Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Ini Alasannya?


__ADS_3

“Jadi ini alasannya?” tanya Delia lirih. Tidak ada siapa pun di sekitarnya. Itu membuktikan ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri.


Pandangan Delia berfokus pada layar kaca 42 inch di hadapannya. Di sana ada suaminya dan juga istri kedua dari suaminya yang sedang menyanyikan sebuah lagu.


Begitu romantis. Biasanya, ia akan cemburu karenanya. Setelah itu, Jayden akan datang padanya dan mengatakan bahwa semua yang ia lihat adalah akting.


Tidak kali ini. Delia hanya bisa merasakan sendiri lukanya. Tidak akan ada yang datang untuk menjelaskan semua itu.


Hampir satu minggu berlalu, tak sehari pun Delia lalui tanpa menghubungi Jayden. Tapi ia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan lelakinya. Entah itu sedang tidur, sedang mandi, atau sedang tidak bisa diganggu, selalu Bintang yang mengangkat teleponnya.


Delia selalu menitip pesan kepada Jayden agar ia menghubungi balik, tapi tidak pernah terjadi. Ia bahkan sempat berburuk sangka pada Bintang, bahwa istri kedua dari suaminya itu tidak menyampaikan pesannya. Tapi tidak, apa yang ia lihat saat ini menjadi bukti kalau Jayden sudah tidak menginginkannya.


“ ... Ada satu hal bahagia yang ingin aku umumkan saat ini.” Di layar televisi, Jayden terlihat merangkul pinggang Bintang untuk lebih mendekat ke arahnya. “Kami akan segera mempunyai anak.” Tepuk tangan bergemuruh. “Ya, Bintang saat ini sedang mengandung.”


Jayden terlihat sangat bahagia usai mengumumkan kehamilan Bintang. Berbanding terbalik dengan apa yang Delia rasakan saat ini.


Jadi ini alasan kamu menyerah pada hubungan kita Jay? Karena kamu mulai mencintai Bintang? Ah, bodohnya aku memikirkan itu. Tentu saja Jayden mencintai Bintang. Kalau tidak, bagaimana mungkin Bintang sampai hamil. batin Delia.


Delia mematikan televisi yang ada di kamarnya.  Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju ke balkon kamarnya. Memandangi percikan kembang api di langit yang saling bersahutan. Mereka agaknya bergembira menyambut kedatangan tahun baru.


Jay, jadi begini akhir cinta kita? Kenapa kamu tidak secara jantan mengatakannya langsung di depanku Jay? batin Delia.


Kenangan indah saat masih bersama dengan Jayden muncul begitu saja dalam bayangannya. Delia sungguh tidak menyangka kalau posisinya akan terganti begitu mudahnya.


Tangannya terulur menyentuh kalung berliontin burung angsa pemberian Jayden. Ia menariknya hingga terlepas. Menyisakan sedikit luka memerah di lehernya.


Delia meremas liontin tersebut. Hatinya terluka. Ia tidak bisa menerima ini semua. Hatinya berkata, ia harus menemui Jayden. Harus!


Delia sudah berada di depan pintu gerbang rumah Jayden. Security yang mengenalinya segera membukakan pintu. Delia bergeming sesaat di depan pintu, haruskah ia masuk sebagai tuan rumah, atau memencet bel dulu seperti tamu? Ah, bahkan ia tidak tahu, Jayden menganggap dirinya sebagai apa saat ini.

__ADS_1


Sementara itu di luar gerbang, dua orang bodyguard yang selalu mengawasi Delia tampak menelepon seseorang.


“Tuan, nona mengunjungi laki-laki itu ke rumahnya. Haruskah kami ikut masuk?”


“Biarkan saja, dia hanya akan mengucap salam perpisahan,” jawab seseorang di seberang sana.


Belum sempat Delia memencet bel, pintu sudah terbuka. Jayden keluar dari sana, lengkap dengan pakaian olah raganya. Keterkejutan ditampilkan keduanya. Namun Jayden yang terlebih dahulu menguasai diri.


“Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat,” ucap Delia memecah kesunyian, “mau jogging Jay?” tanyanya canggung.


“Iya,” jawab Jayden singkat.


“Aku cuma mau mengembalikan ini.” Delia mengulurkan tangannya yang terkepal.


Jayden meliriknya sekilas, kemudian ikut mengulurkan tangannya yang terbuka. Ia menerima barang yang diberikan Delia. Kalung berliontin burung angsa, hadiah ulang tahunnya yang ia berikan saat di Bali.


“Aku pulang, Jay,” ucap Delia karena Jayden hanya diam saja usai menerima kalung itu.


Delia kembali berbalik, “aku akan melanjutkan studi ke London.”


Jayden masih bergeming dengan ekspresi yang sulit diartikan.


“Semoga sukses,” ucap Jayden pada akhirnya.


Delia kembali berjalan, kali ini dengan langkah kaki lebih cepat. Air matanya luruh begitu saja. Delia tidak ingin menangis. Tidak di sini.


Banyak tanya yang ingin ia sampaikan. Tapi melihat kebungkaman Jayden, ia memilih untuk bungkam juga. Sikap Jayden sudah menjawab semuanya. Bahwa ia sudah tidak ada di hatinya, bahwa Bintang sudah mengganti tempatnya. Ia telah kalah, dan waktunya untuk pulang.


“Itu Delia, Jay?” Bintang yang sudah berdiri di belakang Jayden ikut melihat ke arah mata Jayden memandang.

__ADS_1


Jayden mengangguk seraya melihat kalung yang baru saja Delia berikan.


“Kok gak masuk?” tanya Bintang lagi. Kali ini ia melihat bola mata Jayden yang memerah.


“Ini yang terbaik buat dia, Bi.”


“Menurut siapa? Menurut kamu?” tanya Bintang lagi.


Obrolan mereka terhenti karena kedatangan Bagas.


“Udah siap, Jay, Bi? Tanya Bagas.


Bintang mengangguk. Lain halnya dengan Jayden yang masih enggan untuk bersitatap dengan Bagas.


Saat ini mereka tengah bersiap untuk syuting. Hari ini dalam skenarionya, Jayden akan menemani Bintang untuk jalan pagi. Makanya ia sudah bersiap dengan setelan olah raganya.


Jayden memasukkan liontin Delia ke dalam saku celananya. Jika di tanya bagaimana perasaannya saat ini? Tentu saja sama terlukanya dengan Delia. Tapi, berkali-kali ia meyakinkan diri, kalau ini semua yang terbaik untuk Delia. Ia yang sudah terlanjur tenggelam dalam dunia penuh tipu ini, tidak mau menyeret serta Delia ke dalamnya.


Delia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia berkali-kali mengusap air matanya yang tidak berhenti bercucuran. Tapi tetap saja, air mata sialan itu tidak mau mengering. Malah semakin deras.


Dua bodyguard yang berkendara di belakang Delia sangat khawatir melihat cara anak dari majikannya tersebut menjalankan mobilnya. Entah sudah berapa pengendara yang menyalakan klakson karena cara berkendara Delia yang membahayakan pengguna jalan lainnya.


Salah satu bodyguard menghubungi Arga. Dan menceritakan apa yang saat ini ia lihat.


“Pantau terus!” titah Arga.


Delia terus menaikkan kecepatan mobilnya. Bertepatan dengan itu, seorang anak berlari ke tengah jalan untuk mengambil bola yang terlempar ke sana. Delia terkejut, ia segera membanting setirnya ke arah kanan yang terdapat pohon besar di sana. Tanpa bisa dielakkan, mobil Delia menabrak pohon tersebut hingga bagian depannya ringsek dan berasap.


Dua bodyguard yang berkendara di belakang Delia sontak memarkirkan kendaraannya. Keduanya turun untuk memastikan kondisi anak dari majikannya tersebut. Ia sangat khawatir. Khawatir dengan kondisi Delia, pun dengan murkanya Arga jika sampai majikannya itu tahu kondisi dari anaknya saat ini.

__ADS_1


Keterkejutan mereka bertambah mendapati Delia tidak ada di dalam mobilnya. Ia tergeletak di atas rumput sejauh tiga meter dari lokasi mobilnya berada.


“Ini akhir hidup kita Bang,” ucap salah satu bodyguard kepada rekan di sampingnya yang ikut mengangguk.


__ADS_2