
“Terima kasih,” ucap Jayden seraya menerima ponselnya dari tangan Bintang.
“Kenapa kamu melakukan ini, Jay?” Tanya Bintang.
Jayden menatap lekat bola mata Bintang. Hanya sejenak. Setelah itu, ia kembali berbalik membelakangi Bintang.
Jayden kembali teringat tadi pagi. Ia yang begitu bersemangat untuk bertemu dengan Delia, bahkan sudah standby di depan ruko Delia dari jam 7 pagi.
Saat itu ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang pria berbadan besar yang mengetuk-ketuk kaca mobilnya. Jayden awalnya terkejut, mengira ia tengah dibegal, namun setelah melihat dengan seksama wajah-wajah itu, Jayden akhirnya keluar.
“Ada apa?” tanya Jayden tanpa basa-basi.
Satu orang pria mendorong Jayden ke kursi belakang, dan satu orang lainnya mengemudikan mobil Jayden meninggalkan area tersebut.
“Hei, aku mau dibawa ke mana? Kalian mau menculikku?” tanya Jayden, namun kedua orang yang bersama dengannya tidak menggubris.
Mobil masuk ke halaman sebuah rumah mewah yang selama ini hanya bisa Jayden lihat luarnya saja. Lelaki berbadan besar yang duduk di samping Jayden menarik tangan Jayden ke luar, lalu mendorongnya hingga masuk ke sebuah ruangan yang ada di bawah tangga.
“Hei, perlakukan tamuku dengan hormat!” sebuah suara masuk indra pendengaran Jayden. Jayden mengamati pria itu. Tentu saja itu sang pemilik rumah, Arga Wijaya. “Maaf atas perlakuan kasar bodyguard saya” ucapnya pada Jayden.
“Kenapa Bapak membawa saya ke sini?” tanya Jayden.
“Kenapa? Kamu tidak suka berkunjung ke rumah perempuan yang katanya kamu cintai? Bukankah itu cita-cita kamu? Tinggal di rumah mewah secara instan tanpa harus bekerja keras?” Arga balik bertanya. “Itu dia, sudah turun.” Arga menunjuk ke arah luar. Dari ruangan tempatnya berada saat ini, memang ada sebuah kaca yang bisa melihat keluar. Sebaliknya, melalui kaca yang sama, orang di luar hanya melihat sebuah cermin.
Jayden mengikuti arah telunjuk Arga. Ia melihat Delia turun dengan riangnya. Menenteng tas serta kunci mobil.
“Lihat, putriku sangat bahagia berada di rumahnya. Apa di rumahmu dia juga seperti itu?” tanya Arga.
“Del! Delia sayang! Aku di sini!” Jayden berteriak dari dalam sana, tapi orang yang ia panggil berlalu begitu saja.
“Hahahaha ... Sekuat apa pun kamu berteriak percuma, ruangan ini kedap suara.”
__ADS_1
“Katakan maksud Bapak menculik saya!” ucap Jayden yang seketika menghentikan tawa Arga.
“Menculik?” tanya Arga, “apa saya sebagai tuan rumah kurang ramah padamu sehingga kamu menganggap saya sebagai penculik?” lanjutnya. “Kamu mau bagaimana? Saya berteriak-teriak histeris seperti orang-orang bodoh yang mengidolakanmu, begitu? Mengelu-elukan namamu, dan menjadikan kamu seperti raja?”
Jayden membuang muka. Ia malu sendiri dengan ucapan Arga padanya.
“Saya sudah memberi kamu kesempatan untuk membuktikan kamu layak. Dan apa yang Delia dapatkan? Kesulitan hidup, tidak diakui, dikhianati, dan dianggap perebut suami orang! Dan jangan kira Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya saat di Yogyakarta!”
Deg. Jayden menoleh ke arah Arga, kemudian menunduk kembali.
“Kamu pikir, saya melepaskannya begitu saja? Tidak! Saya selalu mengawasinya! Sudah cukup saya memberi kamu kesempatan, sekarang waktunya kamu pergi dari hidup Delia.”
“Tidak!” tolak Jayden, “saya tidak akan pernah meninggalkan Delia. Kami saling mencintai.”
Arga berdiri, lalu berjalan mendekati Jayden. Ia menarik kaos bagian depan yang Jayden kenakan. “Sadarlah anak muda, cintamu itu hanya membuat putri saya menderita. Dengan berada di sisimu, dia hanya akan mengalami penderitaan, tekanan, rasa sesak, tanpa perlindungan. Itu yang kamu inginkan?” ucap Arga lirih. Ia kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dan kembali duduk di kursi kebesarannya. “Katakan, bisakah kamu menjamin apa yang saya katakan tadi tidak akan terjadi pada Delia?”
Jayden bergeming.
“Sa-saya ....”
“Tidak! Kamu tidak akan bisa melakukannya. Karena jauh di lubuk hati kamu, kamu mengakui kalau Delia lebih bahagia hidup di rumahnya sendiri. Bebas keluar rumah tanpa takut ada yang melemparinya dengan batu. Iya kan?”
Jayden bergeming. Membayangkan Delia dilempari batu membuat hatinya teriris. Ia menyalahkan dirinya yang tidak membelanya saat itu. Harusnya aku di sana saat itu! batin Jayden.
“Sekarang katakan, sebagai seorang lelaki, apakah kamu mau membiarkan Delia hidup seperti itu? Atau mengembalikannya ke tempat di mana dia seharusnya berada?”
Jayden masih bergeming. Ia ingin Delia bahagia, tapi ia juga tidak mau berpisah dengannya.
“Dengar anak muda, terkadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk membahagiakan orang yang kita cintai. Itu yang pernah saya lakukan untuk Delia. Dan ketika ternyata dia menderita dengan pilihannya, maka rumahnya akan senantiasa terbuka untuknya.”
“Jay! Jay!” Suara seorang wanita mengejutkannya dari lamunan. Jayden menoleh ke arah Bintang yang ternyata masih menunggu jawaban darinya. “Katakan Jay, kenapa kamu melakukan ini?”
__ADS_1
“Terkadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk membahagiakan orang yang kita cintai.” Jayden mengutip kata-kata Arga yang ia dengar tadi pagi. “Bersiaplah, kita akan latihan untuk konser malam tahun baru.”
Bintang tersenyum, “apakah itu artinya aku ada kesempatan Jay?”
Jayden berbalik meninggalkan Bintang yang masih berdiri di tempat yang sama.
Aku akan membuat senyum itu kembali, Jay. Aku akan membuatmu bahagia, sehingga kamu lupa caranya bersedih. batin Bintang.
Jayden menutup pintu kamarnya. Kemudian masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Ia membiarkan air membasahi tubuhnya yang masih terbalut pakaian lengkap.
Sengaja Jayden tidak menyalakan water heater. Ia ingin merasakan dinginnya air itu sampai ke tulangnya.
Hatinya sedang rapuh saat ini. Belahan jiwanya pergi. Bukan pergi, tapi ia kembalikan ke tempat seharusnya ia berada. Jayden memang ingin hidup bersama dengan Delia, tapi keinginannya untuk kebahagiaan Delia jauh lebih besar. Ia tahu, Delia akan mengalami banyak penderitaan jika bersamanya. Air mata luruh bersamaan dengan guyuran shower.
“Delia ... Aku mencintai kamu sayang ... Maafkan aku,” ucap Jayden lirih.
Ucapan Arga selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
“Terkadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk membahagiakan orang yang kita cintai.”
Tidak jauh berbeda dengan Delia. Dia pulang ke rumahnya dalam keadaan yang sangat buruk. Hal pertama yang menjadi pusat perhatiannya adalah seorang wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi menyambut kedatangannya.
“Delia, kamu pulang, Nak?” Wanita tersebut berdiri dari duduknya, dan memeluknya penuh kehangatan.
Mama? Ini mama kan? Mama memelukku? batin Delia seraya membalas pelukan ibunya tersebut.
Setelah kepulangannya, beberapa hal berubah dari kedua orang tuanya. Ayahnya yang tersenyum padanya, dan ibunya yang memberinya pelukan hangat.
“Kapan kamu pulang sayang?” tanya Farida seraya melepas pelukan mereka. Ia membawa putri sulungnya itu untuk duduk di sofa ruang keluarga itu.
“Dua hari yang lalu, Ma,” jawab Delia.
__ADS_1
“Mama senang kamu pulang, sayang. Mama baru saja kembali dari London, menjenguk adik kamu. Kotanya indah sayang. Saat ini sedang musim dingin di sana. Kamu suka salju kan? Di sana ....” Farida begitu antusias menceritakan tentang London pada Delia. Sementara Delia sudah tidak fokus lagi mendengarkannya. Hatinya masih terpaut pada belahan jiwanya yang tidak datang ke pertemuan mereka hari ini.