
Hari pertama dari serangkaian acara tour konser Jayden – Bintang telah usai. Besok malam mereka akan bertolak ke Bandung untuk konser kedua mereka.
Lokasi yang panitia pilih adalah Sasana Budaya Ganesha atau Sabuga yang terletak di Bandung utara, tepatnya dekat dengan kampus ITB. 2500 tiket sudah terjual habis dari seminggu sebelum konser. Rupanya Jayden dan Bintang juga mempunyai banyak fans di kota kembang tersebut.
Pihak panitia juga sudah menyiapkan satu buah villa tak jauh dari lokasi untuk tempat tinggal Jayden, Bintang, beserta para kru selama di Bandung.
Karena perjalanan mereka akan dijadikan acara reality show, maka mereka memilih untuk perjalanan melalui darat. Sebuah sleeper bus yang berkapasitas 22 seat atas bawah menjadi pilihannya.
Disebut sleeper bus karena di dalamnya menyerupai kamar-kamar yang terdapat kasur dan televisi mini di setiap seatnya. Selain itu, bus yang akan mereka tumpangi itu juga dilengkapi dengan toilet dan juga wifi.
Delia ikut serta dalam perjalanan tersebut. Awalnya ia ingin menolak. Tapi ia tidak bisa apa-apa saat Jayden memaksanya.
“Mbak Delia, tolong masukin koper saya dan koper Jay ke bagasi ya,” titah Bintang.
Delia diam mematung, geram kepada Bintang yang seenaknya saja menyuruh-nyuruhnya.
“Kamu apaan sih Bi?” Jayden tampak keberatan karena perlakuan Bintang.
“Apa sih Jay? Dia kan asisten kita.” Bintang mengingatkan sebagai apa Delia diperkenalkan.
Jayden sudah akan bergerak membantu Delia, tapi ia kalah cepat dengan gerakan tangan Bagas.
“Biar aku bantu Del,” tawar Bagas.
Tentu saja itu bukan tugas Bagas. Ia bisa menyuruh siapa saja untuk membantunya, tapi tidak ia lakukan. Sudah sangat jelas kalau Bagas mempunyai perhatian khusus untuk Delia.
Mereka semua masuk ke dalam bus tersebut. Bintang memilih seat bersisian dengan seat Jayden. Kemudian Jayden memilih seat di depannya sebagai seat untuk Delia.
Melihat seat di sisi Delia masih kosong, Bagas segera mengisinya. Ia berharap mungkin saja bisa mengobrol sepanjang perjalanan bersama dengan Delia.
“Kamu asli Jakarta Del?” tanya Bagas ketika bus mulai melaju.
“Iya,” jawab Delia singkat.
“Pernah naik sleeper bus sebelumnya?” Bagas kembali bertanya.
“Belum, Mas,” jawab Delia. Tentu saja, sejak kecil, Delia terbiasa kemana-mana naik kendaraan pribadi. Kalaupun keluar kota, pasti naik pesawat first class.
“Wah, kamu beruntung. Semenjak kerja sama Jay, kamu jadi banyak pengalaman ya.”
“Iya,” jawab Delia. Oke, Delia tidak berbohong untuk itu. Sejak mengenal Jayden, ia mengalami yang namanya makan nasi bungkus, makan di warung pinggir jalan, dan hal lainnya yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Kayaknya ada yang PDKT nih,” sela Bintang yang duduk di belakang Bagas.
__ADS_1
“Masih di usahakan, Bi,” jawab Bagas. Ia lalu kembali menoleh ke arah Delia, “kamu sudah punya pacar, Del?” tanyanya lagi.
“Dia sudah menikah Mas.” Jayden yang menjawab, “dan hati-hati, suaminya makan orang. Aku tidak mau tanggung jawab ya kalau suaminya marah dan ngapa-ngapain Mas.”
Bagas tertawa, “kamu ini Jay, bercandanya kelewatan.”
“Jay bohong mas, kalau mbak Delia sudah menikah, coba minta bukti surat nikahnya, pasti gak ada!” Ucap Bintang.
Delia dan Jayden terdiam.
“Kamu ini Bi, udah sana kalian tidur. Ganggu aja!” ucap Bagas.
“Maaf mas, aku juga mau tidur.” Delia menutup tirainya. Sedikit melongok ke arah luar jendela. Hanya lampu malam yang terlihat.
Ting. Sebuah pesan masuk ke ponsel Delia.
[Del, kamu sudah tidur?] rupanya itu pesan dari Jayden.
[Belum.] balas Delia.
[Maaf.] Jayden.
[Maaf untuk apa?] Delia.
[Untuk semuanya.] Jayden.
Jayden termenung. Belum membalas pesan dari Delia. Ia rasa Bintang memang sengaja melakukan itu.
[Del, aku ingin peluk kamu.] Jayden.
[Kamu gila.] Delia.
[Ya, aku tergila-gila karena kamu.]
Delia membalas pesan Jayden dengan mengirim emote mata mengerling.
[Pegangan tangan aja boleh?] Jayden.
Tanpa menunggu jawaban Delia, Jayden membalik posisi tidurnya. Ia mengulurkan tangannya hingga menyentuh bantal yang Delia pakai untuk menyangga kepalanya.
Delia menyambut uluran tangan Jayden. Mereka tertidur sambil tangan mereka bertaut satu sama lain.
Dini hari buta, rombongan sampai di villa yang akan mereka tempati selama dua hari ke depan. Mereka semua segera menuju ke kamar masing-masing. Satu kamar untuk dua orang, kecuali Delia dan Bagas. Mereka menepati kamar sendiri-sendiri.
__ADS_1
Dengan mengendap-endap, Jayden keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Delia. Memeluk istrinya dari belakang. Hal yang sedari tadi sangat ingin ia lakukan.
“Jay?”
“Hemmm?”
“Bagaimana kalau ada yang melihat?”
“Kamu tahu Del, aku pernah berada pada suatu waktu aku ingin sekali mengatakan kepada dunia bahwa kamu adalah istriku, tapi tidak aku lakukan. Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintai kamu.”
“Itu sudah cukup Jay. Tak apa untuk sementara aku menjadi istri yang tidak diakui dunia asal kamu tetap mencintaiku.”
Jayden mengecup pucuk kepala Delia, “terima kasih sayang. Terima kasih karena selalu berada di sisiku. Aku akan membuat papa kamu merasa menyesal karena telah merendahkanku.”
“Maafkan papa Jay,” ucap Delia lirih.
Jayden membalik tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya, “hei, kamu menangis?”
“Maafkan semua sikap kasar papa. Aku—“
Jayden mengusap air mata Delia, “udah sayang, jangan menangis.” Ia lalu membenamkan wajah istrinya ke dalam dadanya.
“Aku merindukan mereka Jay.”
Hati Jayden tiba-tiba merasa tersayat. Satu hal yang ia yakini, kalau sampai Delia berkata kalau ia merindukan orang tuanya, artinya ada sesuatu hal yang terjadi di hari ini yang membuatnya seperti itu. Karena biasanya, jika seseorang bahagia dengan masa kininya, ia tidak akan merindukan masa lalunya.
“Del, suatu hari, aku akan membawa kamu pulang. Aku janji. Kelak, saat aku sudah memantaskan diri menjadi menantu papa kamu.”
Delia mengeratkan pelukannya kepada Jayden. Laki-laki yang dipilih hatinya.
Ada satu hal yang tidak mereka ketahui. Di suatu tempat di sebuah kamar yang sangat mewah, seorang pria yang masih terlihat tampan dan berwibawa di usianya yang sudah tidak muda lagi tampak sedang memandangi wajah seorang gadis muda dalam bingkai foto.
“Papa sedang apa?” tanya seorang wanita menghampirinya.
“Tidak ada.” Pria tersebut menutup pintu kamar tersebut dan segera kembali ke kamarnya.
“Mama tahu Papa merindukan Delia,” ucap si wanita yang merupakan istrinya sendiri, “ayo Pa, kita temui Delia, dan ajak dia pulang,” lanjutnya.
Pria tersebut tidak menjawab apa pun. Dia kembali ke kamarnya dan membenamkan diri di dalam selimut hangatnya. Meninggalkan sang istri yang mendesah berat melihat sifat suaminya.
__ADS_1
Pagi harinya, Jayden dan Delia bangun kesiangan. Jayden mengendap-endap keluar dari kamar Delia, berharap tidak ada yang melihatnya. Tapi sayang, mata elang Bagas sudah menangkap gerak-gerik mencurigakan Jayden.
“Jadi kamu perempuan yang bisa dipakai juga, Del. Menarik.” Bagas bermonolog.