
Keributan yang tercipta membuat para kru terbangun. Mereka berbondong-bondong datang ke kamar Delia.
Melihat sang sutradara yang tengah dipukuli Jayden, mereka segera menghentikan perkelahian satu arah tersebut. Sebagian menghentikan Jayden, dan sebagian lainnya menyelamatkan Bagas.
Jayden menolak untuk dipegangi. Ia melepaskan cekalan tangan para kru dan berjalan mendekat ke arah Delia. Ia membawa Delia yang masih menangis ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku sayang, maafkan aku,” ucap Jayden seraya mengecup pucuk kepala Delia.
Delia terisak. “Aku mau pulang Jay,” ucapnya lirih.
“Iya sayang, kita akan pulang,” jawab Jayden.
Semua mata tertuju ke arah Jayden dan Delia. Mereka terkejut melihat kedekatan Jayden dan wanita yang mereka pikir adalah asistennya.
“Ada apa ini?” Bintang datang ke kamar Delia. Semua mata kini tertuju padanya.
Bintang melihat Jayden sedang memeluk Delia di atas ranjang. Kemudian perhatiannya beralih pada Bagas yang sudah kepayahan. Melihat keadaan, Bintang sudah bisa menduga apa yang telah terjadi.
“Kalian mau membiarkan Bagas terus seperti itu atau akan mulai mengobatinya?” tanya Bintang.
Para kru seolah di sadarkan. Mereka membawa Bagas untuk memberinya pertolongan pertama.
Bintang menutup pintu kamar Delia dan berdiri di belakang Jayden.
“Apa ini Jay? Kamu memeluk Delia di depan para kru. Setelah ini, mereka semua pasti tahu tentang hubungan kalian,” ucap Bintang.
“Aku tidak peduli,” jawab Jayden tanpa menoleh ke arah Bintang.
“Tapi aku peduli. Aku peduli tentang karier kita.”
“Stop Bi, hentikan omong kosong itu, dan tolong tinggalkan kami berdua!”
Bintang mengentakkan kakinya sebelum keluar dari kamar Delia. Setelah keluar, ia segera menghubungi Dave dan menceritakan apa yang ia lihat.
Di dalam kamar, Jayden masih mencoba menenangkan Delia. Wanitanya itu masih terisak di dalam pelukannya. Apa yang baru saja ia lihat sangat melukai hatinya. Bagaimana dengan Delia yang merasakannya.
“Harusnya aku tidak meninggalkan kamu,” ucap Jayden.
“Aku takut Jay,” ucap Delia.
“Iya sayang, aku tahu. Maafkan aku.”
“Aku tadi manggil kamu, kamu kemana?”
Jayden menoleh ke belakang. Melihat barang yang tadi ia lempar teronggok tak berdaya di sudut ruangan. Walaupun sudah tidak berbentuk, tapi masih bisa terbaca tulisan di atasnya.
HAPPY BIRTHDAY MY WIFE
Kue ulang tahun yang Jayden pesan untuk hari spesial istrinya berakhir di lantai.
“Ini pasti hari ulang tahun terburuk buat kamu,” ucap Jayden lirih.
Delia mendongak, lalu melihat ke arah kue yang sudah tidak berbentuk itu. Sedikit senyuman terulas di bibirnya.
“Hari ini hari ulang tahunku? Aku bahkan melupakannya Jay.” Delia mengusap kedua matanya yang masih berembun.
__ADS_1
“Happy Birthday sayang, maaf semuanya jadi kacau.”
“Jangan pernah tinggalin aku lagi Jay.”
“Tidak akan sayang, tidak akan.” Jayden dan Delia saling memeluk satu sama lain.
Jarum jam baru beberapa menit meninggalkan angka 7 ketika pintu kamar di ketuk. Jayden mengucek matanya yang masih terasa lengket. Ia baru bisa tidur setelah hari hampir pagi.
Perlahan Jayden menurunkan kepala Delia dari tangannya dan segera membuka pintu. Ia cukup terkejut mendapati orang yang ada di depannya saat ini.
“Bos?” Rupanya itu adalah Dave.
Dave sedikit melongok ke arah dalam sebelum berbalik. Mengisyaratkan Jayden untuk mengikutinya.
“Aku mengambil penerbangan pagi agar bisa sampai sesegera mungkin ke sini Jay,” ucap Dave ketika mereka sudah berada di tempat yang cukup sepi.
Jayden diam. Ia tahu entah Bagas atau Bintang atau para kru yang telah memberitahukan insiden semalam kepada Dave.
“Kenapa ini Jay?” tanya Dave.
“Bagas mencoba memperkosa istriku.”
“Lalu?”
“Lalu aku menghajarnya.”
“Kamu tahu siapa Bagas? Dia adalah sutradara acara kamu!”
“Aku tidak peduli siapa dia. Siapa pun yang menyakiti istriku, dia harus mendapatkan pelajaran.”
Jayden menoleh ke arah Dave.
“Apa Bagas tahu kalau Delia adalah istri kamu?”
Jayden kembali menoleh ke arah depan.
“Tidak kan? Itu masalahnya! Dia tidak tahu kalau Delia adalah istri kamu. Dia tidak bermaksud untuk berbuat jahat. Delia cantik, wajar kalau Bagas menyukainya.”
“Itu tidak membenarkan perbuatan kotornya.”
“Jay, aku lebih tua dari kamu. Dan pengalamanku lebih banyak. Aku dapat mengerti kondisi Bagas. Bagas laki-laki normal yang mempunyai kebutuhan. Kamu tahu apa maksudnya kan? Dalam long trip seperti ini, tentu Bagas ingin memenuhi kebutuhan biologisnya.”
“Tapi bukan berarti harus kepada Delia.”
“Oke aku akui Bagas salah untuk yang satu itu. Tapi semua pasti ada alasannya kan?”
“Aku tidak mau mendengar alasan apa pun! Aku dan Delia akan pulang ke Jakarta hari ini juga.”
“Bagaimana dengan konser kamu?”
“Aku sudah tidak peduli dengan itu!”
“Jay, kamu harus tetap profesional. Tiket konser kalian sudah terjual habis. Semua pasti ada solusinya.”
Jayden diam.
__ADS_1
“Konser tidak bisa dibatalkan. Kamu tahu betul konsekuensi apa yang akan kamu terima.”
Jayden masih diam.
“Tinggal dua kota lagi. Aku akan mendampingi kalian. Aku akan menjaga Delia untukmu kalau itu membuatmu merasa lebih baik. Aku bahkan akan menyewakan hotel yang berbeda untuk kalian berdua.”
“Baiklah,” jawab Jayden pada akhirnya. Entah mengapa, setiap kata yang keluar dari mulut Dave seperti doktrin dalam otaknya. Ia selalu bisa membuat Jayden setuju dengan idenya.
“Sekarang ayo kita temui Bagas.”
“Untuk apa?”
“Kalian harus saling meminta maaf. Aku tidak mau kalian bekerja dengan saling bermusuhan.”
Jayden mengikuti langkah kaki Dave menuju ke kamar Bagas yang sebelumnya ia sudah tanyakan kepada Jayden.
Bagas keluar seraya mengusap-usap pipinya yang masih sakit. Begitu melihat Dave dan Jayden, ia mempersilakan mereka untuk masuk.
“Sakit?” tanya Dave melihat sudut bibir Bagas yang terdapat bekas luka.
Bagas mengangguk.
“Kamu sih, main-main sama wanita orang!” seru Dave seraya mendaratkan diri di atas sofa.
“Aku tidak tahu Mas, waktu itu aku melihat Jay keluar dari kamar Delia. Aku pikir Delia wanita yang bisa dipakai.”
Jayden mengeratkan kepalan tangannya mendengar ucapan Bagas.
“Jay dan Delia akan pulang hari ini ke Jakarta,” ucap Dave.
“Lalu konsernya?” tanya Bagas.
“Jay akan membatalkannya. Dia akan bertanggung jawab untuk ganti ruginya.”
“Lalu bagaimana dengan acaraku?” Bagas mulai terlihat khawatir.
“Batal,” jawab Dave enteng.
“Tidak ... Tidak ... Aku sudah menerima uang dari sponsor, kita tidak bisa membatalkannya.”
“Tadi Jay bilang akan mempertimbangkannya kalau kamu meminta maaf pada Delia, dan memastikan tidak akan ada kejadian seperti ini lagi kedepannya.”
“Oke ... Oke ... Aku akan meminta maaf sekarang juga.”
“Tidak perlu sekarang, tadi aku lihat Delia masih tertidur. Iya kan Jay?” tanya Dave pada Jayden yang mendapatkan anggukan darinya.
“Kamu bisa meminta maaf nanti, untuk sekarang, aku ingin berbicara empat mata dengan kamu.” Jayden pergi dari ruangan itu usai Dave mengusirnya secara tidak langsung. Ia ingin segera menemui istrinya dan menceritakan hasil pembicaraannya dengan Dave.
“Atas nama Jay, aku minta maaf,” ucap Dave ketika Jayden sudah meninggalkan ruangan itu, “kondisinya sangat unik. Untuk kebaikan kita semua, sebaiknya kamu memastikan para kru tidak ada yang buka mulut soal hubungan Jay dan Delia,” lanjutnya.
“Aku tahu.” Bagas duduk di atas sofa di samping Dave. Ia menyilangkan kakinya dan menghadap ke arah Dave. “Hubungan kita itu simbiosis mutualisme. Hanya untuk bisnis. Sekarang apa yang akan Mas tawarkan sebagai gantinya?”
Dave tersenyum penuh arti ke arah Bagas.
__ADS_1