
Jayden masuk ke rumah orang tua Delia sudah sangat larut. Beberapa menit yang lalu hari sudah berganti. Lampu sudah di matikan, membuat ia sedikit kesulitan untuk berjalan.
Dengan susah payah akhirnya Jayden berhasil melewati ruang tamu hingga berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar Delia.
Sepertinya ada yang salah. Aku masuk rumah orang tanpa salam. Sudah seperti maling saja! Batin Jayden.
Jayden masuk ke kamar Delia tanpa mengetuk pintu. Ia langsung masuk begitu saja. Sebelum berbaring, Jayden terlebih dahulu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengamati isi kamar mandi Delia.
Sepertinya ada yang aneh. Batin Jayden.
Usai membersihkan diri, Jayden segera menghampiri istrinya yang sudah terlelap di balik selimut. Ia merebahkan diri di belakang istrinya tersebut seraya memeluknya dari belakang.
“Sayang, aku kangen banget,” ucap Jayden. Ia memberikan satu buah kecupan singkat di pucuk kepala istrinya tersebut.
Apa ini? Rambut? Jayden semakin bingung saja. Seingatnya, rambut Delia dipangkas habis saat ia harus melewati sebuah prosedur operasi di kepalanya.
Belum sempat tanya terjawab. Orang yang Jayden peluk bangun. Ia menendang Jayden hingga terjungkal ke bawah tempat tidur.
Lampu menyala. Belum sempat Jayden melihat orang yang baru saja menendangnya, sebuah bogem mentah mendarat di rahangnya.
“Brengsek! Siapa Lo? Berani-beraninya masuk kamar gue?!” suara seorang pria, jelas itu bukanlah Delia.
“Tunggu!” Jayden menolak di pukuli. “Kamu siapa?”
“Dasar pria mesum! Lo yang masuk kamar gue, dan Lo yang nanya gue siapa?!” pria tersebut tampak murka. Ia merasa terhina tubuhnya di elus-elus seorang pria.
Pemuda tersebut menarik pakaian Jayden keluar dari kamarnya. “keluar dari sini!”
Jayden terhuyung. Belum sempat ia menyeimbangkan diri, satu pukulan lagi mendarat di rahang yang lainnya.
Mendengar keributan yang terjadi, membuat penghuni rumah lainnya terbangun. Lampu menyala, membuat Jayden bisa dengan jelas melihat pria di depannya. Jayden termenung melihat pria di depannya.
“Del, kamu menjadi laki-laki?” tanya Jayden.
“Ada apa ini?” suara berat seorang pria yang baru saja naik ke lantai dua terdengar, membuat kedua pria yang ada di sana menoleh.
Arga berjalan ke arah mereka disusul oleh Farida di belakangnya.
“Ada apa ini?” tanya Arga.
“Dia menyusup ke kamarku Pa!”
Jayden berdiri, sedikit merapikan pakaiannya yang acak-acakan. Ia sedikit menjauh dari pria yang telah memukulinya tadi karena pria tersebut terlihat akan melayangkan satu pukulan lagi ke arahnya.
“Cukup Farel!” Arga mengangkat tangannya, membuat Farel menghentikan gerakan tangannya.
__ADS_1
“Kenapa kamu ada di kamar Farel?” pertanyaan Arga ditujukan untuk Jayden.
“Maaf pak, saya kira itu kamar Delia, tadi gelap, jadi ....”
Farida tertawa melihat kegugupan Jayden. “Dia Farel, adiknya Delia. Baru pulang hari ini dari London.”
Jayden menatap seketika ke arah Farel. Pantas saja dia mirip sekali dengan Delia. Aku sampai berpikir kalau Delia berubah menjadi laki-laki.
Mengingat pemikirannya sendiri, tanpa sadar Jayden tersenyum sendiri.
“Rel, dia ini Jay, kakak ipar kamu.” Farida memperkenalkan pria yang telah ia pukuli.
Arga menatap tajam ke arah Farida. Ia seolah ingin protes karena istrinya itu menyebut Jayden 'kakak ipar' dari Farel.
“Apa?! Kakak sudah menikah? Kapan?”
Lama tinggal di London membuat Farel tidak tahu kejadian yang terjadi di rumahnya. Arga memang sengaja tidak memberitahunya. Ia ingin anak itu fokus belajar. Ia bahkan melarang Farel pulang selama studinya. Ia dan istrinya yang selama ini berkunjung ke sana. Terbukti, hanya dalam waktu tiga tahun Farel lulus dengan predikat cumlaude di salah satu Universitas ternama di sana. Dan sebentar lagi, keluarga Arga Wijaya akan bertolak ke London untuk menghadiri wisuda Farel.
Farida memandang ke arah Arga. Sepertinya pria itu tidak berniat menjawab pertanyaan dari anak bungsunya tersebut.
“Ma, kapan kakak menikah? Kenapa tidak memberitahuku?” Farel mendesak Farida agar menjawab segala pertanyaannya.
Farel memang sedikit berbeda dari Delia. Ia lebih banyak berbicara daripada sok cool seperti kebanyakan pria pada umumnya.
“Farel, masuk dan istirahatlah. Sudah malam.” Arga memotong pembicaraan kedua ibu dan anak tersebut. “Ayo, Ma.”
Farel menghilang di balik pintu kamarnya. Sementara Jayden masih bergeming di tempat yang sama. Ia tidak mau salah masuk kamar lagi. Sedetik kemudian, Farel kembali membuka pintu. Kepalanya melongok ke luar.
“Jangan salah masuk kamar lagi! Tuh kamar kakak di sana!” Jari telunjuk Farel mengarah pada sebuah pintu tak jauh dari sana.
Belum sempat Jayden mengucapkan terima kasih, pintu sudah kembali tertutup.
Jayden berjalan menuju ke arah pintu. Sedikit membukanya, hanya untuk memastikan ia tidak masuk ke kamar yang salah lagi.
Seorang wanita tampak terlelap di atas pembaringan. Wajahnya sedikit pucat. Jayden mengecup kepala tanpa rambut itu. Walaupun begitu, Delia masih terlihat cantik di matanya. Ia menutupi kepalanya dengan kupluk.
“Jay, kamu sudah pulang?” tanya Delia.
“Heem,” jawab Jay, “maaf mengganggu tidurmu,” lanjutnya.
Delia melingkarkan tangannya pada leher Jayden. “Tadi aku minum obat, langsung ngantuk. Maaf tidak tahu kalau kamu sudah pulang.”
Jayden mengusap kepala Delia, hingga kupluk yang istrinya kenakan itu terlepas.
“Jangan di buka Jay. Aku jelek.” Delia mengembalikan kupluknya ke tempat semula.
__ADS_1
“Benarkah? Tapi di mataku, kamu selalu terlihat cantik sayang,” bisik Jayden begitu dekat. Jayden kian mengikis jarak antara keduanya.
Delia terpejam, dan Jayden mendekat. Tapi, tepat ketika jarak keduanya hanya beberapa centi saja, pintu di ketuk. Jayden beranjak bangun untuk membuka pintu. Wajah Arga terpampang di sana.
“Sebaiknya kamu jangan tidur di kamar Delia sebelum menikah kembali. Kamu bisa tidur di kamar tamu,” ucap Arga tanpa belas kasih.
Jayden ingin protes. Tapi melihat wajah Arga, ia mengurungkan niatannya itu. Tidak ingin ditendang keluar tengah malam begini. Akhirnya ia hanya bisa pasrah.
“Saya pamit dulu pada Delia.”
“Hemmm.”
Arga berjalan terlebih dahulu meninggalkan Jayden yang tampak kebingungan.
Dasar orang tua kejam. Dia menyuruhku tidur di kamar tamu, tapi tidak memberitahu di mana tempatnya. Aku harus mengelilingi rumah besarnya ini mencari kamar tamu? Batin Jayden.
“Kamu masih di sini Jay?” tanya Delia di balik punggungnya.
“Em ... Mertua aku yang baik hati itu tidak memberitahu aku di mana letak kamar tamunya.”
Delia tertawa mendengar Jayden menyebut papanya 'mertua aku yang baik hati'.
“Biar aku antar,” ucap Delia seraya menggandeng tangan Jayden.
“Tapi kamu masih sakit Del.”
“Aku memang sakit, tapi tidak lumpuh Jay.” Delia memberenggut.
Akhirnya Jayden membiarkan Delia membimbingnya masuk ke kamar tamu yang ada di lantai 1.
“Sabar ya, setelah menikah, kita bisa kembali saling memeluk,” ucap Delia ketika mereka sampai di dalam kamar tamu.
Delia segera berbalik untuk kembali ke kamarnya, tapi tangan Jayden dengan segera melingkar di perut Delia. Jayden memeluk Delia dari belakang dengan begitu erat.
“Jay ...,” ucap Delia lirih.
“Aku kangen banget sayang.” Jayden berucap tak kalah lirih. Embusan nafasnya bahkan menerpa leher Delia.
Delia bergeming sesaat sebelum berucap, “papa bilang kan kamu gak boleh tidur di kamar aku sebelum menikah kembali, tapi papa kan gak bilang kalau aku gak boleh tidur di kamar tamu.”
Jayden mengendurkan pelukannya, kemudian membalik tubuh istrinya tersebut. Delia tersenyum penuh arti. Seolah mengerti, Jayden berlari ke arah pintu dan menguncinya.
__ADS_1