Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Diakui atau Dicintai?


__ADS_3

“Jay ... Bangun Jay ....” Delia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih terlelap.


“Bentar lagi sayang,” jawab Jayden seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Delia.


Delia memencet hidung Jayden karena suaminya itu tidak mau bangun juga. Merasa sulit bernafas, akhirnya Jayden terbangun.


“Kamu mau aku mati Del?” tanya Jayden seraya duduk di atas tempat tidur mereka.


“Justru kita akan mati bersama kalau kamu masih ada di sini sekarang,” ucap Delia, “sebentar lagi kamu akan syuting, cepat pergi sana,” usirnya.


“Oke ... Oke ....” Jayden sudah beranjak ke kamar mandi.


“Eh ... Eh ... Mau ke mana?” tanya Delia.


“Mandi lah, kan katanya aku harus syuting.”


“Gak usah mandi, biarin aja kayak gitu. Kamu gak baca skrip?”


Jayden berhenti melangkah, dan sepenuhnya menghadap Delia. Wajahnya masih terlihat bingung, belum pulih benar kesadarannya.


“Hari ini Bintang mau kasih surprise sarapan buat kamu.”


“Ah ya!” Jayden kini sepenuhnya sadar.


Tepat ketika Jayden akan membuka pintu, sudah ada Bintang di sana. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu.


“Kirain belum bangun,” ucap Bintang seraya menurunkan tangannya yang sempat menggantung di udara, “yuk briefing sebentar,” lanjutnya.


Jayden mengangguk, lalu berjalan mendahului Bintang.


Bintang sedikit melongok ke dalam kamar Delia. Ia melihat Delia tengah mengancingkan baju tidur bagian atasnya. Hatinya kembali bergejolak membayangkan apa yang telah mereka lakukan. Tempat tidur yang kusut mengatakan betapa panasnya malam yang mereka lalui.


Pandangan Bintang selanjutnya beralih pada sebuah foto berbingkai besar yang tergantung di atas kepala tempat tidur Delia. Itu ... Foto pernikahan Jayden dan Delia! Tapi kenapa backroundnya sangat mirip dengan backround pernikahannya?


Bintang tengah mematung di depan pintu ketika Delia mendekat.


“Maaf, aku mau mandi,” ucap Delia seraya menutup pintu kamarnya.


Pintu kamar Delia sudah tertutup. Menghalangi segala pandangan Bintang ke arahnya. Ia kemudian berjalan menyusul Jayden dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam hatinya.


Bagas sudah berada di dapur rumah Jayden. Melihat kesiapan lokasi syuting hari ini.


“Jadi skenarionya adalah, Bintang bikin sarapan pertama buat Jay, lalu membawanya ke kamar, di mana Jayden masih tertidur.” Bagas memberikan pengarahannya.


Setelah semua siap, syuting pun di mulai. Menu yang Bintang Masak hari ini adalah nasi goreng spesial yang bahan-bahannya sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga mereka, mbak Rani.


Sesuai script, Bintang membawa hasil masakannya ke lantai dua. Masuk ke kamarnya di mana Jayden masih tertidur di sana. Atau setidaknya pura-pura tertidur. Kamera menyorot muka bantal Jayden yang masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek.


“Selamat pagi suamiku,” ucap Bintang dengan senyum cerianya.


Jayden tersenyum, kemudian duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.


“Aku bikinin sarapan buat kamu, cobain deh.” Bintang menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulut Jayden. Dan Jayden pun mengunyahnya.

__ADS_1


“Gimana, enak gak?” tanya Bintang.


Jayden mengangguk-anggukkan kepalanya seraya mengacungkan dua buah jempol.


“Mandi gih kita sarapan bersama,” titah Bintang.


Jayden mengiyakan titah Bintang. Ia segera beranjak pergi ke kamar mandi. Kamera pun di matikan, menunggu Jayden selesai dengan urusannya.


Tempat syuting selanjutnya adalah balkon kamar mereka. Di mana ada adegan sarapan bersama. Jayden dan Bintang saling suap-suapan layaknya dunia hanya milik mereka saja.


Acara 'Ketulusan Cinta Jayden dan Bintang' bukan acara kejar tayang yang disiarkan setiap hari, tapi hanya satu kali dalam satu minggu, yaitu setiap minggu pagi. Walaupun belum tayang, tapi sudah banyak pemirsa yang menunggunya.


Syuting telah dinyatakan selesai. Para kru yang bertugas sarapan bersama di taman belakang rumah Jayden, di samping kolam renang, kecuali Bagas.


Beberapa saat yang lalu, saat para kru turun ke bawah, mereka berpapasan dengan Delia yang tengah menyantap sarapannya di meja makan. Bagas mempertanyakan siapa Delia kepada Jayden.


“Siapa Jay?” tanya Bagas.


“Asisten pribadi aku,” jawab Jayden, “yang memenuhi semua kebutuhan pribadiku,” lanjut Jayden dalam hati.


“Cantik,” ucap Bagas yang mendapatkan tatapan tajam dari Jayden. Ia tidak suka ada yang mengusik miliknya. “Siapa namanya?” tanyanya.


“Delia,” jawab Jayden singkat.


Setelah mempertanyakan siapa Delia, Bagas memilih untuk sarapan bersama Delia daripada bersama dengan para kru lainnya. Awalnya Delia merasa risih, tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya saja.


“Delia ya? Kenalin, aku Bagas,” ucap Bagas berbasa-basi.


Pria berusia 30an itu tersenyum puas saat Delia menyambut uluran tangannya. Tidak lama, hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat jantung Jayden berdebar.


“Mau apa sih Jay?” tanya Bagas.


“Makan,” jawab Jayden ketus.


“Lagi?” Bagas tidak percaya.


“Memang gak boleh aku laper lagi?” Jayden balik bertanya seraya menyendokkan nasi goreng ke piringnya.


Delia menahan tawa menyaksikan wajah cemburu Jayden.


“Kamu itu artis Jay, harus jaga tubuh kamu biar tetap proporsional.”


Jayden tidak menggubris omongan Bagas, ia melahap makanannya segera walaupun perutnya sudah terasa penuh.


Akhirnya mereka bertiga menghabiskan makanan mereka dengan duduk saling berdempetan.


Tak jauh dari mereka, Bintang berdiri menatap tajam ke arah tiga orang yang duduk di meja makan. Melihat kekonyolan Jayden, Bintang tahu kalau suaminya tersebut tidak suka Bagas mendekati Delia. Tapi ia sudah memikirkan sebuah rencana. Jika berhasil, ia akan menjauhkan Delia, dan menjadi istri Jayden satu-satunya.


“Aku sebenarnya ingin membuat acara perjalanan bulan madu kalian, tapi mas Dave bilang kalian lagi mempersiapkan launching album terbaru kalian ya?” tanya Bagas.


Jayden mengangguk.


“Nah, aku berpikir bagaimana kalau kita take saat perjalanan tour kalian. Anggap aja lagi bulan madu.”

__ADS_1


“Mas obrolin aja sama si bos,” jawab Jayden. Bos yang ia maksud adalah Dave.


Bagas mengangguk-anggukan kepalanya berulang-ulang.


Bagas dan para kru lainnya pergi meninggalkan kediaman Jayden saat matahari mulai meninggi. Memberikan sedikit privasi kepada pemilik rumah untuk beraktivitas tanpa adanya sorot kamera.


Jayden berjalan cepat menyusul Delia yang sudah berjalan di tangga. Ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya yang harus ia ungkapkan sekarang juga.


“Del tunggu!” panggil Jayden.


Delia berhenti berjalan, lalu berbalik.


“Lain kali jangan seperti itu,” ucap Jayden ketika sampai di hadapan istrinya tersebut.


“Seperti itu apa?” tanya Delia.


“Deket-deket sama Bagas! Aku cemburu!”


“Bukan aku yang deketin mas Bagas, dia yang nyamperin aku waktu aku lagi makan.”


“Dia deketin kamu karena kamu cantik.”


“Lalu?”


“Jangan berpenampilan cantik lagi di hadapan orang lain.”


“Apa? Aku bahkan tidak menggunakan make up?”


“Kamu kan bisa begini, atau begini.” Jayden mengacak rambut Delia, kemudian menarik kedua pipinya. “Oh ****! Kenapa kamu malah terlihat semakin menggemaskan!”


Delia mengaduh, mengusap-usap pipinya yang di tarik Jayden.


“Uh, sakit ya sayang, maaf. Aku ... Aku tadi sedang cemburu.” Jayden ikut mengusap-usap pipi Delia, lalu mengecupnya singkat. “Udah gak sakit lagi kan?”


Delia memberenggut, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, “tidak semudah itu Jay!”


“Lalu bagaimana?”


“Sini aku bisikin.”


Jayden mendekatkan telinganya ke depan wajah Delia, namun bukan sebuah kata yang ia dapatkan, tapi sebuah gigitan di telinganya. Ia mengaduh seketika.


Delia berlari ke atas, dan Jayden mengejarnya. “Hei! Berhenti! Kamu berani mengigitku! Awas ya, aku makan kamu!”


Delia tertawa mendengar umpatan Jayden. Ia bahkan menyempatkan diri menjulurkan lidah ke arah suaminya tersebut.


Sementara itu Bintang yang sedari tadi menonton pertunjukan itu menghela nafas panjang setelah melihat Delia dan Jayden menghilang di balik pintu kamar Delia. Ia sudah akan berjalan kembali ketika matanya bertatapan dengan mbak Rani yang ternyata juga menonton adegan romantis kedua majikannya.


“Bikinin aku jus stroberi mbak,” titah Delia, “dan bawakan ke kamarku,” lanjutnya.


“Baik non,” jawab Rani. Ia pun segera masuk ke dapur untuk memenuhi titah majikan ketiganya.


“Kenapa Ran?” tanya Ela, asisten rumah tangga yang lainnya.

__ADS_1


“Aku bingung El, sebenarnya lebih baik jadi istri yang diakui, atau dicintai ya?”


__ADS_2