Bereinkarnasi Kedunia Game

Bereinkarnasi Kedunia Game
Chapter 6: Peace after struggle, part 5


__ADS_3

"Bukankah tempat ini ... tidak salah lagi, ini adalah goa yang pernah aku tinggali dulu semasa bersembunyi dari kejaran Abyss. Aneh, kenapa Miya kesini?"


Miya mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam goa, setelah jeda beberapa menit Hayabusa pun ikut masuk kedalam goa untuk mengikuti Miya kembali, dengan skill ninja Hayabusa dapat bergerak dengan sempurna, cepat dan tanpa suara. Sesampainya di dalam goa, Hayabusa melihat Miya yang tengah berdiri di samping sebuah makam.


"Ayah, Ibu, maafkan aku baru mengunjungi kalian, banyak sekali hal-hal yang terjadi belakangan ini. Bagaimana kabar kalian? apa Ayah dan Ibu bahagia di sana? kalau aku baik-baik. Oh ya, aku berhasil mengalahkan pasukan Abyss dan sekarang Lunar Temple kembali seperti dulu lagi, ya walaupun bukan cuman aku saja yang melawannya."


"Aku mendapatkan bantuan dari seorang manusia, dialah orang pertama yang mau membantu ku, dan dia juga cinta pertama ku. Namanya Hayabusa, ia tampan nan kuat. Bukan cuman itu, aku juga mendapatkan bantuan dari Kak Hanabi dan Alucard, mereka juga seorang manusia," tanpa ia sadari, air mata mulai mencucur deras dari kedua bola matanya "Itu saja yang ingin ku sampaikan kepada Ayah dan ibu hiks.. aku baik-baik..hiks.. saja, jadi kalian tak perlu khawatir. Aku sudah bahagia disini, aku juga berharap Ayah dan Ibu bahagia di sana."


Grepp!


"Tak perlu bersedih, aku ada disini,selalu ada di sisimu dan selalu menjagamu."


Tiba-tiba ada yang memeluk tubuh Miya dari belakang, dan pelukan itu terasa hangat dan menenangkan. Miya menolehkan wajahnya kebelakang untuk melihat siapa orang yang memeluknya. Setelah Miya menoleh, ternyata yang memeluknya adalah Hayabusa. Hayabusa tersenyum lembut saat Miya menatapnya.


"Haya, bagaimana bisa kamu berada disini."


"Aku mengikuti mu tadi," jawabnya "Tak kusangka mayat Elf yang kita kubur dulu ternyata salah satunya adalah orang tuamu. Kau tak perlu khawatir lagi karena aku akan selalu berada di sampingmu."


"Ha-haya." Miya langsung membalas pelukan Hayabusa dengan erat, air matanya terus berjatuhan. Bagi Miya, Hayabusa adalah satu-satunya yang ia miliki sekarang.


Hayabusa mengelus-elus kepala Miya dengan begitu lembut, dirinya juga ikut merasakan kesedihan yang Miya rasakan dan itu sangatlah menyakitkan. Hayabusa juga teringat dengan keluarganya yang berada di kehidupan sebelumnya, terutama dengan adik perempuannya. Tapi apalah daya, ia tiba-tiba ditransferkan ke dunia ini dan tak tau caranya kembali. Meskipun selalu sendirian, Hayabusa mulai beradaptasi dengan dunia barunya. Di kehidupan ini Hayabusa juga memiliki sesosok ayah yang sangat berbeda dengan yang ada di kehidupan sebelumnya. Ayah Hayabusa di dunia baru ini selalu memberikan kasih sayang kepadanya.


Setelah cukup lama, akhirnya Miya berhenti menangis namun tidak dengan pelukannya, Miya masih memeluk Hayabusa dengan erat seolah tak ingin melepaskannya.


Miya mengadahkan kepalanya ke atas menatap wajah Hayabusa, dagunya bersandar di dada Hayabusa dengan tangan yang masih melingkar di tubuhnya.


"Apa Haya rindu kepada kedua orang tua Haya? kalau Miya iya."


"Orang tuaku hanya tersisa ayahku, ibuku, ia sudah meninggal waktu aku masih kecil."


"Ma-maaf, aku tak tau itu," dengan ekspresi bersalah.


"Hahaha, itu tak masalah. Oh ya untuk pertanyaan mu sebelumnya ... ya, aku merindukan ayahku, dia sangat perhatian kepada ku walaupun sikapnya yang sangat tegas. Apa Miya mau bertemu ayahku yang nantinya juga akan menjadi ayah Miya?"


"Ehh, emm itu ... aku ingin tapi, aku takut dia takkan menerimaku," memalingkan wajahnya kesamping.


"Hahaha, kamu itu cantik dan kuat, aku yakin ayahku akan menerimanya," mengacak-acak rambut Miya.

__ADS_1


Miya kembali mengarahkan pandangannya ke wajah Hayabusa, tapi kali ini dengan tatapan berbinar. "Benarkah?" Hayabusa mengangguk, seketika senyuman Miya melebar.


"Hahaha, kalau begitu ayo kembali, ini sudah mau malam."


"Emm."


Tapi entah kenapa aku merasakan firasat buruk, batin Hayabusa.


Miya dan Hayabusa pun beranjak dari dalam goa, setelahnya hembusan angin yang membawa kelopak bunga menerpa makam kedua orang tua Miya.


..


Langit mulai gelap, Matahari tenggelam kemudian di gantikan bulan, malam ini tidak ada bintang yang bergemilang sehingga membiarkan sang bulan kesepian. Ini adalah masanya untuk makan malam, seperti biasa Hayabusa beserta yang lainnya duduk di meja makan dan seperti biasa pula, hanya tersaji berbagai sayuran dan buah-buahan di atas meja. Tanpa sedikit komplain Hayabusa menyantap segala makanan yang tersaji.


"Besok, kami akan kembali pulang karena tugas ku disini telah usai," ujar Hayabusa.


"Begitukah," respon Estes tanpa ekspresi.


"Tak kusangka reaksi itu yang akan kau keluarkan."


"Emm, itu."


Tiba-tiba Hanabi menyikut lengan Miya yang memang duduk di sebelahnya. "Cepatlah katakan," ucap Hanabi dengan tanpa ekspresi. Miya sempat menoleh ke arah jadi ia paham apa maksudnya.


Kakak Hanabi.. baiklah akan akan melakukannya, batin Miya.


Miya kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Estes, tampak ada api yang berkobar di iris matanya.


"Bolehkan aku ikut dengan Hayabusa," ujar Miya.


Estes yang mendengarnya langsung tersentak, ia kemudian menaruh pisau dan sendoknya di samping piring. Kedua tangannya menyatu dan mengepal untuk dijadikan sandaran dagunya.


"Lunar Temple adalah kawasan yang sangat sulit untuk terekspos dari dunia luar, dan karena itulah tempat ini cocok dijadikan tempat tinggal bagi para Elf. Dan sekarang,kau meminta untuk ikut dengan Hayabusa, dalam artian kamu akan meninggalkan Lunar Temple ...."


Wajah Miya langsung cemberut mendengarnya. "Aku tau ini permintaan yang sulit, tapi bisa-"


"Pergilah."

__ADS_1


Mata Miya langsung melebar. "Benarkah?"


"Pergilah, aku takkan membiarkan burung yang indah tetap berada di sangkar, follow your heart."


Miya langsung kegirangan mendengarnya, senyuman tak mampu lagi ia bendung, bibirnya kini melengkung, senyumannya begitu lebar, sangat cantik dan manis.


"Terimakasih," ujar Miya.


..


Setelah itu makan malam berakhir, Hayabusa beserta yang lainnya kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Setibanya di kamar, Hayabusa langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, malam ini akan ia gunakan untuk berpetualang bukan beristirahat.


"[Note universe.]"


Sring!


Seketika muncul sebuah buku dari kehampaan. Hayabusa langsung menggapai buku itu, ia kemudian membalik sampul buku, dan itulah awal dari petualangannya.


Tok! tok! tok!


Brukk!


Hayabusa langsung menutup buku dengan keras sehingga menghasilkan sedikit bunyi, baru saja ingin mempelajari Note universe malah ada seseorang yang mengganggu. Hayabusa langsung beranjak dari ranjang kemudian membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang mengganggunya.


Baru saja membuka pintu, tubuh Hayabusa langsung di dorong sampai terjatuh di atas ranjang. Tampak samar-samar 2 orang yang mendorong tubuh Hayabusa.


Hayabusa menatap dengan intens ke arah 2 orang yang mendorongnya. Mata Hayabusa langsung terbelalak karena mendapati kedua orang itu ternyata adalah Hanabi dan Miya.


"Miya, Hanabi, apa yang kalian berdua lakuk-"


Tiba-tiba Hanabi mencium bibir Hayabusa dengan agresif, setelah itu ia melepaskannya.


"Sebenarnya malam ini adalah malam kita berdua, tapi Miya malah ngotot ingin bergabung, jadi tidak ada pilihan lain. Mari kita lakukan ini bersama."


"Bergabung? lakukan bersama? apa maksudmu?" tanya Hayabusa bingung.


"Diamlah, biar kami yang memimpin permainannya," ujar Miya.

__ADS_1


__ADS_2