Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 6: Peace after struggle


__ADS_3

Setelah kemunduran Abyss, akhirnya Lunar Temple mencapai apa yang diinginkan yaitu masa kedamaian, dan sekarang Lunar Temple menjadi tempat yang indah kembali. Estes memiliki peranan yang cukup besar terhadap perubahan Lunar Temple,Estes berhasil merubah Lunar Temple menjadi seperti dulu walaupun tidak seratus persen, dan Dark elf yang dulunya menjadi bagian dari Abyss sekarang berubah seperti semula, menjadi Elf yang cantik/tampan, baik, serta ramah.


.


Mentari muncul dari timur menyambut pagi yang cerah, menggantikan malam yang penuh darah. Entah mengapa pagi ini matahari tampil dengan begitu sempurna dibanding hari-hari sebelumnya, seolah mengapresiasikan perjuangan yang telah dilakukan untuk mengusir Abyss. Matahari tersenyum dengan lebar, mengedarkan cahayanya yang begitu terang menerangi sebagian dunia dengan kehangatan.


Sudah cukup lama matahari muncul sampailah menjelang waktu siang, dimana dikala waktu siang matahari bersinar dengan maksimal, cahayanya bersinar begitu terang, saking terangnya sampai-sampai radiasi matahari berhasil memasuki celah jendela sebuah kamar. Dimana didalam kamar itu terdapat sesosok pria yang tengah berbaring tak berdaya di atas ranjang dengan sekujur tubuh bagian atas dibaluti perban.


Sinar matahari yang berhasil melewati celah melesat ke arah sesosok pria tersebut.


Sepersekian menit kemudian sesosok pria itu membuka kedua kelopak matanya karena merasa risih dengan jahilnya sinar matahari. Butuh sedikit waktu untuk akhirnya terbuka sepenuhnya.


"Ugh...dimana aku?" gumam sesosok pria tersebut yang tidak lain adalah Hayabusa. Hayabusa membangunkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya, lalu kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tampak tak asing baginya.


"Bukankah ini kamar yang kupakai dulu," tanya pada diri sendiri. Setelah di rasa cukup melihat sekitar kini sekarang Hayabusa mengarahkan pandangannya ke tubuhnya sendiri karena merasa ada sedikit ketidak nyamanan.


Hayabusa mendapati tubuhnya sendiri yang hanya memakai celana sedangkan tubuh bagian atasnya di balut perban.


"Apa yang terjadi pada ku?"


Hayabusa menguras ingatannya untuk mengingat kembali kejadian yang di alaminya, muncul secercah memori saat dirinya bertarung dengan Thamuz. Tiba-tiba Hayabusa teringat akan sesuatu.


"System, tampilkan status."


Dengan cepat System merespon.


Ding!


Seketika muncul layar biru transparan di depan Hayabusa.


[Nama : Hayabusa


Rank : Grand Master 5 (Exp 10/1000)


Hp : 4500/6500


Mp/mana : 450/450 ( level 3/10)


Role : Assassin


tittle : Shadow Master.


...


Skill :


[ Ninjutsu: Phantom Shuriken ] ( Senjata yang di lemparkan akan kembali ke pemilik )


[ Ninjutsu : Quad Shadow ] ( Mengeluarkan bayangan hitam di segala arah dan dapat berpindah ketempat bayangan ) menguras 5 mana


[ Ougi : Shadow kill ] ( Memasuki mode bayangan selama 10 detik, immune terhadap segala serangan ) menguras 20 mana

__ADS_1


[ Ninjutsu : Dragon Slash ] ( Mengeluarkan aura naga dari senjata yang dipegang ) Menguras mana 35


[Stealth] (Menyembunyikan hawa keberadaan selama 10 menit) menguras 50 mana.


...


Attack : 560


Speed : 235


Pshcyal Defense : 85


Magical Defense : 95


...


Item : -


Poin : 1600


Coin : 991Gold.]


"I-ini sungguhan?!" dengan wajah tak percaya.


Sebenarnya status Hayabusa dapat naik dengan pesat dikarenakan dia berhasil menyelesaikan misi tersembunyi yaitu misi: Membangunkan raja yang tertidur, yang tidak lain adalah Estes. Hayabusa sempat mendengar notifikasi dari system saat sebelum dirinya pingsan.


Dengan tatapan tak percaya Hayabusa terus memandangi layar biru transparan di depannya. Hayabusa mengangkat kedua tangannya di samping kepalanya dengan kedua telapak tangan menghadap ke arah pipinya, kemudian Hayabusa menamparkan wajahnya sendiri dengan lumayan keras untuk memastikan apakah itu bukan mimpi.


Ini merupakan cara klasik, akan tetapi cara ini begitu ampuh. Hayabusa merasakan sakit di kedua pipinya yang menandakan itu bukanlah mimpi.


"Aku sudah bertambah kuat, tetapi..." tiba-tiba Hayabusa memasang raut muka sedih "Aku masih tak cukup kuat untuk mengalahkan dia." Kata 'dia' yang dimaksudnya adalah Thamuz. Hayabusa masih merasa terpukul akibat kekalahan telak yang dialaminya saat melawan Thamuz, beruntung saat itu Estes melindungi Hayabusa saat dirinya benar-benar pasrah. Estes jugalah yang memberikan perawatan kepadanya karena memang Estes juga seorang Healer.


Krietttt...


Hayabusa langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba dibuka. Mata Hayabusa melebar terbelalak karena melihat seorang yang membuka pintu adalah Hanabi. Perasaan sedih dan takut berkecamuk di hati Hayabusa, ia memiliki perasaan seperti itu karena sebuah alasan. Hayabusa menatap intens ke arah Hanabi yang masih berdiri membisu.


Mata Hanabi berkaca-kaca melihat Hayabusa yang sudah sadar. Hanabi langsung berlari ke arah Hayabusa lalu kemudian memeluknya dengan erat tanpa memperdulikan perasaan Hayabusa. Hanabi menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hangat Hayabusa.


Sebenarnya Hayabusa merasa enggan untuk di peluk Hanabi, bukan berarti tidak menyukainya melainkan karena kondisi tubuhnya yang belum pulih sempurna. Hayabusa tak tega untuk melepaskan pelukan Hanabi, walaupun harus menahan sedikit rasa sakit.


Beberapa menit kemudian Hanabi melepaskan pelukannya, air mata masih mencucur deras dari kedua matanya. Hayabusa bukanlah tipe orang yang tidak peka, ia kemudian mengambil inisiatif untuk menyeka air mata Hanabi.


"Sudahlah, jangan menangis."


"Apa kau..hiks..tau betapa khawatirnya...hiks...aku."


"Sudah-sudah, sekarang aku sudah baik-baik saja, jadi, berhentilah menangis," sambil mengelus-elus kepala Hanabi.


"Jika bukan karena aku lemah, kamu pasti tidak akan seperti ini." Hanabi merasa bersalah karena menganggap dirinya hanyalah beban.


"Ini bukanlah salahmu, akulah yang bertindak egois."

__ADS_1


"Kenapa, kenapa kamu melakukan semuanya sendiri?!"


"Apa maksudmu?"


"Saat itu, saat kamu memutuskan untuk bergabung dengan musuh. Itu hanyalah taktik mu saja, padahal tujuanmu sebenarnya hanya agar bisa memasuki markas musuh. Kenapa, kenapa kamu melakukan semuanya sendiri padahal bisa minta bantuanku."


Hayabusa tersenyum lembut. "Aku hanya tidak ingin kalian terluka."


"Kenapa...hiks...kenapa," Hanabi kembali menangis.


"Sudah-sudah, kenapa kamu menangis lagi." Hayabusa langsung memeluk Hanabi dan mengusap-usap kepalanya dengan tujuan untuk menenangkannya. Tak butuh waktu lama akhirnya Hanabi berhenti menangis. Manja dan cengeng seperti anak kecil, itulah pandangan Hayabusa kepada Hanabi untuk saat ini.


"Oh ya, ini pertanyaan yang ingin aku ucapkan sedari tadi, kenapa kamu kesini."


Saking senangnya bertemu Hayabusa, Hanabi malah lupa dengan tujuannya ke sini. "Em...itu, aku hanya ingin menjenguk-"


"Dia sudah berkali-kali keluar masuk dari kamarmu, tampaknya dia sangat mengkhawatirkan mu."


Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu. Hanabi dan Hayabusa langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Estes yang tengah bersender di pintu yang sedari tadi menyaksikan mereka berdua.


"Bukankah kau juga ingin menjenguknya," sambungnya. Lalu muncullah Miya dari balik dinding.


"Baguslah kalau kalian disini, sekalian aku ingin membicarakan sesuatu pada kalian."


Estes kemudian berjalan mendekat kearah Hayabusa dengan Miya mengekor di belakangnya.


"Bagaimana keadaan mu," tanya Estes.


"Yahh, cukup baik."


"Hahaha itu bagus, langsung ke intinya saja. Bagaimana kau bisa tau tempat persembunyianku?!"


"Anggap saja aku tau segalanya di dunia ini, ya walaupun tidak semuanya," jawab Hayabusa dengan penuh percaya diri.


"Jawaban yang bagus," sambil tersenyum masam "Ya, aku takkan menanyakan lebih. Aku hanya ingin menyampaikan; terimakasih banyak, berkat bantuan mu Lunar Temple tidak menjadi sarang iblis."


"Itu saja yang ingin ku sampaikan kepada mu," lalu menoleh kearah Miya "bukankah kau juga punya sesuatu yang ingin disampaikan."


Miya langsung tersadar. "A-aku juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada mu, tak kusangka manusia seperti mu akan menepati janji," sambil tersenyum lembut.


"Tapi aku melakukan ini tidak gratis," sambil tersenyum.


"Aku tau itu, jadi apa yang kau inginkan."


"Aku ingin kamu," sambil tersenyum nakal.


"Baiklah, eh tunggu dulu, bisa kau ucapkan sekali lagi."


"Aku ingin kamu."


"A-aku?!." Hayabusa mengangguk. Seketika wajah Miya langsung memerah.

__ADS_1


__ADS_2