
“Halo teman-teman ... Di sini aku mau meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi setelah video live streaming aku kemarin. Banyak yang bertanya, apakah itu benar? Dan aku jawab dengan sadar dan penuh keyakinan. Ya, itu semua benar. Maaf kalau kalian kecewa. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Kami, aku dan Jay, hanya menjalaninya saja. Semuanya sudah diatur oleh manajemen kami. Dan perihal anak dari kandungan aku, ini adalah bayi milik Dave, Dave Chaniago, pemilik Chan Manajemen.
“Aku adalah gadis miskin saat Dave datang padaku, menawarkan segala mimpi-mimpi. Kekayaan, kepopuleran, dan segala hal yang aku inginkan. Dan untuk mendapatkan itu semua, ada hal-hal yang harus aku korbankan. Termasuk ... Termasuk kesucianku. Ya, mungkin setelah mendengar ini, kalian akan jijik padaku, tapi inilah kenyataannya.
“Sekali lagi ... Aku sungguh menyesal, maaf.”
Jayden dan Delia saling pandang usai mereka menonton video pernyataan Bintang di ponsel Delia.
“Apa yang kamu lakukan Bi?” ucap Jayden lirih.
“Siapa Bintang?” Farel tiba-tiba menyela di tengah-tengah Delia dan Jayden.
“Aku rasa ini tidak akan baik, Jay,” ucap Delia lirih.
“Hei, siapa Bintang?” Farel masih mempertanyakan hal yang sama, karena belum mendapatkan jawaban.
“Sebaiknya kamu jangan muncul di depan publik dulu Jay,” ucap Delia.
“Hei, tidak adakah yang mau menjawab pertanyaanku? Siapa Bintang?” Farel bersikukuh.
“Berisik!” ucap Delia dan Jayden bersamaan.
Farel memberengut kesal. Ia mengusir pasangan suami istri yang numpang duduk di kamarnya itu. “Keluar sana!”
“Ayel, jangan ngambek dong.” Delia membujuk Farel dari balik pintu.
Tidak ada jawaban.
“Ayel ....” Delia masih mencoba.
“Maaf Tuan, Tuan Arga memanggil Anda ke ruangan kerjanya.” Seorang pelayan tiba-tiba datang di antara mereka.
Jayden menunjuk dirinya sendiri. “Saya?”
Pelayan tersebut mengangguk.
“Jangan panggil saya Tuan mbak.” Jayden merasa tidak enak.
“Lalu saya harus panggil apa Tuan?” tanya pelayan tersebut.
“Em ....” Jayden terlihat berpikir. “Nanti saya pikirkan, saya akan menemui Pak Arga dulu.”
Jayden turun ke lantai satu usai berpamitan pada Delia. Ia masuk ke ruangan Arga usai mengetuk pintu.
Arga mempersilakan Jayden untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Tidak hanya sendiri. Di sana ternyata juga sudah ada Yudi.
“Entah aku harus senang atau sedih dengan kelakuan wanitamu itu, Jay,” ucap Arga.
Jayden tahu, Arga sedang membicarakan Bintang.
__ADS_1
“Kamu sudah melihatnya kan?” tanya Arga.
Jayden mengangguk.
“Dia hanya putus asa, Pak.” Pengacara Yudi ikut berkomentar. “Dia ingin menenggelamkan musuh dengan menyeretnya bersamanya, bukan mendorongnya.”
“Biarkan saja. Gadis itu membuat segalanya lebih mudah. Biarkan saja mereka saling menenggelamkan,” jawab Arga.
“Maaf pak, kalau boleh saya minta, tolong selamatkan Bintang.” Jayden berucap lirih. “Bintang tidak bersalah, dia adalah sama-sama korban.”
“Kamu memohon untuk orang lain sementara kamu sendiri belum tentu selamat Jay!” Arga tampak tersinggung.
“Maaf Pak.”
“Kamu sepertinya menyimpan perhatian khusus padanya Jay?” selidik Arga.
“Bukan seperti itu Pak. Cinta saya hanya untuk Delia. Bapak tidak perlu meragukan hal itu. Saya hanya melihat sedikit kesamaan antara saya dan Bintang. Kami sama-sama berasal dari keluarga miskin. Kami sama-sama bermimpi menjadi artis untuk memperbaiki keadaan kami. Dan kami sama-sama jatuh ke lubang yang sama. Terjebak, tidak bisa mundur. Kalaupun harus maju, harus lebih banyak lagi yang di korbankan.” Jayden sedikit mengutip perkataan Bintang tempo hari.
“Lagi pula, saya mengerti betul kenapa Bintang melakukan ini. Dia hamil anak Dave, dan Dave mengingkarinya. Saat dia menolak melayani Dave, Dave malah menyingkirkannya. Menggantinya dengan orang baru. Mungkin dia begitu putus asa hingga sampai membuat video pernyataan itu,” lanjut Jayden.
“Kamu sangat memahami gadis itu Jay,” ucap Arga.
“Saya hanya mencoba memosisikan diri saya menjadi dirinya Pak.”
Yudi dan Arga memandang ke arah Jayden. Mereka terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
Tiba-tiba, ponsel Jayden berbunyi. Wajahnya berubah seketika mendengar apa yang diucapkan si penelepon.
***
“Pa ....” Miranda datang menghampiri Dave.
“Kenapa?” tanya Dave tanpa menoleh.
“Anak-anak baru saja kembali.”
“Kenapa? Bukankah mereka seharusnya sekolah?” Kali ini Dave menatap wajah istrinya itu.
“Mereka pulang dalam keadaan menangis. Mereka bilang tidak mau sekolah lagi. Mereka bilang teman-temannya merundungnya karena ... Karena berita di tv.”
Dave menunduk. Tidak menyangka, akibat ulah Bintang, anaknya ikut menjadi korban.
“Pa ....”
Dave beranjak bangun sebelum Miranda menyelesaikan kalimatnya. Ia menuju ke meja kerjanya.
Miranda memperhatikan apa yang akan Dave lakukan dari arah belakang.
“Ma, tolong temani anak-anak. Mereka butuh Mama saat ini.”
__ADS_1
“Pa, tolong jangan lakukan hal-hal yang akan kamu sesali.” Miranda pergi usai mengatakannya.
Dave tidak memedulikan ucapan istrinya. Matanya tetap fokus pada layar laptop di depannya.
“Aku sudah memperingatkanmu Bintang,” gumamnya.
***
Tok ... Tok ... Tok ...
“Bintang, buka pintunya Nak, sedari pagi kamu belum makan apa-apa.” Entah kali ke berapa Meli mengetuk pintu. Ia khawatir karena dari pagi ia belum melihat putri semata wayangnya tersebut.
“Gimana Bu?” Subandi sudah berdiri di belakang Meli.
Meli menggeleng.
“Gimana kalau kita dobrak saja Bu, bapak merasa tidak enak.”
Meli mengangguk. Ia mundur beberapa langkah, memberi jarak kepada suaminya tersebut.
Satu kali percobaan, pintu hanya bergeser sedikit. Dua kali percobaan, pintu terbuka.
“Bintang!” Meli berteriak dan merangsek masuk ke dalam. Air matanya meleleh melihat keadaan putri semata wayangnya.
“Pak, panggil ambulans, Pak,” ucap Meli.
“Bapak, tidak tahu nomornya, Bu.” Untuk kali pertama, Subandi menyesali kebodohannya.
“Panggil taksi online kalau begitu, kita harus membawa Bintang ke rumah sakit!” sentak Meli.
“I-iya Bu,” jawab Subandi gelagapan.
“Bintang ... Apa yang kamu lakukan Nak?” Meli menangisi nasib putrinya tersebut. “Pak, telepon Jay juga!”
“I-iya Bu.”
Lima menit menunggu, sopir taksi online mengatakan kalau ia sudah tiba di depan gang. Subandi segera menggendong Bintang di punggungnya dan membawanya menuju ke lokasi.
Melihat keadaan calon penumpangnya, sopir taksi online keluar dari mobilnya. Ia menatap ketiga orang di depannya dengan perasaan jijik.
“Maaf, Pak, pesanannya saya batalkan saja. Saya tidak mau terkena sial,” ucap sopir taksi tersebut.
“Apa yang kamu katakan brengsek!” kalau saja tidak sedang menggendong Bintang, Subandi sudah akan menghajar orang di depannya.
“Maaf Pak, saya tidak mau membawa mayat. Mobil saya bisa terkena sial!”
“Dasar brengsek! Kamu pikir anakku sudah mati!”
“Pak, kami akan membayar tiga kali lipat kalau Bapak mau.” Meli mencoba membujuk sopir tersebut.
__ADS_1
“Maaf Bu, ini bukan soal uang. Ibu mau bayar sepuluh kali lipat pun saya tetap akan menolak.” Sopir taksi tersebut meninggalkan Subandi dan istrinya dalam keadaan bersedih hati.