Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Rumah Sakit


__ADS_3

“Kamu yakin ini rumahnya Jay?” Bintang berdecak kagum melihat rumah berlantai dua yang didominasi warna putih di hadapan mereka. Pilar-pilar penyangga berdiri kokoh, seolah ingin menunjukkan betapa berkuasanya penghuni di dalamnya.


“Aku sering antar jemput Delia saat masih pacaran dulu.


“Rumahnya mewah sekali. Kamu yakin Delia bukan anak pembantu mereka seperti di sinetron-sinetron demi untuk menggaet pria kaya?” tanya Bintang.


“Kalau tujuan Delia seperti itu, bukan aku targetnya. Saat pertama kali mengenal Delia, aku hanya laki-laki miskin penyanyi cafe,” jawab Jayden, “lupakan itu semua. Kita sekarang harus memikirkan bagaimana caranya kita tahu Delia ada di dalam atau tidak.”


“Itu mudah Jay, kamu masuk ke sana, tanya sama security, gampang kan. Kalau mereka bungkam, kamu ancam saja akan memecatnya. Kamu kan menantu atasan mereka.”


“Hubungan aku dan orang tua Delia tidak sedekat itu sampai aku berani mengancam pegawainya, Bi. Lagi pula, jika ternyata Delia tidak ada di rumah orang tuanya, kedatanganku justru secara tidak langsung akan membuat mereka tahu kalau Delia hilang.”


“Jay, jangan bilang kalau kamu dan Delia kawin lari!”


Jayden diam, tidak mengiyakan tanya Bintang.


“Jadi benar kalian kawin lari?”


“Mau bagaimana lagi, keadaan memaksa kami untuk melakukan itu.”


Saat mereka tengah asyik mengamati rumah orang tua Delia, sebuah mobil sedan keluar dari sana. Tidak bisa dilihat siapa di dalamnya karena kaca mobil yang tidak bisa ditembus penglihatan dari arah luar.


“Aku iri sama Delia, Jay. Dia terlahir dengan harta berlimpah. Hidupnya pasti sangat berkecukupan. Dia bisa mendapatkan semuanya dengan mudah. Dan saat dewasa, ia mendapatkan laki-laki yang sangat mencintainya.”


“Kamu tahu pepatah lama yang mengatakan kalau rumput di halaman tetangga terlihat jauh lebih hijau? Kurang lebih seperti itulah kamu melihat Delia. Sejauh yang aku tahu, Delia bahkan sering mengeluhkan kedua orang tuanya yang terlalu sibuk hingga membiarkan dia dan adiknya tumbuh dan besar bersama dengan asisten rumah tangga mereka. Delia sangat kurang kasih sayang dari orang tuanya, Bi.”


Bintang bergeming. Ia tiba-tiba merindukan orang tuanya. Ia merindukan saat-saat ayahnya menemaninya belajar. Ayahnya tahu, pendidikannya yang rendah membuat ia tidak bisa membantu Bintang dalam hal pelajaran. Jadi yang bisa ia lakukan hanya menemaninya belajar saja.


Sungguh, seandainya Bintang  bisa lebih bersyukur. Ia bahkan hidup di tengah-tengah keluarga yang hangat. Sebuah keluarga yang sangat didambakan oleh Delia.


Mengingat kedua orang tuanya, kepala Bintang tiba-tiba menjadi pusing. Ia refleks memijat pelipisnya.


“Kamu baik-baik aja, Bi?” tanya Jayden.

__ADS_1


“Entah lah Jay, aku tiba-tiba merasa pusing,” jawab Bintang.


“Ah, mungkin karena kita melupakan sarapan kita. Jam makan siang juga sudah terlewat. Selain itu, semalam kamu tidak tidur kan?”


“Mungkin iya,” jawab Bintang, “begini saja, aku pesan taksi online untuk pulang. Maaf tidak bisa menemani kamu lebih jauh lagi,” lanjutnya.


Sepintas Jayden melihat wajah Bintang memucat. Tangannya juga tampak bergetar ketika menekan-nekan layar ponselnya. Sedetik kemudian, ponsel yang Bintang pegang jatuh ke sampingnya.


“Bi!” pekik Jayden menyadari wanita di sampingnya sudah tak sadarkan diri lagi.


Dengan kecepatan penuh, Jayden mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat yang bisa ia datangi. Ia baru menghentikan kendaraannya ketika berada di depan lorong pintu masuk UGD. Jayden meminta suster yang bertugas untuk membawakannya brankar dorong sementara ia segera memindahkan kendaraannya menuju ke tempat parkir.


Dengan tergesa, Jayden keluar dari mobilnya. Ingin segera memastikan keadaan Bintang. Namun langkah Jayden terhenti saat melihat mobil sedan yang terparkir di samping mobilnya.


Mobil ini kan mobil yang tadi keluar dari rumah orang tua Delia? Batin Jayden.


Jayden berubah pikiran. Ia ingin mencari sosok pemilik mobil ini. Hatinya mengatakan, kalau ada sesuatu hal penting yang akan ia ketahui.


Beruntung bagi Jayden, saat akan melangkah, seorang pria dengan penampilan rapi datang mendekat ke arah mobil tersebut. Membuka kunci dengan remote di tangannya, dan masuk ke dalam. Hanya separuh badannya yang masuk. Sepertinya pria tersebut hanya akan mengambil sesuatu dari dalam sana, karena beberapa detik kemudian, ia mengunci pintu mobil itu kembali dan pergi ke arah di mana tadi ia datang.


Untuk memenuhi rasa penasarannya, Jayden mendekat. Mata elang kedua penjaga tersebut langsung menangkap keberadaan Jayden. Dan hal itu membuat Jayden sedikit gentar.


“Maaf pak, siapa yang di rawat di dalam?” tanya Jayden takut-takut.


“Bukan urusan kamu!” jawab salah satu penjaga dengan ketus.


“Bapak tidak tahu siapa saya?” tanya Jayden berusaha menegakkan kepalanya.


“Orang di urutan paling atas yang tidak boleh masuk ke ruangan ini!”


Jayden termenung.


Apa artinya semua ini? Kenapa aku menjadi orang paling atas yang tidak boleh masuk ke ruangan itu? Ada apa di sana? Batin Jayden.

__ADS_1


“Silakan pergi, atau saya akan segera bertindak.”


Jayden berbalik. Tidak bijak jika menantang dua orang berbadan besar itu di sana. Kemungkinan pertama, ia bisa saja menjadi pasien di rumah sakit itu dalam sekejap. Kalaupun tidak, ia bisa saja diusir karena berbuat kekacauan. Setelah itu, ia akan kehilangan kesempatan untuk mencari tahu tentang pasien yang di rawat di kamar VIP tersebut.


Namun, keberuntungan lagi-lagi berpihak pada Jayden. Tepat saat ia akan keluar, seorang dokter keluar dari sana. Di belakangnya, seorang pria paruh baya mengikutinya.


“Sesuai permintaan Anda, pasien bisa di rawat di rumah. Ada dua orang suster yang akan memantau perkembangan pasien di sana,” ucap dokter tersebut.


“Terima kasih,” ucap lawan bicaranya.


Tepat ketika dokter meninggalkan tempat itu, tatapan Jayden bertemu dengan tatapan pria itu. Pria yang masih saja angkuh walau sudah tidak bertemu lebih dari satu tahun lamanya.


Arga sudah akan masuk kembali ke dalam ketika Jayden berucap, “aku ingin menemui istriku!”


Jantung Jayden berdetak cepat. Ia berdoa semoga tebakannya benar.


“Istrimu yang mana?” tanya Arga tanpa berbalik.


“Delia,” jawab Jayden pasti.


Arga berbalik. Tersenyum mencemooh ke arah Jayden. “Setelah apa yang terjadi padanya, kamu pikir kamu masih pantas disebut seorang laki-laki? Kelalaian kamu yang menyebabkan putriku sekarang terbaring di rumah sakit. Tapi beruntung sekali nasib Delia. Ia malah melupakanmu!”


“Apa maksud Bapak?” tanya Jayden dengan dada bergemuruh.


“Putriku hilang ingatan!”


“Apa?!”


“Kamu sudah mendengar apa yang harus kamu dengar. Sekarang pergilah!” Arga kembali melanjutkan rencananya untuk masuk ke dalam.


“Tidak! Tunggu! Itu tidak benar kan?”


Arga hanya menoleh sejenak, kemudian berlalu tanpa memberikan jawaban apa pun kepada Jayden. Membuat tanda tanya besar di hati yang terluka itu.

__ADS_1


Jayden berusaha menerobos pintu kamar VIP itu, tapi gerakan tangan kedua penjaga lebih cepat. Mereka bahkan mengusir Jayden dari sana.


“Delia ... Benarkah semua itu?” Jayden bermonolog.


__ADS_2