Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Depresi


__ADS_3

“Terima kasih, Nak.”


“Tidak masalah Pak. Yang penting Bintang selamat.”


Subandi menoleh sejenak ke arah Jayden, lalu kembali menundukkan pandangannya.


“Maaf soal kejadian waktu itu. Saya sadar, saya belum meminta maaf dengan benar.”


“Saya sudah melupakan kejadian itu Pak. Bapak tidak perlu memikirkannya,” jawab Jayden, “oh iya Pak, kenapa Bapak tadi tidak langsung membawa Bintang ke rumah sakit? Kenapa malah duduk di tepi jalan?”


“Sebelumnya saya sudah memesan taksi online, tapi sopir itu membatalkannya. Setelah itu, sopir-sopir lain juga menolak membawa Bintang. Alasannya sama, tidak ingin ketiban sial karena membawa jenazah. Mereka pikir Bintang sudah mati.” Suara Subandi sedikit bergetar ketika mengatakannya.


“Jay, makasih karena sudah datang tepat waktu. Telat sedikit saja, mungkin Bintang tidak tertolong. Entah apa yang ada di pikirannya. Bisa-bisanya ia mencoba bunuh diri. Apa dia tidak tahu. Walaupun seluruh dunia berpaling darinya, kami orang tuanya akan selalu ada untuknya.” Subandi terisak dalam ucapnya.


Tangan Jayden tergerak untuk mengusap punggung pria tersebut. Sedikit memberi dukungan padanya. Ia sedikit membetulkan letak kaca mata hitam dan juga topinya ketika merasa ada yang memperhatikannya. Ia juga memastikan masker yang ia kenakan menutupi separuh dari wajahnya.


Beruntung tidak ada yang tahu rumah orang tua Bintang yang lama. Kalau tidak, sudah pasti berita percobaan bunuh diri yang Bintang lakukan akan menjadi trending topik dunia entertainment.


“Pak, Bintang sudah sadar.” Meli melongok dari balik pintu di mana Bintang di rawat setelah beberapa saat yang lalu dipindahkan dari ruang UGD.


Subandi yang menunggui putri semata wayangnya itu di luar, masuk ke dalam, diikuti Jayden di belakangnya.


“Apa aku sudah berada di surga?” tanya Bintang entah kepada siapa.


“Orang bunuh diri tidak akan masuk surga Bintang, tempat mereka di neraka,” ucap Subandi ketus.


Air mata meleleh dari pelupuk mata Bintang. Bukan karena ucapan ayahnya, tapi karena ia menyadari, kalau ia masih hidup.


“Kenapa aku masih hidup? Seharusnya kalian tidak menyelamatkanku.” Bintang terisak.


“Apa yang kamu katakan Nak, jangan bicara seperti itu!” Meli mendekat ke arah Bintang, dan duduk di sisi kirinya, di mana pergelangan tangannya dibalut perban akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya.


“Aku tidak menginginkan anak ini Bu, aku tidak menginginkannya!” Bintang memukul-mukul perutnya sendiri. “karena anak ini hidupku hancur!”


Meli dengan sigap mencekal pergelangan tangan Bintang. “Hentikan Bintang! Apa yang kamu lakukan! Semua yang terjadi padamu bukan salah anak ini!”


Bintang meronta, ia mencoba memukul-mukul perutnya lagi. “Aku tidak sudi ada darah daging Dave di dalam perutku ini Ibu!”


“Hentikan Bintang!” Meli semakin kewalahan.

__ADS_1


Jayden yang melihat keadaan semakin tidak kondusif segera keluar memanggil dokter. Setelah itu, dokter datang dan menyuntikkan obat penenang pada Bintang hingga Bintang perlahan tertidur.


Meli menciumi wajah putri semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang. Sementara Subandi bergeming merasakan kesedihan yang sama seperti yang istrinya rasakan. Hanya saja, ia tidak mengekspresikannya secara berlebihan.


“Jay, terima kasih sudah mengantar Bintang ke sini. Kalau kamu mau pulang, pulanglah,” ucap Meli lirih.


Jauh di lubuk hatinya, Jayden sungguh tidak tega melihat sepasang suami istri di hadapannya itu. Mereka terlihat bingung, apa yang harus dilakukan. Sungguh, Bintang sangat beruntung mempunyai orang tua yang menyayanginya di sisinya. Setidaknya, ia tidak sendiri menghadapi semua yang terjadi.


Bintang sudah lebih tenang. Jayden keluar dari sana untuk membelikan makanan untuk kedua orang tua Bintang. Sekaligus ia akan menghubungi Delia mengenai semua yang telah terjadi.


Saat menerima telepon dari ayahnya Bintang, Jayden langsung pergi. Ia hanya berpamitan pada Arga saja.


Dua kali percobaan, telepon Delia tidak diangkat. Tidak patah semangat, ia mencoba untuk ke sekian kalinya. Masih tidak diangkat. Akhirnya ia mengirimkan sebuah pesan.


[Del, aku di rumah sakit. Bintang mencoba mengakhiri hidupnya. Tapi masih selamat.] Tidak lupa Jayden menuliskan serta alamat dan ruang rawat Bintang. Bukan apa-apa, Jayden tidak ingin akan ada kesalahpahaman ke depannya.


Setelah memastikan pesannya terkirim, Jayden meneruskan rencananya membeli makanan untuk kedua orang tua Bintang. Ia menuju ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan. Setelah itu segera kembali ke ruang rawat Bintang.


“Bu, ini saya bawakan makanan buat Bapak dan Ibu. Setelah itu, Ibu dan Bapak sebaiknya pulang dulu untuk berganti pakaian sekaligus membawa perlengkapan Bintang. Sepertinya Bintang harus rawat inap,” ucap Jayden, “biar saya yang menjaga Bintang untuk sementara,” lanjutnya.


Meli menilik pakaian yang ia kenakan. Ada noda darah kering di sana. Pun di punggung suaminya. Sudah dipastikan kalau itu darah Bintang.


“Bu, Ibu harus kuat dan sehat kalau mau menjaga Bintang. Kalau Ibu sampai sakit, siapa yang akan menjaga Bintang?”


Meli bergeming. Ia membenarkan ucapan Jayden. Akhirnya ia dan Subandi mau memakan makanan yang Jayden belikan. Begitu mereka menghabiskan makanannya, kedua orang tua Bintang pamit pulang.


“Saya akan menyuruh orang untuk membawa mobil Bintang ke sini, barangkali Bapak memerlukannya,” tawar Jayden.


“Tidak perlu Nak, kami tidak bisa menyetir,” tolak Subandi.


“Oh ... Baiklah.”


Jayden duduk di kursi yang ada di sebelah kiri Bintang usai kepergian kedua orang tua Bintang. Rasa iba tiba-tiba menyeruak di hatinya. Wajah yang biasanya selalu dipoles make up itu kini begitu pucat. Mata sembab dengan lingkar mata yang menghitam.


“Bi, aku memang marah padamu atas apa yang sudah kamu lakukan kepada Delia. Tapi sungguh, melihat kamu seperti ini, aku tidak tega.” Jayden bergumam. “Cepat sembuh Bi, jadilah manusia lebih baik ke depannya. Kamu bisa melewati ini semua, aku yakin.”


Bosan, Jayden melihat ponselnya. Ia melihat pesan yang ia kirim kepada Delia masih belum di bacanya. Ia kemudian mengirim sebuah pesan lagi.


[Del, aku menemani Bintang sebentar. Orang tuanya sedang pulang dulu.] Terkirim.

__ADS_1


Jayden iseng scroll di laman berita. Matanya membulat ketika melihat berita tentang Bintang di sana. Bukan tentang video pernyataannya. Tapi tentang beredarnya video Bintang yang sedang melakukan aktivitas seksual.


Jayden membaca judul berita tersebut.


VIRAL!!! VIDEO SYUR ARTIS BERINISIAL “B” BEREDAR DI SOSMED. DAVE : DIA DEPRESI, HAMIL TAPI TIDAK TAHU AYAH DARI ANAKNYA SIAPA. DIA MEMANG SUKA BERHUBUNGAN DENGAN SANA-SINI.


Setelah scroll sana-sini, Jayden menemukan link video tersebut. Benar saja, wanita dalam video tersebut adalah Bintang. Tapi, ia tidak bisa melihat siapa pria yang bersamanya. Setidaknya, ada 4 video Bintang yang ia lihat. Mungkin sebenarnya lebih dari itu.


“Apa yang kamu lihat Jay?” Suara lirih Bintang mengejutkan Jayden.


“Bu-bukan apa-apa Bi,” jawab Jayden gugup.


Melihat kegugupan Jayden, Bintang semakin penasaran. “Berikan hape kamu, Jay.”


Jayden menggeleng. “Bukan apa-apa Bi, istirahatlah.”


Bukannya menurut, Bintang malah duduk dan mengukurkan tangannya untuk mengambil ponsel Jayden.


Jayden berkelit. Ia sontak berdiri dan menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya.


“Jay, sikap kamu ini malah bikin aku tambah penasaran. Berikan hape kamu Jay, aku mau melihatnya. Kalau enggak, aku mau tarik selang infus ini dan ambil sendiri ke sana.”


“Jangan bersikap bodoh Bi.”


Tangan Bintang bergerak untuk menarik selang infus. Jayden panik. “Oke ... Oke ... Akan aku tunjukkan. Tapi please, jangan berbuat nekat.”


Jayden akhirnya menyerahkan ponselnya ke arah Bintang.


Bintang melihat berita tentang dirinya. Hatinya semakin terluka saja. Ia sungguh merasa hina karena tentunya bukan Jayden saja yang dapat melihat video itu. Bahkan semua orang bisa melihat tubuh polosnya dengan cuma-cuma. Mereka bisa melihat bagian intimnya yang harusnya menjadi privasi baginya. Sungguh memalukan!


“Aaaarrrgghhh ...!” Bintang berteriak. Ia membanting tiang infus di sisi kanannya hingga terjatuh. Selang yang terhubung dengan tangannya terlepas, membuat luka baru di sana. Tidak sampai di sana, Bintang melempar segala barang yang bisa ia capai dan melemparnya. Ia seperti orang yang kesurupan saja.


Jayden yang melihatnya menjadi panik. Ia mencoba menenangkan Bintang tapi gagal. Ia akhirnya membawa Bintang ke dalam pelukannya.


Awalnya Bintang terus meronta, tapi lama-kelamaan amarah itu berubah menjadi isak tangis yang begitu pilu. Tenaganya melemah. Wanita dalam pelukan Jayden itu sudah berhenti meronta, hanya tinggal isakan saja yang terdengar.


Ceklek. Pintu terbuka. Sepasang netra menatap keadaan di depan matanya dengan ekspresi yang sulit digambarkan.


 

__ADS_1


__ADS_2