
"Hahaha, tak kusangka kau yang akan datang kemari, sang Ninja jenius, Hayabusa." Tersenyum menyeringai.
Hayabusa menggenggam erat pedangnya. "Aku tanya, apa kau yang meracuni ayahku, Ninja penghianat, Hanzo!" Menatap tajam Hanzo.
Flashback.
Hayabusa beserta, Miya dan Hanabi sedang berjalan kembali menuju perumahan klan Scarlet Shadow. Urusan dengan Kagura sudah selesai, Hayabusa mendapatkan pusaka sakti milik klan nya "Scarlet Phantom" pemberian dari Kagura, yang merupakan titipan dari ayahnya.
"Tak kusangka, Haya bisa menggunakan sihir penyimpanan," Kata Miya, kagum.
"Aku juga tak menyangka," timpal Hanabi "padahal sedari kecil aku selalu bersama, Haya tapi tak tau kalau dia bisa menggunakan sihir, terutama sihir penyimpanan." Mengarahkan pandangan ke Hayabusa "Kenapa kau merahasiakannya?"
Hayabusa menghela nafas. "Aku menyembunyikan kemampuan ku karena tak mau jadi sorot perhatian," ya, sebenarnya itu salah satu kegunaan sistem, sihir penyimpanan atau Backpack. maaf aku harus berbohong kepada kalian.
Hanabi dan Miya, sama-sama mengangguk, puas pertanyaan mereka terjawab. Walaupun tidak sepenuhnya puas karena masih banyak pertanyaan yang tersimpan, mereka lebih memilih menutup mulut.
Hayabusa sudah cukup lama berjalan, karena memang jarak antara kediaman Kagura dengan perumahan klan cukup jauh. Itupun ada segi positifnya, Hayabusa dapat melihat-lihat keindahan kota. Namun ada juga segi negatifnya, Hayabusa kerap kali mendengar orang-orang membicarakannya. Tampaknya, rumor tentang Hayabusa sudah tersebar luas. Banyak orang-orang mengatakan, jika kalau Hayabusa adalah ninja yang lari dari tanggung jawab serta membiarkan klannya dibantai supaya mendapat kekuasaan penuh atas klannya. Tentu saja, semua berita itu salah.
Miya dan Hanabi, juga sering mengatakan kepada Hayabusa supaya tidak memperdulikan apa kata orang-orang, tapi sepertinya itu percuma. Karena memang Hayabusa sendiri tak terlalu memperdulikan rumor buruk tentangnya "Karena semua itu hanyalah Rumor!".
Sepersekian menit kemudian, sampailah Hayabusa di perumahan klan Scarlet Shadow. Suasana di sana sangatlah sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, wajar saja itu karena klan Scarlet Shadow mengalami pembantaian besar-besaran, yang menewaskan 90% anggota klan.
"Aku ingin kembali ke kamarku," ujar Hayabusa dan langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari, Miya dan Hanabi.
Mereka berdua langsung bertukar pandang. "Kak Hanabi, aku rasa, Haya sering bertingkah aneh akhir-akhir ini."
Hanabi mengerutkan wajahnya. "Itu mungkin berkaitan dengan kematian ayahnya."
"Tapi ada juga satu hal yang menurutku cukup aneh, kenapa, kak Hanabi tidak merasa sedih? padah-"
"Aku sudah kehilangan keluarga ku sedari kecil," jawab Hanabi "sebenarnya aku juga merasa sedih. Tapi mau bagaimana lagi semua itu sudah terlanjur terjadi. Menyesal pun itu percuma."
Miya langsung terdiam, kemudian menundukkan kepalanya "...Emm, maaf aku tak bermaksud."
Hanabi mendengus. "Hah.. sudahlah, aku tak apa."
"..."
"Ayo pergi ke kamarku." Hanabi langsung menarik lengan Miya dan langsung membawanya.
"E-eh, tu-tunggu dulu." Miya berusaha meronta-ronta, tapi sayangnya itu percuma.
__ADS_1
.
.
.
"Huh.. melelahkan," gumam Hayabusa sembari berbaring terlentang di atas kasur.
"Aku sungguh tak paham, kenapa dunia game ini menyimpan banyak sekali misteri. Meskipun sempat membaca kisah-kisah semua karakter, tapi tetap saja. Masih banyak hal yang tak aku mengerti di dunia ini."
Kedua matanya menatap langit-langit kekosongan. Hayabusa kemudian mengangkat tangan kanannya, berusaha menggenggam sesuatu di kekosongan. "Meskipun hadiahnya menarik, tapi apa aku bisa menyelesaikan misi ini."
[Misi:Temukan dalang dari penyerangan klan.
Hadiah: silver treasure, +200 exp, 20 atribut poin.
Batas waktu: 10 hari.] (Misi yang tiba-tiba muncul 10 menit yang lalu.)
Hayabusa menghela nafas berat. "Sistem, keluarkan Scarlet Phantom dari Backpack.]
Ding.
[Permintaan diterima✓]
Hayabusa langsung bangun dari posisinya, kemudian meraih pedang itu dengan tangan kanannya. "Pedang ini berat, dan... kuat."
[Scarlet Phantom.
Pedang hasil tempaan oleh seorang, Akage terdahulu menggunakan kekuatan magisnya, dan dibutuhkan 10 tahun untuk menyempurnakannya.
Memberikan 35% critical damage tambahan (bertambah seiring kuatnya pengguna.)
Hanya bisa digunakan oleh pemilik yang sudah diakuinya.]
"Hanya bisa digunakan oleh pemilik yang sudah diakuinya. Kurasa hal itu bukanlah omong kosong belaka. Jika pedang ini digunakan oleh seseorang yang belum diakui, pedang ini akan seperti pedang mainan. Itu terbukti ketika pertama kali aku mencobanya. (Pernah di coba saat di kediaman Kagura.)"
Hayabusa kembali menghela nafas panjang. "Kurasa akan sulit untuk diakui oleh pedang ini. Sistem apa kau punya saran?"
Ding!
[Perbanyaklah berlatih, saya yakin anda akan segera menguasainya.]
__ADS_1
Hayabusa berdecak kesal. "Saran yang bagus."
"... Sistem, masukan kembali pedang ini kedalam Backpack."
Ding!
[Permintaan dimengerti✓]
Sama seperti sebelumnya, pedangnya kembali menjadi serpihan-serpihan cahaya, tapi kali ini memudar bukan menyatu.
Kelopak mata Hayabusa berkelip-kelip pelan, tubuhnya kini terasa sangat lelah. "Lebih baik aku tidur."
...
Hari menjelang malam, langit biru berganti gelap. Seperti biasa, kata-kata yang tepat untuk menggambarkan suasana malam adalah, hening dan sepi. Tapi.. malam ini ada yang sedikit berbeda.
Hayabusa mulai membuka kelopak matanya perlahan-lahan, setelah berjam-jam tidur akhirnya Hayabusa bangun. Namun hal yang membangunkannya adalah.
"Mimpi buruk, ya," ucap Hayabusa pelan. Itulah kalimat pertama yang Hayabusa keluarkan saat pertama kali bangun dari tidur panjangnya.
Hayabusa mulai bangkit dari posisinya- menyenderkan punggungnya di dinding. Hayabusa menutup wajahnya menggunakan telapak tangan, terlihat sedikit keringat keluar dari pelipisnya. "Mimpi, iya itu cuma mimpi. Tapi kenapa... itu terasa sangat nyata!"
Hayabusa beranjak dari kasurnya, kemudian pergi untuk mencari udara segar. Suasana di sekitar perumahan masihlah sama, sepi dan hening.
"Aku tau kalau malam akan sepi, tapi kali ini kenapa ada yang sedikit berbeda. Seolah aku telah kehilangan sesuatu yang sangatlah berharga."
"Apa itu karena kematian ayahku, tidak lebih tepatnya ayah dari karakter ini."
Hayabusa kembali berjalan menyusuri perumahan, entah kenapa langkah kakinya menuju ke sebuah kamar yang dulunya di tempati oleh, ayah Hayabusa. Hayabusa mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.
Setibanya di dalam, Hayabusa sedikit tercengang karena seisi ruangannya sangatlah rapih. "Sungguh orang yang bodoh."
Hayabusa kembali berjalan, berusaha mengeksplor seisi ruangan, tak ingin ada sesuatu hal kecil yang terlewati. Pandangan Hayabusa terpaku ke sebuah meja, yang dimana terdapat banyak sekali kertas-kertas di atasnya. Hayabusa mulai membaca isi kertas itu satu persatu.
"Cih, orang bodoh, kenapa dia masih menyelidiki kasus kematian ibu."
Sampai kemudian Hayabusa menemukan surat yang isinya..
"Apa ini. Jangan-jangan." Hayabusa langsung berlari keluar dari kamar sambil melempar kertas yang ia baca tadi, kertas itu melayang-layang di udara sampai kemudian menyentuh lantai.
"Temui aku malam ini di dalam hutan kematian, jika tidak, putramu akan terluka.
__ADS_1
Pertanda: Ninja penghianat, Hanzo."