan kamu katakan?” tanya Delia. Mereka tengah duduk di bangku kantin rumah sakit.


“Aku mau minta maaf atas apa yang tadi kamu lihat Del. Tadi Bintang tidak terkendali setelah melihat berita tentangnya. Ia bahkan menarik infus di tangannya dengan paksa. Jadi aku terpaksa melakukan apa yang kamu lihat tadi untuk menenangkannya. Aku sudah bilang kan, Bintang mencoba bunuh diri?”


“Kenapa? Bukankah di sendiri yang membuat video itu?” tanya Delia bingung.


“Ini bukan tentang video pernyataan itu Del, tapi tentang ini.” Jayden menyodorkan ponselnya ke arah Delia.


Bola mata Delia terbelalak melihatnya. Apalagi saat Jayden memutar video tidak senonoh Bintang. Delia langsung membuang muka, dan mengembalikan ponsel di tangannya kepada pemiliknya. Walau hanya melihat sekilas. Adegan-adegan itu berputar di dalam otaknya.


“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu Del,” ucap Jayden, “Bintang ... Dia adalah orang yang telah mengirimkan foto kita saat di Bali. Foto-foto yang membuat kamu di bully di media sosial. Dan Bintang juga yang mengajak fansnya untuk melempari kamu dengan tomat busuk tempo hari. Tentu saja dengan menggunakan akun palsu. Berpura-pura menjadi fans fanatiknya, dan mengajak massa untuk mengikuti ide konyolnya.


“Hal itu juga yang membuat papa kamu akhirnya meminta aku untuk menjauhi kamu. Dan kejadian-kejadian selanjutnya yang menimpa kamu, itu semua berakar dari Bintang, Del.”


Delia bergeming mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut Jayden.


“Del, sekarang semua terserah padamu. Setelah mengetahui semua ini, kamu mau melaporkan Bintang atau apa pun, itu sepenuhnya hak kamu. Kamu yang jadi korban di sini.”

__ADS_1


“Bagaimana menurut kamu Jay?” Delia balik bertanya.


__ADS_2