Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Aku Ibumu Juga


__ADS_3

“Jadi ini alasan utama ayah datang ke rumah kami?” tanya Bintang. Suasana sudah cukup tenang, sehingga mereka bisa mengobrol dengan sedikit santai.


Teh dan beberapa camilan sudah tersaji di atas meja. Subandi duduk diapit oleh dua wanita berbeda generasi yang menjadi alasan kerja kerasnya selama ini di samping kanan dan kirinya. Sedangkan Jayden dan Delia duduk di seberang mereka.


“Tadi pagi ayah melihat wajah kalian di televisi. Ayah pikir semua itu bohong, tapi melihat Jay turun dengan seorang wanita, ayah kecewa karena berita itu benar.”


“Berita apa?” tanya Bintang.


“Berita perselingkuhan Jay.”


“Apa?!” pekik Bintang. Ia segera mengambil ponselnya yang berada tak jauh darinya, dan membuka sebuah akun gosip di media sosialnya.


Ayahnya benar, ada berita tentang Jayden di sana. Ia tengah memeluk seorang wanita di pinggir pantai. Slide berikutnya terlihat ia tengah memakaikan sebuah kalung kepada si wanita. Mereka terlihat begitu mesra di sana.


Walaupun tidak terlihat jelas karena perbesaran kamera ponsel yang maksimal, orang-orang di sekitar Jayden pasti tahu kalau wanita itu adalah Delia.


Bintang menatap tajam ke arah Jayden, “kamu melakukan kecerobohan lagi Jay.”


Jayden berdiri, dan mengambil ponsel di tangan Bintang. Ia membenarkan kalau itu adalah dirinya dan juga Delia. Foto itu pasti diambil seseorang saat ia dan istrinya itu tengah menikmati keindahan mentari pagi saat di Bali.


Tepat saat Jayden akan membuka suara, sebuah mobil terdengar masuk ke halaman rumahnya. Setelah itu, terdengar derap langkah kaki mendekat ke sana.


“Dave?” sapa Jayden.


“Aku tidak mau berbasa-basi. Kamu pasti tahu betul tujuanku datang ke sini bukan?” tanya Dave seraya melangkah lebih dekat. Menyadari ada orang lain di sana, Dave memberikan senyumnya kepada kedua orang tua Bintang. Pasangan paruh baya itu pun membalas senyuman Dave dengan sebuah anggukan kepala.


“Aku ingin bicara dengan kalian berdua,” Dave menunjuk ke arah Jayden dan juga Bintang.


“Kita bicara di belakang,” ucap Jayden. Ia kemudian berjalan mendahului Dave, disusul oleh Bintang di belakangnya.

__ADS_1


Kepergian tiga orang yang bergelut dalam industri yang sama itu menimbulkan kecanggungan di antara tiga orang lainnya yang masih duduk di ruang keluarga.


Subandi yang merasa bersalah, namun cukup gengsi untuk meminta maaf itu memilih pergi ke teras untuk menyalakan rokok. Meninggalkan dua wanita berbeda generasi yang masih duduk di sana.


Delia yang merasa tidak ingin berbasa-basi lagi pamit undur diri dari sana. Namun Meli segera menghentikannya.


“Tunggu Nak!” seru Meli.


Delia kembali mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang sempat ia tinggalkan.


Meli berdiri, dan duduk di samping Delia. Tempat yang tadi di duduki Jayden.


“Atas nama ayahnya Bintang, ibu meminta maaf,” ucap Meli tulus. Ia kemudian mengusap pipi Delia yang terdapat bekas tamparan, “masih sakit?”


“Sudah membaik,” jawab Delia.


“Menginjak bangku SMA, penghasilan kami dirasa kurang cukup untuk membiayai sekolah Bintang di SMA swasta. Sekolahnya memang mahal. Tapi kami yakin ada harga ada kualitas. Akhirnya ayahnya Bintang mendaftar menjadi pengemudi ojek online.”


“Kami bekerja keras untuk Bintang. Hingga ia lulus SMA dan melanjutkannya hingga kuliah. Ada kebanggaan tersendiri di sini.” Meli menunjuk dadanya sendiri.


“Walaupun takdir berkata lain. Kesuksesan Bintang bukan berasal dari pendidikannya, tapi dari bakat menyanyinya. Tapi hal itu tidak lantas membuat Ibu dan ayahnya Bintang menyesal menyekolahkannya. Itu untuk bekalnya.”


“Setelah Bintang menjadi artis, kehidupan kami berubah. Ayahnya Bintang sudah tidak perlu ngojek lagi. Bintang juga membuat rumah makan Ibu lebih baik. Ibu bahkan kini sudah mempunyai karyawan.” Meli tersenyum. “Hal yang tidak pernah Ibu bayangkan sama sekali.”


“Kenapa Ibu menceritakan semua ini pada saya?” tanya Delia bingung.


“Dengar Nak. Ibu tidak mau membenarkan kelakuan salah Bintang. Kalau ia berbuat salah, Ibu akan menegurnya. Tapi apa yang sudah terjadi ini tidaklah benar. Tidak benar melakukan sebuah pernikahan di atas sebuah perjanjian. Ini lebih dari sekedar cinta Nak. Kalian membawa nama Tuhan di dalamnya.”


“Maksud ibu apa?”

__ADS_1


“Saat menikah, Jay dan Bintang sudah mengucap janji kepada Tuhan. Sejak saat itu, baik Jay maupun Bintang sudah terikat dalam sebuah hubungan yang sakral. Yang kuat. Kalian tidak boleh mempermainkannya. Ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dari istri maupun dari suami. Kamu paham kan maksudnya?”


“Delia menggeleng.”


“Sangat berdosa bagi Jay jika dia tidak memberikan hak yang sudah menjadi milik Bintang. Hak mendapatkan nafkah lahir dan Bathin.”


Rona wajah Delia berubah. Kini ia paham maksud dari pembicaraan Meli.


“Seperti halnya Ibu yang akan menegur Bintang jika ia berbuat salah, kamu pun harus melakukannya. Tegur suamimu jika ia berbuat salah. Karena apa? Karena sayang. Menegur bukan berarti kita membenci bukan?”


“Ingatkan Jay untuk berlaku adil pada istri-istrinya. Ibu yakin, Jay akan mendengarkanmu. Ibu bisa melihat cinta di mata Jay saat melihatmu. Kamu mau kan melakukan itu Nak?” tanya Meli.


“Sa-saya ... Saya tidak tahu Bu,” jawab Delia yang nyatanya masih enggan mengiyakan tanya itu.


“Atau kamu lebih suka suami kamu tetap hidup dengan berlumuran Dosa?” tanya Meli lagi yang mendapat gelengan kepala dari Delia.


“Ibu yakin kamu orang baik.” Meli mengusap-usap punggung Delia. “Orang tua kamu pasti bangga mempunyai anak seperti kamu. Di mana mereka sekarang?”


Delia menatap bola mata wanita paruh baya itu sebelum menggeleng.


“Maafkan Ibu, Nak, ibu tidak bermaksud—“ Meli tidak melanjutkan kalimatnya. “Baiklah, mulai sekarang, kamu bisa menganggap Ibu sebagai Ibu kamu sendiri. Mengerti?”


Sekali lagi Delia menatap manik mata itu. Ada ketulusan terpancar dari sana. Betapa beruntungnya Bintang mendapatkan ibu seperti Meli. Wanita hangat yang memberitahu anaknya mana yang baik dan mana yang buruk. Menasihatinya ketika berbuat salah. Dan yang pasti memberikan pelukan hangat ketika anaknya sedang bersedih.


Seperti saat ini. Entah siapa yang memulai, Delia sudah berada dalam pelukan Meli. Ia yang sejak kecil kurang kasih sayang dari ibunya sendiri. Merasa kehangatan itu. Kehangatan yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata-kata.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka. Dialah Bintang. Ia tidak suka Delia dekat-dekat dengan ibu kandungnya.


Setelah mendapatkan perhatian dan cinta dari Jay, kamu mau mengambil kasih sayang ibuku juga Delia? Tidak akan aku biarkan! batin Bintang.

__ADS_1


__ADS_2