
Wajah Miya memerah karena ucapan Hayabusa yang mengatakan ingin dirinya. Miya masih berdiri membisu tak mengucapkan sepatah kata apa pun, dirinya bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana?" tanya Hayabusa.
"Iya, tentu saja," ujar Hanabi yang langsung merangkul pundak Miya "Benar, kan?" Menatap Miya dengan senyuman penuh makna. Sebenarnya Hanabi sudah mengetahui jika kalau Miya menyukai Hayabusa begitu juga dirinya, Hanabi tidak masalah akan hal itu karena di Clan Sect shadow poligami diperbolehkan.
"Eee...i-itu aku, aku tak tau harus menjawab apa." Miya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Hahaha, indahnya masa muda, batin Estes. "Bisakah kalian keluar sebentar, aku ingin bicara empat mata dengan Hayabusa." Estes mengedarkan pandangannya ke arah Miya dan Hanabi.
"Aku mengerti." Hanabi langsung merangkul lengan Miya "Ayo Miya," langsung membawa Miya pergi keluar kamar.
.
Setibanya di luar.
"Miya, aku ingin tanya sesuatu padamu."
"Apa itu?" dengan wajah penasaran.
"Jawablah dengan jujur ... apa kau menyukai Haya?"
Seketika wajah Miya memerah mendengar pertanyaan yang menurutnya agak sensitif. Miya memalingkan wajahnya tak berani menatap wajah Hanabi.
"A-apa maksudmu, aku ti-"
"Jujurlah," tegas Hanabi "Aku tau kalau kau menyukai Haya." Hanabi menatap dalam wajah Miya yang enggan menatap balik dirinya.
"I-itu ... ya, aku menyukainya," dengan nada pelan. "Tapi ... bagaimana deng-"
"Baguslah," lagi-lagi Hanabi menyekat ucapan Miya. "Tapi perlu diingat, akulah yang akan menjadi istri pertamanya. Dan untuk Miya, akan menjadi istri kedua."
"I-istri kedua," Miya menjadi salah tingkah mendengar ucapan Hanabi, pasalnya dia akan menjadi istri Hayabusa walaupun bukan yang pertama tetapi ia sangat senang.
"Tetapi, bukankah itu ...."
"Tenang saja, aku dan Haya berada di satu klan, dan di dalam klanku poligami diperbolehkan," jelas Hanabi. "Apa kau tidak mau?" tanyanya dengan senyuman penuh makna.
Miya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa itu artinya kau mau menjadi istri kedua?"
Miya langsung mengangguk-angguk dengan cepat seperti anak kecil yang mau dibelikan permen. Hanabi mendekatkan bibirnya di samping telinga Miya, lalu berkata. "Kalau begitu, mulai sekarang kau harus memanggil ku, ka~ka"
Miya langsung terdiam sejenak.
Kaka? tapi umurku lebih tua darinya, tapi tak apalah, batin Miya.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Em ... baiklah."
Bibir Hanabi sedikit melengkung mendengarnya. Bukan, ini bukan ekspresi yang ia buat-buat, akan tetapi ini ekspresi yang murni.
"Oh ya, kak," dengan sedikit malu-malu "Ngomong-ngomong mereka sedang membicarakan apa ya?"
Hanabi mengangkat bahunya. "Entahlah," jawabnya dengan cepat.
...°•°...
"Benarkah, apa kau serius dengan hal ini?"
Estes mengangguk. "Iya tentu saja, itu untukmu sebagai bentuk terimakasih dariku."
"Tapi bukankah 'Note universe' ini sangat penting bagimu, tapi kenapa kamu memberikannya kepadaku?"
Estes tersenyum ramah. "Ya, itu memang penting bagiku, tapi kurasa kamu akan jauh lebih bisa menggunakannya ketimbang aku."
Hayabusa menghela nafas. "Jangan bercanda, aku bukanlah dewa yang mengetahui segalanya."
"Apa kau tak mau?" dengan wajah cemberut.
Ding!
[Saya menyarankan anda untuk menerimanya, karena itu akan berguna untuk anda suatu hari nanti.]
"Be-benarkah?"
Hayabusa langsung mengangguk-angguk dengan cepat.
"Baiklah, urusanku disini sudah selesai, kalau begitu aku pamit undur diri."
"Iya, silahkan."
Estes pun langsung berjalan keluar dari kamar. Hayabusa langsung menatap buku yang di genggamannya dengan intens. Note universe terlihat seperti buku pada umumnya, hanya saja buku sudah berumur serta cukup berat, dan yang paling menarik dari Note universe adalah sampulnya. Sampul Note universe terdapat semacam coretan-coretan acak yang bersinar berwarna hijau.
Ilustrasi Note universe.
Sumber: Pinterest.
"Apa benar buku ini sangat berharga?"
Ding!
[Itu benar, karena Note universe berisi catatan-catatan segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang dicatat langsung oleh dewa pengetahuan.]
"Dewa pengetahuan, itu menarik." Hayabusa mulai tertarik terhadap buku itu. Awalnya ia mengira Note universe hanyalah buku tua yang berisi hal-hal yang tidak penting, tapi setelah mendengar penjelasan dari system ia menarik kembali ucapannya.
__ADS_1
Dengan semangat membara Hayabusa mulai membalik sampul buku itu untuk memulai petualangannya dalam mempelajari Note universe. Namun seketika semangat itu hancur, karena hal pertama yang Hayabusa lihat setelah membalik bukunya adalah simbol-simbol yang tidak dimengerti.
...
Mentari sudah sepenuhnya terbenam takkala semua mahluk hidup sedang terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing.
Berjam-jam sudah Hayabusa lalui, petualangannya dalam mempelajari Note universe tak membuahkan hasil. Meskipun di kehidupan sebelumnya Hayabusa terbilang seorang yang jenius, akan tetapi ia memutuskan untuk angkat tangan dalam mempelajari Note universe. Pasalnya banyak sekali kosa kata yang tidak dimengertinya, berulang-ulang kali ia membaca tapi tak kunjung mengerti isi dari isi buku yang ia baca.
Akhirnya Hayabusa memilih untuk mengakhiri perjalanannya. Dalam artian beristirahat, bukan menyerah. Hayabusa menutup bukunya dengan keras sehingga menghasilkan sedikit suara. Jari jemarinya memijat-mijat pelipisnya untuk meredakan rasa pusing di kepalanya.
"Huh ... tak kusangka ini sulit. Butuh beberapa bulan untukku mempelajari isi buku ini."
"System, masukkan buku ini ke dalam Bakpack."
Ding!
[Dimengerti.]
Seketika buku yang ada di genggaman Hayabusa menjadi serpihan-serpihan kecil yang akhirnya menghilang seutuhnya. Bisa dibilang Note universe sekarang berada di ruang penyimpanan.
"Lebih baik aku istirahat hari in-"
Tok! tok! tok!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar.
Hayabusa menghela nafas panjang. Siapa itu! menggangu waktu istirahat ku saja, batin Hayabusa. "Masuklah," seru Hayabusa.
Krietttttt
Pintu terbuka secara perlahan. Hayabusa menolehkan wajahnya untuk melihat siapa orang yang mengganggu waktu istirahatnya. Seketika mata Hayabusa langsung terbelalak karena melihat orang yang masuk adalah Miya. Bukan, lebih tepatnya karena pakaian yang dikenakan Miya.
Miya mengenakan dress tidur berwarna abu-abu, dan itu sangatlah seksi.
Miya masuk secara perlahan dan juga menutup pintunya secara perlahan. Lalu kemudian ia menguncinya dengan rapat.
"Ma-maaf mengganggu waktu istirahatmu." Miya mengucapkannya dengan wajah memaling kesamping kiri, ia tak berani untuk menatap Hayabusa.
Hayabusa menarik nafas panjang. "Y-ya, itu tak masalah. Buat apa kamu kesini?"
"I-itu ... aku kesini untuk mengabulkan permintaan mu." Wajah Miya sangat merah saat ini.
Bibir Hayabusa langsung melengkung. "Benarkah?"
Miya mengangguk-angguk pelan.
"Tapi kurasa bukan, lihat saja, kamu bahkan terus berdiri disitu."
Miya langsung tersadar, ia kemudian berjalan perlahan sambil menunduk ke arah Hayabusa. "Duduklah disini," Hayabusa menepuk-nepuk tempat yang ada di sampingnya. Miya pun menurut, ia kemudian duduk disamping Hayabusa yang sedang berada di ranjang.
__ADS_1