Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Ayelku


__ADS_3

Pagi hari semua penghuni rumah Arga Wijaya diributkan dengan hilangnya Delia. Pelayan yang pertama kali mengetahui hal itu dicerca berbagai pertanyaan dari Farida.


“Maaf nyonya, saya tidak tahu,” jawab pelayan tersebut seraya menunduk ketika sang nyonya bertanya.


“Papa sudah tanya security rumah, Dia tidak melihat Delia keluar.” Arga yang baru saja bergabung, ikut berkomentar.


Di antara semuanya, Farida yang terlihat paling kalut. Tapi kemudian, ia teringat sesuatu. “Di mana Jay?”


Tanpa menjawab tanya istrinya, Arga berjalan cepat ke arah kamar tamu. Ia mengetuk pintu dengan tidak sabar.


Tok ... Tok ... Tok ....


Dua orang manusia berbeda jenis yang ada di dalam terkejut mendengar suara ketukan pintu. Mereka berdua terbangun dan saling pandang, menerka siapa di luar sana dalam pikiran mereka masing-masing.


Tok ... Tok ... Tok ... Pintu kembali di ketuk.


Jayden turun dari ranjang dan mengenakan celananya dengan tergesa.


Sial! Bagaimana mungkin aku sampai terlambat bangun di hari pertama menginap di rumah mertua! Batin Jayden.


Delia hanya melihat Jayden dengan senyuman. Ia terduduk dengan menaikkan selimut agar menutupi tubuh polosnya. Bagaimana tidak kesiangan, mereka baru selesai beraktivitas saat hari hampir pagi.


Takut-takut, Jayden akhirnya membuka pintu. Sedikit saja. Tapi, Arga mendorongnya hingga pintu terbuka lebar. Membuat Jayden sedikit mundur ke belakang.


Baru saja Arga hendak berucap, ia melihat kepala putrinya menyembul di balik selimut. Ia memamerkan deretan gigi putihnya ke arah Arga.


“Kamu ...!” Kegeraman Arga bertambah melihat pakaian Delia berceceran di lantai. Ia bahkan melihat Jayden memakai celana terbalik.


Farida ikut melongok di balik punggung suaminya. Ingin melihat hal yang membuat suaminya seketika bungkam. Dan hal yang sama terjadi padanya.


“Suruh mereka berpakaian, lalu temui papa di ruang kerja,” ucap Arga pada istrinya seraya berbalik.


Farida mengamati isi kamar tersebut. Seakan memergoki dua orang manusia yang baru saja berbuat mesum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kamu dengar kan apa kata papanya Delia?” tanya Farida pada Jayden yang masih berdiri dengan kikuk.


Jayden mengangguk.


“Baiklah.” Farida ikut mengangguk seraya menutup kembali pintu kamar itu.

__ADS_1


Setelah kepergian kedua orang tua Delia, Jayden dan Delia bisa bernafas lega. Keduanya saling pandang sejenak sebelum saling tertawa.


“Jay, kamu pakai celana terbalik!” seru Delia.


Jayden melihat ke bawah. Benar saja, karena terburu-buru, ia tidak menyadarinya.


***


“Sudah saya bilang, sebelum menikah kembali, kalian tidak boleh tidur bersama,” ucap Arga pada sepasang suami istri di hadapannya.


“Maaf Pak, Bapak bilang saya tidak boleh tidur di kamar Delia. Bukan—“


“Jangan mengajari saya!” potong Arga, “kamu tinggal pilih, mau tidur di rumah saya atau di rumah kamu! Jika kamu masih mau tinggal di sini, patuhi peraturan rumah ini!” lanjutnya.


“Maaf.” Jayden bisa saja membela diri, tapi itu sangat tidak bijak. Ia tidak ingin membuat Arga murka hingga mengusirnya. Jadi lebih baik minta maaf saja.


“Dan kamu Del.” Pandangan Arga kini beralih pada Delia. “Sebagai wanita, kamu harusnya bisa lebih menjaga diri. Kalian belum sah secara hukum negara kita, jangan sampai ada anak yang lahir sebelum kalian sah secara hukum!”


Jayden dan Delia saling pandang sebelum keduanya saling mengangguk.


“Kamu boleh keluar. Adik kamu kemarin datang. Kamu belum menemuinya kan?” ucap Arga pada Delia.


“Ayel pulang Pa? Kok aku gak tahu.” Delia tampak antusias.


“Delia ke kamar Ayel dulu ya Pa.”


Delia berlari ke lantai atas. Setelah itu ia membuka pintu kamar Farel tanpa permisi.


Pria itu masih terlelap walaupun mentari sudah meninggi. Bagaimana tidak. Semalam ia terpaksa harus terbangun di tengah lelapnya tidur karena ada yang mencoba menjamahnya. Terlebih orang itu adalah seorang pria!


“Ayel!” Delia duduk di ranjang Farel dengan mengentakkan tubuhnya. Hal itu membuat Farel terkejut dan terbangun seketika.


“Kakak?!” Farel sedikit tersentak. Wajahnya ketus.


“Uh, adik kesayangan kakak sudah pulang!” Delia mencubit kedua pipi Farel kiri dan kanan. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya ingin di peluk. “Peluk ....”


Tanpa di duga, Farel membuang muka.


“Kenapa ini? Apakah kota besar London telah mengubah Ayelku?” tanya Delia.

__ADS_1


“Jangan panggil aku Ayelku! Aku sudah besar kak, aku sudah bisa mengucap huruf R dengan benar. Dan panggil aku Farel!”


Benar. Panggilan Ayel disematkan saat mereka masih kecil. Farel yang saat itu belum bisa mengucapkan huruf R memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Ayel. Padahal saat itu Farel sudah duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.


Delia menurunkan kedua tangannya.  Senyumnya ikut memudar. Ia merasa adik kecilnya telah berubah. Ia sama sekali tidak terlihat antusias melihatnya.


“Maaf,” ucap Delia lirih.


“Nah, bagus! Gitu! Sekarang katakan apa alasannya!”


“Alasan apa?”


“Alasan apa lagi? Alasan kakak menikah tanpa memberitahuku! Kakak selalu bilang aku adalah adik kesayangan kakak. Kenapa kakak menikah tidak memberitahuku?” ucap Farel marah.


Senyum Delia kembali terbit. Ia senang melihat Farel berbicara panjang dan lebar padanya. “Ayelkuuu!” Delia kembali memeluk Farel dengan paksa. Tidak ada penolakan dari Farel. Pemuda itu sama rindunya dengan wanita yang tengah memeluknya saat ini.


“Kak, hentikan. Aku sudah besar!”


“Benarkah? Kenapa masih terlihat menggemaskan?”


Farel bangun dan berdiri di depan Delia. “Lihatlah, aku sudah tumbuh tinggi tapi kakak masih saja sependek ini!” Farel mengukur tinggi badan Delia yang sedang duduk yang hanya sebatas perutnya saja. “Kakak memang kurang gizi!”


“Hei!” Delia berdiri kemudian berlagak mengejar Farel. Tapi pemuda itu dengan sigap berlari dan masuk ke dalam kamar mandi.


“Kakak keluar dulu! Aku mau mandi!” teriak Farel dari dalam kamar mandi.


“Tidak! Aku menunggu di sini saja!” tolak Delia.


“Terserah,” jawab Farel.


Untuk mengatasi kebosanannya, Delia menyalakan televisi di kamar Farel. Wajahnya seketika berubah melihat berita yang ia lihat di layar kaca. Ia kemudian berdiri dan berlari ke lantai bawah. Mengetuk pintu ruang kerja Arga dengan cepat. Lalu, masuk ke dalamnya.


“Jay, ikut aku!” Tanpa permisi, Delia menarik tangan Jayden yang tampak akan protes. Tapi melihat Arga yang mengangguk padanya, Jayden tahu kalau mertuanya itu mengizinkannya untuk pergi.


Delia membawa Jayden ke kamar Farel. Ingin segera menunjukkan apa yang tadi ia lihat di televisi. Sayang sekali, beritanya sudah berganti.


“Sebenarnya ada apa Del?”


“Tunggu sebentar,” ucap Delia seraya keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


Beberapa menit menunggu, Delia tak juga kembali. Malah pemilik kamar tersebut yang duluan keluar dari kamar mandi.


“Apa yang Lo lakukan di sini?!” teriak Farel melihat pria yang semalam menerobos masuk ke kamarnya melakukan hal yang sama.


__ADS_2