
Jayden dan Delia kembali ke ruangan Bintang untuk menjemput Farel pulang, sekaligus melihat apa orang tua Bintang sudah kembali atau belum. Belum diputuskan apa yang akan Delia lakukan terhadap Bintang.
Sementara Farel menghabiskan waktunya dengan mencari tahu lebih banyak mengenai Bintang. Dari internet, ia tahu kalau Bintang adalah artis yang cukup terkenal di negaranya. Dan satu fakta lagi yang ia ketahui, ternyata Bintang sempat menikah dengan Jayden. Pernikahannya begitu mewah. Selain itu, Berita perselingkuhan Jayden dan Delia pun tidak luput dari penglihatannya.
“Sebenernya ada apa sih ini?” gumam Farel seraya melihat ke arah Bintang.
Orang tua dan kakaknya selalu mengira kalau ia adalah anak kecil, untuk itulah pastinya mereka tidak memberi tahu semuanya kepada Farel. Tapi jejak digital selalu ada bukan?
Sepasang suami istri masuk ke ruangan Bintang. Mereka cukup terkejut dengan keberadaan pemuda imut yang duduk di samping putrinya tersebut. “Kamu siapa?” tanyanya.
Farel berdiri. “Saya Farel, anak kedua dari Arga Wijaya dan Farida Wijaya. Baru pulang dari London beberapa hari yang lalu.”
Subandi dan Meli saling pandang. Tidak tahu nama orang-orang yang pemuda itu sebutkan.
“Dengar, siapa pun kamu, tolong keluar dari ruangan ini. Dan tolong jangan sebarkan berita yang tidak-tidak tentang putri kami.” Subandi sudah memutuskan.
“Tapi, aku disuruh kakak untuk menjaganya sampai mereka kembali.”
“Kakak?”
Bersamaan dengan itu, masuklah dua sepasang suami istri lainnya ke sana. Jayden dan Delia.
“Bapak sama Ibu sudah kembali?” tanya Jayden.
Keduanya menoleh. Bukannya menjawab tanya Jayden, keduanya lebih fokus ke arah Delia. Meli berjalan mendekat ke arah Delia dan memeluknya penuh kehangatan.
“Ini kamu Delia?” Meli menilik penampilan Delia dari atas ke bawah.
“Iya, Bu,” jawab Delia, “Ibu apa kabar?” tanyanya.
“Ibu baik, apa yang terjadi Nak?”
“Delia mengalami kecelakaan mobil Bu, ada prosedur operasi yang mengharuskannya memotong rambut.” Jayden yang menjawab.
“Ya Tuhan ... Kok bisa?”
“Takdir Bu, saya kurang hati-hati,” jawab Delia.
“Oh iya Bu, dokter meminta Ibu sama Bapak untuk datang ke ruangannya. Katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan mengenai kondisi Bintang.” Jayden menyela.
Meli menatap Subandi yang juga tengah menatapnya. Lalu pandangannya beralih pada Jayden. “Ada apa Nak, apakah ada sesuatu yang serius?” tanyanya.
“Saya juga kurang tahu Bu, sebaiknya ibu segera ke sana.”
__ADS_1
“Biar Bapak yang ke sana Bu, Ibu temani saja Bintang. Sepertinya mereka juga harus pulang.” Pandangannya kemudian beralih pada Farel. “Dan kamu—“
“Dia adik saya Pak, Ayel. Maksud saya Farel,” potong Delia.
Subandi mengangguk, kemudian segera pergi dari sana. Tapi, baru saja dua detik berlalu, Subandi kembali. “Ruangan dokternya di mana ya?” tanya Subandi kepada semua orang di sana seraya menggaruk belakang kepalanya.
Jayden menoleh ke arah Delia, kemudian Delia mengangguk. “Biar saya antar Pak,” tawarnya.
Subandi kembali keluar, kini bersama dengan Jayden.
Beberapa saat berlalu. Bintang terbangun. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah cemas ibunya. “Ibu ...,” ucapnya lirih.
Meli langsung berdiri, mengulas senyum ke arah Putri semata wayangnya tersebut.
Pandangan Bintang beredar. Ia melihat Delia di sana, juga seorang pemuda yang tidak ia ketahui siapa. “Kamu di sini?” tanyanya pada Delia.
Delia melangkah mendekat ke arah Bintang. “Iya, Bi. Gimana keadaan kamu? Oh iya, kenalin, ini adik aku, Farel.” Delia memperkenalkan Farel pada Bintang.
“Gak usah sok peduli! Aku tahu kamu senang kan melihatku begini?!” sentak Bintang.
“Apa yang kamu bicarakan Bi, aku tidak seperti itu.” Delia bergerak untuk meraih tangan Bintang, namun Bintang segera menepisnya.
“Bintang, apa yang kamu lakukan?!” Meli mencoba menengahi.
“Bu, tolong bilang padanya, kalau aku gak mau dia ada di sini!” Dia yang Bintang maksud adalah Delia.
“Kamu lihat Del, semua yang aku miliki lebih menyayangimu dari pada aku. Ibuku terang-terangan membela kamu di depanku.” Bintang semakin terisak.
“Itu karena kamu salah Bintang, Ibu hanya—“
“Sudahlah Bu. Aku tahu Ibu pasti malu kan mempunyai anak sepertiku?” potong Bintang. “Dan kamu Del, tolong menjauh dari hidupku. Kamu tidak kekurangan sesuatu apa pun dalam hidupmu. Keluarga, harta, semuanya kamu punya. Tolong kembalikan hakku!”
“Hak apa?” tanya Delia bingung.
“Tinggalkan Jay, dan kembalikan padaku! Dia suamiku Del!”
Delia mundur dua langkah usai mendengar ucapan Bintang.
“Kamu mempunyai banyak hal dalam hidupmu. Aku hanya minta satu hal. Tolong kembalikan Jay padaku. Aku sangat mencintainya Del.”
Ketiga orang di sana hanya terdiam. Sedangkan Bintang tetap terisak.
***
__ADS_1
Delia pamit pulang bersama dengan Farel.
“Kak,” ucap Farel ketika mereka tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
“Jangan sekarang, Yel,” jawab Delia sambil terus berjalan.
“Kakak berhutang penjelasan padaku!” Farel berjalan mendahului Delia. Ia kini sudah berdiri di hadapan kakak kandungnya tersebut. “Kakak menangis?” Farel mengusap kedua pipi Delia yang basah.
“Tolong jangan beritahu Papa tentang semua ini Yel.”
“Oke ... Oke ... Tapi kakak harus menceritakan semuanya padaku.” Farel menjeda kalimatnya sejenak. “Apa kakak selingkuhan pria itu? Maksudnya apa kakak berkencan dengan pria beristri?” tanya Farel pelan.
“Apa yang kamu bicarakan Yel! Kakak bukan wanita seperti itu!” sentak Delia. “Kamu masih kecil, kamu tidak akan mengerti!”
“Kenapa kakak selalu menganggap aku masih kecil. Lihat, aku bahkan sekarang lebih tinggi dari kakak. Aku sudah lulus di universitas kak. Aku sudah dewasa!”
Delia melihat kesungguhan di kedua bola mata Farel.
“Sekarang katakan, apa yang sebenarnya terjadi!”
“Kakak dan Jay menikah siri. Papa menolak memberi restu karena saat itu Jay masih menjadi penyanyi cafe. Kakak pergi dari rumah.
“Suatu hari, sebuah manajemen artis menawari Jay bergabung dengan mereka. Tapi mereka memberi syarat kalau Jay tidak boleh menikah dalam kurun waktu dua tahun. Dan akhirnya pernikahan kami harus disembunyikan dari publik.
“Dalam perjalanannya, Jay diminta menikahi Bintang yang saat itu rekan duetnya. Dan akhirnya terjadilah seperti ini.” Delia mengakhiri ceritanya.
“Kenapa pria itu mau?”
“Keadaannya sulit saat itu Yel, Jay bisa dipenjara karena terbukti menyalahi kontrak.”
“Kalau aku jadi dia, aku lebih baik dipenjara sih. Kecuali kalau dianya juga suka sama wanita itu.”
Delia melirik ke arah Farel.
“Ya, wanita itu cantik, aku akui.”
“Jay bukan laki-laki seperti itu Yel.”
“Ya ... Ya ... Kalau udah cinta mati, terus aja di bela,” cibir Farel.
“Kakak serius Yel, bukan karena kakak cinta sama Jay. Ya memang kakak cinta, tapi pandangan kakak terhadap Jay bukan karena itu.” Delia menghadap ke arah Farel dan menatap pemuda imut yang sekarang lebih tinggi darinya. “Yel, Jay itu pria baik. Setelah mengenalnya, kamu akan tahu. Percayalah.”
“Oke ... Oke ... Sekarang bagaimana?”
__ADS_1
“Kita pulang. Biarkan Jay menemani Bintang sampai keadaannya stabil.”
“Baiklah, terserah kakak saja.”