Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Rumit


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Arga, dan menjawab berbagai pertanyaan dari pengacara Yudi, Jayden pamit. Tujuannya adalah gedung Chan, tempat terakhir yang ingin dia kunjungi, namun harus ia kunjungi.


“Jay, kamu pergi naik apa?” tanya Arga.


Jayden bergeming. Benar, ia tadi ke sini naik mobil Arga. Sementara mobilnya sendiri di tinggal di rumah sakit. “Mungkin akan pesan taksi online saja, Pak,” jawab Jayden.


“Kamu bisa pakai salah satu mobil saya yang ada di garasi kalau mau,” tawar Arga.


“Tidak perlu repot-repot Pak, saya—“


“Kamu jangan salah paham,” potong Arga, “saya menawari kamu mobil bukan karena saya peduli terhadap keselamatan kamu, tapi saya memikirkan kesehatan Delia. Delia tentu akan senang kalau kamu pulang lebih cepat. Dan itu juga akan mempengaruhi kesehatannya.”


Jayden menatap bola mata Arga dalam. Hatinya sempat bahagia karena ia pikir Arga sudah menerimanya. Tapi ternyata tidak. Delialah yang menjadi alasan kebaikan Arga saat ini.


“Kalau kamu tidak mau, kamu bisa pakai mobil Delia. Tentu dia akan senang kalau mengetahuinya.”


“Baiklah,” jawab Jayden pada akhirnya.


“Berikan kunci mobil kamu, saya akan menyuruh orang untuk mengambilnya.”


Jayden meninggalkan ruang kerja Arga setelah menyerahkan kunci mobil tersebut. Ia melanjutkan rencananya untuk pergi ke Chan Management.


Jayden masuk ke pintu utama usai memarkirkan kendaraannya. Biasanya ia akan langsung naik ke studio, namun kali ini langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita yang sangat ia kenali baru saja keluar dari lift. Wanita itu terlihat tidak biasa. Ia berkali-kali terlihat mengusap matanya yang terus berair.


“Bintang, kamu di sini?” tanya Jayden.


Bintang mengangkat kepalanya. Begitu melihat Jayden, ia langsung menghambur pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.


Jayden bergeming. Tidak menolak, tidak juga membalas pelukan Bintang.


Bintang yang menyadari situasi canggung itu melepas pelukannya. “Maaf,” ucapnya lirih.


“Kamu kenapa?” Semarah apa pun Jayden tadi pagi, ia nyatanya masih mempunyai sedikit kepedulian kepada Bintang. Bukan karena wanita di depannya adalah Bintang. Tapi karena kepeduliannya pada sesama manusia.


“Aku sudah berakhir Jay,” ucap Bintang ambigu, “karier aku sudah berakhir,” lanjutnya.


“Apa maksud kamu?”


“Semua ini gara-gara video itu!”


“Video apa?”


Bintang menatap bola mata Jayden, “kamu belum melihatnya?”


Bintang mengeluarkan ponselnya. Dan membuka akun instagramnya. Banyak akun yang men-tag namanya di sana. Semua berisi cuplikan-cuplikan video siaran langsungnya tadi pagi.

__ADS_1


“Apa ini? Siapa orang kurang ajar yang membuat video ini?” tanya Jayden.


“Maafkan aku Jay.”


Jayden menoleh ke arah Bintang, “kamu yang membuatnya?”


“Maaf Jay. Tadinya aku ingin live streaming. A-aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini.”


“Kamu sudah berbicara sama si bos?” tanya Jayden.


Bintang mengangguk.


“Lalu?”


“Dia bilang, aku harus menanggung akibat dari kecerobohanku sendiri.”


“Apa?”


Belum sempat Bintang menjawab pertanyaan Jayden, Dave terlihat keluar dari dalam lift.


“Jay, kebetulan kamu di sini. Aku mencoba menghubungimu tapi tidak di angkat,” ucap Dave, “aku Cuma mau mengabari kalau konser malam ini batal. Pihak penyelenggara yang membatalkannya. Mereka akan mengganti artisnya dengan yang lain.”


“Kenapa?” tanya Jayden.


“Mungkin karena video tadi pagi. Kamu sudah melihatnya kan?”


“Mereka tidak bisa membatalkannya begitu saja Bos, bukankah aku sudah tanda tangan kontrak?”


“Tentu saja mereka bisa Jay. Sebaiknya kalian bereskan urusan internal kalian, baru memikirkan karier kalian ke depannya.”


Jayden menatap Dave yang melangkah menjauh dari mereka.


“Jadi begitu ya?” Jayden bermonolog.


***


Jayden dan Bintang sudah berada di dalam mobil milik Delia. Jayden berencana akan mengantar Bintang pulang, setelah itu ia akan kembali ke rumah Arga untuk bertemu dengan Delia.


Mobil berhenti cukup jauh dari rumah Jayden. Dari tempatnya berada, ia bisa melihat beberapa wartawan ada di sana.


“Bagaimana ini Bi?” Jayden bertanya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Ia tidak menyadari kalau Bintang sudah tidak ada di sampingnya.


Keterkejutan Jayden bertambah saat melihat Bintang berjalan menuju ke arah para wartawan. Ingin mencegah, tapi sudah terlambat. Para wartawan itu sudah mengerubungi Bintang bagai semut mengerubungi gula. Sedangkan Jayden memilih untuk menunggu di dalam mobil.


“Tolong tertib, aku akan menjawab semua pertanyaan kalian,” ucap Bintang saat berada di tengah-tengah para wartawan.

__ADS_1


“Bi, apa benar kamu dan Jay hanya nikah kontrak?”


“Benar,” jawab Bintang.


“Kenapa kalian melakukan kebohongan publik ini? Apakah demi popularitas?”


“Ini bukan keinginan kami, semua ini sudah diatur manajemen,” jawab Bintang.


“Siapa ayah dari anak dalam kandungan kamu ini, Bi?”


Belum sempat Bintang menjawab, mobil yang Jayden kendarai mendekat ke arah mereka. Jayden membunyikan klakson berkali-kali hingga membuat mereka yang sedang wawancara menjadi terganggu.


“Masuk!” titah Jayden yang menurunkan sedikit kaca mobilnya.


“Apakah itu Jay?” tanya salah satu wartawan.


“Jay, minta waktunya sebentar.” Para wartawan kini beralih mengerubuti mobil yang Jayden kendarai.


Jayden kembali menaikkan kaca mobilnya. Ia juga terus menerus membunyikan klakson mobil hingga membuat security rumahnya membuka gerbang.


Jayden mengambil kesempatan itu untuk memasukkan mobilnya ke halaman rumahnya. Setelah itu, ia memerintahkan security yang berjaga untuk membantu Bintang keluar dari kerumunan para wartawan dan masuk ke dalam rumah.


“Apa yang kamu lakukan, Bintang?!” tanya Jayden dengan nada tinggi ketika wanita itu masuk ke dalam rumah.


“Aku tidak mau hancur sendiri Jay, kalau aku harus hancur, Dave juga!”


“Kita bisa pikirkan solusinya dengan baik, Bi. Dave selalu mempunyai solusi untuk semua hal kan?”


“Tidak kali ini Jay,” ucap Bintang lirih, “Dave sudah membuangku. Dia sudah menggantikan posisiku!”


“Tapi kenapa?” Jayden bertanya dengan nada lebih rendah.


“Karena aku menolak bercinta dengannya Jay!” Bintang menangis, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


“Apa?” tanya Jayden lirih.


“Hari itu laki-laki brengsek itu datang ke rumah. Ia memintaku menghangatkannya. Aku menolak, dan inilah akibatnya.”


“Tapi Bi, bukan berarti kamu bisa bicara sembarangan mengenainya di depan wartawan.”


“Aku tidak peduli lagi Jay! Aku hanya ingin laki-laki itu hancur!”


Jayden bergeming. Ia melihat pancaran kemarahan dari mata Bintang. Ia memang marah pada perbuatan Bintang terhadap Delia, tapi dalam waktu yang sama, ia juga kasihan terhadap wanita itu.


“Istirahatlah, kamu pasti lelah.”

__ADS_1


Bintang mengangguk. Ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya sendiri.


Sementara itu, Jayden menduduki sofa yang berhadapan dengan tempat yang sudah Bintang tinggalkan. Ia menopang kepalanya dengan ibu jari dan jari telunjuk kedua tangannya. Masalah yang ia hadapi semakin rumit saja. Tanpa arahan Dave, ia tidak tahu harus berbuat apa.


__ADS_2