
Jayden keluar dari area rumah sakit dengan kepala tertunduk. Ia tidak menyadari kalau ada seorang wanita paruh baya yang mengikutinya.
“Tunggu!” teriak wanita itu sesaat sebelum Jayden masuk ke dalam mobilnya.
Jayden menoleh. Walaupun baru satu kali bertemu, Jayden hafal betul siapa wanita tersebut. Wanita anggun yang masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi. Wanita yang beberapa kali Jayden dapati sedang dipandangi Delia dalam layar ponselnya. Dialah Farida, ibu kandung Delia.
“Bisa kita bicara?” tanyanya.
Jayden dan Farida sudah duduk bersisian di sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat parkir. Keduanya duduk dengan jarak lebih dari satu meter.
“Kalau tujuan ibu untuk menyuruh saya menjauhi Delia, saya sudah melakukannya. Bukan takut akan ancaman kalian, ini semua saya lakukan demi kebaikan Delia.”
“Menurut kamu, kenapa dulu Delia lebih memilih bersama dengan kamu daripada bersama dengan orang tuanya?” tanya Farida tanpa menoleh ke arah Jayden.
“Karena saya mencintainya,” jawab Jayden tanpa keraguan sedikit pun.
Farida tersenyum mencemooh, “cinta tidak membuat kita kenyang.”
“Tapi cinta bisa membuat hati bahagia. Jika hati kita bahagia, makan kacang goreng pun bisa senikmat makan steak di restoran mewah.”
“Kamu itu naif, Jay. Katakan, satu hal saja yang bisa kamu berikan kepada Delia, tapi tidak bisa kami berikan.”
“Keberadaan,” jawab Jayden, “saya selalu ada untuk Delia. Untuk membantunya mengeringkan rambut, membantunya membuka tutup botol, membantunya menggaruk punggungnya yang gatal, dan membantunya mengubah air matanya menjadi senyum kebahagiaan.”
“Ck, itu hanya hal remeh yang bisa dilakukan siapa saja.”
“Ibu benar, hal itu bisa dilakukan siapa saja, bahkan oleh Anda bukan? Lalu kenapa Anda tidak melakukannya? Sekali saja apakah Anda pernah bertanya, apa yang putri ibu butuhkan? Uang yang banyak kah? Fasilitas mewah kah? Atau keberadaan kalian, orang tuanya.”
“Kami bekerja keras untuk kebahagiaannya, kamu tahu?!”
“Benarkah? Dan apakah Ibu berhasil? Tujuan kalian untuk membahagiakan Delia kan? Apakah Delia bahagia?”
Farida menatap bola mata Jayden yang sangat antusias. Hanya sejenak, kemudian ia kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan.
“Delia hanya butuh perhatian kalian, kehangatan sebuah keluarga. Uang bukan segalanya, Bu.”
“Apakah cinta bisa membangunkan orang koma, Jay?”
Jayden menoleh ke arah Farida.
“Delia mengalami kecelakaan, dan sekarang dia koma. Dokter bilang tidak ada keinginan dari dalam dirinya untuk sembuh.”
“Apa?” Jayden berucap lirih.
Jayden mengikuti langkah kaki Farida menuju ke sebuah ruang vip. Kakinya berhenti melangkah saat ia berada tepat di pintu pembatas antara dirinya dengan Delia.
Farida membuka pintu. Di sana sudah ada Arga yang tengah duduk di sofa.
Melihat kedatangan Jayden, membuat Arga sontak berdiri. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
__ADS_1
“Mama yang mengajak Jay kesini, Pa.” Farida berusaha menenangkan Arga dengan menepuk-nepuk dada suaminya tersebut.
“Kenapa Mama mengajak dia kesini?” tanya Arga pada Farida.
“Mama bahkan bisa mengajak presiden Amerika ke sini kalau itu bisa menyembuhkan Delia, Pa.”
“Papa kan sudah bilang, kita akan membawa Delia ke Singapura!”
“Pa, dokter bilang, tidak ada keinginan sembuh dari dalam diri Delia. Jadi Mama rasa, kita harus membangkitkan semangat Delia untuk sembuh dari dalam dirinya sendiri.”
Tanpa mereka sadari, Jayden sudah duduk di samping Delia. Ia menatap sendu ke arah wanita yang sangat ia cintai itu.
“Del, ini aku sayang,” ucap Jayden seraya mengecup punggung tangan Delia. “Maaf aku tidak datang hari itu. Aku sungguh ingin datang sayang, tapi aku pikir, akan lebih baik kalau kita tidak bersama. Bukan karena aku tidak mencintai kamu. Sebaliknya, ini demi kamu Del, demi keselamatan kamu. Aku rasa, kamu akan lebih aman jika berada di bawah perlindungan papa kamu sayang.”
Jayden terkejut karena jari telunjuk Delia tampak bergerak dalam genggamannya.
“Del, kamu mendengarku sayang?” ucap Jayden antusias.
Mendengar ucapan Jayden, Arga dan Farida yang tengah berdebat menoleh ke arah Delia. Benar saja, pelupuk mata Delia tampak bergetar.
Farida mengisyaratkan Jayden untuk terus berbicara. Jayden mengangguk tanda mengerti.
“Del, ini kalung kamu. Aku pakaikan ya?” tanpa menunggu lama, Jayden segera memakaikan kalung berliontin burung angsa milik Delia. “Rantainya terputus, mungkin kamu terburu-buru membukanya waktu itu ya? Kamu tenang saja, nanti kita perbaiki ya?”
“Jaaayy ....” Walaupun lirih, kata itu cukup jelas terdengar.
“Jaaayy ...,” ucap Delia. Ia kemudian membuka mata dan tersenyum ke arah Jayden.
Dokter datang ke ruangan tersebut. Ia memeriksa keadaan Delia dengan seksama.
“Ini sebuah keajaiban, Pak,” ucap dokter tersebut seraya melepaskan stetoskopnya. “Seperti yang saya katakan sebelumnya Delia tidak memiliki keinginan untuk sembuh, tapi entah apa yang membuatnya tiba-tiba mempunyai keinginan dan kekuatan untuk bisa sembuh, Pak.”
“Itu namanya kekuatan cinta, Dokter.” Farida yang menjawab.
Dokter melirik ke arah Jayden yang masih memegangi tangan Delia, “baiklah saya mengerti. Saya akan tetap memantau keadaan Delia. Untuk saat ini, saya permisi.”
“Terima kasih Dokter,” ucap Arga tulus.
Arga memandangi Jayden dan Delia yang masih saling menatap satu sama lain.
“I miss you, Jay,” ucap Delia lirih.
“I miss you too sayang,” jawab Jayden, “terima kasih sudah mau bertahan.” Sekali lagi, Jayden mengecup punggung tangan Delia.
“Jay?”
“Hemmm?”
“Selamat atas kehamilan Bintang.”
__ADS_1
“Anak dalam kandungan wanita itu bukan anaknya Jay.” Farida menyela obrolan mereka, “benar kan Jay?”
Bukan hanya Delia, Arga pun ikut bingung mendengar ucapan istrinya.
“Itu benar Jay?” tanya Delia.
“Jangan terlalu banyak bicara, istirahatlah.” Kali ini Arga yang ikut berkomentar. Ia kemudian menoleh ke arah Jayden. “Jay, bisa kita bicara di luar?”
Mendengar ucapan Arga, sontak membuat Delia mengeratkan genggaman tangannya pada Jayden.
“Papa tidak akan memisahkan kalian lagi, Papa janji,” ucap Arga.
Delia melirik ke arah Jayden yang mengangguk ke arahnya. Seolah mengatakan 'tidak apa-apa sayang'.
Perlahan, Delia melepaskan tautan tangan mereka. Ia membiarkan Arga dan Jayden keluar dari kamar tempat ia dirawat.
Setelah kepergian Jayden dan Arga, Farida mendekat ke arah Delia, dan duduk di kursi yang sebelumnya Jayden duduki.
“Sayang, bagaimana perasaan kamu saat ini?”
“Serasa habis tidur panjang Ma,” jawab Delia. Ia kemudian meraba kepalanya dan terkejut mendapati tidak ada rambut di sana.
“Kepala kamu terkena benturan sayang, ada beberapa prosedur yang mengharuskan kamu memotong rambut kamu.”
“Tapi Ma, pasti akan sangat aneh kalau aku botak. Aku jadi jelek ya?”
“Kamu tetap cantik sayang. Kamu lihat saja, tadi Jay tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari kamu.”
Wajah Delia bersemu. Tapi juga sedih dalam waktu yang sama.
“Del, maafin Mama ya.”
“Maaf untuk apa Ma?”
“Karena selama ini, kami terlalu sibuk di luar sehingga mengabaikan kamu dan adik kamu.”
Delia termenung mendengar ucapan Farida. Entah mengapa tiba-tiba ibunya berbicara seperti itu. Hikmah dibalik kecelakaannya kah?
“Mama janji, setelah ini, Mama akan banyak meluangkan waktu untuk kalian, anak-anak Mama. Mama juga akan meminta Papa untuk mengurangi waktu bekerjanya, sehingga setidaknya setiap satu pekan sekali, kita bisa jalan-jalan bersama. Bagaimana?”
Delia tersenyum, tapi juga menangis.
Farida mengusap air mata putrinya itu dengan penuh kasih sayang. “Jangan lagi sayang, jangan lagi ada air mata. Mama mohon.”
“Ini air mata kebahagiaan Ma,” ucap Delia, “Ma, Delia pengen peluk Mama, boleh?”
“Tentu saja sayang.” Farida bangun dari duduknya dan memberikan sebuah pelukan pada putri sulungnya tersebut.
__ADS_1