Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Terima Kasih Telah Mengusir Saya


__ADS_3

“Ada apa ini?” tanya Jayden setengah berteriak seraya membelah kerumunan.


Jayden melihat setidaknya ada 4 orang di sana. Resa dan ibunya, serta dua orang lagi yang membelakanginya.


“Kamu jahat!” teriak Resa. “Kamu bukan ayahku! Ayahku sudah mati!” teriaknya lagi.


“Dasar anak durhaka! Mentang-mentang sudah sukses, mau melupakan orang tuamu sendiri iya?” Pria yang membelakangi Jayden menjawab dengan nada yang sama tinggi.


“Sudah Mas, aku mohon. Kami sedang merayakan kelulusan Resa, jangan membuat keributan.” Sri, ibunya Resa tampak mengiba.


Mas? Jadi dia laki-laki itu? Batin Jayden.


Jayden ingin melerai pertikaian itu, bukan demi mereka, tapi demi Resa yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.


Jayden naik ke atas podium. Ia mengambil sebuah gitar dan mulai memetiknya. Perhatian kini tertuju padanya. Walaupun sudah kepala 3, masih banyak remaja yang mengidolakannya.


Tamu undangan yang awalnya menonton pertikaian, kini berbalik menonton penampilan Jayden. Mereka sama-sama menyanyikan lagu yang Jayden bawakan.


Suasana semakin riuh, membuat orang yang tadi terlibat pertikaian terdiam. Suaranya kalah dengan suara sound.


Resa membawa ibunya ke dalam rumah. Ibunya terlihat syok dan terpukul. Setelah sekian lama, mengapa laki-laki itu kembali ke dalam hidupnya. Dia sungguh datang di saat yang tidak tepat.


Bayangan masa lalu hinggap dalam pikirannya.


“Apa ini Mas?” tanya Sri kala itu.


“Surat cerai!” jawab pria itu.


“Tapi kenapa?” Sri yang sedang menyusui bayinya terisak. Bayi itu bahkan menangis.


“Sudah tanda tangani saja, jangan banyak bertanya. Kamu tenang saja, aku akan tetap bertanggung jawab terhadap anak-anakmu!”


Dan semuanya hanya dusta! Setelah Sri meninggalkan rumah itu, tidak sepeser pun ia terima dari mantan suaminya itu. Dan ia kembali datang dengan meminta balas budi atas pemberiannya? Pemberian yang mana?


“Kamu memang anak tidak tahu diuntung!” pria itu ikut masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh seorang wanita dengan dandanan menor di belakangnya. “Aku sudah susah payah menyekolahkan kalian, membiayai hidup kalian, tapi apa balasannya? Aku hanya minta bantuan untuk suntikan dana ke perusahaanku yang sedang pailit. Dan kamu tidak mau menolong ayahmu sendiri Resa?!”


Resa kesal. Pria itu tidak mau pulang juga. Kedua adiknya bahkan terlihat takut. Mereka tidak mengenali sosok pria itu. Ingatannya tentang sosok 'ayah' tidak ada sama sekali.


“Dengar bapak Lukman yang terhormat, setelah kami diusir keluar dari rumah Anda itu, tidak sepeser pun kami terima dari Anda!” Resa berbicara dengan nada tinggi.


“Jangan bohong! Tanya ibumu! Aku setiap bulan selalu memberikan uang untuk kalian! Katakan Sri!” Lukman masih berbicara dengan nada tinggi.


Sri menatap tajam ke arah Lukman. “Resa benar Mas, aku tidak pernah menerima uang sepeser pun dari kamu semenjak kita bercerai.”


Lukman menoleh ke arah wanita di sampingnya. “Kamu mentransfer ke nomor rekening yang benar kan?” tanyanya lembut.


“Tentu saja,” jawab di wanita.

__ADS_1


“Rekening? Rekening apa?” tanya Sri, “aku tidak mempunyai rekening!”


Lukman menoleh lagi ke arah wanita di sampingnya. Yang ditatap terlihat sangat gugup. Melihatnya, Lukman langsung tahu akar permasalahannya.


“Jadi kamu tidak pernah mengirim uang kepada Sri?” tanya Lukman.


“A-aku ....”


“Jawab!” sentak Lukman.


“Kenapa Mas bentak-bentak aku?!” Bukannya menjawab, wanita itu malah membuat drama. “Kalau Mas tidak percaya aku, lebih baik aku pergi!” Wanita itu merajuk pergi meninggalkan Lukman.


Lukman segera menyusul istrinya tersebut.


Delia yang sedari tadi melihat drama keluarga tersebut masuk ke dalam rumah setelah kepergian Lukman. Ia menghampiri Resa dan keluarganya yang masih tampak syok.


“Makasih udah datang Kak,” ucap Resa lirih. Ia kemudian memperkenalkan anggota keluarganya pada Delia.


“Siapa dia Sa?” tanya Delia.


“Orang yang mengaku-aku sebagai ayahku,” jawab Resa.


“Dia mantan suami Ibu, Nak. Ayahnya anak-anak.”


Delia diam. Sudah dapat dipastikan kalau pria tadi adalah pria yang telah mengusir Jayden dari rumah orang tua angkatnya bertahun-tahun yang lalu.


Suasana di luar mulai hening. Resa keluar untuk menyambut teman-temannya dan merayakan kelulusan mereka bersama. Bersamaan dengan itu, Jayden masuk ke dalam rumah. Rupanya sedari tadi ia mencari keberadaan Delia.


“Aku ngerti kok. Aku justru bangga karena kamu bisa membuat suasana kembali kondusif,” jawab Delia.


Sri mendekat ke arah Jayden. “Nak, terima kasih sudah datang,” ucapnya dengan nada yang sangat lirih.


“Saya datang bukan untuk kamu, tapi untuk Resa,” jawab Jayden dingin.


“Jay ....” Delia mengingatkan agar Jayden berbicara dengan lebih sopan. Ia lalu menoleh ke arah Sri. “Maafin Jay Bu, dia—“


“Saya mengerti Nak,” potong Sri, “luka yang saya torehkan terlalu dalam, dan tidak mungkin ter maafkan. Dan mirisnya, anak yang saya usir ternyata anak yang sama yang menyelamatkan keluarga kami,” lanjutnya.


“Apakah dia laki-laki itu?” tanya Jayden tanpa menoleh ke arah Sri.


“Ya, dia mas Lukman, bersama istrinya.”


“Untuk apa dia mengacau di pesta kelulusan Resa?”


“Perusahaannya sedang pailit, dia butuh tambahan modal. Dia meminta Resa untuk membantunya. Mungkin dia tahu Resa sedang naik daun dari televisi.”


“Ck. Tidak tahu malu sekali. Apa haknya meminta uang dari anak yang telah dia terlantarkan?”

__ADS_1


“Dia bilang untuk balas budi. Dia bilang, dia memberikan sejumlah uang kepada kami setiap bulannya melalui istrinya. Tapi sungguh, sekalipun Ibu tidak pernah menerimanya.”


Jayden terdiam. Ia melirik sekilas ke arah Sri. Ada guratan kesedihan di sana. Hatinya luluh.


“Bu,” ucap Jayden.


Sri menoleh.


“Terima kasih.”


“Terima kasih untuk apa?” tanya Sri tidak mengerti.


“Terima kasih karena telah mengusir saya waktu itu. Saya jadi bisa bertemu dengan istri saya ini.” Jayden menoleh ke arah Delia, dan mengecup keningnya.


Delia tersenyum.


***


Pesta telah berakhir. Jayden dan Delia pulang.


“Jadi, kamu sudah memaafkan ibunya Resa, Jay?” tanya Delia ketika mereka tengah dalam perjalanan.


“Entahlah Del, melihatnya, aku jadi kasihan,” jawab Jayden.


“Bu Sri sudah mendapatkan karmanya Jay, dan sekarang mantan suaminya juga sudah mendapatkan karma. Perusahaannya pailit.”


“Perusahaan itu milik ayah angkatku. Dia yang membangunnya. Membesarkannya. Aku sedih kalau perusahaan itu bangkrut Del.”


“Jadi apa yang akan kamu lakukan?”


“Nanti aku pikirkan,” jawab Jayden.


Delia mengangguk. Ia percaya penuh pada laki-laki di sampingnya itu.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Delia. Tangan Delia sudah bergerak untuk membuka pintu, tapi Jayden segera menghentikannya.


“Del.”


“Ya?” Delia berbalik.


“I Love you.”


“Love you more Jay.”


“Tinggal tiga minggu lagi kita menikah, setelah itu kita akan tinggal bersama.”


Delia tersenyum. “Semoga semuanya lancar ya Jay.”

__ADS_1


Jayden mengangguk.


 


__ADS_2