
Matahari berada di atas langit biru yang cerah, sangat menyilaukan apabila dilihat secara langsung menggunakan mata telanjang. Cahayanya menyinari sebagian dunia,terasa panas apabila menyentuh kulit. Di sebuah istana yang berdiri dengan kokoh dan megah yang terletak di pedalaman Azrya Woodlands, lebih tepatnya berada di Lunar Temple. Aura hijau selalu menyelimuti istana, hawa dingin akan selalu terasa apabila berada di sekitar maupun di dalam istana, walaupun cahaya matahari telah menyinarinya.
Istana itu dulunya milik kerajaan elf, namun,Abyss telah menginvasi seluruh kawasan Lunar Temple dan menjadikan istana itu sebagai markasnya. Lunar Temple dulunya tempat yang sangat indah, akan tetapi setelah Abyss menguasainya, wilayah Lunar Temple menjadi hancur, dan jauh dari kata indah.
Tujuan dari Abyss menginvasi Lunar temple adalah; mereka ingin memonopoli buah dari Tree of life yang merupakan aset terpenting milik kerajaan elf, yang bertujuan untuk menguasai benua Land of Down.
Didalam istana di sebuah kamar yang sangat mewah dan indah, terbaring 2 insan di atas ranjang yang tampak sangat nyaman. 1 Laki-laki dan 1 wanita. Mereka tengah memandangi satu sama lain masih dalam keadaan terbaring.
Wanita itu menatap lawan jenisnya dengan senyuman penuh kemenangan sedangkan sebaliknya, laki-laki itu justru terlihat seperti penuh tekanan. Kedua insan itu telah melewati malam yang panjang dipenuhi dengan suara keindahan, yang dapat membuat siapapun yang mendengarnya tertegun.
"Sayang~apa tidurmu nyenyak." Keluar kata-kata indah dari bibir merah wanita itu dengan suara yang sendu, diiringi dengan senyuman penuh makna.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya mendengar ucapan lawan jenis yang ada di hadapannya. Bahaya, waspada, dan curiga tengah dirasakan pemuda itu. Namun ada sedikit juga kenikmatan yang terselip di dalamnya.
"Apa tujuan mu melakukan itu semua kepadaku," ujar pemuda itu yang tidak lain adalah Hayabusa. Wanita itu justru menanggapinya dengan senyuman.
"Apa maksudmu? bukankah kau yang melakukan itu kepada ku, kan"
Dengan geram Haya menjawab. "Kaulah yang memberikan obat kepada ku, sehingga aku melakukannya"
"Ya,ya, aku mengaku, memang akulah yang memasukkan obat perangsang kedalam tubuh mu, tetapi bukankah kamu juga menikmatinya," sambil tersenyum jahat.
"Apa maksudmu?! aku ti-" belum menyelesaikan kalimatnya, wanita itu langsung memotong.
"Ya,ya, ini masih pagi, jadi aku males berdebat denganmu,"ujarnya yang kemudian beranjak dari ranjang,dan berjalan ke arah pintu kamar, masih dalam keadaan telanjang bulat.
Wanita itu kemudian merentangkan tangannya, tiba-tiba seluing-seluing berwarna ungu menyelimuti tubuh dewasa miliknya. Setelah seluing ungu itu menghilang, tubuhnya sudah tertutupi dengan pakaian walaupun terbilang masih sedikit terbuka.
"Nanti malam aku akan berkunjung lagi," sambil sedikit melirik ke arah Haya yang masih terbaring lemas di ranjang. Kemudian tangan indahnya meraih gagang pintu yang kemudian menariknya sehingga, pintu itupun terbuka. Dirinya kemudian berjalan keluar, menghilang dari pandangan Haya yang masih terbaring lemas.
__ADS_1
"Alice, aku sangat curiga kepada mu, karena kau adalah; karakter yang paling licik di dalam game," lalu mengarahkan pandangannya kearah luar jendela "Dan ini sudah siang, bukan lagi pagi."
Haya masih terbaring lemas di atas ranjang, karena memang semalam Alice benar-benar memeras habis energinya tanpa memberikannya istirahat sedikitpun.
Beberapa saat kemudian Haya bangun. "Sabarlah Haya, ingat tujuanmu ke sini," gumamnya.
Haya beranjak dari ranjang untuk mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Tangannya mulai meraih pakaian itu satu persatu,setelahnya Haya memakainya. Setelah mengenakan seluruh pakaiannya, Haya juga mengambil pedangnya yang juga tergeletak di lantai, dan kemudian berjalan keluar dari dalam kamar.
.
Sesampainya Haya diluar, pandangannya terpaku ke sesosok iblis yang memiliki rupa sedikit sama seperti manusia, tengah bersender di dinding yang terletak di depan kamar Haya, dan sesosok iblis itu adalah Dyrroth sang Demon Prince.
Dyrroth mulau berjalan mendekat ke arah Haya. Dia ingin menyampaikan sesuatu kepadanya pesan dari tuannya.
"Hei, apa tidurmu nyenyak? kau terlihat kelelahan?!"
"Aku kesini untuk menyampaikan pesan dari tuan Thamuz; dia menyuruhmu untuk datang ke ruang singgasananya." Jelas Dyrroth.
"Baiklah, aku akan ke sana," jawabnya singkat.
..
Haya berjalan menyusuri lorong istana yang panjang, lilin-lilin dengan nyala api biru selalu terpasang disepanjang dinding lorong, menerangi lorong ataupun untuk hiasan semata. Langkah kaki Haya terus terdengar di sepanjang lorong, seolah-olah itu adalah suara Absolute yang dihasilkan dari setiap langkah kaki siapapun yang berjalan disepanjang lorong.
Sampailah Haya di depan sebuah pintu yang sangat besar, dan merupakan ruangan singgasana. Pintu itu memiliki corak ukiran yang sangat indah, seperti merangkai sebuah cerita didalamnya.
Tanpa pikir panjang Haya langsung mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga.
Krieeet!
__ADS_1
Suara yang dihasilkan dari pintu itu menginvasi seisi ruangan. Angin berhembus dari dalam, dan menerpa Haya yang berada di ambang pintu.
Haya merasakan pancaran kekuatan yang sangat besar dari sesosok raja iblis yang tengah duduk di atas singgasana, dan dia adalah; Thamuz.Sorot mata merahnya menatap tajam diri Haya yang membuatnya semakin merasa ketakutan.
Haya mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan, setiap langkah kakinya terasa begitu berat, seolah terdapat besi yang membelenggu kakinya. Setelah sampai beberapa meter dari sesosok raja iblis yang tengah duduk bosan di singgasana, Haya berlutut satu kaki didepannya dengan tanpa ekspresi. Karena memang sewajarnya harus seperti itu dihadapan raja iblis.
"Ada apa tuan memanggil saya?"
Sorot mata merahnya tetap setia, menatap individu yang tengah berlutut dihadapannya.
"Aku memanggilmu kesini, untuk menguji! apakah kau layak bergabung di Abyss." Suara seraknya mendominasi seisi ruangan, Haya yang hanya berjarak beberapa meter darinya, dapat mendengar dengan lebih dari jelas.
Haya mengambil nafas dalam-dalam untuk meredakan ketakutan, sekaligus untuk menenangkan isi pikirannya. Bukan hanya pancaran kekuatan dari Thamuz iblis yang berdiri angkuh didepannya, Haya juga merasa adanya pancaran kekuatan yang juga setara dengan Thamuz, tengah bersembunyi di ruangan ini entah dimana itu.
"Saya siap untuk diuji anda tuan," ujar Haya.
Thamuz menyeringai mendengarnya, kemudian dia mengangkat sebelah kakinya yang lalu dia hentakan ke lantai, dan menghasilkan gelombang suara yang mengisi seluruh ruangan.
Jbrettt!
Seketika pintu masuk langsung tertutup dengan rapat. Lalu keluar sekelompok iblis dari dalam gelapnya bayangan dari segala arah. Sorot mata tajam mereka mengunci ke arah individu yang tengah berlutut pasrah di hadapan sang Absolute.
Ding!
[Peringatan!! sekelompok iblis yang kuat menargetkan anda, diharap agar anda segera pergi dari sini!]
Peringatan System terus berulang kali terdengar di kepala Haya, akan tetapi dirinya tidak punya pilihan lain selain melawan sekelompok iblis itu, jika tidak rencananya akan gagal.
"Aku akan menerima mu bergabung jika kau, mengalahkan mereka!" terlukis jelas senyum jahat di wajahnya.
__ADS_1