Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Bathtub


__ADS_3

“Selamat pagi sayang.” Jayden melingkarkan tangannya di atas perut wanita di sebelahnya seraya mengecup keningnya.


“Selamat pagi,” jawab Bintang parau.


Merasa ada yang berbeda, Jayden melonggarkan pelukannya. Sedikit menjauh agar bisa melihat dengan benar, siapa sosok wanita di sampingnya.


Jayden terkejut. Ia bangun serentak dan menatap Bintang yang ikut terbangun karena gerakan Jayden yang begitu tiba-tiba.


“Kenapa aku ada di sini?” tanya Jayden seraya memperhatikan pakaiannya sendiri. Memastikan kalau itu masih ada di tempatnya dan dalam kondisi baik-baik saja.


“Kamu kenapa sih Jay?” tanya Bintang, “kamu lupa? Semalam kita nonton dvd di sini, lalu kamu tertidur,” lanjutnya.


“Kenapa kamu gak bangunin aku?” tanya Jayden.


“Aku udah bangunin kamu Jay,” bohongnya, “kamunya lelap gitu. Ya udah sih Jay, aku gak masalah kok berbagi tempat tidur dengan kamu,” lanjutnya.


“Kamu gak bakalan ngerti,” Jayden turun dari tempat tidur Bintang, dan segera berjalan cepat ke arah kamar Delia.


Bintang tersenyum puas melihat kepanikan Jayden. Ia mengikuti Jayden dari belakang.


Jayden mencari-cari keberadaan Delia seperti orang gila. Kamarnya sudah rapi. Aroma parfum tercium di sana. Itu artinya Delia sudah mandi, atau bahkan sudah pergi.


Tidak putus asa, Jayden turun ke lantai bawah, berencana menanyakan keberadaan istrinya pada asisten rumah tangganya. Namun ia cukup lega, ternyata Delia ada di sana. Tengah menyantap makanannya.


Merasakan kehadiran Jayden, Delia bangkit berdiri. Meminum jus apelnya dengan sedikit tergesa. Ia bahkan belum menyelesaikan setengah dari makanannya.


Delia berjalan begitu saja melewati Jayden yang berdiri mematung di dekatnya, sampai Jayden memegang pergelangan tangannya.


“Del,” ucap Jayden.


“Aku buru-buru Jay, nanti kita bicara,” ucap Delia. Sudah sangat jelas kalau Delia menghindari berbicara dengan Jayden.


“Tapi aku—“


“Maaf Jay.” Delia melepaskan pegangan tangan Jayden, lalu berjalan cepat menuju ke arah pintu. Saat melewati tangga, Delia melihat Bintang turun dari lantai atas. Ia melihat madunya itu tengah berjalan sambil mengancingkan pakaian atasnya. Delia mendesah berat. Harinya harus ia mulai dengan pikiran kacau.


Jayden masih mematung di tempat yang sama. Ia tahu, Delia sedang menghindar darinya. Pasti karena ia tidak tidur di kamarnya tadi malam.


Jayden berjalan cepat menyusul Delia ketika Bintang akan menghampirinya. Berusaha menjelaskan kepada Delia apa yang sebenarnya terjadi. Kali ini Bintang tidak ingin mengejar. Hari ini sudah cukup. Jika ia terlihat begitu agresif, tidak akan baik untuk hubungannya dengan Jayden ke depannya.


“Del,” Jayden berhasil mencekal tangan Delia ketika istrinya itu akan masuk ke dalam taksi online.


“Jay, aku buru-buru,” ucap Delia tanpa menoleh ke arah Jayden.

__ADS_1


“Jangan bohong , Del, aku tahu kamu. Kamu pasti marah kan karena aku tidak tidur di kamar tadi malam?”


“Kamu bicara apa Jay? Aku sungguh harus pergi saat ini.” Kali ini Delia memberanikan diri menatap bola mata Jayden.


Jayden membawa Delia ke dalam pelukannya. Tetap mendekap erat walaupun Delia meronta.


“Jay, lepas. Aku harus pergi.”


“Aku tidak akan membiarkan kamu pergi membawa kesalahpahaman, Del. Kamu harus mendengar penjelasan aku dulu.”


Delia melemah. Itu artinya ia memberikan Jayden kesempatan untuk berbicara.


“Aku akui, semalam aku memang sedikit kesal karena kamu mengabaikanku. Tidak hanya tadi malam, hampir setiap malam semenjak kamu mengatakan akan membuka usaha. Kamu begitu sibuk hingga tidak memberikan aku sedikit perhatian.”


“Maaf,” ucap Delia, “tapi aku senang kamu mendapatkan apa yang tidak bisa aku berikan dari Bintang,” lanjutnya.


Jayden menggeleng, “bukan seperti itu kejadiannya, Del. Semalam Bintang mengajak aku nonton dvd di kamarnya, lalu aku ketiduran. Bintang sudah mencoba membangunkan aku, tapi aku tidak mendengarnya.”


Delia menatap bola mata Jayden, mencari kebohongan di sana. Tidak ada!


“Del, semalam, tidak terjadi apa-apa antara aku dan Bintang.”


“Terjadi apa-apa juga tidak apa-apa, kalian suami istri. Secara hukum, Bintang itu istri kamu.” Delia berbohong. Dalam hatinya, ia justru lega tidak terjadi apa-apa di antara Jayden dan Bintang. Egois? Mungkin.


Delia tersenyum, tapi ia mencoba menyembunyikannya dengan menoleh ke arah lain.


“Sekarang, boleh aku peluk kamu?” tanya Jayden.


“Apa kamu perlu izin untuk itu?” Delia balik bertanya. “Apa kamu perlu izin untuk memeluk sesuatu yang menjadi milikmu?”


Jayden tersenyum lebar, ia memeluk Delia dengan posesif.


Delia menjauhkan diri dari Jayden, membuat Jayden mengerutkan keningnya seolah bertanya 'ada apa lagi?’


“Kamu bau, belum mandi,” ucap Delia seraya memencet hidungnya sendiri.


“Bagaimana kalau kamu mandiin aku?” bisik Jayden.


“Jay, aku harus pergi.”


“Aku tidak peduli. Kamu sendiri yang baru saja mengatakan kalau kamu adalah milikku.” Jayden menggendong Delia untuk masuk kembali ke dalam rumah mereka.


“Jay, sopir taksi onlinenya sudah menunggu.”

__ADS_1


Jayden menurunkan Delia. Lalu merogoh ke dalam tas yang istrinya kenakan. Mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan satu lembar uang pecahan berwarna merah dan memberikannya kepada sopir taksi online tersebut.


“Segini cukup pak?” tanya Jayden.


“Pesanannya bisa di cancel kok Mas,” jawab sang sopir.


Jayden menambah satu lembar lagi, “kalau segini?”


“Mas, maksud saya, Mas tidak usah membayar, pesanannya bisa di cancel di aplikasi.”


Jayden menambah satu lembar lagi, “bagaimana kalau segini.”


“Baik, baik Mas. Ongkosnya cuma tiga puluh delapan ribu.”


“Ambil semua Pak. Terima kasih.”


Jayden meninggalkan sopir taksi yang masih bergeming. Terima kasih katanya? Bukannya seharusnya sopir taksi itu yang harus berterima kasih?


“Di mana aku pernah melihatnya? Wajahnya sangat familiar.” Sopir taksi bermonolog. Ia menjalankan mobilnya menuju ke destinasi tujuan, tanpa penumpang. Menyalakan musik di dalamnya dan bernyanyi lirih mengikuti suara sang penyanyi.


Jayden meneruskan rencananya membawa Delia kembali ke kamar mereka. Melewati Bintang yang tengah memakan sarapannya di meja makan.


“Apa-apaan itu?” ucap Bintang lirih.


Rani yang ikut melihat kejadian itu ikut membatin. Hatinya merasa iba kepada Bintang.


Jayden hanya melihat Delia. Ia tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya. Membawa istrinya itu ke kamar dan mendudukkannya di atas sofa.


Jayden melepas tas yang masih menggantung di punggung Delia, kemudian membawa Delia berjalan ke kamar mandi.


“Jay, aku sudah mandi.”


“Tadi kamu bilang mau mandiin aku.”


“Siapa yang bilang seperti itu? Itu kan ide kamu.”


“Jadi tidak mau? Aku maksa loh.”


Delia diam saja, membuat Jayden bergerak untuk menggendongnya kembali. Kali ini ia membawa Delia di pundaknya dan baru menurunkan istrinya tersebut saat sudah berada di dalam kamar mandi.


Jayden segera mengisi bathtub dengan air, lalu mendekat ke arah Delia. Berdiri di belakangnya dan berbisik di telinga Delia, “kamu mau membiarkan baju kamu basah sayang?”


Delia meremang. Ia tahu, ini tidak akan berakhir cepat.

__ADS_1


__ADS_2