Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Home Stay


__ADS_3

Sejak melihat Jayden keluar dari kamar Delia ketika di Bandung, Bagas mulai gencar mendekati Delia. Sejauh ini tidak pernah berhasil, karena Jayden selalu ada di sekitar Delia. Sesekali bahkan Bagas mencoba menyentuh tangan Delia, namun Delia segera menarik tangannya bak orang suci.


Delia menjadi risih. Setiap melihat Bagas, ia akan pergi berpindah tempat. Bagas menjadi semakin penasaran akan sosok Delia ini. Tak jarang ia mengimajinasikan Delia berada di sisinya dan melakukan hal-hal erotis padanya.


“Apa yang Jay miliki dan tidak aku miliki?” Bagas bermonolog di dalam kamarnya. Saat ini ia beserta rombongan sedang menginap di salah satu homestay yang berada tak jauh dari Malioboro, Yogyakarta.


Sementara itu di kamar lain.


“Jay, mau ke mana?” tanya Bintang melihat suaminya sudah rapi dengan setelan casual dan jaket denim. Ia juga terlihat memakai topi dan juga masker.


“Keluar sebentar,” jawab Jayden.


“Selarut ini?” tanya Bintang.


“Hemmm,” jawab Jayden singkat.


Jayden segera keluar dari kamarnya. Tidak mau menerima pertanyaan apa pun lagi dari Bintang.


Di pintu keluar, Jayden berpapasan dengan Bagas yang sedang menikmati rokok di bawah sinar bulan.


“Ke mana, Jay?” tanya Bagas.


“Keluar bentar, Mas,” jawab Jayden sambil berlalu. Beberapa detik kemudian, Jayden sudah menghilang dari pandangan Bagas.


Bintang keluar dari kamarnya, lalu berjalan ke arah Bagas dan duduk di sampingnya.


“Jay pergi ke mana, Bi?” tanya Bagas.


Bintang mengangkat bahunya sebagai jawaban.


“Kalian memang seperti ini? Maksudnya kamu memang tidak penasaran suami kamu pergi ke mana? Gak pernah tanya-tanya gitu?”


“Ya aku tanya, tapi di jawabnya keluar bentar, trus mau gimana kagi?”


“Kamu gak takut Jay selingkuh, Bi?”


“Selingkuh? Hahahaha sama siapa? Aku tahu circle dia kok.”


“Ya mungkin aja sama orang terdekat dia, orang yang tidak kamu sangka-sangka.”


“Siapa? Delia?”

__ADS_1


“Bisa jadi kan?”


“Mas menghina aku?” tanya Bintang, “menurut Mas apa kurangnya aku sampai Mas membandingkan aku dengan seseorang seperti wanita itu?” tanyanya lagi.


“Kalian berdua sama-sama cantik,” jawab Bagas.


Bintang tidak suka dengan jawaban Bagas, dan segera pergi dari sana.


“Hei Bi, kamu tetap yang terbaik,” ucap Bagas seraya mengacungkan jempolnya ke arah Bintang.


“Aku tahu,” jawab Bintang seraya masuk lebih dalam menuju ke kamarnya.


Sudah tengah malam, Jayden belum juga kembali. Bagas berdiri setelah menghabiskan kopinya untuk segera kembali ke kamarnya.


Saat Bagas melewati kamar Delia, tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam kepalanya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada seorang pun di sana. Setelah yakin aman, Bagas berjalan menuju ke kamar Delia. Mengetuk pintunya pelan agar tidak ada orang lain yang mendengar.


Tok ... Tok ... Tok ... Tidak ada jawaban.


Bagas mencoba peruntungannya dengan memutar kenop pintu, dan ... Tidak dikunci! Entah ceroboh atau sengaja, Bagas sendiri tidak yakin.


Hal pertama yang menjadi pusat perhatian Bagas adalah tubuh Delia yang tertidur di atas kasur. Ia membayangkan sesuatu yang ada di balik kaos over size dan celana pendek itu.


Bagas mulai memberanikan diri untuk menyentuh kulit Delia. Dengan menggunakan punggung jari telunjuknya, ia menyusuri kulit halus tangan Delia.


“Jay, hentikan.” Delia meracau dalam tidurnya. Matanya masih terpejam, tapi ia mulai merasakan ada sebuah sentuhan yang sangat mengganggu.


Gerakan Bagas lebih berani. Ia duduk di atas tempat tidur Delia, dan mengusap pipi Delia dengan punggung jari telunjuk yang sama.


Delia tersenyum, ia lalu memegang tangan Bagas dan bangun dari tidurnya. “Jay ... Aku bilang hen—“ Delia tidak menyelesaikan ucapannya ketika menyadari pria yang ada di depannya saat ini bukanlah suaminya.


Bagas tersenyum ke arah Delia.


“Mas Bagas? Kenapa Mas ada di sini?” tanya Delia seraya melepaskan tangan Bagas dan menaikkan selimutnya.


“Kamu mengira aku siapa? Jay?”


“Di mana Jay?”


Bagas tidak menjawab. Ia malah memandangi tubuh Delia dari atas ke bawah.


“Mas, tolong segera keluar dari kamarku.”

__ADS_1


“Apa yang ada di dalam diri Jay dan tidak ada padaku, Del?”


“Apa maksud Mas?”


“Kenapa kamu mau melayani Jay tapi tidak mau melayaniku?”


“Maksud Mas apa?”


“Ayolah Del, aku pernah melihat Jay keluar dari kamar kamu saat di Bandung. Aku tahu apa yang terjadi. Aku juga tahu siapa kamu. Kamu simpanan Jay kan?”


Delia bergeming. Hatinya sakit dianggap sebagai wanita simpanan. “Aku akan telepon Jay.”


Delia sudah bergerak untuk mengambil ponselnya. Namun gerakan tangan Bagas menghentikannya. Bagas mencekal tangan Delia begitu kencang. Ia tidak melepaskannya walaupun Delia meronta.


“Mas tolong jangan seperti ini, biarkan aku menelepon Jay.”


“Kenapa harus mengganggu laki-laki yang sedang berbagi kehangatan dengan istrinya ketika ada laki-laki lajang yang siap menghangatkan ranjang kamu.”


“Mas tolong hentikan.” Delia masih mencoba melepaskan diri dari cekalan Bagas.


“Ayolah Del, aku lebih hebat di atas ranjang dari pada Jay. Kamu bisa buktikan sendiri. Lagi pula, aku yakin Jay tidak akan keberatan berbagi wanita denganku.”


“Jay!” Delia sudah berteriak, namun pada tarikan nafas yang kedua, tangan Bagas yang satunya sudah ada di depan mulutnya. Menghentikan segala suara yang akan keluar dari sana.


Dalam satu kali gerakan, Bagas sudah berada di atas Delia. Tangan kirinya menutup mulut Delia, sementara tangan kanannya menahan tangan Delia yang terus meronta.


Air mata membasahi kedua mata Delia. Mengalir melewati pipi dan telinganya.


“Del, jangan menangis, aku tidak bermaksud kasar. Aku tidak pernah kasar ketika bermain bersama wanita. Aku terpaksa seperti ini karena kamu terus meronta.”


Delia terus mencoba melepaskan diri dari Bagas. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan  mencoba melepaskan tangan Bagas dari wajahnya.


Wajah Bagas semakin mendekat ke arah Delia. Dan hal itu membuat air mata Delia mengalir lebih kencang. Tepat ketika wajah Bagas dan Delia hanya berjarak lima senti, pintu kamar Delia terbuka.


Jayden berdiri di sana. Memandang murka ke arah Bagas. Ia menjatuhkan barang bawaannya dan menghambur ke arah Bagas. Ia menarik bagian belakang baju Bagas hingga pria itu tersungkur ke bawah tempat tidur.


Tidak sampai di sana, Jayden melayangkan beberapa pukulan ke wajah Bagas. Hingga keluar cairan merah dari sudut bibir pria yang berada di bawahnya itu.


Bagas tidak berkutik. Posisinya saat ini sangat sulit untuk membalas segala perlakuan Jayden. Ia hanya bisa menerima wajahnya terkena pukulan demi pukulan dari tangan Jayden.


“Apa yang kamu lakukan brengsek?!” Jayden berteriak tepat di depan wajah Bagas sebelum melayangkan satu pukulan lagi ke arah pria yang sudah tidak berdaya itu. “Berani-beraninya kamu mencoba menodai istriku!”

__ADS_1


__ADS_2