
Hari sudah sangat larut ketika para wartawan itu membubarkan diri. Jayden memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Delia.
Baru saja Jayden beranjak bangun dari duduknya, suara seseorang di belakangnya menghentikan langkahnya.
“Kamu mau pergi Jay?” Itu adalah suara Bintang.
“Iya, aku harus pulang,” jawab Jayden.
“Pulang? Pulang ke mana? Bukankah ini rumahmu?”
“Aku akan ke rumah Delia.”
“Delia ya,” ulang Bintang begitu lirih, “Jay, bolehkah aku meminta kepadamu untuk tinggal? Aku sangat membutuhkan seseorang saat ini. Aku sendirian di sini Jay. Di sana Delia bersama dengan orang tuanya. Please.” Bintang memohon.
Jayden berjalan mendekat ke arah Bintang yang masih berdiri di bawah tangga. “Bi, maaf aku tidak bisa.” Jayden menjeda kalimatnya sejenak. “Hubunganku dan Delia baru saja membaik, aku tidak mau mengecewakannya, terlebih orang tuanya.”
“Begitu ya.” Bintang terlihat kecewa. “Maaf aku terlalu banyak menyusahkanmu Jay. Setelah apa yang aku lakukan, aku bahkan sudah tidak berhak untuk meminta apa pun padamu.”
“Bagaimana kalau kamu telepon orang tuamu untuk datang?” usul Jayden.
Bintang menatap bola mata Jayden. “Setelah kejadian hari itu, aku bahkan tidak mempunyai keberanian untuk sekedar menanyakan kabar mereka, Jay. Aku benar-benar sendiri saat ini.” Bintang mulai menitikkan air mata.
Jayden sungguh Bimbang saat ini. Ia harus menemui Delia, tapi juga tidak mungkin meninggalkan Bintang dalam keadaan seperti itu.
“Bersiaplah. Aku akan mengantarkan kamu ke rumah orang tua kamu.”
Bintang menggeleng. “Tidak Jay, aku tidak mau.”
“Bi, semarah-marahnya orang tua, tidak mungkin akan menyakiti anaknya sendiri. Apalagi aku tahu, ibu kamu sangat menyayangi kamu.”
Bintang terlihat berpikir sebelum mengiyakan ajakan Jayden.
***
“Ke mana lagi?”
“Belok kiri.”
Saat ini Jayden dan Bintang sedang berada dalam perjalanan menuju ke rumah orang tua Bintang.
“Berhenti di sini Jay, rumah ibu masuk ke dalam gang sana.” Bintang menunjuk ke arah sebuah gang sempit yang hanya masuk sepeda motor.
__ADS_1
Bintang turun dari mobil yang sebelumnya ia naiki, sementara Jayden menyusul usai memarkirkan kendaraannya di tepi jalan.
Hari sudah sangat larut, tidak ada seorang pun di sana. Semua orang pasti sudah terlelap di rumahnya masing-masing.
Jayden berjalan beriringan dengan Bintang. Keduanya diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Bintang berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan lampu kuning 5 watt yang menyinari teras. Ia hanya berdiri di depan pintu selama beberapa saat, sampai seseorang membuka pintu tersebut dari dalam.
“Ayah?” ucap Bintang.
Pria paruh baya yang berdiri di hadapannya diam mematung melihat kedatangan dua orang manusia yang sangat tidak ia duga.
Alih-alih menanggapi Bintang, Subandi yang sebelumnya sudah mendengar kebenaran mengenai pernikahan kontrak Jayden dan Bintang dari istrinya itu segera berbalik dan tangannya bergerak untuk menutup pintu itu kembali.
“Ayah, tolong buka, Yah.” Bintang memohon.
“Siapa yang datang Yah?” tanya Meli seraya keluar dari dalam kamar.
“Yah, tolong buka pintunya Yah.” Bintang masih terdengar memohon.
“Apa itu Bintang Yah?” tanya Meli pada suaminya.
“Kenapa pintunya tidak dibuka?” Meli sudah bergerak untuk membuka pintu, namun Subandi menghentikannya.
“Biarkan saja Bu. Biarkan anak itu belajar dari kesalahannya.”
“Yah, ini sudah larut. Tidak mungkin dia datang selarut ini kalau tidak ada sesuatu hal yang mendesak.” Meli memohon kepada suaminya. “Yah, kita sebagai orang tua harus mempunyai hati yang lapang. Bukan berarti kita menganggap benar kesalahan yang Bintang perbuat. Tapi, kalau bukan pada kita sebagai orang tuanya, kepada siapa lagi Bintang akan berbagi? Kita tentu tidak mau kan kalau Bintang terjerumus ke jalan yang salah?”
Subandi diam, tapi Meli tahu kalau diamnya berarti ia setuju dengan segala ucapannya.
Meli berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk Bintang. Begitu melihat wanita yang telah melahirkannya ke dunia tersebut, Bintang luruh. Ia memeluk kaki Meli dengan air mata berderai dari kedua pelupuk matanya.
“Bu, maafin aku Bu,” ucap Bintang di sela tangisnya.
“Berdirilah Nak,” ucap Meli seraya membawa Bintang untuk berdiri. Ia membawa putri semata wayangnya itu untuk masuk ke dalam rumah sederhananya.
Meli pergi ke dapur untuk membawakan minum kepada Bintang.
“Hidup aku hancur, Bu.” Bintang kembali terisak usai menghabiskan minumannya.
“Kamu bicara apa Nak?” Meli tampak tidak mengerti.
__ADS_1
“Ibu belum nonton berita hari ini?”
Meli menggeleng.
“Semua orang sudah tahu tentang pernikahan kontrak aku dan Jay, Bu. Mereka bahkan tahu kalau bayi yang aku kandung bukan anak Jay.”
“Apa?!” Meli tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. “Lalu, siapa ayah dari anak ini Nak?” tanya Meli seraya mengelus perut rata Bintang.
“Itu ... Itu ....” Bintang melirik ke arah Jayden yang sedari tadi hanya berdiri memperhatikan interaksi kedua ibu dan anak itu.
“Itu anak Dave, Bu.” Jayden yang menjawab.
Meli menekan dadanya yang terasa sesak. Hatinya hancur mendengar anak semata wayangnya telah hamil oleh laki-laki lain, yang bukan suaminya.
Berbeda dengan Subandi, ia tampak tidak terkejut sama sekali. Sebelumnya, ia memang sudah mengetahui berita mengenai Bintang. Penumpangnya yang memberi tahu. Tentu saja penumpang itu tidak tahu kalau orang yang dia ajak bicara adalah ayah dari orang yang sedang dia bicarakan.
“Bu, hidupku hancur, Bu.” Bintang merebahkan kepalanya di dada ibunya. Ia menangis pilu di dalam pelukan ibunya tersebut.
“Itu semua akibat dari semua yang kamu lakukan sendiri!” Subandi ikut berkomentar.
Mendengar ucapan ayahnya, Bintang semakin terisak.
“Yah, sudah.” Meli bertindak sebagai penengah. “Malam ini, kamu tidurlah di sini Nak.” Pandangannya lalu beralih ke arah Jayden. “Dan kamu—“
“Saya akan pulang, Bu,” potong Jayden, “istri saya menunggu,” lanjutnya.
Hati Bintang begitu teriris mendengar ucapan Jayden. Ia begitu bangganya menyebut Delia sebagai istrinya. Sedangkan ia sendiri apa? Bukankah secara hukum ia yang istrinya Jayden?
Jayden pamit pulang setelah itu.
“Istirahatlah Nak, besok kita pikirkan sama-sama langkah apa yang akan kita ambil.”
Bintang mengangguk. Ia masuk ke dalam kamar lamanya. Suasananya masih sama seperti terakhir kali ia ingat. Ranjang kecil dengan kasur busa berukuran 1 meter x 2 meter yang diletakkan menempel pada dinding. Sebuah lemari plastik, dan juga meja belajar. Sangat minimalis, tapi penuh kenangan.
Bintang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bayangan masa kecilnya terlintas begitu saja. Masa-masa sulit itu yang memacunya untuk terus bekerja keras agar ia bisa sukses. Nyatanya, ia telah mengambil jalan yang salah.
Kalau saja boleh kembali ke masa lalu. Ia tidak akan melewati jalan yang sama. Ia akan memilih jalan yang baik walaupun itu agak sedikit lebih panjang.
“Dave ... Kamu tidak bisa hidup berbahagia sementara aku hidup menderita.” Bintang bermonolog.
Sebuah ide muncul dalam kepala Bintang. Ia bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya. Sebuah senyuman terukir di sana.
__ADS_1