
Jayden mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Bagas. Lebih baik ia meminta bantuan polisi besok siang. Tepat setelah 24 jam Delia hilang tanpa kabar.
Saat ini yang ada di pikiran Jayden adalah istrinya yang lain, Bintang. Walaupun tidak ada rasa cinta di hatinya, namun melihat wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu di jamah dua orang laki-laki sekaligus menjadi pukulan tersendiri baginya. Terlebih ia mengenal betul dua laki-laki tersebut.
Kepala Jayden berdenyut, menimbulkan rasa nyeri. Ia sampai harus memijatnya dengan sebelah tangannya yang tidak memegang setir mobil. Rasa mual itu kembali muncul ketika bayangan tiga orang manusia tanpa busana yang bergumul di atas kasur yang sama menari-nari di dalam kepalanya.
Jayden menekan klakson dengan tidak sabar saat sampai di depan gerbang rumahnya. Securitynya tampak terkejut. Mungkin ia baru saja ketiduran. Manusiawi memang.
Dengan langkah lebar, Jayden memasuki rumahnya. Tepat ketika ia akan menaiki tangga, suara mobil lain berhenti di halaman rumah mereka. Jayden yakin, itu adalah suara mobil Bintang.
Bintang berlari menyusul Jayden yang sudah sampai di ujung tangga. Ia bahkan memanggil nama Jayden agar suaminya itu berhenti. Mendengarkannya yang belum juga tahu akan berbicara apa.
“Jay! Tunggu!” ucap Bintang seraya menaiki anak tangga dengan cepat. Ia bahkan melemparkan high heelsnya agar memudahkannya berjalan.
“Kita bicara besok Bi, saat ini aku sedang emosi. Aku tidak mau mengeluarkan kata-kata atau bahkan berbuat sesuatu yang akan menyakiti kamu,” ucap Jayden tanpa menoleh ke arah Bintang.
“Kamu cemburu Jay?” tanya Bintang.
Jayden berbalik, “kenapa kamu berpikiran begitu?”
“Kalau tidak, kenapa kamu marah melihat aku bersama laki-laki lain?”
Jayden memijat pelipisnya sebelum menjawab. “Status kamu saat ini adalah istri aku Bintang! Menurut kamu bagaimana seorang laki-laki harus bersikap melihat istrinya di jamah dua laki-laki sekaligus di depan matanya sendiri?”
“Jadi bukan karena kamu cemburu?”
“Dengar, Bi, bagaimanapun hubungan kita, sebagai seorang istri seharusnya kamu bisa menjaga diri. Kenapa kamu melakukan hal menjijikkan itu Bi? Segitu inginnya kamu melakukan itu? Kamu menginginkan kepuasan yang tidak bisa aku berikan Bintang?”
“Kalau ia kenapa? Apa kamu tidak pernah berpikir kalau aku juga membutuhkannya Jay? Kamu egois! Melarang aku melakukannya dengan orang lain, tapi kamu sendiri tidak pernah memenuhi kewajiban kamu!”
“Oh, jadi benar gara-gara itu?! Baiklah. Sesuai yang kamu mau. Sekarang aku akan memenuhi kewajibanku. Buka baju kamu!” titah Jayden.
“Apa yang akan kamu lakukan Jay?”
“Kamu menginginkannya kan? Aku akan memberikannya. Buka baju kamu!” Jayden menarik paksa crop top yang Bintang kenakan hingga menimbulkan robekan pada bagian pundaknya.
__ADS_1
Jayden mendekat ke arah Bintang dengan bola mata yang menyala-nyala karena amarah. Sementara Bintang menjadi takut. Ia mundur beberapa langkah hingga kakinya membentur pegangan tangga.
“Jay, aku mohon, jangan seperti ini.”
“Kenapa bukannya kamu menginginkannya?”
“A-aku ... Bukan seperti ini yang aku inginkan Jay.”
Jayden lebih mendekat. Tepat ketika wajah mereka hanya berjarak 10 cm, Jayden memukul pegangan tangga dengan sangat keras. Jayden berteriak di depan wajah Bintang, menimbulkan Bintang tersentak kaget. Ia kemudian membalik tubuhnya kembali membelakangi Bintang.
“Kamu tahu Bi, kemarin malam Delia memintaku memperlakukan kamu seperti aku memperlakukannya. Dia menginginkan keadilan untukmu. Semalaman aku memikirkannya. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengiyakannya. Tapi, melihat kejadian hari ini, menurut kamu bagaimana Bi? Haruskah aku mengabulkan permintaan Delia atau tidak?”
“Jay ....” Lirih, Bintang berucap.
“Aku mulai setuju kalau pernikahan adalah sesuatu yang sakral, aku mulai memikirkan akan dosa. Tapi kenyataannya, bukan aku yang berkhianat, tapi kamu!” Jayden kembali berbalik ke arah Bintang, mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah istri keduanya tersebut.
“Kamu tidak mengerti Jay,” ucap Bintang lirih.
“Apa? Apa yang tidak aku mengerti?” tanya Jayden masih dengan nada tinggi.
Jayden bergeming, menunggu Bintang melanjutkan kalimatnya.
“Aku terlahir dari keluarga miskin, hidupku sangat sulit,” ucap Bintang, “menjadi artis adalah jalan tercepat untuk mendapatkan kekayaan dan popularitas. Aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau jika aku banyak uang, termasuk membahagiakan kedua orang tuaku,” lanjutnya.
“Tapi, untuk mendapatkan semua itu, aku harus mengorbankan sesuatu, kesucianku.”
Deg. Air muka Jayden berubah seketika.
“Dave datang padaku dan menawarkanku hal-hal yang aku impikan. Menjadi terkenal, banyak uang, dan segala macam hal indah yang tidak bisa aku dapatkan dari kedua orang tuaku. Aku tertarik, walaupun sebagai gantinya, aku harus merelakan tubuhku sendiri. Aku harus membiarkan Dave merenggut keperawananku.”
“Jay, hanya sedikit yang kamu tahu tentang dunia yang kita geluti ini. Banyak hal yang harus kita beli untuk masuk dan bertahan di dunia kita Jay.”
Jayden mengiyakan ucapan Bintang. Ia sendiri merasakannya. Bagaimana privasi dan kebebasannya harus ia gadaikan demi semua yang ia dapat saat ini.
“Pada saatnya, kita akan berada dalam posisi terjebak. Tidak mungkin mundur, tapi untuk maju, akan lebih banyak hal yang harus diberikan. Menurut kamu, aku senang dengan semua ini Jay?!” Bintang terlihat menitikkan air mata.
__ADS_1
“Apa orang tua kamu tahu tentang ini?” tanya Jayden lirih.
“Tentu saja tidak. Mereka berpikir aku sampai pada titik ini karena prestasi. Entah bagaimana jadinya kalau mereka—“ ucapan Bintang terhenti ketika melihat seseorang berdiri di bawah tangga melihat ke arahnya. “Ibu?”
Jayden ikut melihat ke bawah. Ibu kandung Bintang tengah berdiri di sana dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.
Bintang turun mendekat ke arah bawah, lalu berdiri di depan ibu yang telah melahirkannya ke dunia tersebut.
“Ibu ....”
Meli mengangkat tangannya, mencegah Bintang untuk melanjutkan ucapannya. “Sudah cukup kamu berbicara Bintang.”
Melihat tanggapan ibunya, Bintang yakin, ibunya itu sudah mendengar semuanya.
“Kenapa Ibu ada di sini?”
“Tadinya Ibu berpikir akan memberi kejutan di hari ulang tahunmu, tapi nyatanya kamu yang memberikan Ibu kejutan.” Bintang melirik ke arah meja makan, ada aneka macam hidangan tersaji di sana.
“Bu, maafkan Bintang, Bintang—“
“Ibu bilang cukup berbicara Bintang, sekarang, saatnya kamu mendengar,” potong Meli, “dengar Nak, tidak berdosa terlahir dan hidup sebagai orang miskin, asal kita tetap menjaga harga diri kita. Jika harga diri saja bisa kamu gadaikan, bahkan kamu jual, lantas apa yang kita punya? Harta hanya titipan, suatu saat akan diambil oleh pemilik sesungguhnya,” lanjutnya.
“Ibu sudah memutuskan. Ibu akan kembali ke rumah lama kita. Ibu akan kembali berjualan di terminal. Ibu tidak mau makan uang yang kamu dapatkan dengan jalan yang tidak baik. Jangan datang pada Ibu kalau kamu masih bergelung dalam dunia hitam kamu.”
“Bu ....”
Meli berjalan menuju ke pintu bertepatan dengan kedatangan Subandi dari arah sebaliknya. Pria paruh baya itu membawa sebuah kue dengan lilin menyala berbentuk angka 2 dan 3 di atasnya.
“Sela—“ Subandi baru saja akan mengucapkan kalimat 'selamat ulang tahun'.
“Kita pulang, Yah,” potong Meli.
“Ada apa ini Bu?” tanya Subandi tidak mengerti.
“Ibu jelaskan di rumah,” jawabnya, “oh iya, kita pulang ke rumah lama kita Yah,” lanjutnya.
__ADS_1
Subandi menyimpan kue ulang tahun Bintang di atas meja. Mereka kemudian pergi meninggalkan Bintang yang terduduk lemas di atas lantai.