
"Aku harus cepat! jangan sampai aku terlambat," gumam Kagura.
Kagura berlari dengan kecepatan maksimalnya berusaha sampai di suatu tempat dengan cepat. Rambutnya terus berkibaran terkena sapuan angin, langkah kakinya begitu cepat tetapi tetap anggun. Mungkin penampilan Kagura yang merupakan gadis cantik nan imut dan terkesan rapuh bisa menyembunyikan kemampuannya, yang di atas rata-rata wanita pada umumnya.
Setelah beberapa menit Kagura berlarian, akhirnya ia sampai di suatu tempat dimana di tempat itu banyak sekali batu nisan yang tertancap di tanah berbaris-baris mengikuti polanya, atau dengan kata lain Kagura telah sampai di sebuah pemakaman.
Kagura langsung mengedarkan pandangannya di sekitar pemakaman berharap menjumpai seseorang yang dicarinya. Karena suasana sedikit berkabut itu agak sedikit menyulitkan pencariannya. Setelah cukup lama Kagura mencari-cari, akhirnya ia melihat orang yang di cari-carinya, yang tidak lain adalah Hayabusa. Akan tetapi Kagura juga tidak hanya melihat Hayabusa sorang, ia juga melihat beberapa orang yang berdiri di didekatnya dan jika itu dijumlahkan, ada sekitar 4 orang termasuk Hayabusa.
Kagura memperhatikan dari kejauhan dengan seksama.
"Itu, kan, Hayabusa dan Hanabi. Tapi 2 orang itu siapa?"
...°•°...
"Aku tau itu, tapi aku tak tertarik dengan posisi itu," ujar Hayabusa "kurasa Hanabi lah yang cocok dengan posisi itu, tetua."
Orang yang dipanggil tetua itu menghela nafas mendengar jawaban tak memuaskan dari Hayabusa, kini tatapan beralih ke arah Hanabi yang tengah berdiri di belakang Hayabusa. "Bagaimana denganmu, Hanabi?"
"Sesuai dengan ucapan, Hayabusa, aku bersedia menerima gelar 'Akage' tapi perlu diingat, itu hanya sementara. Aku merasa belum cocok menerima gelar ini."
Tetua itu bernafas lega- mendengar jawaban Hanabi. "Dengan begini posisi Akage terisi. Aku tak menyangka jika kalau klan kita akan mengalami musibah seperti ini."
Hayabusa mengarahkan pandangannya ke arah tetua. "Tetua Myuji, aku punya satu pertanyaan untuk mu."
"Apa itu?"
"Apa kau tau dalang dari balik penyerangan ini?" dengan tatapan mendominasi.
"I-itu, sampai sekarang belum diketahui siapa pelakunya," Apa-apaan tatapannya itu.
"Benarkah?"
"Iya, itu cukup sulit untuk menemukan siapa pelakunya dikarenakan kurangnya petunjuk. Aku tau ini cukup berat bagimu karena kehilangan sosok ayah yang berharga bagimu, aku turut berduka atas hal itu" memasang ekspresi sedih "tapi tenang saja, aku dan yang lainnya pasti akan menemukan dalang dari semua ini."
"Terimakasih atas perhatian, tetua Myuji, yang sangat berarti itu," ujar Hayabusa dengan tanpa ekspresi.
"Ya, itu tak masalah. Baiklah kalau begitu aku pamit undur diri dahulu untuk kembali menyelidiki kasus ini, untuk sisanya aku serahkan kepadamu." Berbalik kemudian mulai melangkah pergi sambil tersenyum lebar.
"Ayo kita kembali," ajak Hayabusa.
Hayabusa langsung melangkah kakinya tak peduli Hanabi dan Miya ikut atau tidak.
__ADS_1
"Hayabusaaa!"
Tiba-tiba ada yang memanggil Hayabusa, tapi itu bukan Miya dan Hanabi, sumber suaranya agak jauh dari selatan, terlihat ada seseorang yang tengah melambai-lambaikan tangannya dari balik kabut. Hayabusa langsung menoleh ke arah sumber suara.
Tak butuh waktu cukup lama seseorang dari balik kabut itu menghampiri, dan ternyata seseorang dari kabut itu adalah Kagura. Kagura langsung menghampiri Hayabusa, melewati Hanabi dan Miya seolah keberadaan mereka tak ada.
Setibanya di hadapan Hayabusa, Kagura langsung tersenyum lebar. "Bagaimana kabarmu, sudah lama kita tak berjumpa. Oh ya, kemana saja kau selama ini?"
Hayabusa menatap Kagura dengan tatapan kosong, lalu menjawabnya. "Aku baik-baik saja, aku pergi ke suatu tempat."
Aku tau hal ini pasti terjadi, kurasa sudah tidak bisa lagi menghiburnya, batin Kagura.
"Ada hal yang ingin ku tunjukan padamu," dengan wajah serius.
Hayabusa mengernyitkan keningnya. "Apa itu?"
"Tapi sebelum itu, ikuti aku terlebih dahulu."
"Hei! siapa kau tiba-tiba langsung mengajaknya pergi, apa kau tak tau situasi sekarang." ucap Hanabi yang tiba-tiba datang dari belakang.
Kagura langsung menoleh. "Oh ternyata itu kamu, Hanabi, apa karena kita sudah lama tidak bertemu jadi Hanabi lupa padaku," memasang wajah memelas.
"Menyebalkan seperti biasa," ujar Hanabi.
"Sepert-"
"Sudahlah, Hanabi," ujar Hayabusa "...Ini bukan saatnya untuk bertengkar."
"Hahh, i-itu..."
Seketika Hanabi langsung terdiam, kedua pipinya langsung menggembung. Kenapa Hayabusa membela-belanya, menyebalkan. batin Hanabi
"Tenanglah, kak Hanabi, aku selalu di pihak mu," ujar Miya sambil mengelus-elus punggung Hanabi.
"Kembali ke topik, apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku dan kenapa aku harus mengikuti mu," ujar Hayabusa.
"Ini berkaitan dengan ayahmu."
Hayabusa langsung terdiam. "...Tunjukkan jalannya."
Kagura mengangguk, lalu kemudian ia mulai melangkahkan kakinya memimpin jalan, diikuti dengan Hayabusa, Hanabi, dan Miya dari belakang.
__ADS_1
Kagura berjalan mengelilingi kota, menyusuri semua tempat-tempat indah yang ada, tentu saja Hayabusa mengikutinya tanpa komplain sedikitpun. Ternyata Kagura melakukan itu tanpa alasan, ia ingin sedikit menghibur Hayabusa tapi tak luput juga dengan tujuan sebenarnya.
Tapi semua itu tak berjalan manis karena Hayabusa menjadi buah bibir masyarakat. Banyak sekali yang membicarakan mengenai Hayabusa dan itu semua berisikan hal buruk. Hayabusa tak memperdulikan itu sama sekali, ia berfikir buat apa menjelaskan semua kalau ujung-ujungnya tidak ada yang percaya.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya sampai di kediaman Kagura. Rumah Kagura terbilang sederhana, tapi yang menarik dari rumahnya adalah taman bunga yang berada di halaman rumahnya.
"Maaf, Hayabusa. Karena ku kau harus mendengar hal-hal buruk. Sebenarnya tadi aku ingin mengajakmu jalan-jalan di kota sebelum datang kesini supaya kau melupakan kejadia-"
"Sudahlah, aku tak masalah dengan hal itu. Lagian perkataan mereka tak sepenuhnya salah."
Seketika Kagura terdiam merasa bersalah.
Krieeet!
Tiba-tiba pintu rumah Kagura terbuka, yang lalu menampakkan sesosok wanita paruh baya dengan wajah yang identik dengan wajah Kagura. Rambutnya putih seputih salju, wajahnya yang masih cantik sama seperti Kagura cuman agak sedikit berkerut, mungkin itu karena faktor usia.
"Ehh, ternyata ada tamu. Silahkan, silahkan masuk," ucap wanita paruh baya itu.
"Ibuu." ujar Kagura.
"Ayo cepat ajak teman-temanmu masuk, Mama akan siapkan makanan." Langsung berjalan masuk kembali kedalam.
Kagura mengedarkan pandangannya ke arah mereka bertiga "Emm, ayo," Ajak Kagura.
Kagura langsung melangkah masuk kedalam rumah, disusul oleh mereka bertiga.
...°•°...
Di sebuah ruangan yang lumayan besar, terlihat dua orang laki-laki sedang duduk berhadapan di meja makan, di atasnya terhidang berbagai makanan seafood seperti sushi dan minuman-minuman beralkohol.
Kedua pria itu sama-sama memiliki umur yang sudah tidak muda lagi, itu terlihat jelas dari wajah keduanya yang sudah berkeriput.
"Hahaha, kau sangat licik. Aku cukup kasian kepadanya."
"Mulutmu berbicara seperti itu, tapi wajahmu mengatakan sebaliknya."
"Ketahuan deh hahaha, jadi bagaimana?"
"Aku sudah memutus seseorang untuk menyebarkan berita buruk tentangnya. Tak lama lagi dia pasti akan di hapus dari klan."
__ADS_1
"Hahaha, kau sangat kejam, Tetua Myuji," tersenyum penuh makna.