Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Lamaran


__ADS_3

Wanita paruh baya tersebut mengangkat kepalanya perlahan. Ia memberanikan diri untuk memandang wajah itu.


“Kau ....”


“Kalian saling mengenal?” tanya Resa memandang ibunya dan Jayden bergantian.


Tanpa di duga, wanita paruh baya yang sedari tadi hanya bisa menatap Jayden memberanikan diri untuk mendekat. Bukan untuk berbincang, bukan juga untuk memeluk. Tapi untuk bersimpuh di bawah kakinya.


Jayden sudah akan mundur, tapi kedua tangan wanita paruh baya itu mencekalnya.


“Nak, maafin tante.”


Delia dan Resa memandang interaksi keduanya dengan bingung. Apa yang terjadi.


“Jay kamu mengenalnya?” tanya Delia.


“Dia adalah wanita yang telah melemparkanku ke jalan!” jawab Jayden dengan sedikit tekanan.


Kilasan masa lalu menghampiri ingatan Jayden.


Saat itu ia sedang berduka karena kedua orang tua angkatnya baru saja meninggal satu hari sebelumnya. Tiba-tiba datang sepasang suami istri dengan dua orang anak perempuan ke sana. Si sulung yang baru berusia sekitar 4 tahun, dan satu lagi sekitar dua tahun. Sementara si istri yang terlihat sedang hamil besar.


“Kamu, tinggalkan rumah kakak saya!” Si pria berbicara tanpa basa-basi.


“Tapi saya harus ke mana Om?” tanya Jayden remaja.


“Terserah! Kakakku mengambilmu dari jalanan, kamu bisa kembali ke sana!” sentaknya tidak berperasaan.


“Tapi Om—“


“Sri, seret anak itu keluar!” titahnya pada wanita hamil di sampingnya.


“Om, ini rumahku, tidak ada yang boleh mengusir aku dari sini!” Jayden remaja berdiri tegak, berusaha mempertahankan haknya.


“Kamu hanyalah anak angkat, sedangkan aku adik kandungnya! Siapa yang lebih berhak mewarisi harta kakakku.” Lelaki bengis itu menatap kembali ke arah istrinya. “Sri, kenapa kamu diam saja? Seret anak itu keluar!”


Kedua anak perempuan yang bersamanya bersembunyi di balik punggung ibunya. Mereka takut karena ayahnya berbicara begitu kasar.


“Tunggu! Saya akan pergi. Tapi biarkan saya membawa barang-barang saya,” putus Jayden yang saat itu masih bernama Jayadi.


“Bawalah! Tapi tidak dengan ATM, mobil, dan uang kakakku.”


Itulah hari terakhir Jayden menginjakkan kakinya di sana. Ia kehilangan orang tua yang sangat menyayanginya, yang menganggapnya sebagai anak sendiri. Juga di waktu yang bersamaan, ia harus kehilangan kenangan tentang mereka. Tidak banyak barang yang Jayden bawa saat itu, sebagian besar hanya keperluannya untuk sekolah.

__ADS_1


Sebelum pergi, pria itu melemparkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke arah Jayden. “Ini sebagai belas kasihku! Berterima kasih lah!” ucapnya seolah telah memberikan sesuatu yang sangat besar.


“Terima kasih,” ucap Jayden lirih. Kemudian ia pergi dari sana.


Tepukan di bahu Jayden menyadarkannya dari lamunan. Delia mengingatkan kalau tidak seharusnya ia membiarkan seorang ibu terus bersimpuh di kakinya. Beberapa karyawan bahkan menontonnya.


“Bangunlah!” titah Jayden.


“Tante tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan Tante, Nak.”  Wanita itu menolak.


“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu tidak bangun!” ucap Jayden dingin.


Resa yang mendapat kode dari Delia segera membantu ibunya untuk bangun. Jayden sendiri segera berbalik menuju ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke ruangannya. Ia meninggalkan tiga wanita lainnya yang masih berdiri di tempat semula.


“Saya akan coba bicara pada Jay. Resa, bawa ibu kamu pulang dulu.”


“Iya kak.”


Resa bersama ibunya pergi, sementara Delia masuk ke dalam lift berikutnya untuk menyusul Jayden. Para karyawan membubarkan diri. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terakhir yang mereka dengar bahwa wanita tadi adalah orang yang telah melemparkan bos barunya itu ke jalan.


Banyak spekulasi bermunculan. Ada yang mengatakan mungkin itu ibu tirinya Jayden. Ada pula yang mengatakan kalau itu mungkin ibu kosnya Jayden saat masih remaja. Jayden telat membayar kos hingga diusir. Entahlah, semuanya masih terasa gelap untuk diraba.


“Jay, kamu meninggalkanku?” Delia muncul di balik pintu, usai sebelumnya menanyakan ruangan Jayden kepada salah satu karyawan di sana.


“Jay, berbagilah jika itu bisa membuatmu lebih baik,” ucap Delia.


“Dia adalah wanita itu Del. Wanita yang telah mengusirku dari rumahku! Rumah orang tua angkatku!” ucap Jayden setelah merenggangkan pelukannya.


“Kamu masih menyimpan dendam padanya Jay?”


“Aku tidak akan pernah melupakan perbuatannya dan suaminya Del!” ucap Jay serius.


“Jay, menyimpan dendam hanya akan mengotori hati kamu sendiri Jay.”


“Aku tidak dendam Del.” Jayden berbalik ke arah jendela. Melihat pemandangan gedung-gedung perkantoran dari sana. “Aku hanya tidak bisa melupakannya.”


Delia mendekat ke arah Jayden, dan memeluknya dari belakang. “Aku mengerti Jay. Tapi cobalah untuk melihat dari sisi lainnya. Bukankah secara tidak langsung mereka yang mempertemukan kita? Coba kamu pikir. Setelah kamu diusir, kamu harus bekerja untuk biaya hidup dan biaya sekolah kamu. Kamu bekerja sebagai penyanyi cafe, dan di sanalah kita bertemu.”


Jayden berbalik menatap Delia.


“Anggap saja aku adalah hadiah dari segala kesedihan kamu. Kamu tidak menyukai hadiahnya?”


Jayden mendekat ke arah Delia. Ia mengikis jarak di antara mereka. Delia menyambutnya dengan memejamkan mata. Bibir itu bertemu, setelah sekian lama. Tangan Delia melingkar di leher Jayden. Sementara tangan kanan Jayden sudah berada di punggung Delia, sedangkan tangan kirinya menahan kepala Delia agar memperdalam cium an mereka.

__ADS_1


Tinggal beberapa detik lagi menuju dua menit, cium an itu terputus. Keduanya tampak terengah-engah. Ingin melakukan lebih, tapi tidak bisa.


“Selepas meeting, aku akan mengantarkanmu pulang,” ucap Jayden, “aku akan melamar kamu,” lanjutnya.


Delia mengangguk.


“Tunggulah di sini, aku akan segera kembali.” Jayden keluar dari ruangannya. Ia tidak mau terjadi hal yang iya-iya jika terus berada bersama Delia. Ia harus menyelesaikan meetingnya hari ini. Sebuah kontrak besar yang akan ia tandatangani.


Delia tersenyum mengingat cium an singkatnya itu. Ia memutuskan untuk duduk di kursi Jayden. Ia tersenyum melihat fotonya di sana. Ia mengambilnya.


“Terima kasih karena sudah menjaga hati kamu tetap untukku Jay.”


***


“Terima kasih karena sudah memberikan saya waktu Pak, Bu,” ucap Jayden. Ia kini tengah duduk di ruang tamu kediaman Arga Wijaya. Di hadapannya sudah ada kedua orang tua Delia. Juga Delia dan Farel di sisi kiri dan kanannya.


Sebenarnya Jayden agak sedikit takut melihat keberadaan Farel di sana. Bukan takut pada perawakannya, tapi takut pemuda itu akan merusak acara sakralnya. Ya! Baginya ini adalah acara sakral. Ia bahkan mengenakan setelah jas lengkap dengan dasi ketika datang ke rumah Delia. Delia sudah mengatakan agar memakai pakaian biasa saja, tapi Jayden bersikukuh dengan pilihannya. Namun ia cukup malu ketika datang ke sana seperti orang yang salah kostum. Kedua orang tua Delia memakai pakaian rumahan. Pun dengan Farel. Sementara Delia masih memakai pakaian yang sama seperti tadi pagi ia kenakan.


“Langsung saja pada tujuan saya. Saya ke sini untuk melamar putri bapak dan ibu. Maaf saya datang sendiri, karena saya tidak mempunyai siapa-siapa untuk saya ajak. Tapi itu tidak mengurangi keseriusan saya pada tujuan saya.


“Saya serius pada putri Bapak dan Ibu, saya mencintainya. Saya ingin menikahinya. Saya harap Bapak dan Ibu memberikan kami restu.”


“Pppffftttt ... Hahahahaha ....” Suara tawa terdengar. Benar saja, yang Jayden takutkan terjadi. Farel merusak acara sakralnya. Ia bahkan terus tertawa hingga Arga melotot pada pemuda itu.


Farel yang tidak bisa berhenti tertawa memilih untuk pergi dari sana. Meninggalkan kecanggungan yang Jayden rasa. Kata-kata yang sudah ia susun menjadi berantakan karena ulah Farel.


Awas saja kamu bocah. Nanti kalau aku sudah menjadi kakak ipar kamu secara sah, aku akan tertawa di hari lamaran kamu! Batin Jayden.


“Ehem!” Arga berdehem sebelum mulai berucap. “Sebelum saya memberi restu, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada putri saya, apakah dia mau menikah denganmu atau tidak.” Arga menoleh ke arah Delia. Yang di tatap tampak bersemu. “Ayo jawab Del.”


Semuanya menoleh ke arah Delia.


“Papa, kenapa hal itu  masih dipertanyakan,” ucap Delia malu-malu.


“Ya siapa tahu di London kamu bertemu laki-laki yang bisa menggantikan Jay,” ledek Arga yang entah sejak kapan mempunyai selera humor.


“Papa ....” Delia lalu menoleh ke arah Jayden. “Tidak Jay, aku di sana buat belajar, bukan mencari laki-laki lain. Cinta aku tetap buat kamu seorang.”


Arga dan Farida tertawa mendengar ucapan putri mereka. Sedangkan Jayden menunduk malu.


“Kamu dengar sendiri Jay, itu adalah jawaban kami,” ucap Arga ketika tawanya terhenti, “tapi, ada sesuatu yang saya minta darimu, dan kamu harus memenuhinya,” lanjutnya.


“Apa?”

__ADS_1


__ADS_2