Berbagi Cinta : Cinta Lokasi

Berbagi Cinta : Cinta Lokasi
Tomat Busuk


__ADS_3

Delia mengusap tetesan terakhir yang keluar dari matanya. Tujuannya sudah di depan mata. Ia akan segera turun dari taksi yang membawanya ke ruko yang akan menjadi pusat Bisnis Delia.


Hari ini ada orang yang akan mengirim beberapa furnitur untuk keperluan kantornya. Delia diminta datang untuk mengecek kelengkapannya.


Delia memberikan sejumlah uang kepada sopir taksi sebagai ongkos perjalanannya. Tidak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepadanya.


Diasuh dan dibesarkan oleh para asisten rumah tangga tidak lantas membuatnya menjadi sombong dan angkuh. Justru hal itu membuat Delia menjadi pribadi yang sopan dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan kasta. Dalam hal ini, Delia tidak sama dengan orang tuanya.


Delia baru saja menginjakkan kakinya di atas lantai di depan ruko yang ia sewa saat ia merasakan sesuatu menimpa kepala bagian belakangnya. Ia mengusap rambut belakangnya dan mendapati cairan lengket yang berbau busuk.


Delia menurunkan pandangannya. Sebuah tomat busuk menggelinding di bawah kakinya. Ia yakin, tomat busuk itu sebelumnya telah menyentuh rambut belakangnya.


Delia berbalik. Dan sejurus kemudian, ia menyesalinya. Bukan hanya satu, puluhan tomat busuk melayang ke arahnya. Beberapa wanita muda tampak berdiri di sana.  Mereka melempari Delia dengan tomat-tomat busuk yang berbau sangat menyengat itu.


Delia mencoba menghalangi wajahnya dengan menutupinya menggunakan kedua lengannya.


“Hentikan! Siapa kalian?!” pekik Delia.


“Kamu memang cocok dilempari ini, dasar pelakor!” ucap salah seorang di antaranya.


Mendengar itu, Delia tahu akar permasalahannya. Ia juga sudah bisa menduga siapa mereka.


“Hentikan! Bukankah idola kalian sudah mengklarifikasinya kalau semua itu tidak benar?!” Delia masih mencoba menghentikan aksi brutal itu.


“Kami tidak percaya!” teriak sebagian dari mereka.


Delia mengusap keningnya saat merasakan ada sesuatu yang menghantam kepalanya dengan cukup keras. Ia yakin, itu lebih dari sekedar tomat busuk. Delia melihat kakinya. Sebuah batu berukuran kepalan tangan orang dewasa tergeletak di sana.


Bersamaan dengan itu, Delia merasa ada sebuah cairan yang keluar dari kepalanya. Ia melihatnya. Itu ... darah? Sedetik setelah itu, Delia jatuh pingsan.


Melihat korban mereka jatuh pingsan, wanita-wanita yang melempari Delia dengan tomat busuk itu saling pandang. Rasa takut tiba-tiba menghantui mereka. Apalagi melihat darah keluar dari kepalanya.


“Siapa yang lempar batu?” tanya salah satu di antaranya.


Semuanya menggeleng. Tidak ada yang mau mengaku.

__ADS_1


Apa tadi aku salah lempar ya? Batin salah satu di antaranya.


Tidak mau terlibat lebih jauh, para wanita itu membubarkan diri. Mereka tidak mau jika sampai harus berurusan dengan polisi gara-gara hal itu.


***


Matahari sudah terbenam dari dua jam yang lalu. Jayden berjalan bolak-balik di dalam kamarnya, menunggu kabar dari istri tercinta. Ponsel Delia yang awalnya masih bisa dihubungi, kini menjadi tidak aktif. Hal itu membuat ia semakin gusar saja.


Jayden tahu, hari ini Delia ada janji temu dengan Mellysa. Tapi setelah itu Delia tidak mengabari apa-apa lagi. Ingin menghubungi Mellysa, tapi ia tidak tahu nomornya. Karena khawatir, Jayden memutuskan akan mencari Delia ke luar.


“Mau ke mana Jay?” tanya Bintang yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia tampak sudah rapi dengan crop top dipadukan dengan rok di atas lutut.


“Kamu sendiri mau ke mana?” tanya Jayden.


“Mini market,” jawab Bintang.


Jayden tahu betul mini market yang Bintang maksud. “Sama si bos?” tanya Jayden.


“Huum, sama mas Bagas juga,” jawab Bintang, “mau ikut?”


Bintang melirik jam di pergelangan tangannya, “baru jam delapan Jay.”


Tidak. Bukan itu masalahnya. Delia tidak pernah pergi tanpa mengabarinya. Ponselnya bahkan tidak aktif. Dan rasa khawatir itu ... Rasa itu sungguh terasa nyata. Jayden yakin, ada sesuatu hal buruk telah menimpa istrinya.


Jayden dan Bintang sama-sama keluar dari pintu yang sama, namun dengan tujuan berbeda. Mereka naik ke mobil masing-masing.


Dengan menggunakan kaca mata hitam, masker, dan juga topi, Jayden segera menuju ke ruko yang ia tahu akan dijadikan pusat bisnis istrinya tersebut. Hal yang pertama menjadi pusat perhatiannya adalah beberapa orang yang tampak membersihkan sisa-sisa kekacauan di sana.


Untuk memenuhi rasa penasarannya, Jayden turun dari mobil dan menghampiri mereka.


“Permisi Bu, ini ada apa ya?” tanya Jayden.


Orang yang dipanggil menoleh, “oh ... Ini mas, tadi ada sedikit masalah.”


Deg. Perasaan Jayden semakin tidak enak.

__ADS_1


“Masalah apa Bu kalau boleh tahu?”


“Saya kurang tahu persisnya, tapi katanya tadi ada mbak-mbak yang dilempari tomat busuk di sini.”


Mbak-mbak? Apa mungkin itu Delia? Batin Jayden.


“Sekarang orangnya di mana?”


“Katanya sih di bawa naik mobil. Mungkin ke rumah sakit.”


“Rumah sakit?” ulang Jayden lirih. Sepintas ia melihat ada bekas darah yang mulai mengering di teras ruko itu. “Baik Bu, terima kasih.”


Jayden pergi dari tempat itu. Tujuannya saat ini adalah menuju ke rumah sakit terdekat. Ini sungguh tidak masuk akal baginya. Jika orang yang ibu-ibu tadi maksud adalah Delia, mengapa tidak ada yang menghubunginya. Namanya pasti ada di dalam daftar kontak yang paling sering Delia hubungi.


Atau mungkin itu bukan Delia? Kalau bukan, lantas di mana Delia? Sayang ... Kamu di mana? Batin Jayden.


Rumah sakit terdekat sudah ia datangi, Jayden segera menanyakan perihal keberadaan Delia kepada pihak resepsionis, namun tidak ada nama pasien atas nama Delia di sana.


Tidak patah semangat, Jayden mencari ke rumah sakit-rumah sakit berikutnya, tapi tetap, tidak ada nama pasien atas nama Delia di sana.


“Sayang ... Kamu di mana?” Jayden bermonolog di dalam mobilnya.


Saat ini Jayden sudah berada hampir menuju ke titik ke-putus asaan. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Delia, namun nomornya masih tidak aktif. Belum ada kabar dari securitynya juga. Sebelumnya Jayden memang sudah berpesan, kalau Delia pulang, securitynya itu harus menghubunginya.


Ada ratusan rumah sakit di Jakarta. Ia bisa saja mendatangi satu persatu rumah sakit tersebut, tapi tentu akan memakan waktu yang panjang. Belum lagi kepastian kalau orang yang ibu-ibu tadi maksud adalah Delia atau bukan. Bisa jadi itu adalah orang lain.


Jayden membenturkan kepalanya pada setir mobil. Bayangan Bagas yang akan melecehkan Delia saat di Yogyakarta terbersit dalam pikirannya. Di tambah dengan masalah isu perselingkuhannya beberapa hari yang lalu. Entah mengapa Jayden yakin kalau Bagas ada di balik semua ini.


Jayden melajukan mobilnya menuju ke mini market yang merangkap tempat hiburan malam itu. Seingatnya tadi Bintang mengatakan kalau Bagas juga akan berada di sana malam ini.


Jayden masuk dengan tergesa, menyisir seluruh ruangan, mencari keberadaan Bagas. Tidak ada!


Jayden masuk lebih dalam, memasuki pintu yang di dalamnya terdapat kamar-kamar. Hampir semua pintu terbuka, tapi ada satu pintu yang tertutup. Hanya 50% kemungkinan Bagas ada di balik pintu itu, tapi ia harus mencobanya bukan?


Tanpa mengetuknya terlebih dahulu, Jayden membuka pintu tersebut. Ia begitu terkejut melihat pemandangan yang ia lihat di sana. Benar, Bagas ternyata berada di sana. Namun tidak sendiri, melainkan bersama dengan Bintang dan juga Dave.

__ADS_1


“Apa yang kalian lakukan?!” ucap Jayden sedikit berteriak, membuat ketiga manusia yang tengah saling memuaskan di dalam sana menjadi terkejut.


__ADS_2