
Jayden sedang terlelap ketika pendengarannya terganggu karena suara deringan ponsel yang tidak berhenti. Ia baru tiba di rumah jam 2 dini hari. Waktu menunjukkan jam 8 pagi, ia masih sangat mengantuk.
“Halo.” Akhirnya Jayden memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Jay, sorry ganggu,” ucap seseorang di seberang sana, “aku sedang di dokter kandungan saat ini, tapi buku kontrol kehamilannya tertinggal di kamar. Bisa tolong ambilkan? Dan tolong juga kirimkan ke sini. Pakai ojol aja kalau kamu mau lanjut tidur.”
“Hemmm.”
“Jay, kamu mendengarkanku?”
“Siapa ini?”
Bintang berdecak kesal. Dari tadi ia bicara panjang lebar ternyata orang yang diajak bicara belum sepenuhnya sadar.
“Jay, buku kontrol kehamilan aku tertinggal di kamar, tolong kirim ke rumah sakit via ojek online!” ucap Bintang sedikit berteriak.
“Kenapa kamu berteriak? Kamu pikir aku tuli?!” Jayden langsung bangun dan terduduk.
“Maaf Jay, kamu sudah bangun sekarang?”
“Hemmm.”
“Jay ... Buku kontrol—“
“Aku sudah mendengarnya!” potong Jayden, “tunggu saja.”
“Tapi Jay ....”
Sambungan terputus sebelum Bintang melanjutkan kalimatnya.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Jayden.
[Dokter kandungan aku pindah praktek] dari Bintang. Ia juga menuliskan nama rumah sakit beserta alamatnya.
Jayden bangun dengan malas. Ia masuk ke kamar Bintang dan mencari buku yang di maksud. Dalam sekali sapuan, netra Jayden menemukan keberadaan benda yang di cari.
Jayden sudah akan keluar saat ia mendengar suara getaran ponsel yang berasal dari laci nakas yang sama. Perlahan ia membukanya. Sebuah smart phone tergeletak di sana.
Jayden mengambil ponsel tersebut. Ada sebuah panggilan masuk dari kontak yang diberi nama 'Mimin'. Ragu, Jayden mengangkat panggilan tersebut.
“Hai cyiiin, gimana kabarnya? Udah lama nih gak ngasih bahan gosip buat eyke. Dese gak punya foto-foto bagus lagi kah?” orang di seberang sana langsung bicara tanpa memberi salam.
Jayden melihat layar ponselnya. kemudian mematikan sambungan telepon. Saat ini ia begitu penasaran akan sosok pemilik ponsel itu. Akhirnya ia memutuskan untuk membukanya. Beruntung baginya karena ponsel itu tidak di kunci layar.
Hal pertama yang Jayden lakukan adalah membuka aplikasi chat. Ia kecewa karena tidak ada apa-apa di sana. Lalu ia membuka galeri, ternyata kosong juga. Lalu ia membuka instagram. Sebuah akun dengan gambar bunga mawar sebagai foto profilnya terpampang di sana. Akun fake yang hanya memfollow satu buah akun. Akun gosip!
__ADS_1
Jayden membuka histori direct messege yang dikirim pemilik akun mawar kepada pemilik akun gosip. Jayden terbelalak melihatnya. Foto dirinya bersama dengan Delia saat di Bali dikirim oleh si mawar pada admin akun gosip.
Selain itu, di dalam pesan tersebut, Mawar dan admin akun gosip itu juga saling bertukar nomor ponsel. Mawar berjanji akan mengirimkan foto-foto terbaru untuk bahan gosip mereka. Dan nomor yang tercantum di sana adalah nomor yang sama, yang baru saja menelepon.
Melihatnya, Jayden menarik kesimpulan kalau kontak bernama 'Mimin' itu adalah admin akun gosip yang tempo hari memposting fotonya di instagram.
Hape siapa ini? Apakah ini milik Bintang? Kalau iya, berarti semua akar permasalahan ini berasal dari Bintang. Aku harus meminta penjelasan darinya!. Batin Jayden.
Tangan Jayden sudah terulur untuk menutup kembali laci nakas saat netranya menangkap sesuatu dari dalam sana. Dengan ragu, Jayden mengambil benda tersebut. Wajahnya sendu melihat kalung berliontin burung angsa ditangannya.
“Bukankah ini kalung yang aku cari waktu itu? Kenapa ada di kamar Bintang?” Jayden bermonolog.
Hati Jayden sungguh ingin berpositif thingking pada Bintang. Tapi hal-hal yang ia lihat sangat bisa membuktikan kalau Bintang yang menjadi dalang dari semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya.
Tiba-tiba Jayden teringat kejadian saat syuting jalan pagi waktu itu. Dalam skenario, Bintang akan mengidam martabak telor yang melintas di sana. Lalu Bintang mengambil uang dari saku celana Jayden untuk membeli jajanan tersebut. Jayden yakin, saat itu bukan hanya uang yang Bintang ambil, tapi juga kalung milik Delia.
Jayden mencengkeram kalung tersebut dalam genggamannya. Buku-buku jarinya memutih. Sayap liontin burung angsa menusuk telapak tangannya hingga berbekas. Jayden tidak peduli! Ia sungguh marah saat ini.
Tanpa berganti pakaian, Jayden segera menuju ke mobilnya untuk menuju ke rumah sakit. Ia tidak bisa menundanya lagi. Ia ingin segera mendengar jawaban apa yang Bintang ucapkan atas segala pertanyaannya.
Berbeda halnya dengan Jayden yang bermuka masam, Bintang terlihat tersenyum cerah saat melihat kedatangan Jayden. Ia segera mengeluarkan ponselnya, dan membuka aplikasi instagram. Ia melakukan video siaran langsung di sana.
“Hai guys ... Hari ini aku mau berkunjung ke dokter kandungan, lihat dedek bayi. Tapi buku kontrolnya ketinggalan. Untung aja suami aku siaga. Dia bela-belaiin dateng, padahal baru pulang dini hari tadi. Kalian mau liat muka bantal Jay?” Bintang mengucapkan kalimat pembuka pada live streamingnya, kemudian menyimpan ponselnya dan menyandarkannya pada kursi, sementara layarnya mengarah ke arah datangnya Jayden.
“Jay, kamu seharusnya tidak perlu datang, aku kan sudah bilang, kamu bisa mengirimnya pake ojek online.” Bintang sontak berdiri menghampiri Jayden, agar kamera bisa pas mengarah pada mereka.
Bintang menatap bola mata Jayden yang memerah. Bukan karena kurang tidur, tapi karena amarah.
“Jay ...,” ucap Bintang lirih. “Jay, apa pun yang kamu lihat, itu semua hanya salah paham. Aku bisa menjelaskannya.”
“Kalau begitu, jelaskan!”
“Aku ... Itu ....”
“Bicara yang jelas Bintang! Aku menunggu!” Jayden berbicara agak keras. Ia tidak memedulikan lingkungan sekitarnya.
“Jay, tolong jangan membuat keributan. Kita bicarakan ini baik-baik.”
“Aku mendengarkan.”
“Hape ini memang punya aku ... Aku menggunakannya untuk berhubungan dengan fans club aku. Supaya gak mengganggu nomor utama aku.”
“Bukan untuk menghubungi admin akun gosip dan menyebarkan foto aku dan Delia?” sindir Jayden.
“Jay ... Itu ....”
__ADS_1
Jayden mengangkat tangannya, meminta Bintang untuk berhenti berbicara. Ia terganggu dengan getaran ponsel Bintang yang masih ia pegang. Ada beberapa akun yang men-tag Mawar dalam sebuah postingan di instagram.
Jayden men-scroll terus komentar-komentar dalam foto Delia yang diunggah akun gosip itu, sampai menemukan komen dari akun Mawar di sana.
[Gas kita lempari tomat busuk sama si pelakor itu. Yang mau ikut dm! #savejaydenbintang] begitulah komentar dari akun Mawar dalam postingan tersebut.
Jayden mengangkat kepalanya. Amarahnya sudah naik ke ubun-ubun. Matanya menatap tajam ke arah Bintang.
“Jay ...”
Prang ... Ponsel di tangan Jayden sudah berpindah tempat ke lantai dingin rumah sakit dengan keadaan hancur berkeping-keping.
Jayden melangkah mendekat ke arah Bintang, “beraninya kamu melukai istriku!” teriaknya.
Bintang mundur selangkah. Ia begitu takut melihat amarah Jayden.
“Kamu tahu betul bagaimana aku mencintai Delia! Beraninya kamu melukainya!”
“Jay ... Aku tidak bermaksud seperti itu ... Aku hanya mengajak mereka melempari tomat busuk, bukan batu.” Takut-takut, Bintang masih mencoba membela diri.
“Dan kamu menyebut istriku apa? Pelakor! Padahal kamu tahu betul hubungan kita seperti apa Bintang! Atau kamu lupa? Perlu aku ingatkan? Kita menikah karena kontrak kerja sialan itu! Kamu tahu betul kalau hanya Delia yang ada di hati aku! Kenapa kamu melakukan ini Bintang?!”
Bintang mulai menitikkan air mata.
“Aku bahkan rela mengakui anak dalam kandungan kamu itu sebagai anakku. Tapi apa yang kamu lakukan? Aku benar-benar tidak percaya ada wanita serendah kamu!” Jayden mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Bintang.
“Dan satu lagi.” Jayden mengeluarkan kalung milik Delia dari dalam saku celananya. “Kamu tahu betul arti kalung ini bagi aku, Bintang. Aku mencarinya sampai hujan-hujanan malam hari. Kenapa kamu menyembunyikannya?!”
Bintang tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Jayden memijat kepalanya yang mulai terasa sakit. Ia mengedarkan pandangannya. Ternyata ia tengah menjadi tontonan di sana.
Tidak ingin lebih lama menjadi tontonan, Jayden berbalik dan pergi dari sana. Namun baru saja dua langkah, Bintang berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang.
“Maafkan aku Jay, maafkan aku,” ucap Bintang, “aku tahu aku salah, aku minta maaf. Aku melakukan semua ini karena aku mencintai kamu. Aku ingin, kamu hanya menjadi milikku.”
“Lepas, Bi!” ucap Jayden lirih.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memaafkanku!” Bintang masih memeluk Jayden dengan erat.
“Lepaskan aku kalau kamu mau berhenti menjadi tontonan orang-orang!”
Bintang mengendurkan pelukannya. Ia melihat sekeliling. Orang-orang sedang melihat ke arah mereka. Tapi, alih-alih marah, Bintang malah memaki mereka.
“Apa lihat-lihat! Tidak pernah melihat suami istri bertengkar?!” orang-orang satu persatu membubarkan diri. Pun dengan Jayden. Ia menggunakan kesempatan lengahnya Bintang untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Semoga saja tidak ada yang memvideo kejadian tadi. Batin Bintang. Kamera? Bintang berbalik. Sial! Video siaran langsung itu masih berlangsung!