Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Klarifikasi


__ADS_3

Entah dari mana kabar itu berasal, berita Jayden membeli satu unit rumah tiba-tiba menjadi topik utama gosip pagi ini. Kabar tersebut juga sampai kepada Dave.


“Kamu ceroboh sekali, Jay!” seru Dave.


“Apa? Apa yang aku lakukan?” tanya Jayden bingung.


Saat ini, Jayden sedang berada di ruangan Dave.


“Kenapa sampai keluar berita seperti ini?” tanya Dave.


“Berita aku membeli rumah? Terus masalahnya apa?”


“Masalahnya adalah, dari kabar yang beredar, kamu membeli rumah itu untuk istri kamu!”


“Lalu?”


“Lalu? Kamu belum sadar juga Jay, di mata publik, kamu itu pacarnya Bintang! Fans-fans kamu akan mempertanyakan, siapa istri kamu. Aku kan pernah bilang, jaga kata-kata kamu di luaran sana! Kamu bisa merusak image kamu sendiri!”


“Lalu apa yang harus aku lakukan?”


“Bikin konferensi pers!”


“Hal sepele kayak gini aja harus bikin konferensi pers?” Jayden tidak habis pikir dengan pemikiran Dave. “Oke, lalu apa yang harus aku klarifikasi?”


“Bahwa berita itu salah, kamu membeli rumah itu bukan untuk istri kamu, tapi calon istri kamu, Bintang.”


“Apa?! Tidak!”


“Sangat baik bagi karier kamu kalau kamu mengatakan apa yang ingin mereka dengar, Jay.”


“Dari mana kita tahu hal itu yang ingin mereka dengar?”


“Kamu meragukan instingku, Jay? Kamu tidak tahu berapa jumlah artis yang aku terbitkan? Apa mereka semua terkenal? Ya! Itu adalah karena disiplin yang aku terapkan.”


“Tapi aku tidak mungkin mengatakan sebuah kebohongan lagi.”


“Kalau kamu tidak mau hal itu menjadi sebuah kebohongan, jadikan itu sebuah kenyataan.”


“Maksudnya aku harus menikahi Bintang?”


Dave diam, tapi Jayden tahu itu artinya 'iya'.


“Itu tidak mungkin!”


“Kenapa? Apa Bintang kurang cantik bagimu? Kurang seksi? Kurang menggairahkan? Ayolah Jay, kita bicara sebagai sesama laki-laki. Bagian mana dari diri Bintang yang menurutmu cacat? Bintang itu sempurna, Jay.”


“Bukan itu masalahnya Bos.”


“Apa? Apa karena perempuan yang kamu bawa waktu itu? Yang kemarin kamu bawa ke konser amal itu?”


“Bos tahu?”

__ADS_1


“Apa sih yang tidak aku tahu Jay!”


Jayden diam.


Dave mendekat ke arah Jayden, merangkul bahunya, dan berbisik pelan, “Jay, anggap saja sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Demi karier kamu, kamu menikah dengan Bintang. Bonusnya, kamu mendapat gadis idaman setiap lelaki, Bintang!”


“Bos, masalahnya bukan itu.”


“Lalu apa?”


Jayden menghela nafas panjang, “perempuan yang aku bawa waktu itu bukan pacar aku, tapi istri aku. Kami sudah menikah.”


Dave menurunkan tangannya dari bahu Jayden, “kamu membohongi aku Jay?”


“Maaf bos, aku tidak bermaksud seperti itu. A-aku—“


“Cukup Jay! Kita batalkan kontrak itu. Dan aku pastikan karier kamu berhenti sampai di sini. Aku tidak mau bekerja sama dengan seorang penipu!”


“Tidak! Aku benar-benar minta maaf bos, tolong jangan lakukan itu.”


“Kamu akan dipenjara karena ini Jay,” ucap Dave lirih.


“Tidak! Jangan bicara seperti itu bos.” Jayden memelas.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan untuk mencegahku melaporkan kamu ke polisi?” tantang Dave.


“Apa pun!”


Jayden diam. Ia terjebak dengan kata-katanya sendiri.


“Jay?” desak Dave.


“Iya,” jawab Jayden lirih.


“Oke deal! Jadi begini skenarionya ....”


Jayden keluar dari ruangan Dave dengan lunglai. Dave sudah mengaturkan konferensi pers untuknya besok pagi. Tapi sebelum itu, ia harus berbicara dulu dengan Delia. Ia harus mengatakan pembicaraannya dengan Dave hari ini.


Begitu Jayden keluar dari kantor Dave, ponselnya berdering. Nama agen properti yang mencarikan rumah untuknya tertera di sana. Jayden segera mengangkatnya.


“Halo,” ucap Jayden begitu terhubung.


“Halo mas, pemilik sudah di Jakarta, saya juga sudah mengatur pertemuan kita dengan notaris siang nanti. Bisa?”


Jayden menghela nafas kasar. Jika saja keadaannya normal, dengan senang hati ia akan menyambutnya. Ia begitu rindu akan senyum bahagia Delia.


“Mas?” si penelepon memastikan apakah Jayden masih bersamanya atau tidak.


“Ya, saya bisa.” Jawaban Jayden membuat si penelepon senang. Bukan ikut bahagia karena Jayden mempunyai rumah baru, tapi karena sebentar lagi ia akan mendapatkan komisi atas penjualan rumah tersebut. Uang tunai sejumlah 3% dari harga rumah sangat besar menurutnya. Tentu saja masih dikurangi pajak dan bagi hasil untuk kantor agen itu sendiri.


Telepon terputus. Jayden memutuskannya begitu saja usai mengatakan apa yang harus ia katakan.

__ADS_1


Jayden bimbang, haruskah ia mengajak Delia untuk ikut serta? Tadinya rencana Jayden adalah akan membelikan rumah itu atas nama Delia, tapi melihat situasi saat ini, sebaiknya rumah itu diatasnamakan dia sendiri. Dan akhirnya Jayden memutuskan untuk datang sendiri.


Pertemuan dengan notaris dilangsungkan di sebuah cafe. Ada sekitar delapan orang yang hadir di sana. Selain Jayden, ada dua orang dari kantor notaris, agen itu sendiri, pemilik rumah beserta istrinya, dan ada dua orang dari pihak bank.


Transaksi tersebut berlangsung sekitar satu jam. Di awali dengan berjabat tangan, dan diakhiri dengan berjabat tangan juga. Semua orang pamit dari sana untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing.


Sebelum pulang, notaris memberitahukan kalau sertifikat akan bisa Jayden terima dalam jangka waktu 30 hari.


“Baik, terima kasih.” Sekalut apa pun kondisi Jayden saat ini, ia harus menjaga image ramah pada semua orang. Ternyata ajaran Dave sudah merasuki otaknya.


Jayden pulang usai segala urusannya selesai. Ia ingin segera mengabari Delia mengenai pembicaraannya dengan Dave. Seperti biasa, Jayden akan menukar mobilnya dengan sepeda motornya yang ia parkirkan di apartemen. Bedanya, kali ini ia tidak menunggu gelap untuk pulang. Ia ingin sampai sesegera mungkin.


Dalam perjalanan pulang, Jayden menyusun kata demi kata yang akan ia sampaikan pada Delia. Ia bahkan melafalkannya beberapa kali agar terdengar tidak begitu menyakitinya. Walaupun kemungkinan besar hal itu akan tetap terjadi.


“Del, aku akan menikah dengan Bintang.”


“Del, aku harus menikahi Bintang.”


“Del, Dave meminta aku menikahi Bintang.”


“Oh ****! Aku tidak bisa mengatakannya!”


Di lain tempat, Dave tengah berada di ruangannya. Namun kali ini dengan orang yang berbeda.


“Aku sudah melakukannya, untukmu! Ingat, untukmu!” ucap Dave.


“Makasih Bos,” ucap wanita yang duduk di sebelahnya.


“Oh ****! Aku merasa sudah jahat sama Jay, dia laki-laki yang baik. Aku bisa kehilangan dia kalau saja dia sedikit lebih pintar untuk membalikkan ancaman bodohku! Tapi demi kamu, aku rela mengambil resiko itu, Bintang! Kamu tahu!”


Bintang terkikik, saat ini ia merasa tengah berada di atas angin.


“Jangan tertawa! Kamu belum memberikan hadiahku!”


“Baiklah, aku tahu. Ayo.” Bintang sudah berdiri, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Dave.


Bintang menatap bingung ke arah Dave, karena pria itu hanya duduk saja.


“Aku mau kamu memberikan hadiahku di sini!” ucap Dave.


“Apa?! Jangan gila bos, di sini banyak orang.”


Dave menarik tangan Bintang, hingga bintang jatuh ke pelukannya. Lalu dave berbisik tepat di depan wajah Bintang, “Justru itu yang aku inginkan. Aku ingin sensasi itu. Perasaan deg-degan dan takut ketahuan yang membuatku semakin bergairah.”


“Kamu gila Bos!”


“Kurang dari satu jam istriku akan datang, kamu mau berbicara terus atau mulai melakukannya?”


Detik berikutnya suhu ruangan Dave memanas, seiring dengan aktivitas panas yang dilakukan dua orang pria dan wanita di dalamnya. Pintu tidak Dave kunci, tapi memang tidak ada yang masuk, karena sebelumnya, Dave berpesan kepada sekretarisnya, jangan membiarkan siapa pun masuk sebelum Bintang keluar dari ruangannya. Seolah sudah tahu apa yang  akan terjadi, sekretarisnya mengiyakannya.


 

__ADS_1


__ADS_2